Novena VII
Solidaritas Ekologis: Peduli Alam dan Sesama Yang Lemah
Inspirasi: Mat 14:13–21
Inspirasi Renungan
- Perikop Injil Matius 14:13–21 mengisahkan mukjizat Yesus memberi makan lima ribu orang. Ada begitu banyak orang yang mengikuti Yesus. Berkat perjumpaan itu, Yesus menaruh belaskasihan pada mereka, lalu Ia menyembuhkan yang sakit dan memberi mereka makan. Bagi Yesus, mereka bukanlah kerumunan massa yang tidak dikenal, tetapi sebagai pribadi-pribadi yang lapar, haus, lemah, dan membutuhkan perhatian. Pada kesempatan
yang sama, Yesus menantang para murid: “Kamu harus memberi mereka makan.” Seruan ini bukan hanya soal makanan jasmani, tetapi panggilan untuk terlibat, berbagi, dan bertanggung jawab. Inilah yang disebut sebagai solidaritas. - Dalam konteks ekologis, kisah ini mengajak kita untuk peka terhadap “kelaparan” zaman ini: kerusakan alam, kemiskinan struktural, dan penderitaan kelompok rentan yang paling terdampak krisis lingkungan. Selama ini, kita telah keliru memandang ciptaan hanya sebatas sumber daya yang harus dieksploitasi. Akibatnya, terjadi eksploitasi yang berlebihan. Krisis ekologis terjadi karena keserakahan, ingin mengambil lebih, dan kurangnya solider dengan yang lain.
- Sialnya, yang paling merasakan akibat dari kerusakan lingkungan adalah orang-orang miskin dan lemah. Lebih jauh lagi, perlu keadilan: apa yang ada sekarang bukan hanya milik kita saat ini tetapi juga menjadi milik anak-cucu kita di masa yang akan datang. Karena itu, semangat solidaritas perlu dipupuk pada dua hal ini: solidaritas antar-generasi, yakni demi kebutuhan anak-cucu kita di masa depan dan solidaritas intra-generasi, yakni kepada orang-orang miskin yang menjadi korban pada masa sekarang. Ajakan Yesus “Kamu harus memberi mereka makan” menjadi panggilan Gereja untuk membangun solidaritas ekologis: berbagi sumber daya secara adil (antar-generasi dan intra-generasi), hidup sederhana, dan melindungi ciptaan sebagai rumah bersama (common home).
- Santo Fransiskus dari Assisi adalah teladan istimewa dalam menghayati solidaritas ekologis. Bagi Fransiskus, mencintai alam tidak terpisah dari mencintai kaum miskin dan tersingkir. Ia memilih hidup miskin bukan sebagai penolakan terhadap dunia, tetapi sebagai bentuk solidaritas radikal dengan yang lemah dan sebagai kritik profetis terhadap keserakahan. Spiritualitas yang ia tawarkan melalui Kidung Segenap Ciptaan mengundang kita untuk senantiasa memuji Allah melalui ciptaan, bukan dengan mengeksploitasi, tetapi dengan menghormati dan merawat. Spiritualitas ini sangat relevan di tengah budaya konsumtif dan eksploitatif dewasa ini.
- “Tapi hari ini, kita tak dapat tidak harus mengakui bahwa pendekatan ekologis yang sejati selalu menjadi pendekatan sosial, yang harus mengintegrasikan soal keadilan dalam diskusi lingkungan hidup, untuk mendengarkan baik jeritan bumi maupun jeritan kaum miskin.” (Laudato Sí, art. 49)
- “Sesungguhnya, teknologi cenderung menyerap segala sesuatu ke dalam logikanya yang kuat, dan mereka yang hidup di tengah kepungan teknologi “tahu benar bahwa apa yang pada akhirnya diperjuangkan dalam bidang ini bukanlah manfaat, dan bukanlah kesejahteraan umat manusia, melainkan dominasi: suatu dominasi dalam arti yang paling ekstrem dari kata itu.” Untuk itu “orang berusaha merebut segala unsur alam dan eksistensi manusia.” Kemampuan kita untuk membuat keputusan, kebebasan yang paling autentik, dan ruang untuk suatu kreativitas alternatif masing-masing orang, sudah berkurang.” (Laudato Sí, art. 108)
- “Dalam keadaan masyarakat global sekarang ini, dengan begitu banyak ketimpangan dan makin banyak orang terpinggirkan, serta dirampas hak-hak asasinya, prinsip kesejahteraan umum, sebagai konsekuensi logis dan tak terelakkan, segera menjadi seruan kepada solidaritas dan pilihan preferensial untuk kaum miskin.” (Laudato Sí art. 158)
Anggaran Dasar St. Fransiskus dari Assisi, Pasal VI:1-2, 7-9:
“Saudara-saudara tidak boleh membuat sesuatu pun menjadi miliknya, baik rumah maupun tempat kediaman dan barang apa pun. Sebagai musafir dan perantau di dunia ini, yang mengabdi kepada Tuhan dalam kemiskinan dan kerendahan,… di mana pun saudara-saudara berada dan bertemu, hendaklah mereka menunjukkan bahwa mereka satu sama lain merupakan saudara sekeluarga. Maka yang satu hendaknya dengan leluasa menyatakan kebutuhannya kepada yang lain; karena jika seorang ibu mengasuh anaknya yang badani betapa lebih seksama lagi seorang saudara harus mengasihi dan mengasuh saudaranya yang rohani. Jika ada saudara yang tertinggal karena sakit, maka saudara lainnya harus melayaninya, sebagaimana mereka sendiri ingin dilayani.”
NOVENA II
Allah yang Mahakuasa, Mahakudus, Mahatinggi
dan Mahaluhur, Engkaulah segala kebaikan, paling baik,
seluruhnya baik, hanya Engkau sendiri yang baik.
Jadilah kehendakMu atas diri kami
agar kami mengasihi Engkau
dengan segenap hati dan mengarahkan seluruh tenaga
dan kekuatan kami kepadaMu; agar kami juga mengasihi
dan bersolider dengan sesama kami,
sambil mendorong mereka semua sekuat tenaga
untuk mengasihi Engkau dan berbagi berkat
serta sukacita bersama saudara-saudari yang membutuhkan,
yang kecil dan yang tertindas.
Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.
AKSI NYATA PERTOBATAN
- Memilih gaya hidup sederhana dan ramah lingkungan: mengurangi sampah plastik, menghemat penggunaan air, mematikan AC ketika ruangan tidak digunakan.
- Aksi solidaritas dengan alam: terlibat dalam membersihkan halaman dan got/selokan di rumah dan lingkungan tempat tinggal, membuang sampah pada tempatnya.
- Aksi solidaritas dengan mereka yang membutuhkan: membayar iuran sampah pada waktunya, mendukung produk/UMKM lokal
