Tiga Pesan Minggu Palma: Abu, Keledai dan Panggilan Melayani Tuhan

  Berita > Berita Utama

PULOGEBANG – “Daun-daun palma riuh melambai, anak-anak berlarian bertingkah girang, pekik sorak sorai sukacita memuliakan dia,” begitulah sepenggal pengantar Romo A. Susilo Wijoyo Pr. sebelum memberkati daun-daun palma ditangan umat yang hadir dalam misa Minggu, 25 Maret 2018 pagi itu. Umat yang hadir, berdiri dan tampak ceria melambai-lambaikan daun di tangan mereka, sembari paduan suara mengiringi percikan air berkat yang jatuh ke atas helai daun-daun itu.

Perarakan umat memasuki gereja

“Daun palma, kita pakai sebagai sarana untuk memuji Tuhan Yesus. Yang menarik, pada waktu itu ada gerakan dari umat yang menge-elukan Yesus, atau memuji Yesus atau mengarak Yesus, itu gerakannya adalah gerakkan naik. Apa artinya gerakkan naik? Gerakan yang ingin menaikkan Yesus untuk menjadi raja, penyelamat dari penindasan Romawi.”

Romo Susilo mengatakan, raja yang dimaksudkan oleh orang-orang itu adalah raja dalam artian politis dan gerakan itu adalah gerakan populis atau gerakan rakyat. Namun, dari sisi Yesus justru ada gerakan turun. “Aku tidak naik kuda yang gagah seperti yang dinaiki para raja, Aku cuma naik keledai beban atau untuk mengangkat barang. Aku bukan raja politis tetapi Aku adalah Raja Damai,” ungkap Romo Susilo sambil menambahkan bahwa dengan memasuki Yerusalem pada hari itu, Yesus melakukan gerakan turun yang lebih dahsyat lagi karena dia siap untuk sengsara, siap untuk disalibkan dan wafat di salib.

Romo juga mengatakan, banyak orang mengelu-elukan Yesus ketika memasuki Kota Yerusalem, sebagaimana umat Paroki Pulogebang yang juga berarak memasuki gereja sambil diiringi lagu. “Yerusalem..Yerusalem, Lihatlah Rajamu…”

Umat berjalan tertib didahului oleh para misdinar dan prodiakon, sambil terus mengumandangkan, “Yerusalem, Yerusalem, lihatlah Rajamu….”

Dalam homilinya di dalam gereja Romo Susilo kembali mengatakan, agar daun palma itu dibawa pulang dan jangan diletakkan begitu saja, melainkan diselipkan pada salib di masing-masing rumah umat.

“Silahkan itu disimpan selama satu tahun, nanti menjelang Minggu Palma berikutnya di tahun 2019, daun palma itu diserahkan ke gereja. Nanti akan ada pengumuman, dan daun palma kering itu akan digiling dan dibakar untuk menjadi abu untuk dipakai dalam tanda salib di dahi untuk kita semua lagi. Jadi salib abu yang kita terima di dahi kita itu bukan dari abu yang lain, apalagi dari abu gosok, melainkan dari daun palma kita yang sudah diberkati.”

Romo juga mengatakan pengalamannya pada 2016 ketika ia menaiki kuda mengelilingi gereja saat masih di paroki yang dipimpinnya sebelum ini. Rupanya panitia menyiapkan drama Minggu Palma dengan menyiapkan kuda untuk dinaiki. Namun, Yesus justru menaiki keledai yang biasa digunakan untuk mengangkut beban.

“Kita ini kadang-kadang seperti keledai, kita sangka orang-orang yang melambai-lambaikan daun palma itu untuk aku, padahal itu bukan untuk keledai. Kalau tidak ada orang yang duduk di atas keledai itu, tentu tidak akan ada lambaian hosana Putera Daud. Kita ini kadang-kadang suka gede rasa alias ge-er. Merasa terhormat, padahal kalau tidak ada Yesus, cuma keledai juga. Jadi kita jangan terlalu merasa diri terhormat, padahal kita ini tidak ada apa-apanya, kita ini cuma keledainya Tuhan.”

Analogi ini disampaikan untuk dibawa pulang sebagai bekal iman bagi umat.

“Yang ketiga, untuk dibawa pulang adalah, kata-kata Yesus yang berkata, ‘Katakan Tuhan memerlukan,’ lalu pemilik keledai itu memberikan keledainya untuk Yesus. Ini menyangkut panggilan, jadi kalau Tuhan membutuhkan kita, jangan pura-pura budeq. Suatu hari nanti, akan ada berita bahwa, Gereja memerlukan kami, wilayah memerlukan kamu, lingkungan memerlukan kamu, seksi atau bidang memerlukan kamu, panitia memerlukan kamu. Kira-kira menghindar, atau melemparkan kepada orang lain? Halo…tidak ada yang jawab nih,” ungkap Romo Susilo.

Romo pun berpesan, jadilah keledai Tuhan dengan menjawab panggilan Tuhan dan jangan pura-pura tidak mendengar jika dipanggil untuk melayani Tuhan. (Rerportase/Foto: Lodewijk Lamak, Penulis/Editor: Ferdinand Lamak)

Anda ingin mengikuti ulasan lebih menarik tentang prosesi Minggu Palma 2018, simak selengkapnya di Majalah Diaga Edisi Paskah 2018 yang segera terbit. Jangan ketinggalan!