Damainya Suasana Ramadan dan Perayaan Lebaran di Vatikan

  Berita Utama > Features

Merayakan Idul Fitri di Indonesia, tentu saja berbeda dengan mereka yang merayakannya di negeri yang tidak banyak umat Islam. Jangankan di negara yang berbeda, suasana Idul Fitri  pada kota-kota besar di Jawa tentu saja berbeda dengan kota-kota seperti Jayapura, Manado, Kupang dan Denpasar. Kendati demikian, bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa hingga merayakan Hari Raya Idul Fitri selalu dihormati. Seperti yang terjadi di Vatikan, negara kecil yang dikenal sebagai pusat Agama Katolik di dunia itu.

Memang, Duta Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan kali ini adalah seorang Katolik. Antonius Agus Sriyono, alumnnus Kolese De Britto tahun 1975 ini, memiliki dua orang staf beragama Islam di KBRI Vatikan. Dubes sebelumnya, Budiarman Bahar, bertugas sejak Desember 2011 sebelum ia digantikan oleh Sriyono, yang dilantik pada Januari 2016 silam.

Bahar sebagaimana dikutip dari UCANews, mengatakan tidak ada yang berbeda dari Ramadan di Indonesia dan Vatikan. Sekalipun ia berada di negara pusat Katolik dunia, umat Islam disana bebas menjalankan ibadah puasa dan marayakan Idul Fitri sebagaimana di Indonesia.

”Meski di sini umat Islam termasuk minoritas, kami bebas beribadah. Tidak ada larangan apa-apa. Bahkan, kami dihormati,” ujarnya.

Ia bersama staf di KBRI serta para duta besar dan staf kedubes dari negara-negara Islam seperti Iran, Mesir, Lybia sungguh merasakan bagaimana Ramadan dan Idul Fitri mereka dihormati oleh penduduk di Vatikan yang hampir 100% beragama Katolik.

Moschea di Roma, Masjid di Kota Roma (Foto: Wikipedia)

KBRI Vatikan sendiri menaungi para pastor, suster dan bruder asal Indonesia yang bertugas di Vatikan, di gereja-gereja dan biara-biara baik di Vatikan maupun di sekitarnya.

Lantas bagaimana tradisi buka puasa bersama atau halal bihalal dilakukan di Vatikan dalam lingkup KBRI? Bahar pun berkisah, tradisi ini pun tetap dilakukan sekalipun mayoritas yang hadir adalah para pastor, suster dan bruder.

”Itulah toleransi antarumat beragama yang konkrit. Mereka (pastor dan suster) akan datang bila diundang dalam acara-acara tradisi umat Islam itu. Seperti halnya bila mereka datang untuk acara sosialisasi pemilu atau perayaan hari kemerdekaan RI,” papar Bahar.

”Saat buka bersama ditutup dengan doa secara Islam, mereka ikut dengan khusyuk berdoa dengan cara mereka sendiri,” imbuhnya.

Yang tidak dapat dirasakan oleh pria Minang ini di Vatikan adalah, bagaimana bunyi suara tiang listrik yang dipukul saban dinihari untuk membangunkan orang yang hendak sahur. Juga merdunya suara adzan yang bersahut-sahutan dari masjid-masjid yang ada di Indonesia.

Asal tahu saja, di Vatikan, umat Islam disana memiliki satu masjid yang disebut Moschea di Roma atau Masjid Roma. Masjid ini dibangun secara berpatungan oleh sejumlah negara, termasuk Indonesia. Ada 23 negara totalnya. Masjid ini dibangun diatas lahan yang cukup luas, sekira 3 hektar luasnya.

Di dalam masjid inilah, umat Islam pun menjalankan ibadah mereka selama Ramadhan kemarin hingga Idul Fitri pada hari ini. Semuanya berjalan dalam suasana penuh kedamaian dan kerukunan.

Tahun ini, kepada umat Islam di seluruh dunia, Dewan Kepausan Vatikan untuk Dialog Antaragama (PCID) menyampaikan pesan Ramadan dan Idul Fitri 1440 Hijriah. Vatikan berharap momentum Ramadan dan Idul Fitri bisa menjadi perekat persaudaraan dengan umat Kristiani. Dewan kepausan juga meminta kepada umat Kristen dan Islam di seluruh dunia untuk mempromosikan budaya dialog.

“Vatikan menyerukan kepada umat Kristen dan Islam di seluruh dunia untuk mempromosikan persaudaraan dan keharmonisan dengan membangun jembatan persahabatan serta mempromosikan budaya dialog di mana kekerasan ditolak dan kemanusiaan lebih dihormati,” bunyi pernyataan seperti dilaporkan Vatikan News.

Sementara itu, khusus untuk masyarakat Indonesia Anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, Pater Markus Solo Kewuta, SVD menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri secara khusus. “Semoga damai sejahtera menyertai kita semua. Perayaan ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperat persaudaraan dan kebersamaan sebagai sesama warga bangsa.”

Tidak hanya itu, Dubes Antonius Agus Sriyono bersama sejumlah biarawan-biarawati dari Indonesia dalam sebuah orkestra sederhana pun menyampaikan ucapan Selamat Lebaran dalam nada dan lagu sebagaimana yang dapat disaksikan pada link youtube berikut ini: https://www.youtube.com/watch?v=igaXuCJ4tx0&pbjreload=10

Vatikan dan warganya telah menunjukkan bagaimana penghargaan terhadap umat Islam yang menjalankan ibadah agamanya. Semoga Indonesia, negara dengan ragam agama dan suku ini tetap damai dalam perbedaan dan saling menghormati satu sama lain. Selamat Hari Lebaran, Minal Aidin Wal Faizin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. (FL)