Novena II

Allah Maharahim bagi Setiap Makhluk-Nya

Inspirasi: Yohanes 20:19-31

Inspirasi Renungan

  1. Pada Minggu Kerahiman Ilahi ini, sapaan: “Damai sejahtera bagimu!” (Latin: pax vobiscum; Ibrani: shalom aleichem) menjadi salam Kerahiman Kristus. Sapaan Kristus menghilangkan ketakutan dan membangkitkan sukacita
    para murid dan semua orang yang percaya padaNya. Kristus yang bangkit membawa dua hal sekaligus: Ia menawarkan damai dan hati-Nya yang terluka memberikan kerahiman. Sukacita itu menjadi semakin penuh karena misteri Allah Tritunggal disiratkan bagi kita: kerahiman Bapa kepada dunia digenapi oleh Sang Putra melalui penghembusan Roh kepada para murid: “Terimalah Roh Kudus!”
  2. Damai adalah buah dari Kerahiman Allah. Tanpa mengalami kasih sayang Allah, damai sejati tidak mungkin tercapai. Sapaan “Damai sejahtera bagimu!” sekaligus menjadi panggilan untuk bertindak membawa damai bagi sesama
    dan harmoni bagi segenap ciptaan. Pertanyaan bagi kita, apakah kita sudah menampakkan kerahiman Tuhan bagi sesama dan segenap ciptaan?
  3. Beberapa waktu terakhir Ibu Bumi, rumah kita bersama, rahimnya sedang terluka. Ia telah mengasuh dan membesarkan kita melalui udara yang segar, hasil bumi yang beraneka ragam, dan kekayaan alam yang berlimpah.
    Namun, tangan-tangan jahil segelintir orang merusak tatanan harmonis ibu bumi dan menjarah hasil bumi hanya demi kepentingan mereka sendiri. Akibatnya, orang-orang miskin menjadi semakin terluka, warga adat kehilangan
    rumah mereka, kota-kota menjadi semakin padat. Banjir, tanah longsor, polusi udara, abrasi daerah sepadan pantai dan sungai, gizi buruk, dan sebagainya memenuhi kanal-kanal berita dan media sosial.
  4. Berhadapan dengan kerapuhan tersebut, Kerahiman Allah menawarkan damai batin, sekaligus harmoni bagi segenap ciptaan. Kita semua diajak untuk memulihkan keseimbangan Ibu Bumi dan harmoni segenap ciptaan secara bertahap dan bersama. Melalui spirit ekologi integral, kita diajak “untuk menemukan kembali suatu keselarasan yang jernih dengan dunia ciptaan, untuk merenungkan gaya hidup kita dan cita-cita kita, untuk merenungkan Pencipta yang hidup di tengah kita dan dalam lingkungan kita, yang kehadiran-Nya “tidak boleh dibuat-buat, tetapi ditemukan, disingkapkan” (Laudato Sí, art. 225). Seperti damai Kristus bertujuan untuk menyembuhkan hubungan yang rusak dengan Tuhan dan sesama, ekologi integral bertujuan untuk menyembuhkan hubungan yang rusak antara manusia dan alam.
  5. Santo Fransiskus dari Assisi telah menunjukkan kepedulian khusus terhadap ciptaan Allah dan kaum miskin serta mereka yang tersisihkan. Dia menyapa setiap makhluk sebagai saudara dan saudari. Dalam diri setiap ciptaan, dia
    menemukan dan merenungkan jejak kaki Allah. Bagi Fransiskus, setiap ciptaan-Nya dapat memancarkan atau memantulkan sedikit dari kemuliaan Allah yang misteri, transenden dan tak terkatakan sepenuhnya. Santo Fransiskus dari Assisi adalah seorang mistikus dan peziarah yang hidup dalam kesederhanaan dan keselarasan yang indah dengan Allah, dengan orang lain, dengan alam, dan dengan dirinya sendiri. Dia menunjukkan kepada kita betapa tak terpisahkan ikatan antara kepedulian akan alam, keadilan bagi kaum miskin, komitmen kepada masyarakat, dan kedamaian batin.

Ensiklik Laudato Sí

  • “Bapa adalah sumber utama segala sesuatu, dasar yang mengasihi dan menyapa semua yang ada. Anak, cerminan Bapa, yang melalui-Nya segala sesuatu diciptakan, telah menyatukan diri-Nya dengan bumi ini ketika dibentuk dalam rahim Maria. Roh, ikatan kasih yang tak terbatas, hadir dalam pusat alam semesta dengan menghidupkannya dan membangkitkan jalan-jalan baru. … Inilah sebabnya mengapa ketika kita dengan kekaguman merenungkan alam semesta dalam seluruh kemegahan dan keindahannya, kita harus memuji segenap Allah Tritunggal.” (Laudato Sí, art. 238)
  • “Ekologi integral juga berarti meluangkan waktu untuk menemukan kembali suatu keselarasan yang jernih dengan dunia ciptaan, untuk merenungkan gaya hidup kita dan cita-cita kita, untuk merenungkan Pencipta yang hidup di tengah kita dan dalam lingkungan kita, yang kehadiran-Nya “tidak boleh dibuat-buat, tetapi ditemukan, disingkapkan”. (Laudato Sí, art. 225)
  • “… Dia mengundang kita untuk melihat bunga bakung di ladang dan burung-burung di langit, atau ketika berhadapan dengan seorang laki-laki yang cemas “Ia memandangnya dan menaruh kasih kepadanya” (Markus 10: 21). Dia sepenuhnya hadir bagi setiap manusia dan setiap makhluk, dan dengan demikian Dia telah menunjukkan kepada kita suatu cara untuk mengatasi kecemasan tak sehat yang menjadikan kita dangkal, agresif, dan konsumtif tanpa kendali.” (Laudato Sí, art. 226)

Spiritualitas Fransiskus Asisi

  • St. Bonaventura, Legenda Mayor IX.1.
    “Lewat pemandangan-pemandangan yang menyenangkan. hatinya bangkit kepada Dasar dan Sebab yang menghidupkan. Dalam hal-hal yang indah dilihamya Yang Mahaindah. Ia mengikuti Sang Kekasih lewat jejak-jejak yang ditinggalkan pada benda-benda dan dari semuanya dibuat baginya tangga yang dapat dinaikinya untuk sampai kepada Dia yang sepemihnya amat menarik itu”.
  • St. Bonaventura, Legenda Mayor IХ,4
    “Kasih sayang hatinya membuat ia menjadi saudara bagi makhluk-makhluk lain, sehingga tidak mengherankan kalau
    cinta kasihnya membuat ia lebih bersaudara dengan mereka yang diciptakan menurut citra sang Pencipta dan ditebus oleh darah sang Penyelamat”.

NOVENA II

Kami memuji Engkau, ya Bapa, bersama semua makhluk-Mu.
Kami semua adalah milikMu dan dipenuhi dengan kehadiran
dan kasih-Mu yang lembut. Terpujilah Engkau!
Anugerahilah kami rasa kebersatuan mendalam
dengan semua yang ada. Semoga kami mampu
menjadi sarana kasih-Mu bagi semua makhluk di bumi ini.
Amin.

AKSI NYATA PERTOBATAN

  • Mengembangkan gaya hidup sederhana: tidak mudah membeli barang baru, berbelanja di pasar-pasar tradisional, makan di rumah makan sederhana yang bersih,
  • Menyisihkan sebagian uang jajan uang jajan untuk membantu anak-anak belum mendapatkan fasilitas sekolah yang layak.