Hujan pun Ikut Mengantarkan Romo Rafael ke Ladang Berikutnya

  Berita Utama > Features

PULOGEBANG –  Pagi itu, langit di atas kompleks Pulogebang Permai terlihat mendung. Hujan pun mulai rintik, gerimis ketika sejumlah umat mulai mendatangi kompleks Gereja Pulogebang. Ini hari, hari terakhir bagi Romo Rafael berada di tempat ini. Dua bus sudah tersedia untuk ditumpangi umat yang akan mengantarkannya ke ladang penggembalaan baru, Paroki Santo Ambrosius, Villa Melati Mas, Serpong.

Rombongan dari Pulogebang tiba di Villa Melati Mas (Foto: Deny KI)

Tepat pukul 09.30 WIB, 2 bus besar dan beberapa mobil membawa rombongan Romo Susilo, Romo Rafael, para suster bersama umat dan DPH Paroki Pulogebang yang berjumlah lebih dari 100 orang berangkat ke Serpong. Perjalanan dipagi itu cukup lancar hingga rombongan dari Pulogebang tiba di Villa Melati Mas hanya dalam waktu 1,5 jam. Tepatnya, pukul 11.05 rombongan sudah tiba di lokasi.

Saat tiba di Gereja St. Ambrosius, rombongan disambut dengan baik oleh DPH setempat dan panitia penyambutan yang berasal dari kelompok OMK. Anak-anak muda ini menyambut romo baru mereka dengan istimewa. Selain aula yang dihias dengan tema kolonial, mereka pun mengenakan pakaian adat Jawa. Bahkan, rombongan dari Pulogebang pun ditawarkan Jamu sebagai minuman pembuka.

Romo Rafael dengan latar barisan OMK Paroki Ambrosius dalam balutan busana Jawa (Foto: Deny KI)

Sebelum acara resmi dimulai,  rombongan langsung diajak oleh pemandu untuk melakukan orientasi gereja. Satu per satu sudut gereja didatangi, mulai dari sekeliling aula, gedung gereja, area parkiran, wisma romo, Patung Santo Ambrosius dan Goa Maria. Catatan khusus untuk Goa Maria ini, rupanya belum genap sebulan diresmikan bertepatan dengan ulang tahun Pastor Paroki RD Yosef Natalis Kurnianto yaitu 31 Desember 2017.

Sambil menunggu kedatangan pastor paroki yang pagi itu masih bertugas di Gereja St.Monika, panitia mengajak rombongan untuk menikmati santap siang. Sambil bersantap, OMK pun menghibur dengan sejumlah lagu, tidak terkecuali Romo Susilo dan Romo Rafael pun didapuk untuk bernyanyi bersama. Dua lagu yang mereka bawakan adalah, Kemesraan dan Tuhan Sungguh Baik. Suasana sesaat jadi haru.

Duet Romo Rafael dan Romo Susilo membawakan lagu (Foto: Deny KI)

Saat acara resmi dimulai, Pastor Paroki St. Ambrosius, RD Y. Natalis, mengucapkan selamat datang kepada RD Rafael Kristianto. Ia mengatakan, dirinya akhirnya bisa berbagi tugas karena selama ini paroki tersebut hanya memiliki satu pastor. Ia pun berpesan agar umat Pulogebang bisa merelakan pastornya untuk berkarya disana.

Sementara itu, Pastor Paroki St. Gabriel Pulogebang, RD A. Susilo Wijoyo mengucapkan selamat bertugas di perutusan yang baru karena ini tugas ketaatan. Ia berpesan ‘sebaik-baiknya kita, pasti ada yang tidak senang tetapi ingat juga sejelek-jeleknya kita, pasti ada yang senang juga’.

Tetap rilex menjalani tugasnya dan berdoa, “Tuhan pertemukanlah saya kepada orang-orang yang tepat sehingga pelayanan menjadi lebih ringan.”

Lagu Setia-nya yang dipopulerkan oleh kelompok musik Jikustik merupakan lagu terakhir yang dipersembahkan umat Pulogebang bagi Romo Rafael. Lagu ini dibawakan oleh DPH Pulogebang dan para suster, sembari berpesan agar Romo Rafael senantiasa selalu setia dalam pelayanan.

Sementara itu, Sularto mewakili umat yang juga  satu lingkungan dengan keluarga Romo Rafael berpesan kepada umat di Villa Melati Mas agar dapat menjaga panggilan romo dan tidak mengganggunya sehingga Romo Rafael tetap setia dalam pelayanan.

Sambil meneriakkan Semangat Pagi sebagaimana biasanya, Romo Rafael pun menyempatkan untuk berceritera tentang perjalanan pangggilan dan imamatnya. Ia ditahbiskan pada Agustus 2013 di Gereja Arnoldus Bekasi dan memulai tugas pelayanan di Paroki Cililitan. Sekitar 4 bulan kemudian ia pindah ke Paroki Pulogebang selama 3 tahun 9 bulan dan sekarang ia akan mulai bertugas disini.

Dalam kesempatan itu, Romo Rafael juga memperkenalkan orang tuanya. Ia sendiri merupakan putra ke-2 dari 3 bersaudara. Bagi dia, sebuah keistimewaan tersendiri bisa berkarya di paroki sendiri, sesuatu yang sangat jarang terjadi. Romo Rafael juga mengucapkan terimakasih kepada panitia, umat yang mengantar dan kejutan-kejutan yang diberikan.

Persembahan lagu Setia oleh DPH Pulogebang (Foto: Deny KI)

Alex, wakil dari umat Paroki Ambrosius yang menyaksikan bagaimana peristiwa pagi hingga siang itu mengatakan, dirinya sangat terharu melihat begitu besar kecintaan umat Pulogebang terhadap Romo Rafael. Ia pun berkata, “Kami berjanji untuk membantu, mendukung dan menjaga sebaik-baiknya. Terimakasih untuk semuanya.”

Wakil Ketua DPH Paroki Pulogebang, Albertus Witjaksono ketika dimintai tanggapan atas peristiwa hari itu mengatakan, dirinya salut dengan apa yang dialami di Villa Melati Mas.

“Mereka (Paroki Ambrosius-red) itu paroki baru, baru 13 bulan jadi paroki namun yang kami kagumi adalah peran OMK yang sangat menonjol dalam pelayanan dan OMK di sana sangat mandiri, ya mungkin ini juga berkaitan dengan kondisi ekonomi umat setempat. Mereka sangat antusias saat menerima tamu, semua pengurus lingkungan, wilayah, seksi turun menyambut kita dan mengajak touring ke lingkungan kompleks gereja dan menerangkannya dengan sangat rendah hati sehingga terkesan sangat menghormati tamu.”

Witjaksono pun mengharapkan, kedatangan Romo Rafael dengan sambutan seperti itu mudah-mudahan menjadi awal yang baik dalam menjalankan tugas perutusan di Paroki St. Ambrosius.

Rombongan dari Seksi PSE Pulogebang menyempatkan diri berfoto di Gua Maria Paroki Ambrosius (Foto: Tuti Jus)

Acara siang itu ditutup dengan doa dan berkat dari RomoNatalis, dilanjutan foto bersama. Tepat pukul 14.00 WIB, rombongan meninggalan Gereja St. Ambrosius.

Saat bus dan kendaraan dari Pulogebang beranjak meninggalkan area gereja, hujan pun turun, gerimis. Sembari melambaikan tangan kepada umat yang terus menyaksikan dari balik kaca mobi, Romo Rafael berdiri menatap rombongan yang terus menjauh. Entah berapa tetes air mata yang jatuh lagi siang menjelang petang itu. Hujan pun makin deras. Romo, selamat melayani dan semoga Tuhan selalu menjaga panggilanmu. (Naskah: Deny Kus Indarto/Editor: Ferdinand Lamak/Foto: A. Witjaksono)