Berita Lingkungan


Talk Show tentang Bunda Maria di Wilayah 14

By gabriel,

Pertemuan bulan Maria kali ini di Wilayah 14 Paroki Pulo Gebang, tampak berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Biasanya pertemuan bulan Maria, diisi dengan Doa Rosario dan atau dilanjutkan dengan Doa Novena Tiga Salam Maria. Namun pertemuan kali ini, tepatnya pada tanggal 11 Mei 2019 di rumah Ibu Indah Naruli Metland Menteng, diisi dengan Talk Show tentang Bunda Maria, dengan nara sumber Romo Aloysius Susilo Wijoyo, Pr.

Acara ini digagas oleh pengurus Lingkungan Sta. Stefani Wilayah 14, yang kemudian timbul ide untuk membuat acara ini menjadi acara wilayah, dengan mengundang umat lingkungan lain di Wilayah 14, yaitu Lingkungan Sta. Angela dan Sta. Lucia.

Umat yang hadir berjumlah 52 orang, yang terdiri dari 12 orang dari Lingkungan Sta. Lucia, 12 orang dari Lingkungan Sta. Angela dan 28 orang dari Lingkungan Sta. Stefani.

Lebih kurang pukul 7 malam, umat mulai berdatangan. Awal mulanya, umat menduga, acara tersebut adalah ibadat yang akan dipimpin oleh Romo Susilo Wijoyo. Namun diawal acara, umat yang datang langsung dipersilahkan untuk menyantap makanan dan aneka jajan pasar. Umat mulai merasakan suatu acara yang beda dari biasanya. Meja untuk ibadat, yang awalnya sudah disusun rapi oleh tuan rumah, oleh Sie Acara digeser ke ujung, menjauh dari umat, kemudian digantikan dengan 3 buah kursi, seperti sebuah studio dalam acara Talk Show Profesional. Beberapa umat mulai bertanya-tanya, acara apa yang akan diikuti? Mau ibadat, tapi diawali dengan makan malam. Meja ibadat, dipindahkan juga.

Usai makan malam, tepatnya pukul 19:30, acarapun dibuka oleh Prajogi Sadikin, yang akrab dipanggil Pak Yogi, sebagai pembawa acara. Diawali dengan lagu pujian dan doa, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Koordinator Wilayah 14, Nicodemus Herman. Tidak ketinggalan, sebuah motivasi dari Motorvator Lingkungan Stefani, Yoriko Aprilianto, yang juga memberikan sebuah quiz berhadiah khusus untuk anak-anak. Quiz tersebut adalah untuk anak yang berani memimpin sebuah doa untuk Bunda. Tampak dengan berani, seorang anak bernama Renatha Anabel memimpin doa untuk Bunda.

Sesaat kemudian, acara intipun dimulai. Pembawa acara mengundang Hendri Arkhyanta, sebagai moderator acara. Sungguh tampak tidak berbeda dengan Talk Show di TV swasta Nasional, pembahasan, informasi dan tanya-jawab tentang Bunda Maria, disampaikan dengan sangat jelas oleh Romo Susilo dan beberapa kali diwarnai dengan canda tawa bersama umat yang hadir.

Acara di Wilayah 14 kali ini sungguh luar biasa. Umat semakin mengetahui tentang Bunda Maria, yang diperoleh dari nara sumber yang kredibel. Salah satu pertanyaan dari umat yaitu “mengapa disebut Bulan Maria, Bulan Rosario dan kapan? Mei atau Oktober? Dengan sangat jelas Romo memberikan informasi tentang sejarah Bulan Maria dan Bulan Rosario. Sebagian penjelasan Romo ada di video berikut :

Kemudian acara ditutup dengan doa, yang dibawakan oleh Maria Caroline Wiyono, selaku DPH Pendamping Wilayah 14, yang kebetulan juga tinggal di Lingkungan Sta. Stefani.

Umat yang hadir sangat puas dengan acara ini karena menambah pengetahuan dan lebih mengenal Bunda Maria. Semoga acara-acara sejenis dapat diadakan lagi.
Bravo Wilayah 14 !!!

-Dion S-

Belajar dari Keluarga Allah

By Christine Lerin,
(Keseruan Adven Minggu ke-2 di Lingkungan St. Mikael)

Menyongsong masa Adven “menunggu kedatangan Yesus” seperti biasa setiap lingkungan mengadakan rekoleksi bulan keluarga, tema tahun 2018 ini adalah KELUARGA BERBICARA. Setelah minggu sebelumnya melaksanakan rekoleksi adven ke-1 di rumah salah satu umat, adven ke-2 ini lingkungan St Mikael mengadakan di aula Sekolah SMK Caraka, Sabtu (8/12) malam. Sebanyak 22 umat mulai dari anak-anak hingga lansia hadir dalam rekoleksi ini.

Sesuai buku pedoman dari Komisi Kerasulan Keluarga KAJ ada 2 aktivitas di subtema ‘Belajar dari Keluarga Allah”. Aktivitas ke-1 adalah gambar kelompok, umat yang hadir dibagi menjadi 2 kelompok. Masing-masing kelompok berbaris ke belakang untuk menyelesaikan tema gambar yang sudah ditentukan secara bergantian, 1 orang hanya boleh melukis 1 goresan dalam waktu 5 detik. Keseruan muncul karena setiap individu secara bergantian meneruskan gambar dari teman didepannya, seterusnya hingga 2 putaran. Gambar yang dihasilkan tentu tidak sempurna, oleh karena itu di akhir aktivitas, ketua kelompok mempresentasikan gambar yang dihasilkan.


Aktivitas ke-2 tidak kalah menarik karena setiap kelompok harus menjawab 8 pertanyaan dari buku panduan dan ditulis di papan tulis. Keseruan terjadi saat bongkar pasang jawaban untuk menghasilkan 2 kata yang dituju. Setelah semua menyelesaikan jawaban yang benar, peserta diminta membagikan pendapat (sharing) tentang komunikasi khususnya di dalam keluarga.
Dari hasil sharing, pemandu berharap semangat berkomunikasi dalam keluarga semakin meningkat, seperti yang tercermin di dalam 2 aktivitas tadi. Karena tanpa komunikasi yang lancar maka masing-masing anggota akan memiliki asumsi dan tujuan yang berbeda, yang pada akhirnya bisa menimbulkan kesalahpahaman. Tentu hal ini akan menghambat pertumbuhan dan kemajuan komponen kelompok apapun yang dalam kontek ini adalah komponen masyarakat terkecil yaitu keluarga. Walaupun hanya mendapat kesempatan untuk membuat goresan dalam waktu yang singkat, tetapi setiap orang dalam kelompok memegang peranan dalam mencapai tujuan akhir. Setiap anggota keluarga turut berpartisipasi dalam berpikir, berkeputusan, bertindak dan merasa dilibatkan untuk mencapai tujuan bersama. Kita juga diajar untuk bercermin dan belajar dari “Keluarga Allah”, Bapa, Putra dan Roh Kudus yang saling melengkapi satu sama lain. Rasa syukur bahwa kita diciptakan saling berbeda, saling memperkaya, dan melihat kebhinekaan sebagai suatu hadiah dari Tuhan.

(@denykus , Erin)

Misa Syukur di Tengah Perbedaan

By Christine Lerin,

Selasa pagi yang cerah (20/11/2018), hari itu adalah hari libur nasional (Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H), umat lingkungan St. Mikael Paroki Pulogebang disibukkan dengan persiapan misa syukur di keluarga Bapak Eldi dan Ibu Lina.

Tampak seperti misa biasa tetapi lokasinya yang sungguh luar biasa karena misa diadakan di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Pulogebang yang lokasinya tidak jauh dari Gereja St. Gabriel Paroki Pulogebang, tepatnya di Blok G lantai 4 no 12. Awalnya tidak terbayang bisa mengadakan misa di tempat ini, karena selain lokasi rusunawa adalah rumah berpetak yang per blok terdiri dari 5 lantai, sepanjang lorongnya dihuni oleh puluhan keluarga yang berbeda suku, agama dan golongan.

Tepat pukul 08.00 WIB, sekitar 35 umat hadir dan duduk di depan tangga lantai 4, mengikuti misa syukur yang dipersembahkan oleh Romo A. Setya  Gunawan, Pr dalam rangka pemberkatan rumah dan HUT perkawinan Bapak Eldi & Ibu Lina yang ke-10. Romo Gunawan mengungkapkan sukacitanya karena mendapatkan pengalaman yang luar biasa, baru kali pertama mengadakan misa di rusunawa ini. “Sudah sejak lama keinginan saya untuk bisa tinggal di rusun ini,” canda Romo, memecah keheningan. Bahkan beliau juga mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi setiap keluarga katolik yang ada di rusunawa. Menurut data Biduk, ada sekitar 15 KK Katolik di rusunawa pulogebang yang menyebar di 8 Blok.

Di akhir misa, Ibu Lina mewakili keluarga mengucapkan terimakasih sebesarnya kepada Romo Gunawan dan umat lingkungan yang sudah hadir dan berdoa untuk keluarganya, misa berjalan lancar dan penuh sukacita. Juga berkat dukungan para tetangga yang telah bersedia memberikan ruang dan toleransinya, hingga lingkungan Mikael boleh mengadakan misa syukur di blok G4 ini. Ibu Lina menceritakan pengalamannya yang pernah tinggal di sekitar pacuan kuda Pulomas, karena terkena dampak penggusuran maka sekarang sudah 2 tahun tinggal di rusunawa Pulogebang, keinginannya mengundang Romo akhirnya bisa terwujud. (Penulis @denykus, Editor : Erin, Foto : Denykus)

 

Begini Lingkungan St. Monika Mengisi Bulan Rosario, Oktober Silam

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Bulan Oktober sebagai Bulan Rosario baru saja berakhir. Sebagaimana halnya yang dilakukan semua lingkungan di Paroki Pulogebang, lingkungan St. Monika, wilayah 3, Taman Modern pun telah melewati Bulan Rosario dengan berbagai kegiatan. Kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk mengajak umat lingkungan berdevosi kepada Bunda Maria selama bulan Oktober itu.

Kegiatan rutin wajib yang selalu dilakukan oleh lingkungan St Monika di  bulan itu adalah  berdoa Rosario dan Novena selama 9 kali dirumah umat, umat bersedia menerima warga lingkungan untuk datang berdoa di rumahnya. Harinya ditentukan dan dipilih sendiri oleh empunya rumah, sedangkan waktunya saja yang disepakati bersama yaitu setiap pukul 19.30. Maksudnya, agar umat yang bekerja pun tetap bisa berdoa Rosario dan berdevosi kepada Bunda Maria setelah pulang kerja.

Jadwal Rosario dan Novena ini, dimulai pada 02 Oktober dan berakhir pada 25 Oktober 2018. Ada hal yang menarik kali ini yakni ada satu kali dari jadwal yang telah disusun adalah Rosario dan Novena gabungan dengan seluruh umat wilayah 3 pada hari Rabu, 03 Oktober 2018 pada jam yang sama yaitu pukul 19.30, umat lingkungan St Monika berdoa rosario dan novena bersama-sama umat wilayah 3 Taman Moderen di rumah doa Maria Ratu Rosario yang ada di gereja. Serunya rame-rame Rosario dan Novena massal se wilayah.

Bulan Rosario selalu menjadi bulan favorit bagi kebanyakan umat lingkungan, dibanding bulan kitab suci, terlihat dari antusiasme umat yang datang dan ikut kegiatan di bulan itu selalu lebih banyak daripada dibulan kitab suci. Entah mengapa, tetapi selama ini, itulah yang terlihat. Boleh jadi karena bulan Rosario fokus berdoa dalam bulan yang spesial ini yaitu bulan Maria, sehingga menjadi kesempatan bagi umat karena bulan khusus untuk berdevosi  serta memohon pertolongan melalui Bunda Maria agar Allah mengabulkan doa dan intensi pribadi. Juga berharap Bunda Maria akan tersentuh melihat ketekunan umat dengan tidak pernah absen mengikuti 9 kali Rosario dan Novena. Berbeda dengan bulan kitab suci, dimana umat sepertinya tidak tertarik mengikuti pendalaman iman dan kitab suci.

Selain berdoa bersama, semua kegiatan pertemuan lingkungan, bertujuan juga untuk menumbuhkan kebersamaan dan keakraban antar umat lingkungan. Maka tidak mengherankan jika setelah doa Rosario dan Novena selesai, dilanjutkan dengan ramah tamah sambil menikmati hidangan yang disediakan oleh tuan rumah yang ketempatan, dan di jaman now tentu saja dilengkapi dengan foto bersama…..rasanya ga gaul kalo ga foto bareng….

Ada juga umat yang secara khusus menyediakan rumahnya untuk Rosario berbarengan dengan hari ulang tahun yang punya rumah, seperti yang dilakukan keluarga Didi dan Lily. Mereka memilih tanggal 17 Oktober 2018 untuk ketempatan karena sang bapak berulang tahun ke 51 pada tanggal 15 oktober, dan ingin secara sederhana memperingati hari jadinya dengan bersyukur bersama umat lingkungan di bulan Rosario itu.

Setelah doa Rosario dan Novena, umat lingkungan yang datang bersama-sama merayakan secara sederhana ulang tahun itu dengan mendoakan, meniup lilin, menyanyikan selamat ulang tahun, potong kue dan berfoto bersama. Terasa istimewa jika di hari ulang tahun,  bisa dirayakan dengan berdoa Rosario dan Novena lalu didoakan umat lingkungan.

Tentu saja, bulan Rosario tidaklah lengkap tanpa ziarah ke Gua Maria. Lingkungan St. Monika pun mengisi bulan Rosario ini dengan Ziarek Lingkungan  pada Sabtu, 20 Oktober 2018 ke Gua Maria Karmel Lembang. Dengan menyewa  bus kecil, peserta ziarek yang berjumlah 18 orang dengan seragam kuning berlogo St. Monika berkumpul pada pukul 05.00 pagi dan berangkat menuju Lembang Bandung. Rombongan kecil ini dengan bersemangat dan penuh keakraban sepanjang perjalanan hingga  tiba di Lembang pada pukul 10.00 pagi dan langsung memulai ziarah di Gua Maria Karmel, dengan melakukan jalan salib.

Dengan tertib peserta bergantian membaca doa disetiap perhentian dari text yang telah disediakan oleh pengurus lingkungan. Setelah jalan salib selesai, peserta diberi waktu dan kesempatan untuk berdoa masing-masing secara pribadi di depan Gua Maria, atau di tempat Salib Besar dan Makam Yesus. Semua berdoa menghaturkan ujud masing-masing ditengah keheningan yang terjaga dengan baik, ditengah alam yang sejuk , indah dan asri.

Sekitar pukul 12.00, rombongan melanjutkan perjalanan ke tempat rekreasi yaitu Floating Market sekaligus untuk makan siang. Wow, kalo tadi rombongan disegarkan dengan siraman rohani yang menyejukan batin , kini jasmani pun disegarkan dengan keindahan tempat rekreasi tersebut yang luas untuk menikmati berbagai fasilitas serta wahana yang ada.  Tujuan rekreasi selanjutnya adalah rumah tahu susu Lembang, rumah sosis, rumah mode,  di tempat-tempat ini rombongan asyik shopping, jajan dan membeli ole-ole untuk keluarga di Jakarta.

Sebelum pulang, rombongan menyempatkan diri untuk makan malam di Ikan Bakar Cianjur, dan membeli bakso enggal yang yummy. Tepat pukul 19.00 malam, rombongan meninggalkan Bandung dan mengakhiri perjalanan ziarek hingga tiba di Jakarta pada pukul 21.15 dengan tubuh lelah, ngantuk namun bersyukur pada Tuhan atas kelancaran perjalanan sepanjang hari yang telah dilalui dalam  kebersamaan umat lingkungan St. Monika.

Ada harapan dan doa semoga kebersamaan umat di lingkungan St. Monika terus terjalin dengan baik sebagai satu keluarga, bersama bertumbuh dalam iman dan kasih.

Selain kegiatan yang dilakukan bersama lingkungan, di bulan Rosario ini,  ada juga umat lingkungan St Monika yang  melakukan devosi tambahan dalam kelompok kecil pribadi, mengunjungi 9 Gua Maria di sekitar Jakarta. Semoga semua devosi, doa dan permohonan serta ziarah yang dilakukan oleh seluruh umat lingkungan St. Monika di bulan rosario ini, melalui Bunda Maria didengar dan dikabulkan oleh Tuhan.  Amin. …Bunda Maria yang baik hati, sudilah kiranya menjadi perantara bagi  doa-doa kami, … (Penulis dan Foto: Triesly/Lily Imut)

Legio Maria dan Umat Lingkungan Alfonsus, Novena dan Rosario 7 Dukacita Maria

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Malam tadi, seperti malam-malam sebelumnya di lingkungan kami, Lingkungan Alfonsus di Wilayah II, yang berada di Blok H, Pulo Gebang Permai. Di salah satu rumah warga, beberapa umat sudah mulai berdatangan, ketika tiga wajah baru yang bukan warga lingkungan kami melangkah masuk ke dalam kediaman Lukas – Wiwi di Blok H13/24. Ya, malam tadi kami berkumpul di rumah itu untuk berdoa rosario, malam ke-12 sekaligus novena Tiga Salam Maria yang memasuki malam ke-5 sejak dimulai pada 8 Oktober silam.

“Selamat malam,” sapa ketiga tamu itu disambut beberapa wajah yang agak kaget karena tak menyangka ada kunjungan dari para pengurus Legio Mariae Paroki Pulo Gebang.

Markus Orong dan Pasutri Heri-Susan pun ramah disalami belasan umat yang sudah hadir. Sambil menunggu kehadiran umat yang lain, obrolan ringan pun mengalir. Asal tahu saja, ini kali kedua Legio Mariae paroki hadir secara khusus ke lingkungan kami. Pertama kali, terjadi pada 2016 saat kami melakukan rosario pula.

Tak berapa lama, berdatanganlah umat mulai dari oma-opa, dewasa hingga anak-anak dengan rosario di tangan mereka. Sebagaimana kebiasaan, satu persatu mereka menyalami umat yang sudah lebih dulu hadir, juga tiga orang tamu kami ini. Tepat jam 19.50, sebagaimana malam-malam yang lalu, kami memulai rosario Tujuh Dukacita Bunda Maria.

——- ——

Rosario Tujuh Dukacita Maria mulai kami perkenalkan di lingkungan ini sejak Mei 2017 sebagai pengganti dari peristiwa dukacita pada rosario lima peristiwa yang didaraskan pada setiap Selasa dan Jumat. Doa ini mengantarkan umat untuk merenungkan tujuh peristiwa duka yang dialami Santa Perawan ketika mendampingi Sang Putera sedari bayi hingga dimakamkan.

Ketika pertama kali diperkenalkan, sejumlah umat bahkan meminta buku panduan yang diterbitkan oleh pengurus lingkungan untuk digandakan sendiri, lantaran mereka ingin mendoakannya secara pribadi di rumah masing-masing. Bahkan ada yang berinisiatif untuk mencari dan membeli rosario-nya yang berbeda dengan rosario lima peristiwa.

Malam tadi, saya memimpin sendiri ibadat rosario dan novena ini. Jika malam-malam sebelumnya kehadiran pernah mencapai 43 orang dan tidak pernah kurang dari 23 orang, malam tadi kami, ber-28 orang ditambah 3 tamu, khusyuk dalam suasana doa dan larut dalam narasi yang menggambarkan kedukaan Bunda Maria. Seluruh umat pun secara bergantian mengangkat doa Salam Maria yang diulang sebanyak tujuh kali, pada tujuh peristiwa dukacita itu.

——- ——

Lingkungan Alfonsus hanyalah satu bagian dari paroki ini. Namun kesungguhan dan kesadaran umat akan pentingnya devosi kepada Bunda Maria dalam tiga tahun terakhir ini sudah menunjukkan kemajuan yang baik. Jika sebelumnya, sebagaimana jamak dilakukan di banyak lingkungan lain, rosario hanya dilakukan selama 9 kali dengan mengacu pada novena yang disatukan dengan rosario, sejak Oktober 2016 umat di lingkungan ini menjalankan rosario selama sebulan penuh, baik di Oktober maupun Mei.

Tak hanya rosario sebulan penuh, petugas ibadat yang tadinya hanya itu-itu saja lantaran tidak banyak yang berani memimpin doa, kini digilir dan lebih dari 50% umat sudah berani untuk memimpin doa, baik orang tua maupun anak-anak. Ada juga yang bertugas membacakan ujud, membawakan bacaan Injil dan renungan harian yang diambil dari Buku Inspirasi Batin.

Dorongan dan ajakan bahkan mungkin ada yang memulainya dengan terpaksa, tetapi perlahan-lahan semua mulai terbiasa. Dan setiap menjelang akhir bulan Oktober dan Mei, umat justru merindukan suasana rosario saban malam seperti malam-malam yang sudah lewat.

Sebetulnya alasan utama mengapa di lingkungan ini rosario dilakukan sebulan penuh, sederhana saja. Sebagai ketua lingkungan, ada mimpi untuk melihat semua umat terlibat, setidaknya menampakkan wajahnya dalam kegiatan lingkungan. Jika tidak bisa setiap kegiatan, minimal sekali dua kali mereka hadir. Melalui kesepakatan bersama umat, metode ini pun dilakukan agar setiap kepala keluarga menyediakan rumah mereka untuk berdoa bersama umat. Alhasil, 30 hingga 31 KK dengan sukacita memilih tanggal sesuai kesediaan mereka.

Memang, tidak semua warga kebagian ketempatan namun kami mengaturnya agar rumah-rumah yang sudah kebagian pendalaman iman pada bulan lalu, kali ini tidak mendapatkan bagian ketempatan.

—— ——-

Rosario dan novena malam tadi pun berakhir sekira jam 21.00 lewat sedikit. Usai mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah dan para petugas ibadat, saya pun meminta waktu sebentar kepada umat untuk mendengarkan beberapa sharing dari Tim Legio Mariae.

Markus Orong menyampaikan sedikit tentang perkembangan terkini dari Legio Mariae yang tadinya hanya terdiri dari dua presidium, kini akan menjadi lima presidium. Ia juga memperkenalkan sekitar 8 orang warga lingkungan ini yang tergabung dalam Legio Mariae.

“Terima kasih karena kami boleh diterima di tempat ini dan kami senang melihat semangat umat di lingkungan ini yang bersedia meluangkan waktu setiap malam sekitar lebih dari 1 jam untuk berdoa bersama dengan jumlah yang sebanyak ini.”

Setelah Orong, Susan pun membagian sedikit pengalaman rohani yang dia alami tentang kekuatan devosional kepada Bunda Maria. Ia pun mengimbau agar kesungguhan dalam berdoa, pengorbanan waktu dan tenaga yang diberikan untuk mengisi Bulan Maria dan Bulan Rosario ini akan menjadi lebih sempurna jika teladan Ibu Maria diejawantahkan dalam kehidupan umat sehari-hari.

Pertemuan kami berakhir dengan foto-foto bersama meski beberapa umat pamit lebih awal untuk urusan masing-masing mereka.

Masih ada 18 hari kedepan dan lingkungan ini terbuka bagi umat dari lingkungan tetangga yang ingin hadir dalam doa rasorio yang selalu ada setiap malamnya. Semoga kisah ini dapat menginspirasi kita semua. (Penulis: Ferdinand Lamak, Ketua Lingkungan Santo Alfonsus, Wilayah II)