“Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah“

Orangtua yang baik pasti memberikan warisan yang terbaik bagi anaknya, salah satunya adalah iman yang mereka hidupi. Kebiasaan-kebiasaan yang baik ditanamkan kepada anak sejak dini, seperti: membuat tanda salib, berdoa atau pergi ke gereja. Inilah tanggungjawab luhur orangtua dalam mendidik anak, yang adalah anugerah Allah.

Hari ini Gereja merayakan Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah, setelah 40 hari Gereja merayakan Natal. Yusuf dan Maria membawa bayi Yesus ke Yerusalem untuk mempersembahkan-Nya kepada Tuhan. Inilah bentuk tanggungjawab keluarga Nazaret atas Yesus, sang bayi yang dipercayakan kepada mereka. Peristiwa tersebut sesuai dengan tuntutan Hukum Taurat (lih.Luk. 2: 22-23). Namun, persembahan anak laki-laki sulung kepada Tuhan bukanlah sekedar ketaatan pada hukum, tetapi juga suatu tindakan iman untuk menyatakan bahwa anak itu sesungguhnya adalah anugerah Allah.

Keluarga Nazaret bukan keluarga yang serba berkecukupan, mereka tergolong miskin. Hal ini tampak dari apa yang mereka persembahkan pada saat pentahiran Yesus, yaitu dua ekor burung tekukur atau dua anak burung merpati (lih. Luk. 2:24). Persembahan ini menunjukkan bahwa mereka tidak mampu. Keluarga-keluarga yang cukup mampu diminta mempersembahkan seekor kambing atau domba (bdk. Im.12:8). Sementara keluarga yang kaya akan mempersembahkan yang lebih mahal lagi yaitu lembu jantan, masih di tambah lagi tepung dan anggur, seperti yang dilakukan keluarga Elkana dan Hana (bdk. 1Sam. 1:24).

Marilah kita dengan penuh tanggungjawab melaksanakan tugas perutusan kita sebagai orangtua, yang dengan segenap hati mendidik anak-anak yang dianugerahkan Allah kepada keluarga kita masing-masing. Pertanyaan refleksi: Sudahkah kita mensyukuri kehidupan keluarga /komunitas kita selama ini? Apakah yang seharusnya kita lakukan sebagai ungkapan syukur bahwa hidup ini adalah anugerah Allah? Tuhan memberkati.
(Suster PIJ)