Berita Lingkungan


Talk Show tentang Bunda Maria di Wilayah 14

By gabriel,

Pertemuan bulan Maria kali ini di Wilayah 14 Paroki Pulo Gebang, tampak berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Biasanya pertemuan bulan Maria, diisi dengan Doa Rosario dan atau dilanjutkan dengan Doa Novena Tiga Salam Maria. Namun pertemuan kali ini, tepatnya pada tanggal 11 Mei 2019 di rumah Ibu Indah Naruli Metland Menteng, diisi dengan Talk Show tentang Bunda Maria, dengan nara sumber Romo Aloysius Susilo Wijoyo, Pr.

Acara ini digagas oleh pengurus Lingkungan Sta. Stefani Wilayah 14, yang kemudian timbul ide untuk membuat acara ini menjadi acara wilayah, dengan mengundang umat lingkungan lain di Wilayah 14, yaitu Lingkungan Sta. Angela dan Sta. Lucia.

Umat yang hadir berjumlah 52 orang, yang terdiri dari 12 orang dari Lingkungan Sta. Lucia, 12 orang dari Lingkungan Sta. Angela dan 28 orang dari Lingkungan Sta. Stefani.

Lebih kurang pukul 7 malam, umat mulai berdatangan. Awal mulanya, umat menduga, acara tersebut adalah ibadat yang akan dipimpin oleh Romo Susilo Wijoyo. Namun diawal acara, umat yang datang langsung dipersilahkan untuk menyantap makanan dan aneka jajan pasar. Umat mulai merasakan suatu acara yang beda dari biasanya. Meja untuk ibadat, yang awalnya sudah disusun rapi oleh tuan rumah, oleh Sie Acara digeser ke ujung, menjauh dari umat, kemudian digantikan dengan 3 buah kursi, seperti sebuah studio dalam acara Talk Show Profesional. Beberapa umat mulai bertanya-tanya, acara apa yang akan diikuti? Mau ibadat, tapi diawali dengan makan malam. Meja ibadat, dipindahkan juga.

Usai makan malam, tepatnya pukul 19:30, acarapun dibuka oleh Prajogi Sadikin, yang akrab dipanggil Pak Yogi, sebagai pembawa acara. Diawali dengan lagu pujian dan doa, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Koordinator Wilayah 14, Nicodemus Herman. Tidak ketinggalan, sebuah motivasi dari Motorvator Lingkungan Stefani, Yoriko Aprilianto, yang juga memberikan sebuah quiz berhadiah khusus untuk anak-anak. Quiz tersebut adalah untuk anak yang berani memimpin sebuah doa untuk Bunda. Tampak dengan berani, seorang anak bernama Renatha Anabel memimpin doa untuk Bunda.

Sesaat kemudian, acara intipun dimulai. Pembawa acara mengundang Hendri Arkhyanta, sebagai moderator acara. Sungguh tampak tidak berbeda dengan Talk Show di TV swasta Nasional, pembahasan, informasi dan tanya-jawab tentang Bunda Maria, disampaikan dengan sangat jelas oleh Romo Susilo dan beberapa kali diwarnai dengan canda tawa bersama umat yang hadir.

Acara di Wilayah 14 kali ini sungguh luar biasa. Umat semakin mengetahui tentang Bunda Maria, yang diperoleh dari nara sumber yang kredibel. Salah satu pertanyaan dari umat yaitu “mengapa disebut Bulan Maria, Bulan Rosario dan kapan? Mei atau Oktober? Dengan sangat jelas Romo memberikan informasi tentang sejarah Bulan Maria dan Bulan Rosario. Sebagian penjelasan Romo ada di video berikut :

Kemudian acara ditutup dengan doa, yang dibawakan oleh Maria Caroline Wiyono, selaku DPH Pendamping Wilayah 14, yang kebetulan juga tinggal di Lingkungan Sta. Stefani.

Umat yang hadir sangat puas dengan acara ini karena menambah pengetahuan dan lebih mengenal Bunda Maria. Semoga acara-acara sejenis dapat diadakan lagi.
Bravo Wilayah 14 !!!

-Dion S-

Belajar dari Keluarga Allah

By Christine Lerin,
(Keseruan Adven Minggu ke-2 di Lingkungan St. Mikael)

Menyongsong masa Adven “menunggu kedatangan Yesus” seperti biasa setiap lingkungan mengadakan rekoleksi bulan keluarga, tema tahun 2018 ini adalah KELUARGA BERBICARA. Setelah minggu sebelumnya melaksanakan rekoleksi adven ke-1 di rumah salah satu umat, adven ke-2 ini lingkungan St Mikael mengadakan di aula Sekolah SMK Caraka, Sabtu (8/12) malam. Sebanyak 22 umat mulai dari anak-anak hingga lansia hadir dalam rekoleksi ini.

Sesuai buku pedoman dari Komisi Kerasulan Keluarga KAJ ada 2 aktivitas di subtema ‘Belajar dari Keluarga Allah”. Aktivitas ke-1 adalah gambar kelompok, umat yang hadir dibagi menjadi 2 kelompok. Masing-masing kelompok berbaris ke belakang untuk menyelesaikan tema gambar yang sudah ditentukan secara bergantian, 1 orang hanya boleh melukis 1 goresan dalam waktu 5 detik. Keseruan muncul karena setiap individu secara bergantian meneruskan gambar dari teman didepannya, seterusnya hingga 2 putaran. Gambar yang dihasilkan tentu tidak sempurna, oleh karena itu di akhir aktivitas, ketua kelompok mempresentasikan gambar yang dihasilkan.


Aktivitas ke-2 tidak kalah menarik karena setiap kelompok harus menjawab 8 pertanyaan dari buku panduan dan ditulis di papan tulis. Keseruan terjadi saat bongkar pasang jawaban untuk menghasilkan 2 kata yang dituju. Setelah semua menyelesaikan jawaban yang benar, peserta diminta membagikan pendapat (sharing) tentang komunikasi khususnya di dalam keluarga.
Dari hasil sharing, pemandu berharap semangat berkomunikasi dalam keluarga semakin meningkat, seperti yang tercermin di dalam 2 aktivitas tadi. Karena tanpa komunikasi yang lancar maka masing-masing anggota akan memiliki asumsi dan tujuan yang berbeda, yang pada akhirnya bisa menimbulkan kesalahpahaman. Tentu hal ini akan menghambat pertumbuhan dan kemajuan komponen kelompok apapun yang dalam kontek ini adalah komponen masyarakat terkecil yaitu keluarga. Walaupun hanya mendapat kesempatan untuk membuat goresan dalam waktu yang singkat, tetapi setiap orang dalam kelompok memegang peranan dalam mencapai tujuan akhir. Setiap anggota keluarga turut berpartisipasi dalam berpikir, berkeputusan, bertindak dan merasa dilibatkan untuk mencapai tujuan bersama. Kita juga diajar untuk bercermin dan belajar dari “Keluarga Allah”, Bapa, Putra dan Roh Kudus yang saling melengkapi satu sama lain. Rasa syukur bahwa kita diciptakan saling berbeda, saling memperkaya, dan melihat kebhinekaan sebagai suatu hadiah dari Tuhan.

(@denykus , Erin)

Misa Syukur di Tengah Perbedaan

By Christine Lerin,

Selasa pagi yang cerah (20/11/2018), hari itu adalah hari libur nasional (Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H), umat lingkungan St. Mikael Paroki Pulogebang disibukkan dengan persiapan misa syukur di keluarga Bapak Eldi dan Ibu Lina.

Tampak seperti misa biasa tetapi lokasinya yang sungguh luar biasa karena misa diadakan di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Pulogebang yang lokasinya tidak jauh dari Gereja St. Gabriel Paroki Pulogebang, tepatnya di Blok G lantai 4 no 12. Awalnya tidak terbayang bisa mengadakan misa di tempat ini, karena selain lokasi rusunawa adalah rumah berpetak yang per blok terdiri dari 5 lantai, sepanjang lorongnya dihuni oleh puluhan keluarga yang berbeda suku, agama dan golongan.

Tepat pukul 08.00 WIB, sekitar 35 umat hadir dan duduk di depan tangga lantai 4, mengikuti misa syukur yang dipersembahkan oleh Romo A. Setya  Gunawan, Pr dalam rangka pemberkatan rumah dan HUT perkawinan Bapak Eldi & Ibu Lina yang ke-10. Romo Gunawan mengungkapkan sukacitanya karena mendapatkan pengalaman yang luar biasa, baru kali pertama mengadakan misa di rusunawa ini. “Sudah sejak lama keinginan saya untuk bisa tinggal di rusun ini,” canda Romo, memecah keheningan. Bahkan beliau juga mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi setiap keluarga katolik yang ada di rusunawa. Menurut data Biduk, ada sekitar 15 KK Katolik di rusunawa pulogebang yang menyebar di 8 Blok.

Di akhir misa, Ibu Lina mewakili keluarga mengucapkan terimakasih sebesarnya kepada Romo Gunawan dan umat lingkungan yang sudah hadir dan berdoa untuk keluarganya, misa berjalan lancar dan penuh sukacita. Juga berkat dukungan para tetangga yang telah bersedia memberikan ruang dan toleransinya, hingga lingkungan Mikael boleh mengadakan misa syukur di blok G4 ini. Ibu Lina menceritakan pengalamannya yang pernah tinggal di sekitar pacuan kuda Pulomas, karena terkena dampak penggusuran maka sekarang sudah 2 tahun tinggal di rusunawa Pulogebang, keinginannya mengundang Romo akhirnya bisa terwujud. (Penulis @denykus, Editor : Erin, Foto : Denykus)

 

Begini Lingkungan St. Monika Mengisi Bulan Rosario, Oktober Silam

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Bulan Oktober sebagai Bulan Rosario baru saja berakhir. Sebagaimana halnya yang dilakukan semua lingkungan di Paroki Pulogebang, lingkungan St. Monika, wilayah 3, Taman Modern pun telah melewati Bulan Rosario dengan berbagai kegiatan. Kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk mengajak umat lingkungan berdevosi kepada Bunda Maria selama bulan Oktober itu.

Kegiatan rutin wajib yang selalu dilakukan oleh lingkungan St Monika di  bulan itu adalah  berdoa Rosario dan Novena selama 9 kali dirumah umat, umat bersedia menerima warga lingkungan untuk datang berdoa di rumahnya. Harinya ditentukan dan dipilih sendiri oleh empunya rumah, sedangkan waktunya saja yang disepakati bersama yaitu setiap pukul 19.30. Maksudnya, agar umat yang bekerja pun tetap bisa berdoa Rosario dan berdevosi kepada Bunda Maria setelah pulang kerja.

Jadwal Rosario dan Novena ini, dimulai pada 02 Oktober dan berakhir pada 25 Oktober 2018. Ada hal yang menarik kali ini yakni ada satu kali dari jadwal yang telah disusun adalah Rosario dan Novena gabungan dengan seluruh umat wilayah 3 pada hari Rabu, 03 Oktober 2018 pada jam yang sama yaitu pukul 19.30, umat lingkungan St Monika berdoa rosario dan novena bersama-sama umat wilayah 3 Taman Moderen di rumah doa Maria Ratu Rosario yang ada di gereja. Serunya rame-rame Rosario dan Novena massal se wilayah.

Bulan Rosario selalu menjadi bulan favorit bagi kebanyakan umat lingkungan, dibanding bulan kitab suci, terlihat dari antusiasme umat yang datang dan ikut kegiatan di bulan itu selalu lebih banyak daripada dibulan kitab suci. Entah mengapa, tetapi selama ini, itulah yang terlihat. Boleh jadi karena bulan Rosario fokus berdoa dalam bulan yang spesial ini yaitu bulan Maria, sehingga menjadi kesempatan bagi umat karena bulan khusus untuk berdevosi  serta memohon pertolongan melalui Bunda Maria agar Allah mengabulkan doa dan intensi pribadi. Juga berharap Bunda Maria akan tersentuh melihat ketekunan umat dengan tidak pernah absen mengikuti 9 kali Rosario dan Novena. Berbeda dengan bulan kitab suci, dimana umat sepertinya tidak tertarik mengikuti pendalaman iman dan kitab suci.

Selain berdoa bersama, semua kegiatan pertemuan lingkungan, bertujuan juga untuk menumbuhkan kebersamaan dan keakraban antar umat lingkungan. Maka tidak mengherankan jika setelah doa Rosario dan Novena selesai, dilanjutkan dengan ramah tamah sambil menikmati hidangan yang disediakan oleh tuan rumah yang ketempatan, dan di jaman now tentu saja dilengkapi dengan foto bersama…..rasanya ga gaul kalo ga foto bareng….

Ada juga umat yang secara khusus menyediakan rumahnya untuk Rosario berbarengan dengan hari ulang tahun yang punya rumah, seperti yang dilakukan keluarga Didi dan Lily. Mereka memilih tanggal 17 Oktober 2018 untuk ketempatan karena sang bapak berulang tahun ke 51 pada tanggal 15 oktober, dan ingin secara sederhana memperingati hari jadinya dengan bersyukur bersama umat lingkungan di bulan Rosario itu.

Setelah doa Rosario dan Novena, umat lingkungan yang datang bersama-sama merayakan secara sederhana ulang tahun itu dengan mendoakan, meniup lilin, menyanyikan selamat ulang tahun, potong kue dan berfoto bersama. Terasa istimewa jika di hari ulang tahun,  bisa dirayakan dengan berdoa Rosario dan Novena lalu didoakan umat lingkungan.

Tentu saja, bulan Rosario tidaklah lengkap tanpa ziarah ke Gua Maria. Lingkungan St. Monika pun mengisi bulan Rosario ini dengan Ziarek Lingkungan  pada Sabtu, 20 Oktober 2018 ke Gua Maria Karmel Lembang. Dengan menyewa  bus kecil, peserta ziarek yang berjumlah 18 orang dengan seragam kuning berlogo St. Monika berkumpul pada pukul 05.00 pagi dan berangkat menuju Lembang Bandung. Rombongan kecil ini dengan bersemangat dan penuh keakraban sepanjang perjalanan hingga  tiba di Lembang pada pukul 10.00 pagi dan langsung memulai ziarah di Gua Maria Karmel, dengan melakukan jalan salib.

Dengan tertib peserta bergantian membaca doa disetiap perhentian dari text yang telah disediakan oleh pengurus lingkungan. Setelah jalan salib selesai, peserta diberi waktu dan kesempatan untuk berdoa masing-masing secara pribadi di depan Gua Maria, atau di tempat Salib Besar dan Makam Yesus. Semua berdoa menghaturkan ujud masing-masing ditengah keheningan yang terjaga dengan baik, ditengah alam yang sejuk , indah dan asri.

Sekitar pukul 12.00, rombongan melanjutkan perjalanan ke tempat rekreasi yaitu Floating Market sekaligus untuk makan siang. Wow, kalo tadi rombongan disegarkan dengan siraman rohani yang menyejukan batin , kini jasmani pun disegarkan dengan keindahan tempat rekreasi tersebut yang luas untuk menikmati berbagai fasilitas serta wahana yang ada.  Tujuan rekreasi selanjutnya adalah rumah tahu susu Lembang, rumah sosis, rumah mode,  di tempat-tempat ini rombongan asyik shopping, jajan dan membeli ole-ole untuk keluarga di Jakarta.

Sebelum pulang, rombongan menyempatkan diri untuk makan malam di Ikan Bakar Cianjur, dan membeli bakso enggal yang yummy. Tepat pukul 19.00 malam, rombongan meninggalkan Bandung dan mengakhiri perjalanan ziarek hingga tiba di Jakarta pada pukul 21.15 dengan tubuh lelah, ngantuk namun bersyukur pada Tuhan atas kelancaran perjalanan sepanjang hari yang telah dilalui dalam  kebersamaan umat lingkungan St. Monika.

Ada harapan dan doa semoga kebersamaan umat di lingkungan St. Monika terus terjalin dengan baik sebagai satu keluarga, bersama bertumbuh dalam iman dan kasih.

Selain kegiatan yang dilakukan bersama lingkungan, di bulan Rosario ini,  ada juga umat lingkungan St Monika yang  melakukan devosi tambahan dalam kelompok kecil pribadi, mengunjungi 9 Gua Maria di sekitar Jakarta. Semoga semua devosi, doa dan permohonan serta ziarah yang dilakukan oleh seluruh umat lingkungan St. Monika di bulan rosario ini, melalui Bunda Maria didengar dan dikabulkan oleh Tuhan.  Amin. …Bunda Maria yang baik hati, sudilah kiranya menjadi perantara bagi  doa-doa kami, … (Penulis dan Foto: Triesly/Lily Imut)

Legio Maria dan Umat Lingkungan Alfonsus, Novena dan Rosario 7 Dukacita Maria

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Malam tadi, seperti malam-malam sebelumnya di lingkungan kami, Lingkungan Alfonsus di Wilayah II, yang berada di Blok H, Pulo Gebang Permai. Di salah satu rumah warga, beberapa umat sudah mulai berdatangan, ketika tiga wajah baru yang bukan warga lingkungan kami melangkah masuk ke dalam kediaman Lukas – Wiwi di Blok H13/24. Ya, malam tadi kami berkumpul di rumah itu untuk berdoa rosario, malam ke-12 sekaligus novena Tiga Salam Maria yang memasuki malam ke-5 sejak dimulai pada 8 Oktober silam.

“Selamat malam,” sapa ketiga tamu itu disambut beberapa wajah yang agak kaget karena tak menyangka ada kunjungan dari para pengurus Legio Mariae Paroki Pulo Gebang.

Markus Orong dan Pasutri Heri-Susan pun ramah disalami belasan umat yang sudah hadir. Sambil menunggu kehadiran umat yang lain, obrolan ringan pun mengalir. Asal tahu saja, ini kali kedua Legio Mariae paroki hadir secara khusus ke lingkungan kami. Pertama kali, terjadi pada 2016 saat kami melakukan rosario pula.

Tak berapa lama, berdatanganlah umat mulai dari oma-opa, dewasa hingga anak-anak dengan rosario di tangan mereka. Sebagaimana kebiasaan, satu persatu mereka menyalami umat yang sudah lebih dulu hadir, juga tiga orang tamu kami ini. Tepat jam 19.50, sebagaimana malam-malam yang lalu, kami memulai rosario Tujuh Dukacita Bunda Maria.

——- ——

Rosario Tujuh Dukacita Maria mulai kami perkenalkan di lingkungan ini sejak Mei 2017 sebagai pengganti dari peristiwa dukacita pada rosario lima peristiwa yang didaraskan pada setiap Selasa dan Jumat. Doa ini mengantarkan umat untuk merenungkan tujuh peristiwa duka yang dialami Santa Perawan ketika mendampingi Sang Putera sedari bayi hingga dimakamkan.

Ketika pertama kali diperkenalkan, sejumlah umat bahkan meminta buku panduan yang diterbitkan oleh pengurus lingkungan untuk digandakan sendiri, lantaran mereka ingin mendoakannya secara pribadi di rumah masing-masing. Bahkan ada yang berinisiatif untuk mencari dan membeli rosario-nya yang berbeda dengan rosario lima peristiwa.

Malam tadi, saya memimpin sendiri ibadat rosario dan novena ini. Jika malam-malam sebelumnya kehadiran pernah mencapai 43 orang dan tidak pernah kurang dari 23 orang, malam tadi kami, ber-28 orang ditambah 3 tamu, khusyuk dalam suasana doa dan larut dalam narasi yang menggambarkan kedukaan Bunda Maria. Seluruh umat pun secara bergantian mengangkat doa Salam Maria yang diulang sebanyak tujuh kali, pada tujuh peristiwa dukacita itu.

——- ——

Lingkungan Alfonsus hanyalah satu bagian dari paroki ini. Namun kesungguhan dan kesadaran umat akan pentingnya devosi kepada Bunda Maria dalam tiga tahun terakhir ini sudah menunjukkan kemajuan yang baik. Jika sebelumnya, sebagaimana jamak dilakukan di banyak lingkungan lain, rosario hanya dilakukan selama 9 kali dengan mengacu pada novena yang disatukan dengan rosario, sejak Oktober 2016 umat di lingkungan ini menjalankan rosario selama sebulan penuh, baik di Oktober maupun Mei.

Tak hanya rosario sebulan penuh, petugas ibadat yang tadinya hanya itu-itu saja lantaran tidak banyak yang berani memimpin doa, kini digilir dan lebih dari 50% umat sudah berani untuk memimpin doa, baik orang tua maupun anak-anak. Ada juga yang bertugas membacakan ujud, membawakan bacaan Injil dan renungan harian yang diambil dari Buku Inspirasi Batin.

Dorongan dan ajakan bahkan mungkin ada yang memulainya dengan terpaksa, tetapi perlahan-lahan semua mulai terbiasa. Dan setiap menjelang akhir bulan Oktober dan Mei, umat justru merindukan suasana rosario saban malam seperti malam-malam yang sudah lewat.

Sebetulnya alasan utama mengapa di lingkungan ini rosario dilakukan sebulan penuh, sederhana saja. Sebagai ketua lingkungan, ada mimpi untuk melihat semua umat terlibat, setidaknya menampakkan wajahnya dalam kegiatan lingkungan. Jika tidak bisa setiap kegiatan, minimal sekali dua kali mereka hadir. Melalui kesepakatan bersama umat, metode ini pun dilakukan agar setiap kepala keluarga menyediakan rumah mereka untuk berdoa bersama umat. Alhasil, 30 hingga 31 KK dengan sukacita memilih tanggal sesuai kesediaan mereka.

Memang, tidak semua warga kebagian ketempatan namun kami mengaturnya agar rumah-rumah yang sudah kebagian pendalaman iman pada bulan lalu, kali ini tidak mendapatkan bagian ketempatan.

—— ——-

Rosario dan novena malam tadi pun berakhir sekira jam 21.00 lewat sedikit. Usai mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah dan para petugas ibadat, saya pun meminta waktu sebentar kepada umat untuk mendengarkan beberapa sharing dari Tim Legio Mariae.

Markus Orong menyampaikan sedikit tentang perkembangan terkini dari Legio Mariae yang tadinya hanya terdiri dari dua presidium, kini akan menjadi lima presidium. Ia juga memperkenalkan sekitar 8 orang warga lingkungan ini yang tergabung dalam Legio Mariae.

“Terima kasih karena kami boleh diterima di tempat ini dan kami senang melihat semangat umat di lingkungan ini yang bersedia meluangkan waktu setiap malam sekitar lebih dari 1 jam untuk berdoa bersama dengan jumlah yang sebanyak ini.”

Setelah Orong, Susan pun membagian sedikit pengalaman rohani yang dia alami tentang kekuatan devosional kepada Bunda Maria. Ia pun mengimbau agar kesungguhan dalam berdoa, pengorbanan waktu dan tenaga yang diberikan untuk mengisi Bulan Maria dan Bulan Rosario ini akan menjadi lebih sempurna jika teladan Ibu Maria diejawantahkan dalam kehidupan umat sehari-hari.

Pertemuan kami berakhir dengan foto-foto bersama meski beberapa umat pamit lebih awal untuk urusan masing-masing mereka.

Masih ada 18 hari kedepan dan lingkungan ini terbuka bagi umat dari lingkungan tetangga yang ingin hadir dalam doa rasorio yang selalu ada setiap malamnya. Semoga kisah ini dapat menginspirasi kita semua. (Penulis: Ferdinand Lamak, Ketua Lingkungan Santo Alfonsus, Wilayah II)

 

 

 

Lingkungan Santo Matius Rayakan Pesta Pelindung dengan Misa Kudus

By Ferdinand Lamak,

Jumat 21 September, Gereja Katolik merayakan Pesta St. Matius, Rasul dan Penulis Injil. Pada hari yang sama , dengan penuh syukur, umat  Lingkungan St. Matius, Wil 3 Taman Modern,  ikut merayakan  Pesta Nama Pelindung lingkungan mereka.

Umat lingkungan, termasuk Sr. Agusta dan Sr. Michelin berdatangan sejak pukul 19.00. Begitu juga beberapa tamu undangan antusias untuk hadir,  seperti Sapta Tjajadi selaku DPH pendamping Wil 3, juga para Kaling di Wil 3, Anastasia Ngoei ( Sta. Monica ),  Agus Sundjojo Putro ( Sta. Helena ),  Valentinus Budianto( Sta. Margaretha ),  sementara Valent Levent Pareira ( Sta. Agnes ) berhalangan hadir.

Tepat 19.30, perayaan dibuka dengan Misa Kudus yang dipimpin oleh Romo Alphonsus Setya Gunawan Pr, yang akrab disapa dengan Romo. Gun. Dalam Homili nya Romo menyampaikan kisah Rasul Matius, seorang pemungut cukai   yang terpilih menjadi salah seorang dari 12 Rasul.

Dari seorang pendosa, sang rasul menyerahkan total hidupnya untuk mengikuti Kristus bahkan menjadi saksi lewat tulisan-tulisan kisah hidup Kristus yang akhirnya menjadi Injil.

Umat lingkungan,  beberapa suster, dan tamu undangan yang hadir, tekun mendengarkan homili Romo dan kadang-kadang tertawa mendengar guyonan khas Romo. Gun.

Diakhir homili  Romo Gun mengharapkan umat lingkungan St. Matius mampu meneladan hidup dari Rasul Matius dalam kegiatan menggereja dan bermasyarakat.

Selesai Misa,  acara dilanjutkan dengan sambutan dari Korwil Wil III, Tri Wibowo, yang kebetulan juga adalah umat lingkungan St. Matius. Dalam sambutannya ia menegaskan semoga Pesta Nama St. Matius semakin mempererat hubungan sesama umat,  juga semakin menumbuhkan semangat untuk hidup berlingkungan.

Ajakan Korwil juga diamini oleh Etty Cahyanie , Ketua Lingkungan St. Matius lewat sambutannya diakhir. Rangkaian acara ditutup dengan ramah tamah sambil menikmati  santap malam dan tentu saja foto bersama.

Terima kasih Yesus, Engkau memilih Rasul Matius sebagai murid Mu. Semoga kesetiaan Rasul Matius juga mendorong kami untuk setia menjadi murid Mu. Amin. Tuhan memberkati. (Penulis: Etty, Editor: Ferdinand)

Rayakan Ulang Tahun Kelahiran dengan Berbagi Kasih di Panti Asuhan

By Ferdinand Lamak,

METLAND MENTENG – Ucapan syukur atas hari jadi kelahiran tentu identik dengan pesta atau dirayakan secara meriah. Tak terkecuali yang sedang berbahagia itu adalah seorang anak yang baru akan menginjak remaja. Tentu kebahagiaan tersebut akan lebih meriah dengan acara bersama kawan-kawan dalam alunan musik dan keramaian. Banyak cara yang dilakukan untuk memperingati hari jadinya tersebut.

Namun, ada ungkapan lain yang mungkin saja telah dilakukan oleh beberapa orang untuk merayakan hari kelahiran dengan cara yang berbeda. Model berbagi kasih disaat merayakan kebahagiaan tentu jalan tersendiri yang bisa dilakukan. Berbagi kasih kepada sesama dengan cara berkunjung dan memberikan donasi ke salah satu panti asuhan memang kerap dilakukan oleh orang-orang yang ingin merayakan kebahagiaannya dengan cara yang sederhana. Kesederhaan itu tampak dari orang yang menerima uluran kasih.

Eugenia Shani Gisela, seorang anak yang baru menginjak remaja, salah satu umat di Lingkungan Nathalia. Anak dari pasangan Stanislaus Dwi Putra Budiyanto dengan Skolastika Fanny Widiarja mengajak orang tua dan keluarga merayakan hari jadinya dengan berbagi kasih ke panti asuhan. Rupanya berbagi kasih demikian memang sering dilakukan oleh keluarga ini dan menjadi rutinitas keluarga untuk menolong sesama yang kekurangan.

Untuk mewujudkan kegiatan tersebut, Fanny yang memang dekat dengan Julya Theresia, Ketua Lingkungan Nathalia ini, menyampaikan ide dan usulannya untuk kegiatan di lingkungan. Maka, berdasarkan informasi yang disampaikan oleh salah satu umat tentang keberadaan suatu panti asuhan di Perumahan Harapan Indah, kegiatan atas nama lingkungan dengan dukungan penuh dari keluarga Fanny pun mulai dipersiapkan. Info kegiatan disampaikan melalui WAG lingkungan untuk mengajak keterlibatan umat dan partisipasi melalui donasi atau sumbangan yang ingin diberikan. Partisipasi bisa diberikan dalam bentuk barang ataupun uang.

Menurut Ibu Julya, kegiatan ini selain dalam rangka merayakan kebahagian salah satu keluarga di lingkungan juga untuk mengajak umat lingkungan berbagi kepada mereka yang kekurangan. Selain lokasi yang dekat, juga Panti Asuhan Vita Dulcedo ini dikelola oleh Suster dari Komunitas/Kongregrasi Suster Kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik (KYM).

Akhirnya, tepat tanggal 28 Juli 2018 pukul 10.45, keluarga pasangan Dwi dan Fanny bersama dengan umat lingkungan yang dikomandoi oleh Julya berangkat menuju lokasi dengan mobil pribadi yang disediakan oleh umat. Kehadiran umat Lingkungan Nathalia telah disambut oleh anak-anak panti asuhan dan suster-suster yang mengelola panti asuhan. Sebagian besar anak-anak Panti Asuhan berasal dari Papua. Itu diketahui saat anak-anak Panti Asuhan memperkenalkan diri. Usia anak-anak penghuni Panti Asuhan masih dibawah 12 tahun dan berpendidikan Sekolah Dasar (SD). Memang ada yang sudah Sekolah Menengah Pertama (SMP) tetapi tidak banyak.

Kebersamaan antara pengunjung dan penghuni panti asuhan terlihat akrab dan dekat. Anak-anak panti asuhan tidak merasa berbeda. Mereka siap dengan memperagakan aksi dan kemampuannya. Bernyanyi dan berjoget bersama merupakan persembahan dari mereka kepada umat yang datang. Mereka terlihat senang dan gembira telah dikunjungi. Umat pun membaur dan masing-masing saling bercanda dan berbicara dengan anak-anak dan Suster-suster. Acara yang dipandu oleh Dwi ini terlihat mengalir tanpa perencanaan yang terlalu rumit dan sulit.

Tepat pukul 12.00 siang, acara dihentikan sementara karena akan berdoa Malaikat Tuhan. Bersama-sama yang dipimpin oleh Suster Landelina KYM, semua mendaraskan doa Malaikat Tuhan. Setelah itu, acara dilanjutkan kembali. Selanjutnya, karena hari sudah menjelang siang, pukul 12.30, bersama-sama makan siang. Sebelum makan, secara simbolis melalui perwakilan Fanny menyerahkan uang tunai dan Julya menyerahkan beras kepada Suster Landelina KYM untuk kebutuhan panti asuhan. Jadi, selain uang tunai, barang-barang yang disumbangkan hasil dari partisipasi umat selain beras, juga berupa alat-alat tulis, indomie dan lainnya.

Acara berlangsung hingga pukul 14.30 dan umat lingkungan pamit untuk meninggalkan lokasi panti asuhan. Setelah foto bersama, satu per satu bersalaman dengan seluruh penghuni panti asuhan dan meninggalkan lokasi. Berbagi kasih dengan cara demikian merupakan sarana untuk lebih dekat dengan Tuhan karena seperti yang tertulis, “Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Markus 10:21)-(@nJoz)

Misa Lingkungan: Persembahan untuk Gerejaku dan Sadar Hidup Berlingkungan

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Kunjungan pastoral ke lingkungan dalam bentuk misa lingkungan sudah dimulai sejak 4 Juni silam, dengan kedatangan Romo A. Susilo Wijoyo Pr. di lingkungan Santo Agustinus, Wilayah 2 bersama dengan sejumlah pengurus dewan paroki harian dan seksi penggalangan dana. Berturut-turut setelah itu, Lingkungan Albertus, Maria dan Mikael. Lingkungan terakhir di wilayah ini yang dikunjungi romo usai liburan Idul Fitri adalah Lingkungan Alfonsus. Kedatangan romo dalam kunjungan di lima lingkungan ini, disambut antusias umat dengan kehadiran umat berkisar antara 40 orang hingga mencapai 80 orang.

Dalam homilinya romo membahas sedikit tentang bacaan pada hari tersebut dengan menekankan ajaran Cinta Kasih dalam semua lingkungan yang dikunjungi. Romo juga menekankan konsekwensi logis umat Katolik dimana saja berada dalam kehidupan bergereja dan berlingkungan.

“Dimana saja kita berada, pasti tidak akan lepas dari paroki di tempat kita tinggal dan lingkungan dimana kita berada. Jadi, penting bagi umat Katolik untuk sadar hidup berlingkungan. Jangan hanya ketika butuh baru datang ke lingkungan.”

Di dalam misa itu, romo pun menambahkan pentingnya para orang tua mengajak anak-anak untuk datang pada setiap pertemuan lingkungan. Saat dewasa kelak, anak akan mengingat ketika kecil dirinya sering diajak orang tua datang ke Rosario lingkungan dan ia kebagian juga mendaraskan doa Salam Maria secara bergantian dengan orang-orang lain.

Usai Misa di Lingkungan Maria

“Apa yang dikatakan Romo Susilo tentang kehadiran anak-anak semoga menyadarkan semua umat. Di lingkungan kami, setiap undangan tertulis yang dibuat pengurus, pada bagian akhir selalu dihimbau agar para orang tua mengajak anak-anak untuk hadir dalam doa-doa di lingkungan. Alhasil, imbauan ini berjalan dan banyak anak-anak yang masih di usia TK pun bisa mendaraskan doa Salam Maria dan diikuti seluruh umat,” ungkap Andreas Linarta, Wakil Ketua Lingkungan Santo Alfonsus.

Usai misa dan santap malam, romo membuka forum bincang-bincang dimana romo dan tim dari DPH menyampaikan beberapa pesan kepada umat, mulai dari Tabungan Umat (TABUT), Berkhat Santo Yusuf (BKSY), Ayo Sekolah, Ayo Kuliah (ASAK) dan yang tak kalah penting adalah Persembahan untuk Gerejaku. Yang terakhir ini mendapatkan penekanan yang lebih karena tim penggalangan dana memberikan presentasi singkat kepada umat sekaligus menawarkan kepada umat untuk berpartisipasi dalam program ini.

“Gereja kita tidak baru lagi dan sudah termakan usia, butuh pemeliharaan dan perawatan. Oleh sebab itu dibutuhkan kesadaran dan partisipasi umat, berapapun nilainya untuk membantu perawatan dan pemeliharaan Gereja kita,” imbau romo.

Peserta semakin antusias ketika forum tanya jawab dibuka. Umat mengajukan beragam pertanyaan mulai dari lagu-lagu liturgis di gereja hingga hal-hal seputar penafsiran isi kitab suci. Romo berusaha menjawab apa yang ditanyakan oleh umat.

Kunjungan ke lingkungan kali ini, sama seperti sebelum-sebelumya, dimana Romo Susilo dan Romo Gunawan berbagi tugas dalam wilayah-wilayah yang berbeda. Umat pun bersukacita menerima kunjungan gembalanya. Semoga semua yang disampaikan oleh romo menjadi suntikan semangat baru bagi umat untuk lebih sadar dan peduli mengambil bagian dalam tugas dan tanggungjawab pelayanan gerejani, tentu saja dimulai dari lingkup terkecil yakni lingkungan. (Penulis: Ferdinand Lamak / Foto: Dok. Wilayah 2)

Rekreasi Lingkungan Alfonsus: Si Vis Amari Ama

By Ferdinand Lamak,

CISARUA – Ketika banyak warga Jakarta mulai berkemas mudik untuk merayakan liburan di luar kota, 48 orang umat di Lingkungan Santo Alfonsus di wilayah 2 pun melakukan rekreasi lingkungan ke Cisarua, Puncak, Bogor. Kegiatan yang menjadi agenda lingkungan dalam Program Karya Pastoral 2018 ini, dilakukan dengan sebuah tujuan, untuk semakin mengakrabkan warga lingkungan dalam suasana santai dan penuh rasa kekeluargaan. Tema Si Vis Amari Ama, “Jika Engkau Ingin Dicintai, Maka Cintailah,” menjadi semangat dalam kegiatan ini dan tercermin dalam dua hari kegiatan itu, 9-10 Juni 2018 di Vila Ivanno, Puncak itu.

Kegiatan ini didasari pada sebuah kesadaran bahwa lingkungan ini sejak tahun 2016 cukup banyak melakukan banyak pembenahan internal. Pembenahan yang menghadirkan sejumlah perubahan mendasar sebagai sebuah konsekwensi ini telah memberikan hasil yang menggembirakan. Tingkat partisipasi umat dalam berbagai kegiatan lingkungan melonjak drastis. Kehadiran umat dalam kegiatan ibadat lingkungan yang biasanya hanya berjumlah maksimal belasan orang, sejak Oktober 2006 hingga hari ini bisa meningkat dua kali lipat.

Sejumlah Kepala Keluarga yang tadinya tidak pernah menghadiri kegiatan lingkungan pun kini sudah berubah menjadi sangat aktif. Peran-peran pelayanan di dalam lingkungan yang tadinya berpusat pada umat tertentu, kini mulai terdistribusi secara baik. Tidak sulit mencari pemimpin ibadat jika hendak melakukan pendalaman iman atau doa rosario di lingkungan ini. Demikian juga dalam hal ketempatan rumah untuk ibadat, dari 39 KK yang tercatat, tinggal 7 KK yang belum berkenan membuka pintu rumahnya untuk ketempatan. Ada 32 rumah yang senantiasa ketempatan dalam setiap ibadat, baik rosario maupun pendalaman iman. Jumlah ini meningkat dari sebelumnya yang tidak sampai 20 rumah.

Jika kemudian kegiatan rekreasi ini hanya diikuti oleh 48 orang, lantaran banyak warga yang mengisi liburan dengan agenda liburan keluarga serta beberapa yang mengalami kendala mendadak.

Sejumlah ibu-ibu di lingkungan beberapa hari sebelum hari pelaksanaan, berkoordinasi untuk mempersiapkan kegiatan ini. Nova Nababan, Ria Margaretha, Stefani Fundrati, Kristina Sesilia, Fredes Winda, Retno Purnamasari, Virsa Fanny, Etik Kristina, Herlina Herlington dan Imelda Lina, adalah beberapa nama yang tampak sibuk pada hari-hari menjelang hingga pelaksanaan kegiatan.

Rombongan berangkat dengan menggunakan bus yang sudah menjemput di Blok H, Perumahan Pulo Gebang Permai, sejak Sabtu pagi, jam 06.00. Tepat jam 06.30, bus berangkat dengan perjalanan yang peuh dengan derai tawa dan canda warga sambil menikmati sarapan hasil olahan ibu-ibu lingkungan. Ada roti cokelat yang meskipun kurang sempurna bentuknya namun disantap lahap. Juga, ada makanan ‘keleso’ yang juga dibuat sendiri oleh ibu-ibu itu, cukup untuk mengganjal perut hingga tiba pada sarapan pagi di Vila Ivanno nanti.

Rombongan saat tiba di Vila Ivanno, Cisarua, Puncak

Perjalanan sangat lancar hingga tiba di Cisarua, kurang dari dua jam perjalanan. Rombongan langsung menikmati sarapan pagi yang sudah disediakan dan usai itu, panitia pun langsung membagi-bagi kamar, sementara anak-anak bergegas menyeburkan diri di kolam renang vila itu. Tak lama berselang, semua berkumpul di ruang tengah villa untuk menghadiri acara ‘Mengenal Lebih Dalam’ dimana masing-masing kepala keluarga menceriterakan tentang keluarganya kepada semua warga yang hadir. Tujuannya, agar sesama umat lebih saling mengenal, termasuk hal-hal unik dari keluarga tersebut.

Imelda Lina memandu acara ini dan semua keluarga pun ketiban pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari warga lain. Ada yang sifatnya serius, kocak, jenaka dan penuh derai tawa, juga ada air mata yang tumpah dalam perkenalan ini.

Usai makan siang, acara fakultatif dimana sebagian berkumpul di ruang tengah dan bernyanyi dengan fasilitas karaoke villa, bahkan tampak beberapa pasutri berdansa ketika sebagian lainnya bernyanyi. Ada bapak-bapak saing uji ketrampilan menyodok bola di meja billiard samping villa dan anak-anaknya berkejaran di bibir kolam renang sambil menyeburkan temannya yang ogah berenang.

Anak-anak Alfonsus yang larut dalam permainan seru

Sore hari tiba, semua dikumpulkan dengan sejumlah games yang seru dan membuat suasana menjadi sangat cair. Andrianus Sinaga dan Yohanes Susilo jadi bintang pada games tersebut, terutama ketika diadakan permainan Estafet Air.

Malam harinya, acara dilanjutkan dengan karaoke bersama dan bakar jagung oleh bapak-bapak. Sebagian warga yang sudah lanjut usia lebih dahulu masuk ke kamar dan beristirahat. Kesempatan yang jarang terjadi itu juga dimanfaatkan oleh anak-anak untuk saling berceritera dan bercanda sesama mereka.

Keesokan hari, Minggu 10 Juni 2018, pagi-pagi sekali Ria Margaretha sudah memimpin bapa ibu dan beberapa bapak-bapak, turun ke lapangan untuk olahraga pagi. Ada senam Gemu Famire, juga Tobelo yang mereka bawakan, dengan beragam kostum. Ada yang berkonstum olahraga, tetapi ada juga yang masih mengenakan pakaian tidur semalam.

Usai senam, semua kembali berkumpul di pendopo villa untuk ibadat pagi. Ibadat berlangsung dalam suasana yang tenang dan semua khusyuk mendengarkan bacaan hari Minggu itu. Anak-anak mengambil bagian untuk mempersiapkan lagu dan musik untuk mengiringi ibadat itu.

Usai ibadat acara dilanjutkan dengan makan pagi dan selanjutnya warga langsung diajak masuk ke dalam suasana keakraban lagi dengan menyanyikan beberapa lagu dan gerak yang langsung dipimpin oleh Ketua Lingkungan Alfonsus. Lagu Jalan Serta Yesus yang dinyanyikan sembari berjalan, membuat umat larut dalam suasana yang seru. Usai acara itu, umat diajak untuk sejenak serius membicarakan tentang lingkungan dan hal-hal yang penting untuk perkembangan lingkungan kedepannya.

Siang hingga petang harinya, warga diajak untuk mengisi waktu dengan berbagai kegiatan yang intinya semakin mencairkan suasana diantara semua warga.

Sore harinya, sebelum meninggalkan lokasi kegiatan, warga melakukan foto bersama, mengabadikan kebersamaan yang penuh kesan itu. Hingga semua pun meninggalkan villa itu pada jam 19.00. Perjalanan pulang pun relatif lancar dan rombongan tiba dengan selamat di Pulo Gebang Permai sekira jam 21.30.

Anita Sompie, seorang warga yang sangat antusias dengan kegiatan ini berharap, Lingkungan Alfonsus semakin solid dan kompak sehingga dapat mengadakan acara kebersamaan sejenis dengan skala yang lebih besar lagi dimasa mendatang. (Penulis: Ferdinand Lamak)

 

Foto-foto lainnya dapat dilihat DISINI

 

Tidak Mustahil, Doa Rosario Sebulan Penuh. Buktinya, Ada di Paroki Pulo Gebang

By Ferdinand Lamak,

Menjelang akhir bulan Mei lalu, penulis bersama keluarga menghadiri acara mengenang 100 hari meninggalnya ibunda dari sahabat isteri saya. Ibadat ini dilakukan dengan doa Rosario bersama umat Lingkungan yang dipimpin oleh seorang prodiakon di wilayah Paroki St. Albertus Harapan Indah. Sebelum ibadat, penulis sempat berbincang dengan salah satu umat yang adalah mantan umat Lingkungan Nathalia Paroki Pulo Gebang. Yohanes demikian nama beliau. Ia menceritakan bahwa ibadat doa Rosario ini merupakan kelanjutan dari ibadat doa Rosario pada malam-malam sebelumnya sepanjang Mei yang didedikasikan sebagai Bulan Maria.

Selidik punya selidik, ternyata ibadat doa Rosario dilingkungan ini dilakukan selama satu bulan penuh. Wah, apa benar, satu bulan penuh? Penulis wajar kaget, wajar juga jika Anda pun kaget. Untuk sebuah lingkungan di perumahan yang cukup moderen seperti ini, tentu kesibukan umatnya pun tinggi dan mungkin sulit untuk menyisihkan waktu setiap malam berdoa. Memang kehadiran umat pastinya fluktuatif namun pada hari penutupan itu, yang hadir sekira 25 orang dari berbagai macam usia.

Usai doa, ketua lingkungan mengumumkan bahwa jumlah fasilitator atau pelayan ibadat yang membawakan doa dan peristiwa-peristiwa berganti-ganti setiap harinya sepanjang Mei itu ada 15 orang.

Pengalaman ini membuat penulis dan isteri pun tak habis berdiskusi sepanjang jalan pulang dan bahkan hingga tiba di rumah. Memang bulan Mei dan Oktober bagi umat Katolik merupakan bulan devosi kepada Bunda Maria, sehingga wajar pada bulan-bulan tersebut atensi dan animo umat untuk hadir dan mengikuti ibadat doa Rosario lingkungan akan jauh lebih banyak dibandingkan dengan pendalaman iman seperti masa Adven, Bulan Kitab Suci Nasional atau masa Prapaskah.

Namun, yang biasa terjadi di lingkungan khususnya di Paroki Pulo Gebang, doa Rosario lingkungan biasanya dilakukan minimal seminggu sekali, baik di Mei maupun Oktober. Tetapi ada lingkungan yang merangkaikan doa Rosario dengan Novena Tiga Salam Maria. Penulis sendiri hingga hari ini masih bingung, apa korelasi dan hubungannya Novena yang berarti 9 kali itu dengan ibadat doa Rosario.

Beberapa hari kemudian, penulis bertandang ke rumah Ketua Lingkungan Santo Alfonsus, Ferdinandus Diri Amajari di Wilayah II Paroki Pulo Gebang, untuk mendiskusikan beberapa hal. Lingkungan tersebut lokasi dan letaknya tidak jauh dari Gereja Santo Gabriel. Di atas meja tempat kami berbincang, ada sebuah buku berjudul “Mater Dolorosa.” Penulis mengambil buku tersebut dan melihat dengan seksama, ternyata itu buku doa dan devosi kepada Bunda Maria yang diterbitkan khusus sebagai panduan bagi umat di lingkungan ini.

Penulis pun bertanya, apakah cukup banyak umat yang hadir dalam doa rosario di lingkungan mereka? “Ya sejak rosario diadakan sebulan penuh di Lingkungan Alfonsus, justru kehadiran umat meningkat sangat signifikan. Kalau di periode sebelumnya, pada Mei dan Oktober, Rosario hanya diadakan 9 kali saja, umat yang datang paling tinggi 20 orang. Sekarang malah, bisa tembus sampai 38 orang dan kalau dirata-ratakan, setiap malam sekitar 22-25 orang.”

Kekagetan penulis pun tak dapat disembunyikan. Rupanya sama dengan lingkungan di Paroki Harapan Indah yang dikisahkan di atas. Uniknya lagi, di lingkungan ini setiap Selasa dan Jumat saat dimana didaraskan Peristiwa Sedih, mereka membawakan Rosario Tujuh Dukacita Maria yang menurut Ferdi, sangat mengena dihati umat di lingkungannya. Semua teks dan panduannya dia rangkum dalam buku ‘Mater Dolorosa’ (Bunda Berdukacita – red) itu.

Lantas sejak kapan dan bagaimana Ferdi dapat menggerakkan umat di lingkungan untuk melakukan hal ini?

Ia pun berkata, tidak ada yang luar biasa. “Awalnya saya gugah hati umat dengan mengajak mereka berpikir, mungkinkah dalam 360 hari yang Tuhan berikan kepada kita dalam setahun, kita sisihkan waktu 1,5 jam selama 60 hari untuk Bunda Maria?” kisahnya.

Mulanya banyak umat yang keberatan dengan masalah ketempatan. “Lalu saya katakan kepada mereka, jika keberatan soal ketempatan, silahkan di rumah saya saja. Saya malah sangat bersyukur setiap malam bisa berdoa di rumah saya, akan banyak berkat yang bisa hadir di dalam rumah saya.”

Nah, gugahan ini lantas membuat umat pun mulai sadar. Sejak Oktober 2016 dan Mei 2017, lingkungan ini pun melakukan Rosario sebanyak 15 kali setiap bulannya. Umat mulai bersemangat untuk hadir, apalagi semua diberikan kesempatan untuk menjadi petugas ibadat dan dibimbing langsung oleh ketua lingkungannya.

“Dalam sebuah pertemuan dengan warga lingkungan di September 2017, sambil bakar ikan, saya mengajak warga untuk merencanakan Rosario pada Oktober, bulan berikutnya. Saya tanyakan, apakah mau kembali ke 9 hari saja, tetap dengan 15 hari atau malah mau kita lakukan setiap malam sepanjang bulan? Umat serempak menjawab, kita lakukan sebulan penuh pak, agar semua rumah pun bisa kebagian ketempatan,” kisahnya.

Praktis, sejak Oktober 2017 dan belanjut pada Mei 2018 Rosario di lingkungan ini dilakukan sebulan penuh. Positifnya lagi, umat yang sebelumnya pasif dan tidak berani memimpin doa, kini mulai aktif mengambil bagian mulai dari memimpin doa, membaca kita suci dan renungan harian dari Buku Ziarah Batin. Total dalam sebulan kemarin, ada sekira 20 orang yang mengambil bagian sebagai petugas ibadat Rosario.

Obrolan pun semakin jauh ketika penulis menanyakan, mengapa Ferdi melakukan ini semua? Bukankan waktu pribadinya sebagai ketua lingkungan pun banyak tersita untuk Rosario selama sebulan penuh?

“Keutamaan dari santo pelindung lingkungan kami. Santo Alfonsus Maria de Liguori. Uskup dan pendiri tarekat redemptoris (CsSR) itu adalah seorang yang membela Pujian dan Penghormatan kepada Bunda Maria ketika orang-orang Protestan menolak doa itu. Namanya selalu disebutkan dalam Novena Tiga Salam Maria. Ia aktif menyebarkan doa Salam Ya Ratu dan menulis buku Kemuliaan Maria yang terkenal itu. Nah sebagai umat Katolik yang hendaknya selalu berserah kepada Tuhan melalui Bunda Maria, spritualitas pelindung lingkungan ini menjadi salah satu faktor pencetusnya,” tutur mantan aktivis mahasiswa di PMKAJ (Paroki – Sekarang Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta Unit Timur) era 1994-1996 ini juga mengajak umat untuk mendalami tentang santo-santa pelindung mereka masing-masing.

“Apakah ini memberatkan umat? Fakta sudah menjawab bahwa umat justru antusias dan ketika Bulan Maria lewat, mereka justru merindukan saat-saat untuk berkumpul dan berdoa Rosario sebagaimana di bulan Mei dan Oktober. Dan, dalam waktu dekat pengurus akan menyusun rencana untuk doa rosario reguler di bulan-bulan lain selain Mei dan Oktober,” tuturnya.

Berbekal fakta dari kedua peristiwa dan cerita tentang ibadat doa Rosario selama satu bulan penuh yang sudah dilakukan oleh 2 (dua) Lingkungan dalam 2 (dua) Paroki yang berbeda ini, ternyata semuanya sangat bergantung dari niat dan keinginan bukan hanya pemimpin dalam hal ini Seksi Liturgi dan Ketua Lingkungan saja, tapi juga peran serta umat untuk bisa menghadiri dan mengikutinya secara penuh. Kenyataan itu juga membuktikan bahwa ibadat doa Rosario dalam rangka devosi kepada Bunda Maria ternyata bisa dilakukan selama satu bulan pada saat bulan Mei dan Oktober.

Devosi kepada Bunda Maria adalah hal yang membedakan umat Katolik dengan umat Kristen lainnya. Kecintaan kepada Bunda Maria begitu sangat kuat bagi umat Katolik. Apalagi kegiatan ini pada bulan Mei dan Oktober disertai dengan ziarah ke Gua Maria bukan hanya yang ada di Jakarta tetapi juga yang ada diluar Jakarta seperti Gua Maria Bukit Kanada, Serang Banten, Gua Maria Sendang Sono, Gua Mari Cisantana Sawer Rahmat Kuningan atau Gua Maria Lourdes-nya Indonesia yaitu di Poh Sarang, Kediri dan sebagainya.

Mudah-mudahan dengan devosi kepada Bunda Maria melalui aktifitas dan kegiatan doa Rosario serta ziarah, dapat semakin menguatkan iman umat Katolik. Apalagi dengan ibadat doa Rosario di Lingkungan selamat satu bulan penuh. Hanya perlu meyakinkan niat dan semangat saja, tentunya apa yang dilakukan oleh Lingkungan Santo Alfonsus ini, bisa diikuti oleh lingkungan lain di Paroki Pulo Gebang. Tiada yang mustahil bagi Allah, maka segalanya berjalan baik dan lancar. Tuhan memberkati. (Penulis: Naryo / @njozasm), Editor: Ferdinand Lamak)