Novena VII
Pembawa Damai Bagi Seluruh Ciptaan
Inspirasi: Mat 21: 33-43
Inspirasi Renungan
- Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur mengajak kita untuk pertama-tama bersyukur kepada Tuhan atas anugerah ibu Bumi Indonesia yang subur dan kaya. Tuhan juga menganugerahkan kepercayaan kepada kita untuk bekerja menggarap tanah yang Ia sediakan bagi kita. Tuhan ibarat tuan tanah dan kita para petaninya. Bagi kita tuan tanah menyewakan tanah-Nya. Kita bukan pemilik tanah, namun diberi kepercayaan untuk menggarapnya, sampai tiba saatnya panen, dan hasilnya dipersembahkan kepada tuannya.
- Hidup kita sangat bergantung pada ibu bumi. Ibarat seorang petani, kita mengandalkan hasil tanah sebagai jaminan hidup kita. Namun baiklah kita sadar bahwa hasil yang kita peroleh dari tanah itu bukan milik kita. Kita akan memberikan hasil itu kepada hamba-hamba yang diutus tuan tanah untuk mengambil hasilnya. Petani-petani dalam perumpamaan ini jahat karena mereka ingin memiliki tanah tuan rumah. Bahkan ahli waris tuan rumah pun mereka bunuh.
- Mengambil dan memonopoli sesuatu yang bukan milik kita merupakan tindakan korup. Hasrat untuk memiliki menimbulkan niat untuk mencari keuntungan diri, merebut hak warisan orang lain, bahkan dengan cara yang kejam.
Egoisme menutup mata kita terhadap kepentingan sesama saudara. Orang yang egois sulit untuk berkata cukup, karena ia mau mendapat keuntungan sebanyak mungkin dan rugi sedikit mungkin. Kita semua adalah penggarap kebun anggur. Kita semua setara. Mari kita melakukan tanggung jawab kita dengan baik, dengan kepercayaan teguh bahwa Tuhan sendiri akan menganugerahkan kasih-Nya kepada kita.
.
Teladan Santo Fransiskus (Kidung Segenap Ciptaan) - Santo Fransiskus Assisi memperkaya Gereja dengan warisan spiritualitas persaudaraan universal. Ia menyapa para pengikutnya sebagai saudara dan saudari. Dalam Kidung Segenap Ciptaan, ia memuji Tuhan dengan dan bersama semua makhluk ciptaan: Saudara Matahari, Saudari Bulan dan bintang-bintang, Saudari Angin, Saudari Air, Saudara Api, dan Saudari Ibu Bumi. Senada dengan Injil di atas, mari kita coba mengibaratkan hidup kita di bumi sebagai petani sambil merenungkan bait ke-9 dan ke-14 dari Kidung Segenap Ciptaan.
- “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari kami Ibu Pertiwi; dia menyuap dan mengasuh kami, dia menumbuhkan aneka ragam buah-buahan, beserta bunga warna-warni dan rumput-rumputan. Pujalah dan pujilah Tuhanku, bersyukurlah dan mengabdilah kepada-Nya dengan merendahkan diri serendah-rendahnya.”
Paus Fransikus
(Pesan Inti Ensiklik Laudato Sí dan Fratelli Tutti).
- Bumi dan manusia merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Manusia hidup dari hasil ibu Bumi. Hal ini direnungkan secara mendalam oleh paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Sí dan Fratelli Tutti: yang pertama merenungkan pentingnya merawat bumi yang sudah rusak dan tercemar karena dieksploitasi manusia, dan yang kedua tentang persaudaraan dan persahabatan sosial bagi semua manusia. Paus mengajak kita memaknai bumi sebagai rumah kita bersama; dan kita semua sebagai penghuni bumi adalah sebuah komunitas persaudaraan.
- Sebagai sesama saudara dalam satu rumah bumi, kita semua bertanggung jawab untuk merawat bumi kita. Mari kita merawat bumi kita, berhenti mengeksploitasinya, memberikan kesempatan kepadanya untuk memulihkan diri. Mari kita bergandengan tangan, satu dalam rasa kemanusiaan, bersama-sama menjaga persaudaraan universal dalam rumah bumi.
NOVENA II
Doa Bersama Semua Makhluk
(Penggalan Doa Paus Fransiskus dalam Laudato Si)
Ya Allah Tritunggal, persekutuan kasih yang mulia
dan tanpa batas, ajarilah kami untuk menatap Dikau
dalam keindahan alam semesta, di mana segala sesuatu
berbicara tentang Dikau. Bangkitkanlah puji dan syukur kami
atas setiap makhluk ciptaan-Mu. Anugerahilah kami
rasa kebersatuan mendalam dengan semua ciptaan.
Allah yang Mahakasih, tunjukkanlah kepada kami
tempat kami di dunia ini sebagai sarana kasih-Mu
bagi semua makhluk di bumi ini,
karena tiada satu pun yang Engkau lupa.
Terangilah para pemegang kekuasaan dan modal
agar mereka menjaga diri terhadap dosa ketidakpedulian,
mencintai kesejahteraan umum,
memajukan sesama yang lemah,
dan merawat dunia yang kami diami.
Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
AKSI NYATA PERTOBATAN
- Mengurangi waktu penggunaan media sosial sebagai hiburan, agar dapat terkoneksi secara nyata dengan orang-orang di sekitar kita.
- Bijak dalam menanggapi berita-berita di media sosial yang rentan menimbulkan perpecahan karena isu agama, ras, dan kebudayaan.
- Mengolah sampah dengan baik, agar mengurangi polusi tanah, air dan udara. Perlu aksi pemisahan tempat sampah: organik dan non-organik
