Novena I

Damai bersamamu

Inspirasi: Mat 5: 17-37 [kotbah di bukit

Inspirasi Renungan

  1. Salah satu nilai yang Yesus ajarkan kepada kita dalam khotbah-Nya di atas bukit, seperti yang kita dengar dalam Injil hari ini, ialah tentang damai. Kita diajak untuk berdamai dengan saudara, bahkan dengan lawan. “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat bahwa saudaramu sakit hati terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5: 23-24).
  2.  Yesus menghubungkan damai dengan kelayakan persembahan kepada Tuhan. Hati yang damai menjadi tanda kelayakan seseorang ketika mempersembahkankorban kepada Tuhan. Agar pantas membawa persembahan bagi Tuhan, kita perlu terlebih dahulu berdamai dengan sesama. Yesus mengajarkan bahwa relasi yang harmonis dengan Tuhan terungkap dalam relasi dengan sesama; dan relasi harmonis dengan sesama bersumber dari relasi personal dengan Tuhan.
  3. Kita diingatkan bahwa melakukan ritus keagamaan dalam Gereja saja tidak cukup. Kita perlu membangun sikap nyata mengampuni sesama saudara, bahkan lawan (Mat 5: 25). Damai dan pengampunan bersumber pada Tuhan, bukan pada kita. Maka kita perlu memohon dengan rendah hati kepada Tuhan agar Ia sendiri yang mengajar kita tentang damai. Ketika kita mampu berdamai dengan diri sendiri, kita dapat berdamai dengan segenap ciptaan lain.

Teladan St. Fransiskus Assisi

(Anggaran Dasar Dengan Bulla 11, 13; Wasiat 23)

  1. Yesus datang membawa damai bagi kita. Ia adalah damai kita. Ia datang menggenapi hukum Taurat dengan mengajarkan Hukum Kasih, agar kita semua satu dalam kasih. Ia sendiri mendamaikan kita dengan Allah Bapa Penyayang. Dalam kesatuan dengan Yesus, kita percaya bahwa damai lebih kuat daripada perang, kejujuran akan lebih kuat dari pengkhianatan, dan kemarahan akan dikalahkan oleh hati yang lemah lembut.
  2. Santo Fransiskus Assisi adalah orang yang belajar terus-menerus untuk menjadi pembawa damai. Ia mulai dari berdamai dengan dirinya sendiri. Ia menerima rencana Tuhan bagi hidup dan panggilannya. Ia rela meninggalkan mimpinya menjadi prajurit untuk menjadi pembawa damai Kristus. Ketika berjumpa dengan orang ia juga menyerukan salam ‘damai dan kebaikan’.
  3. Dalam Anggaran Dasar Fransiskus menasihati para saudaranya agar “hendaknya mereka itu murah hati, suka damai dan tidak berlagak, lembut dan rendah hati”. Dan dalam Wasiat ia menulis demikian: “Tuhan mewahyukan kepadaku salam yang hendaknya kita ucapkan, yaitu Semoga Tuhan memberi engkau damai.” Seruan damai itu lahir dari hati Fransiskus yang damai. Dan dari hati yang damai itu ia juga berdamai dengan makhluk ciptaan lain.

Paus Fransiskus (Ensiklik Dilexit Nos, Art. 28)

  1. Paus Fransiskus merefleksikan bahwa dunia bisa berubah dari hati. Baginya hati adalah pusat diri manusia merupakan ruang rahasia di mana manusia dapat mendengar bisikan suara Tuhan. Ketika hati seseorang dipenuhi damai, ia tergerak untuk menjadi pembawa damai.
  2. Paus menulis: “Hanya dengan menggunakan hati, komunitas kita akan berhasil menyatukan dan mendamaikan pikiran dan kehendak yang berbeda, sehingga Roh dapat membimbing kita dalam persatuan sebagai saudara dan saudari. Rekonsiliasi dan kedamaian juga lahir dari hati.”

NOVENA I

Doa Pengampunan
(Penggalan Uraian Doa Bapa Kami oleh Santo Fransiskus Assisi)

Ya Bapa kami yang Mahakudus, Pencipta, Penebus, Penghibur dan Penyelamat kami, karena belaskasih-Mu yang tak terperikan, karena daya kekuatan sengsara Putra-Mu yang terkasih, dan karena jasa Santa Perawan Maria dan semua orang pilihan-Mu, apa yang tidak kami ampuni sepenuhnya, buatlah ya Tuhan, agar kami ampuni sepenuhnya; agar kami sungguh-sungguh mengasihi musuh kami karena Engkau dan dengan bakti berdoa bagi mereka di hadapan-Mu, serta tidak membalas kejahatan seorang pun dengan kejahatan, tetapi mengusahakan apa yang menguntungkan bagi semua di dalam Engkau.
Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

AKSI NYATA PERTOBATAN

  • Membiasakan anak-anak untuk mengatakan ‘maaf’ ketika melakukan kesalahan kepada siapapun meskipun kesalahan kecil.
  • Membuat niat untuk berdamai dengan sesama, mulai dari keluarga. • Melakukan aksi nyata: meminta maaf kepada orang yang pernah kita lukai dan memaafkan orang yang pernah bersalah kepadaku