Ibu Suryani Nainggolan adalah seorang ibu dari tiga anak — umat Paroki Santo Gabriel Pulo Gebang, Jakarta Timur, yang menjalani hidup dengan penuh liku, namun teguh dalam iman dan tanggung jawabnya sebagai orang tua tunggal. Di tengah keterbatasan ekonomi, perubahan hidup yang keras, dan perjalanan iman yang tidak selalu lurus, ia berdiri sebagai seorang ibu yang menjadikan pendidikan—terutama pendidikan iman Katolik—sebagai jangkar hidup keluarganya.

Sebagai tulang punggung keluarga, Ibu Suryani bekerja sebagai pengemudi taksi online dan menjalani berbagai pekerjaan untuk memastikan anak-anaknya tetap bersekolah. Baginya, sekolah bukan sekadar tempat belajar akademik, melainkan ruang pembentukan karakter dan iman. Itulah sebabnya ia dengan sadar memilih sekolah Katolik bagi anak-anaknya. Bukan karena sekolah Katolik sempurna, melainkan karena ia percaya pada nilai-nilai dasarnya: disiplin, doa, rutinitas iman, dan keberanian untuk merefleksikan hidup.

Ia meyakini bahwa kebiasaan sederhana—seperti doa malam, tanda salib, dan pendidikan agama yang konsisten—adalah fondasi penting bagi masa depan anak-anaknya.

Dalam dunia yang keras dan sering kali tidak ramah, iman menjadi pagar batin yang melindungi mereka. Pendidikan Katolik, baginya, memberi ruang bagi anak-anak untuk bertumbuh tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara rohani.

Perjalanan imannya sendiri tidak mudah. Ia pernah hidup jauh dari Gereja selama bertahun-tahun, mengikuti jalan hidup yang membuatnya kehilangan arah rohani. Namun ketika hidupnya runtuh dan ia berada di titik paling rapuh—ditinggalkan, sendirian, dan memikul beban tiga anak—ia memilih untuk “pulang.” Kepulangannya ke Gereja Katolik bukan karena keadaan sudah membaik, melainkan justru karena ia takut mati tanpa rumah rohani. Ia kembali dengan satu doa sederhana namun mendalam: keselamatan bagi ketiga anaknya.

“Dalam hidup yang tidak mudah, saya hanya minta satu hal kepada Tuhan: Selamatkan ketiga anak saya,” katanya.

Doa itulah yang menguatkannya untuk terus berjuang. Ia membawa anak-anaknya kembali ke kehidupan Gereja, memperkenalkan mereka pada komunitas, doa, dan pendampingan iman. Anak-anaknya mengikuti gerakan belarasa di lingkungan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) yang bertujuan membantu biaya pendidikan anak-anak dari keluarga prasejahtera, mulai dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi: Ayo Sekolah Ayo Kuliah (ASAK). Menurutnya, program ASAK bukan hanya membantu

pendidikan formal, tetapi juga membentuk tanggung jawab, disiplin, dan keterlibatan sosial. Ia percaya bahwa iman harus dihidupi, bukan hanya diajarkan.

Sebagai mantan aktivis PMKRI, Ibu Suryani memiliki kepedulian besar pada pendidikan dan pemberdayaan. Ia tidak hanya mendidik anak-anaknya sendiri, tetapi juga berbagi dengan anak-anak lain di lingkungannya. Di masa sulit seperti pandemi, ia mengajar bahasa Inggris secara gratis kepada anak-anak marginal di pinggir kota. Ia melihat pendidikan sebagai bentuk nyata kasih, dan mengajar sebagai panggilan iman.

Bagi Ibu Suryani, hidup adalah rangkaian jalan salib yang harus dijalani dengan kesadaran akan rahmat. Ia tidak menuntut hidup yang mudah, tetapi hidup yang bermakna. Iman Katolik memberinya bahasa untuk memahami penderitaan, kekuatan untuk bertahan, dan harapan bahwa setiap jerih payah—terutama dalam mendidik anak—tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan