Gereja Santo Gabriel Paroki Pulo Gebang kembali menyelenggarakan kegiatan Buka Puasa Bersama (bukber) dengan mengusung tema “Membangun Persaudaraan Sejati dalam Merawat Alam sebagai Rumah Bersama.” Kegiatan yang diinisiasi oleh Seksi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) ini menjadi ruang perjumpaan lintas iman yang hangat dan penuh makna.

Acara berlangsung pada Jumat, 6 Maret 2026, bertempat di Gedung GKP lantai 2, mulai pukul 16.00 WIB, dan dihadiri sekitar 100 undangan dari berbagai unsur masyarakat.

Pastor Kepala Paroki Pulo Gebang, Romo Yohanes Radityo Wisnu Wicaksono, Pr, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran para undangan. Ia juga mengungkapkan bahwa pada saat yang sama, umat Katolik tengah menjalani masa pantang dan puasa menjelang Hari Raya Paskah.

Dalam refleksinya, Romo menekankan pentingnya pertobatan ekologi, yakni upaya pertobatan yang tidak hanya berfokus pada kesucian pribadi, tetapi juga diwujudkan dalam kepedulian nyata terhadap kelestarian alam ciptaan.
“Semoga melalui kebersamaan sederhana ini, tumbuh sikap saling menghargai antarumat beragama, semakin erat tali persaudaraan, serta terbangun komitmen bersama untuk menjaga kelestarian alam demi generasi mendatang,” pesannya.

 

Acara ini turut dihadiri oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) dan tokoh masyarakat. Kapolsek Cakung diwakili oleh Wakapolsek AKP Sutrisno, didampingi jajaran seperti Kanit Binmas AKP Slamet Santoso, Kanit Intelkam AKP Wahyu W, serta Kapospol Pulogebang IPTU Iwak. Hadir pula perwakilan Camat Cakung, Bapak Joshua, Lurah Pulogebang Bapak Imron, Babinsa dan Bhabinkamtibmas, para Ketua RT/RW wilayah setempat, serta perwakilan FKDM, LMK, FKPM, organisasi kemasyarakatan, dan pengurus Rusun Pulo Gebang.

Suasana kebersamaan semakin terasa saat para undangan mengikuti ceramah dan kultum yang disampaikan oleh Dr. K.H. Sodikin Maksudi, MA. Dalam pesannya, beliau menegaskan bahwa perbedaan agama tidak boleh menjadi penghalang dalam menjaga tali silaturahmi.
“Saling mengenal dan memahami adalah kunci. Lakum dinukum waliyadin—untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku,” ungkapnya. Ia juga mengingatkan bahwa puasa tidak hanya berdampak pada kesehatan jasmani, tetapi juga melahirkan nilai-nilai kebaikan dalam diri.

Beliau turut mengisahkan bagaimana pada masa Nabi, umat Kristen dan Islam hidup berdampingan dengan damai dan saling menolong. “Pesan kerukunan sudah ada sejak dahulu dan perlu terus dirawat hingga saat ini,” tambahnya. Ia pun mengajak seluruh hadirin untuk bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia melalui semangat kebersamaan.

Menjelang waktu berbuka, tepat pukul 18.10 WIB, umat Muslim dipersilakan membatalkan puasa dengan takjil yang telah disediakan panitia, dilanjutkan dengan pelaksanaan salat Maghrib berjamaah di Ruang Matius.

Setelah itu, seluruh peserta kembali berkumpul dalam suasana ramah tamah dan makan bersama, mempererat keakraban yang telah terjalin sepanjang acara.

Sebagai penutup, panitia membagikan bingkisan kepada para undangan sebagai tanda kasih dan kenangan atas kebersamaan yang indah ini. Kegiatan ini menjadi wujud nyata semangat toleransi, persaudaraan, dan kepedulian bersama dalam merawat kehidupan, baik antar sesama maupun terhadap alam sebagai rumah bersama.

 

(Kontributor: Deny Kus Indarto)