Diaspora Flobamora Santo Gabriel Gelar Misa Inkulturasi

  Berita Paroki > Berita Utama

PULO GEBANG – Ada pemandangan yang berbeda di seputaran Gereja Santo Gabriel Pulo Gebang pada Minggu, 1 Juli 2018. Di pelataran gereja tampak sejumlah umat mengenakan pakaian tradisional yang didominasi oleh corak tenunan berwarna warni. Masuk ke dalam Gereja, saat Misa dimulai, tiga orang pastor yang memimpin ekaristi pun mengenakan kasula yang bercorak tenunan khas, yang melangkah menuju altar bersama dengan para petugas liturgi dengan iringan tarian dalam busana daerah.

Ya, hari itu sedang berlangsung Misa Inkulturasi Flobamora (Flores, Sumba, Timor dan Alor) sebutan untuk kaukus masyarakat di Nusa Tenggara Timur. Agenda Seksi Liturgi Paroki Pulo Gebang yang dipersiapkan oleh sebuah panitia kecil ini pun mengantarkan umat dalam suasana Misa Konselebrasi denga selebran utama Romo A. Susilo Wijoyo Pr., didampingi dua konselebran Romo Agustinus Pr. dari Keuskupan Agung Ende dan Romo Fransiskus dari Keuskupan Maumere.

Dalam homilinya, Romo Susilo menyampaikan apresiasinya kepada umat yang telah mempersiapkan misa ini dengan baik. Ia pun memberikan komentar positif terhadap corak tenunan khas Flobamora yang hari itu mendominasi pemandangan di dalam Gereja. Hingga Patung Yesus dan Bunda Maria pun didandani dengan mengenakan busana daerah Flobamora.

Semarak Misa ini semakin terasa dengan iringan PS Flobamora Santo Gabriel pimpinan Blassius Gani, seorang dirigen dan pelatih koor senior warga paroki ini. Beberapa lagu berbahasa liturgi berlanggam Flores dn Timor dibawakan. Tak lupa satu lagu berbahasa daerah yakni Tiba Mori dari Manggarai, Flores pun menjadi lagu persembahan yang mengiringi empat orang penari dalam prosesi persembahan.

Misa berlangsung meriah dan menjadi syukur tersendiri bagi panitia kecil yang mempersiapkan ini.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pastor paroki dan pastor rekan yang sudah memberikan kesempatan kepada warga Flobamora di paroki ini untuk memberikan sentuhan kultural dalam ekaristi pagi ini. Semoga kedepannya kami dapat mempersembahkan yang lebih baik dari ini untuk Kemuliaan Tuhan,” ungkap Johnny Manoch, Sesepuh Flobamora Santo Gabriel.

Sementara itu, Ketua Panitia Misa Inkulturasi Flobamora, Ferdinand Lamak pun mengucapkan terima kasih kepada umat dan DPH dan Seksi Liturgi maupun Seksi Komsos Paroki Pulo Gebang serta berbagai pihak yang telah memberikan dukungan serta energi positif bagi terselenggaranya kegiatan ini.

“Jujur harus kami akui bahwa masih banyak hal yang kurang dari penyelenggaraan Misa Inkulturasi Flobamora ini. Kedepannya kami akan mempersiapkan semuanya dengan lebih baik lagi,” ungkapnya singkat.

Seusai Misa, diadakan ramah tamah sederhana warga Diaspora Flobamora Santo Gabriel dengan para pastor dan perwakilan dari DPH. Dipandu Kumala Dewi dan Roberto, acara siang itu berjalan dalam antusiasme yang tinggi dari umat. Diiringi kelompok musik OMK Santo Gabriel yang membawakan lagu-lagu antara lain: Flobamora, Bale Nagi, Mogi Ye dan sejumlah lagu lain, umat pun terbawa dalam romantisme kampung halaman. Tampak beberapa umat menitikkan air mata ketika semua melantunkan lagu Flobamora, Tanah Airku yang tercinta, tempat beta dibesarkan Ibunda…. Biarpun tanjung teluknya, jauh terpele nusaku…Tapi selalu terkenang di kalbuku… Anak Timor main Sasando dan bernyanyi Bolelebo, Rasa girang dan berdendang pulang e……

Jamak dikenal bahwa tidaklah sah jika acara orang-orang daerah ini jika tidak dibubuhi dengan tarian massal atau line dance. Pasalnya Flobamora memiliki sejumlah line dance yang terkenal seperti Gemu Famire, Ja’i, Mogiye, Dolo-Dolo dan Rokatenda.

Uniknya, Romo Agustinus tampil sebagai leader bersama Romo Susilo ketika umat ramai-ramai membawakan Tarian Ja’i asal Kabupaten Ngada, Flores. Suasana penuh sukacita itu pun berakhir tepat jam 13.00 ditutup dengan acara foto bersama.

“Selanjutnya setelah kegiatan ini, Diaspora Flobamora Santo Gabriel akan membentuk diri menjadi sebuah wadah dengan tetap menjaga dan menjunjung Kebhinekaan untuk dapat mengambil bagian dalam tugas dan pelayanan di Paroki Pulo Gebang yang kita cintai ini,” ungkap Lamak dalam kata penutup kegiatan itu. (Penulis dan Foto: Njozz)