Begini Asyiknya Sekolah di Seminari Wacana Bhakti

  Berita Keuskupan > Berita Utama

PULOGEBANG – Romo Gunawan Pr. dalam homilnya pada Misa Minggu Panggilan Sedunia, (22/4/2018) di Gereja Santo Gabriel Pulo Gebang memerkenalkan keutamaan pendidikan di seminari, khususnya pada Seminari Wacana Bhakti yang dimiliki Keuskupan Agung Jakarta. Seluruh kegiatan seminaris bermuara dalam 4 hal yakni kekudusan (sanctitas), kesehatan (sanitas), keilmuan (scientia) dan persaudaraan (societas).┬áTiga keutamaan itu dapat terlihat dari aktifitas para seminaris di asrama yang mereka huni, persis di belakang Kolese Gonzaga.

Kemandirian dan disiplin adalah corak utama yang tergambar dari kehidupan para seminaris di dalam asrama, maupun tatkala mereka pulang berlibur ke rumah orang tuanya. Pasalnya, di dalam asrama mereka diajarkan kedisiplinan yang tinggi.

Suasana misa Minggu Palma 2018 di Kapel Seminari Wacana Bhakti (Foto: picbear.club/wacanabhakti)

Saban petang, usai bangun tidur siang selama 1 jam, mereka langsung disibukkan dengan jenis kegiatan yang mereka sebut sebagai opera. Opera adalah kerja tangan, seperti membersihkan kamar mandi, kamar tidur, lorong, kapela, taman dan lain sebagainya. Saban sore, mereka lakukan opera sehingga praktis anak-anak yang dari rumah tidak bisa menyentuh pekerjaan di rumah pun kian hari kian terlatih untuk mandiri dalam bekerja.

Usai kerja, mereka tinggal pilih jenis olahraga apa yang hendak mereka mainkan. Semua fasilitasnya tersedia di dalam kompleks seminari dan SMA Kolese Gonzaga. Mulai dari basket, voli, sepak bola hingga tenis meja, semuanya tersedia.

Anda mungkin bertanya, lantas bagaimana dengan makanan para seminaris di asrama? Makanannya tergolong enak untuk ukuran anak-anak di asrama, bahkan lebih enak jika dibandingkan dengan sejumlah seminari di daerah lain di Indonesia. Semur telur, krupuk adalah beberapa menu wajib yang disantap anak-anak seminari.

Seminari Menengah Terbuka

Wacana Bhakti merupakan seminari menengah terbuka, dimana para seminaris mengeyam pendidikan setingkat SLTA bersama-sama dengan siswa-siswi SMA Kolese Gonzaga. Dari jam 7 pagi hingga jam 14.45, dari Senin hingga Jumat, mereka menimba ilmu di sekolah. Selanjutnya pada Sabtu, para siswa lain libur, seminaris lanjut dengan pelajaran khusus mereka seperti Bahasa Latin, Discipleship, Discerment dan Sejarah Gereja.

Romo Albertus Yogo Prasetianto, Pr. sebagaimana dituliskan Majalah HIDUP 17 September 2017 mengatakan, mengenyam pendidikan di sekolah gabungan dengan siswa-siswi umum dimaksudkan agar para seminaris sejak awal mengetahui gerak atau dinamika gereja. Juga, mengenal karakter umat, khususnya di Keuskupan Agung Jakarta.

Ada hal yang menarik dari model pendidikan gabungan ini. Para seminaris dilarang menggunakan gadget baik di lingkungan seminari maupun sekolah. Namun, tantangan mereka dapatkan ketika di sekolah mereka menyaksikan teman-teman mereka menggunakan alat itu. Kadang ada seminaris yang nekad meminjam gadget temannya yang siswa umum.

“Di sekolah mungkin kami agak lunak, tapi tidak di seminari. Begitu kami dapat, kami beri surat peringatan,” tegasnya.

Untuk mendukung kehidupan seminaris agar tidak ketinggalan informasi pada saat gadget menjadi hal yang dilarang secara serius di lingkup seminari, para pastor di Wacana Bhakti menyediakan sejumlah komputer dengan akses internet. Komputer-komputer itu pun sudah terkoneksi dengan internet.

Seminari Wacana Bhakti pun tidak hanya menyediakan fasilitas olahraga saja. Mereka memiliki fasilitas musik yang lengkap. Seminaris pun mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari kelompok orkestra yang dimiliki seminari itu. Orkestra Seminari Wacana Bhakti kerap tampil dalam promosi panggilan yang dilakukan di sejumlah paroki di lingkung Keuskupan Agung Jakarta.

Pada Minggu Panggilan Sedunia 2018 kemarin, mereka tampil di Gereja Santo Arnoldus Jansen, Bekasi. Entah kapan, tetapi semoga suatu saat mereka dapat hadir menghibur umat di Paroki Santo Gabriel, Pulo Gebang sekaligus menggugah hati umat agar lebih banyak mengirimkan anak-anaknya bersekolah di seminari. (Penulis/Editor: Ferdinand Lamak, Foto: Seminari Wacana Bhakti)