1 Mei: Yusuf Pekerja vs Hari Buruh
Hampir 95 persen lebih ketika saya bertanya kepada umat tanggal 1 Mei itu hari apa? Mereka kompak menjawab: Hari Buruh. Betul, jawab saya. Itu peringatan internasional dalam masyarakat sipil. Tapi 1 Mei itu di kalender liturgi merayakan hari apa? Jawab mereka: Pembukaan bulan Maria, Romo. Hampir tidak ada yang menjawab hari Santo Yusuf PEKERJA. Padahal hubungan peringatan santo Yusuf Pekerja ini sangat kuat dengan peringatan hari buruh. Nah ikuti paparan historis ini.
1 Mei Hari Buruh
๐ Kapan dicanangkan secara internasional?
Resmi ditetapkan pada 14 Juli 1889, dalam Kongres Sosialis Internasional (Kongres Kedua Internasional) yang berlangsung di Paris, Prancis. Keputusan ini diambil untuk mengenang perjuangan buruh dan tragedi Haymarket di Chicago, AS tahun 1886, serta menyatukan gerakan pekerja seluruh dunia dalam memperjuangkan hak-hak mereka.
๐ Proses perjalanan hingga menjadi hari internasional dan hari libur:
Latar belakang awal
Di pertengahan abad ke-19, buruh dipaksa bekerja 12โ16 jam sehari, upah rendah, kondisi kerja berbahaya, tanpa jaminan apapun. Sejak tahun 1866, Kongres Internasional Pertama di Jenewa sudah menyepakati tuntutan 8 jam kerja sehari sebagai standar global, tapi belum ada tanggal dan bentuk peringatan resmi.
Peristiwa pemicu: Tragedi Haymarket 1886
- 1 Mei 1886: 350.000 buruh di seluruh AS mogok serentak menuntut 8 jam kerja. Di Chicago jadi pusat aksi terbesar.
- 4 Mei 1886: Saat rapat damai di Lapangan Haymarket, ada orang melempar bom yang menewaskan 7 polisi. Polisi balas menembak, banyak korban jiwa di kedua sisi. Delapan aktivis ditangkap, 4 di antaranya dihukum mati meski bukti lemah. Peristiwa ini jadi simbol pengorbanan buruh dan menggerakkan solidaritas global.
Dicanangkan jadi hari internasional
- ย Tahun 1889, di Kongres Paris, perwakilan dari 20 negara menyepakati: 1 Mei ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional. Resolusinya meminta agar setiap tahun di tanggal itu diadakan aksi serentak di seluruh dunia untuk menuntut 8 jam kerja, upah layak, dan perlindungan pekerja.
- Peringatan pertama diadakan 1 Mei 1890, diikuti jutaan orang di London, Paris, Brussel, Madrid, dan kota besar lainnya. Sejak itu tradisi ini berlanjut dan menyebar ke seluruh benua.
Menjadi hari libur resmi
Awalnya hanya hari peringatan dan aksi. Seiring gerakan buruh makin kuat, negara-negara mulai mengesahkannya sebagai hari libur nasional:
- ๐ฆ๐บ Australia: 1891 jadi negara pertama yang menjadikannya hari libur.
- ๐ฉ๐ช Jerman: 1919, setelah revolusi, dijadikan hari libur resmi.
- ๐ท๐บ Rusia: Sejak 1918, menjadi hari libur utama.
- ๐ซ๐ท Prancis: 1919, diakui sebagai hari libur berbayar.
- ๐ฎ๐ฉ Indonesia: Mulai diperingati sejak 1920, sempat dilarang Orde Baru, baru resmi jadi hari libur nasional melalui Keppres No.24/2014.
โ ๏ธ Pengecualian: AS dan Kanada memilih hari berbeda, yaitu Senin pertama bulan September, karena ingin memisahkannya dari citra radikal dan tragedi Haymarket. Tapi bahkan di sana pun Hari Buruh tetap ada sebagai penghormatan atas perjuangan pekerja.
Ringkasnya:
โ
Dicanangkan: 14 Juli 1889 di Paris
โ
Peringatan pertama: 1 Mei 1890
โ
Menjadi hari libur: Dimulai 1891 di Australia, menyebar ke seluruh dunia, Indonesia resmi sejak 2014
1 Mei: S. Yusuf Pekerja
๐ KAPAN DAN OLEH SIAPA DIBUAT?
โ
Ditetapkan resmi: 1 Mei 1955
โ
Oleh: Paus Pius XII, melalui Konstitusi Apostolik โSanctitas clariorโ
โ
Tanggal perayaan: Ditetapkan tepat berbarengan dengan Hari Buruh Internasional, yaitu 1 Mei, dan masuk sebagai peringatan fakultatif dalam kalender liturgi Gereja Katolik Roma.
Sebelumnya sudah ada devosi dan pengakuan Santo Yusuf sebagai pelindung pekerja, tapi baru pada tahun 1955 ini dijadikan peringatan resmi dan wajib dikenal di seluruh Gereja.
๐ LATAR BELAKANG HISTORIS
Konteks Internasional
Perlu kita hubungkan dengan apa yang kita bahas tadi tentang Hari Buruh Internasional:
- Sejak 1889, 1 Mei diperingati sebagai hari buruh, tapi seiring waktu hari ini semakin diambil alih oleh gerakan sosialis, komunis, dan gerakan kiri. Di negara-negara blok Timur, hari ini dijadikan hari propaganda, militeris, dan simbol kemenangan ideologi komunis yang menentang agama.
- Gereja melihat ada bahaya: kaum buruh dan pekerja banyak yang tertarik pada ideologi itu karena mereka merasa gereja tidak mempedulikan nasib mereka, padahal Gereja sebenarnya sudah lama memiliki ajaran sosial.
- Di sisi lain, Gereja juga ingin menegaskan: kerja itu bukan sekadar alat produksi atau sarana perjuangan kelas, tapi sesuatu yang suci, bermartabat, dan bagian dari rencana Allah. Santo Yusuf sebagai tukang kayu, yang bekerja keras menghidupi Keluarga Kudus, dipilih sebagai teladan sempurna: dia bekerja dengan jujur, rendah hati, taat, dan menjadikan pekerjaannya sebagai bentuk ibadah.
Perkembangan pemikiran sebelum 1955
Ini bukan tiba-tiba muncul, tapi hasil proses panjang:
Tahun Paus/Kegiatan Hal yang dilakukan
1847 Paus Pius IX
Menetapkan Santo Yusuf sebagai pelindung kaum pekerja, awalnya diperingati Minggu ke-3 sesudah Paskah
1889 Paus Leo XIII
Dalam ensiklik Quamquam Pluries menekankan Yusuf sebagai teladan kerja, melindungi keluarga dan penghidupan, menanggapi situasi revolusi industri di Eropa di mana buruh ditindas
1909 Paus Pius X
Memindahkan peringatan itu ke Rabu sebelum Minggu ke-3 Paskah, makin menyebarkan devosi ini
1930โ1950 Masa Perang Dunia II & awal Perang Dingin Masalah pengangguran, kemiskinan, persaingan ideologi makin parah, kebutuhan akan teladan dan ajaran tentang makna kerja makin mendesak
1955 Paus Pius XII
Mengubah bentuk peringatan, menetapkannya pada 1 Mei dengan nama baru Santo Yusuf Pekerja, menggantikan peringatan lama, supaya langsung menjawab tantangan zaman dan memberi dimensi iman pada Hari Buruh
Dalam pidatonya kepada organisasi pekerja Katolik Italia (ACLI) tepat tanggal 1 Mei 1955, Paus Pius XII menjelaskan alasannya:
โKita memilih tanggal ini supaya kaum pekerja, saat mereka merayakan hak-hak dan martabat mereka, tidak lupa bahwa kerja adalah karunia Allah, cara untuk menguduskan diri dan membangun dunia sesuai kehendak-Nya. Santo Yusuf adalah bukti bahwa kerja tangan, kerja keras, hidup sederhana bukanlah tanda rendah, tapi jalan menuju kekudusan.โ
Konteks Khusus Italia dan Eropa Barat
Di Italia, situasinya sangat spesifik:
- Pertarungan ideologi pasca perang: Setelah PD II, Partai Komunis Italia menjadi partai terbesar kedua, punya pengaruh kuat di kalangan buruh, serikat pekerja, dan pabrik-pabrik utamanya di utara Italia. Mereka menjadikan 1 Mei sebagai hari besar, mengajak buruh untuk memisahkan diri dari Gereja dan menganggap agama sebagai candu masyarakat.
- Organisasi pekerja Katolik: Sudah ada ACLI (Associazioni Cristiane Lavoratori Italiani) yang didirikan tahun 1944, berusaha mengumpulkan buruh yang tetap beriman, tapi mereka butuh simbol dan hari peringatan sendiri yang setara dengan milik kaum kiri. Penetapan 1 Mei sebagai hari Yusuf Pekerja adalah jawaban langsung atas tantangan ini, memberi identitas dan semangat kepada buruh Katolik.
- Dampak revolusi industri: Di seluruh Eropa Barat, sejak abad ke-19 jutaan orang pindah dari desa ke kota, jadi buruh pabrik, hidup dalam kondisi sempit, berjam-jam kerja, terasing dari nilai-nilai tradisional dan kehidupan beragama. Gereja melihat Santo Yusuf sebagai jembatan: dia juga orang biasa, pekerja, mengalami kesulitan hidup, tapi tetap hidup dalam persekutuan dengan Allah โ sesuatu yang bisa dipahami dan dijadikan teladan oleh buruh modern.
- Ajaran sosial Gereja: Sejak ensiklik Rerum Novarum (1891) Paus Leo XIII, Gereja sudah berbicara tentang hak buruh, upah layak, hari istirahat, hak berserikat. Peringatan Yusuf Pekerja adalah bentuk mewujudkan ajaran itu dalam kehidupan liturgi, sehingga tidak hanya jadi doktrin tertulis, tapi dirayakan, dihayati, dan diwartakan setiap tahun.
๐ MAKNA DAN TUJUAN UTAMA
Dengan menetapkan ini, Gereja ingin menyampaikan pesan:
โ
Kerja itu bermartabat, bukan hukuman atau beban semata, tapi cara manusia berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah
โ
Hak-hak buruh harus dihormati, tapi diperjuangkan dengan cara yang adil, damai, dan tidak melupakan nilai-nilai kekristenan
โ
Orang bisa menjadi kudus lewat pekerjaannya sendiri, sekecil dan sesederhana apa pun pekerjaan itu
โ
Menjadi tandingan pemikiran komunis yang melihat kerja hanya sebagai alat produksi dan perjuangan kelas, tanpa dimensi rohani
Catatan dari Romo Yustinus Sulistiadi, Pr – 1 Mei 2026
