MENGENANG 100 HARI OM TAN – Renungan oleh Mo Gun

  Berita > Berita Lingkungan

Saat menerima undangan dalam WAG tentang Misa Arwah 100 hari Om Tan, ada anggota group yang berkomentar, “Asyik, akan ada pembahasan dan pelajaran Kitab Suci lagi”, begitu katanya. Oh, ternyata yang akan memimpin Misa Arwah tersebut adalah Romo A. Setya Gunawan, Pr. Yah, seperti diketahui bersama, kalau Mo Gun (panggilan akrab beliau) saat homili dalam setiap berkhotbah selalu memberikan katekese tentang Kitab Suci yang sesuai dengan bacaan Injil atau mengutip ayat-ayat lain yang berkaitan.

Tepat di hari Sabtu pagi tanggal 10 Maret 2018, walau hujan baru saja berhenti tidak menyurutkan Umat Wilayah MM untuk datang dan menghadiri Misa Arwah mengenang 100 hari Om Tan panggilan akrab dari Almarhum Bapak Ignatius Hadi Tedja Sukmana. Perlahan-lahan umat mulai memenuhi rumah yang dulu pernah ditempati oleh Almarhun Om Tan semasa hidup bersama istrinya.

Semasa hidupnya, Om Tan sangat aktif baik dalam kehidupan menggereja maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Tugas pelayanan sebagai prodiakon dijalananinya dengan waktu yang lama. Sebagai warga masyarakatpun Om Tan pernah terlibat dalam kepengurusan RW. Apalagi bila menyangkut orang kecil, tidak segan-segan Om Tan membelanya walaupun hanya perkara kecil menurut sebagian warga.

Menurut Mo Gun dalam pengantar khotbahnya bahwa kepergian Om Tan telah menimbulkan duka mendalam bagi keluarga, Umat Wilayah MM dan juga bagi Gereja, tapi kita bersyukur karena sebagai manusia tidak hanya dianugerahi perasaan kemanusiaan melainkan juga dianugrahi iman, kepasrahan kepada Tuhan. Karena untuk itulah yang menjadi dasar iman kita, dasar iman Kristiani bahwa setiap orang yang hidup di dalam Tuhan dianugerahi kehidupan dan nanti pasti juga akan dianugerahi kehidupan kekal setelah hidupnya di dunia.

Buktinya apa? Yesus memberikan bukti bahwa keselamatan itu membahagiakan bahwa surga itu menjadi tempat dimana kita mau bersembah sujud dan memuji Allah selamanya dengan penuh sukacita. Bukti bahwa Yesus punya kuasa atas hidup dan matinya manusia dikisahkan dalam Injil bahwa Yesus juga pernah membangkitkan orang mati. Kalau manusia tidak punya kuasa yang bisa membangkitkan orang mati tetapi Yesus bisa.

Seperti  biasa dalam setiap khotbahnya, Mo Gun mengajukan pertanyaan. Contohnya: dalam Kitab Suci, berapa kali Yesus membangkitkan orang mati? Maka, mulailah umat diajak untuk kembali belajar tentang Kitab Suci dan memahaminya dengan sungguh-sungguh. Yang dicatat oleh penulis Kitab Suci adalah 3 kali. Pertama, kisah Lazarus yang hanya diceritakan oleh Injil Yohanes dan tidak ada dalam Injil yang lain. Jadi, salah satu kebangkitan Lazarus dicatat dalam Injil Yohanes Bab yang ke 11. Kebangkitan yang kedua adalah pemuda di Naim yang hanya ditulis oleh Injil Lukas. Yang ketiga adalah putera dari seorang Perwira yang bernama Yairus. Dalam guyonannya, Mo Gun mengatakan bahwa Yairus itu orang Jawa, maka anaknya yang meninggal bernama Yaentong, umat tertawa karena sebagian besar yang hadir berasal dari suku Jawa sehingga mengerti apa yang diucapkan oleh Mo Gun. Dan ketiga tentang kebangkitan itulah yang dicatat oleh penulis Injil. Pernahkah Petrus membangkitkan orang mati? Petrus pernah membangkitkan orang mati yang bernama Dorkas atau Tabita. Pernahkah Paulus membangkitkan orang mati? Tercatat dalam Kisah Rasul, Paulus saat perpisahaannya pernah membangkitkan seorang pemuda saat pewartaan pada suatu daerah.

Dengan kisah2 itu mau dinyatakan bahwa hidup ada di tangan Tuhan, kematian, kebangkitan ada di tangan Tuhan. Yesus pernah mengatakan Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Satu-satunya jalan menuju ke rumah Bapa hanya bersama Yesus. Yang tahu jalan ke surga itu hanya Tuhan Yesus. Kita berbahagia karena Om Tan selama hidupnya selalu dekat dengan Tuhan Yesus yang mau memberikan jalan menuju surga.

Usia Om Tan saat menghadap Bapa adalah sudah 80an tahun, Dalam Kitab Suci usia manusia tercatat dalam Mazmur 90:10 yaitu rata-rata sampai 70 tahun. Sedangkan, jatah dari surga itu 70 tahun, maka 80 itu berkat, 90 itu nekat dan 100 itu sekarat menurut Mo Gun sambil berguyon.

Dalam Bacaan Injil disebutkan adanya rombongan pengantar pemuda yang meninggal. Rombongan itu disebut saja rombongan kematian menuju ke pemakaman. DI pintu gerbang mereka bertemu Tuhan Yesus bersama dengan para muridnya. Rombongan Yesus sebut saja sebagai rombongan kehidupan. Apa yang dibuat oleh Yesus ketika ketemu dengan rombongan kematian. Yesus menghentikan rombongan kematian dan rombongan kematian itupun berhenti. Berhenti berarti percaya kepada yang menghentikannya. Berhenti berarti mempercayakan seluruh peristiwa itu kepada yang menghentikan yaitu Yesus. Berhenti berarti terjadilah kepadaku menurut kehendak-Mu.

Maka kalau kita mau membaca Kitab Suci, ada kata-kata yang kecil, sederhana ternyata ada maknanya, berhenti dan itu artinya sangat berarti. Dalam Markus 10:49 dikatakan ketika ada seorang yang buta bernama Bartimeus berteriak Yesus Anak Daud, kasihanilah aku, Yesus berhenti. Maka berhenti berarti memberikan perhatian yang penuh. Dalam jalan salib ada 14 perhentian, seperti yang sudah pernah disampaikan dalam khotbah di Gereja tentang memahami dan memaknai perhentian jalan salib melalui angka-angka, kembali Mo Gun mengingatkan umat dengan perhentian jalan salib tersebut.Dan ketika diajak berdoa perhentian pertama pada jalan salib, kita berhenti dan memberikan perhatian pada perhentian pertama. Ketika diajak berhenti, kita diajak fokus. Kita berhenti sejenak merenungkan karya penebusan Tuhan Yesus

Mo Gun melanjutkan renungannya, hari ini jam 11 kita diajak berhenti oleh Om Tan sekeluarga supaya bisa bertemu dengan Sang Sumber Hidup dalam Ekaristi. Dalam beberapa kesempatan kita diajak berhenti, misalnya selama masa PraPaskah kumpul-kumpul Pendalam Iman (PI) di Lingkungan untuk bertemu Tuhan Yesus. Kalau kita diajak berhenti, mari kita berhenti karena kita akan berjumpa dengan Sang Sumber Hidup dalam sabda, dalam karya, dalam sakramen.

Om Tan, selamat menikmati kebahagiaan abadi bersama Sang Sumber Kehidupan yang menunjukkan jalan ke rumah Bapa di surga. Doa kami, keluarga, umat Wilayah MM dan Paroki Pulo Gebang dalam peziarahan hidup di dunia ini supaya bisa dijemput dan ditunjukkan jalan oleh Sang Sumber Kehidupan. Tuhan memberkati.

(Penulis : @njozasm , foto : @njozasm, editor : Erin)