Relakan Anak Kita Dipanggil, Bukan Mendoakan Anak Tetangga

  Berita Paroki > Berita Utama

PULOGEBANG – Vatikan sejak lama telah menetapkan perayaan ekaristi pada Minggu Paskah ke-4, dirayakan juga sebagai minggu panggilan bagi semua umat Katolik di seluruh dunia. Demikian pula yang dilakukan oleh warga Paroki Santo Gabriel, Pulo Gebang. Kurban misa sejak Sabtu petang hingga Minggu petang ditujukan untuk mendoakan agar benih panggilan untuk menjadi imam atau pastor, suster dan bruder tumbuh subur, khususnya di paroki ini. Romo Alphonsus Gunawan Pr., dalam misa kedua Minggu (22/4/2018) pagi tadi pun menekankan kepada para orang tua untuk merelakan anaknya dipanggil, bukan mendoakan anak tetangga untuk menjadi romo.

“Maka saya pun bertanya kepada bapak/ibu, siapa yang tidak rela anaknya masuk ke seminari, silahkan tunjuk jari,” tanya Romo Gunawan, yang direspon umat dengan tak ada satupun yang mengancungkan jarinya.

“Syukur kepada Allah,” ungkapnya. Ia pun berujar, “Bahagia sekali jika semua orang tua tidak keberatan anaknya jadi romo.”

Seperti biasa misa kedua pada hari Minggu ini, dihadiri oleh umat yang memenuhi balkon bahkan hingga duduk di tangga ke arah balkon. Misa pun terasa lebih meriah dengan penampilan paduan suara dari Wilayah II Paroki Santa Maria Regina atau yang disingkat SanMare, Bintaro Jaya tempat dimana Romo Gunawan berkarya sebelum pindah ke Paroki Santo Gabriel Pulo Gebang, beberapa bulan lalu.

Sejak Sabtu kemarin, dalam perayaan misa di Gereja Santo Gabriel Pulo Gebang, seksi panggilan bekerjasama dengan putra-putri altar atau misdinar memersembahkan sebuah fragmen yang mengisahkan tentang lika-liku panggilan dalam diri anak, ketika niat untuk masuk ke seminari harus berhadapan dengan beragam respon dari orang tua.

Baca juga: Fragmen Panggilan, Ketika Niat Anak Masuk Seminari Jadi Dilema Orang Tua

Romo Gun dalam homilinya pun mengatakan, kebutuhan akan imam, suster dan bruder sangat tinggi untuk melayani umat yang pertumbuhannya pun cukup tinggi. Di Jakarta saja, sudah ada 66 paroki dan rata-rata dalam satu tahun ada pertambahan umat sebanyak 10.000 sehingga mestinya setiap tahun harusnya ada pertambahan 1-2 paroki baru.

“Mendirikan paroki itu mudah, mendirikan gedung gereja mudah, cari dana gampang, pasti ada dananya. Yang sulit apanya? Yang sulit itu cari romonya. Itu sebabnya, kita berharap dan mendoakan agar para orang tua dapat merelakan anaknya untuk masuk ke seminari, jangan hanya mendoakan anak tetangga saja agar dipanggil menjadi romo. Doanya, Ya Tuhan panggilan semakin banyak anak-anak muda untuk menjadi romo, tetapi jangan anak saya,” ujarnya.

Romo dalam bagian akhir homilinya, memerkenalkan kepada umat mengenai prinsip 4 S yang menjadi muara dalam pendidikan di seminari, khususnya Seminari Wacana Bhakti yang dimiliki oleh Keuskupan Agung Jakarta. Empat S tersebut adalah: kekudusan (sanctitas), kesehatan (sanitas), keilmuan (scientia) dan persaudaraan (societas). Apa yang dimaksudkan dengan 4 muara pendidikan di semari itu, simak artikel selanjutnya disini. (Penulis/Editor dan Foto: Ferdinand Lamak)