Eksklusivisme? No. Way!

  Renungan

Apakah eksklusivisme itu? Lalu mengapa no way?  Dalam kamus besar bahasa Indonesia, ekslusivisme adalah paham yang mempunyai kecenderungan untuk memisahkan diri dari masyarakat. Pandangan ini barangkali nampak jelas di kota-kota besar. Mengapa? Kota besar seperti Jakarta, merupakan tempat pertemuan  berbagai suku, agama, ras dan golongan.  Dengan demikian, kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya merupakan ‘melting pot’ dari berbagai suku, agama, budaya serta bahasa. Adanya berbagai pertemuan,maka terbentuklah kebhinekaan (pluralisme) di kota itu.

Namun demikian, tak dapat dipungkiri ada saja yang berusaha untuk membentuk eksklusivisme dalam kehidupan mereka.  Mereka cenderung memisahkan diri dari kelompok lain. Dibentuklah syarat-syarat dan ketentuan untuk menjadikan eksklusivisme. Mungkin karena agama tertentu, atau budaya tertentu, dan lain-lain, dan orang lain tak mungkin menjadi bagian dari kelompok yang eksklusif ini kalau tidak  satu budaya atau satu agama yang sama.

Eksklusivisme pada dasarnya bertentangan dengan  kebhinekaan. Tuhan telah menciptakan keberagaman sebagai suatu ketentuan di dalam hidup ini. Demikian pula ketika Allah menciptakan manusia dan dari sekitar 6 milyar jumlah umat manusia, tak satu pun ada yang sama.Kemiripan bisa saja terjadi, tetapi pasti tidak sama persis.  Masing-masing ciptaan itu unik. Jadi siapa pun yang berusaha  menjadikan semuanya sama, maka hal itu bertentangan dengan maksud Allah sendiri. Allah mencipta dengan sempurna. Kalau ada yang tidak sempurna, itu berarti Allah mempunyai rencana lain. Yang pasti ciptaan Tuhan tidak ada yang gagal atau kurang sempurna. Kesempurnaan itu hanya milik Allah, jadi kalau kita kurang sempurna, biarlah Allah sendiri yang menyempurnakan itu.

Oleh karena itu, topik yang kita angkat kali ini adalah: Eksklusivisme, No Way! Banyak contoh di dunia, di mana ekslusivisme membawa bencana bagi kelompoknya sendiri. Salah satunya adalah eksklusivisme orang-orang Farisi dan ahli Taurat di dalam Perjanjian Lama.  Mereka merasa eksklusif sebagai umat pilihan sehingga di luar kelompoknya adalah orang kafir. Karena sebagai umat pilihan, mereka merasa dirinya paling terhormat, paling mengerti tentang hukum Taurat,  paling hebat di dalam menjalankan agama, sehingga orang lain harus tunduk hormat kepada mereka.

Oleh karena itu,  kehadiran Yesus dengan ajaran yang baruNya, menjadi batu sandungan bagi mereka. Mereka terus memata-matai Yesus kemana pergi dan kemana pun Yesus mengajar.  Bahkan perbuatan murid-Nya pun diawasi. Ingat ketika para murid lapar dan memakan gandum, atau ketika Yesus melakukan banyak penyembuhan pada hari Sabat? Ada banyak hal dalam Kitab Suci, bagaimana eksklusivisme sangat ditentang oleh Yesus sebagaimana orang-orang Farisi dan ahli Taurat.

Contoh lain. Masih kita kenal dengan Santo Paulus yang sebelumnya  bernama Saulus. Dialah seorang Yahudi tulen dari golongan Farisi. Akibat terlalu pintar dalam hukum Taurat, maka ia juga terus mengusahakan bagaimana mencegah maraknya pengikut Yesus dan bahkan akan terus berusaha membinasakan para pengikut Yesus.  Ia sudah mengantongi ijin dari para petinggi orang Farisi dan ahli Taurat untuk menganiaya para pengikut Kristus.

Sewaktu  Stefanus dirajam oleh orang-orang Farisi, karena dianggap menghujat Allah, Saulus menunggui dan menyaksikannya. Jadi Saulus sebelum bernama Paulus memang orang pintar yang fanatik dari golongan Farisi.

Man propose God dispose’, demikian sebuh kata bijak. Yang artinya kurang lebih, manusia boleh berencana, tetapi Tuhan yang memutuskan. Ketika Saulus seorang remaja yang aktif, dan tegartengkuk ingin terus mengejar-kejar para pengikut Kristus, namun Tuhan berkehendak lain. Dalam perjalanan menuju Damsyik, Saulus menerima  sinar yang menyilaukan, dan akhirnya Saulus terjatuh. Ia mendengar suara dari langit yang kurang lebih begini bunyinya:” Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku”. Saulus pun bertanya:” Siapakah Engkau Tuhan?”. Tuhanmenjawab, “Akulah Yesus dari Nazaret yang engkau aniaya”.  Saulus tersungkur dan jatuh dan selama tiga hari tidak bisa melihat.

Singkat kata, akhirnya menjadi pengikut Kristus, dan bahkan menjadi rasul yang istimewa. Dialah orang pilihan Kristus yang mewartakan kabar sukacita di luar orang-orang Yahudi. Ia keluar dari ekslusivisme Yahudi, dan memberikan pewartaan tentang Kristus yang bangkit di luar masyarakat Yahudi. Sebagai rasul yang istimewa,  pilihan Kristus sendiri, Paulus mewartakan  kabar sukacita di sekitar Asia Kecil, Laut Tengah,  dan tempat-tempat lain yang kesemuanya bukan masyarakat Yahudi. Kalau selama ini Paulus dalam mewartakan  Injil di luar masyarakat Yahudi, itu berarti ia keluar dari eklusivisme kelompoknya.

Dalam  hidup menggereja, terkadang kita juga menjumpai kelompok-kelompok yang eksklusif. Kelompok ini cenderung memandang bahwa hanya kelompoknya sendiri yang terbaik. Dalam hidup menggereja, hal ini dapat menimbulkan kesombongan rohani. Oleh karena itu, eksklusivisme bisa jadi menjadi batu sandungan dalam hidup menggereja. Dengan demikian, eksklusivisme, no way lah.

 

(Penulis : Jus Soekidjo, Editor : Erin, Foto : Juan)