Berita Keuskupan


Festival Kitab Suci, Perayaan Puncak Bulan Kitab Suci 2018

By Ferdinand Lamak,

TAMAN MINI – September bagi umat Katolik dirayakan sebagai Bulan Kitab Suci. Pada bulan ini umat Katolik diajak untuk menjadi lebih akrab dengan Kitab Suci melalui berbagai cara, sehingga iman semakin tangguh.

Dalam rangka tersebut, Komisi Kerasulan Kitab Suci bekerja sama dengan Komisi Katekese, Komisi Liturgi, Komisi Keluarga, Komisi Kepemudaan dan Komisi Komunikasi Sosial menyelenggarakan Festival Kitab Suci sebagai puncak dari seluruh rangkaian perayaan Bulan Kitab Suci 2018 di Sasono Utomo TMII, Minggu (29/9/18).

Acara Festival Kitab Suci dengan tema “Bersatu Dalam Terang Sabda” meliputi Seminar Kitab Suci, Seminar Keluarga, Perkenalan komunitas-komunitas Kitab Suci, Final Lomba Family Bible se-KAJ, Workshop upgrading skill bagi Para Pemazmur dan Fasilitator BIR/BIA dan Talk Show yang menghadirkan Ign. Jonan (Menteri ESDM), tokoh lintas agama (Gus Mis), Mgr Ign. Suharyo dan ditutup dengan Misa.

Festival yang dimulai pukul 07.00 sampai 18.00 WIB dipandu Donna Agnesia dan Rocky Pasadena, dihibur antara lain Didik SSS & Callista, Lisa A Riyanto, Nikita Natasha, Chrisiandy Yuniarto (ayah The Sacred Riana).

Sekitar 1600 orang hadir dalam festival ini, beberapa Imam KAJ, komunitas penggiat kitab suci dan umat katolik se-KAJ, tak terkecuali umat Paroki Pulogebang yang dikoordinir oleh Selvya (seksi KKS) mengajak  anak-anak dan pembina BIR, OMK, Pemazmur, KKS dan Komsos.

Selama Bulan Kitab Suci, Paroki Pulogebang juga berpartisipasi dalam lomba pemazmur, family bible dan pembina BIA di tingkat paroki maupun dekenat. Semoga kegiatan ini mendorong umat mulai dari anak-anak, remaja, OMK, dewasa, lansia semakin mencintai Kitab Suci.

(Deny Kus, foto: GPC)

Sejuta Mawar untuk Bunda Maria

By Ferdinand Lamak,

CILINCING – October is coming! Bulan yang dinantikan oleh umat Katolik selain Mei, dua bulan itu dirayakan sebagai Bulan Maria, dua bulan yang khusus didedikasikan bagi devosi kepada Bunda Maria baik secara pribadi maupun bersama lingkungan dan paroki.  Pembukaan bulan Maria ini, ditandai dengan misa yang diadakan di semua paroki pada tanggal 30 september 2018, yang kebetulan jatuh pada hari minggu, termasuk di Paroki Cilincing, Misa pembukaan bulan Maria di Gereja Salib Suci, mengusung tema yang cantik yaitu Malam Persembahan Sejuta Mawar.

Melalui 3 macam kupon yang diedarkan ke paroki-paroki lain, termasuk ke Paroki St Gabriel Pulo Gebang, umat bisa membeli bunga mawar melalui kupon ini . Kupon A untuk 1 tangkai  mawar, kupon B untuk 10 tangkai dan kupon C untuk 20 tangkai mawar, dan dibalik kupon umat bisa menuliskan semua ujud doa yang diinginkan. Maka tidak heran kalau ada umat paroki Pulo gebang yang menghadiri misa pembukaan bulan Maria pada hari itu di Gereja Salib Suci, termasuk saya dan keluarga.

Acara ini baru pertama kalinya diadakan di Gereja Salib Suci,  dan merupakan  salah satu kegiatan dalam rangka pencarian dana untuk pembangunan gedung karya pastoral  yang sedang dibangun. Pada bulan Oktober ini, panitia pembangunan GKP mengadakan acara ini sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih  kepada Bunda Maria sekaligus membantu pembangunan gedung karya pastoral di Paroki Cilincing, lewat penjualan kupon.

Penukaran kupon dengan bunga mawar dimulai sejak pukul 16.30 di depan pintu masuk gereja, bunga mawar asli diberikan sebanyak kupon yang dibeli dan kemudian  kupon diambil panitia agar ujud-ujud doa yang telah ditulisi oleh umat bisa dikumpulkan untuk kemudian dibakar di gua Maria setelah ritual perarakan patung setelah misa nanti. Gedung GKP yang terletak didepan gedung gereja memang terlihat sedang dalam proses pembangunan. Umat  yang tidak bisa hadir namun ikut membeli kupon, bisa menitipkan kuponnya kepada yang lain atau kepada panitia jika kenal, sehingga ujud-ujud doa yang telah dituliskan tetap bisa di persembahkan bersama bunga mawar mereka.

Misa konselebrasi yang dimulai pada pukul 18.00, dibawakan oleh 6 orang pastor yaitu : Romo Canisius Sigit Tridrianto, CM (Pastor Paroki Cilincing), Romo Alexius Dwi Widiatna, CM., Romo E. Prasetyono, CM., Romo Didit Soepartono Pr dan Romo Jost Kokoh Pr.

Homili dibawakan oleh Romo Kokoh dan Romo Pras dengan gaya interaktif yang melibatkan umat. Be happy, be healthy and be holy, inti kotbah kedua romo tersebut. Seru dengan gerak dan pantun, terasa begitu meriah dan semarak ditambah banyaknya bunga mawar cantik yang dipegang oleh masing-masing umat saat misa untuk nantinya diberkati dengan percikan air suci oleh ke enam romo yang hadir sebelum dipersembahkan kepada Bunda Maria di gua.

Setelah misa selesai, dimulailah perarakan patung Bunda Maria mengikuti  rute jalan salib mengelilingi gereja dengan iringan doa rosario, umat dengan rapih dan tertib sambil memegang lilin dan bunga mawar masing-msing mengikuti perarakan yang berakhir di gua Maria dimana patung yang dibawa selama perarakan di letakkan di tempat yang telah disediakan. Lalu dengan berbaris, bergantian umat meletakkan bunga bunga mawar yang dipersembahkan kepada Bunda Maria dengan meletakkannya secara rapih memenuhi gua Maria, menyalakan lilin dan berdoa. Rangkaian acara ini berakhir sekitar pukul 21.00 wib.

Kuletakkan bunga mawarku dihadapan Bunda tercinta dan  dalam hening aku memejamkan mata, mengatupkan tangan…mempersembahkan semua ujud doa yang telah kami haturkan kepada Bunda Penolong, Ratu Rosari dan Bunda Pelindung Kami. Sejuta mawar buat bunda, sejuta harapan, sejuta doa dari kami anak-anakMu….semoga lewat perantaraan Bunda , putraNya yang terkasih Tuhan kami Yesus Kristus sudi mendengar dan mengabulkan doa-doa kami.

Mari kita  memasuki bulan Maria mulai tanggal 01 Oktober ini, dan selamat berdevosi sebulan penuh kepada Bunda Maria dengan berdoa rosario, novena dan berziarah ke Gua Maria sebagai wujud syukur, terima kasih dan cinta kita kepada Bunda Maria , Bunda kita semua.

Bunda Maria, Bunga Mawar yang Gaib, semoga Bunda menerima persembahan kami malam ini, malam yang penuh bunga mawar cantik berwarna warni untuk menyenangkan hati Bunda. Santa Bunda Allah, doakanlah kami agar kami pantas menerima janji Kristus, Amin. (Penulis dan Foto: Limut, Editor: Ferdinand Lamak)

Indahnya Kebersamaan Saat Buka Puasa Bersama di Katedral Jakarta

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Ada hal yang menarik, terjadi di Gereja Katedral Jakarta, Jumat kemarin (1/6/2018), bertepatan dengan peringatan Hari Kelahiran Pancasila. Masih juga dalam suasana mencekam pasca teror bom yang melanda sejumlah gereja dan lokasi di Surabaya. Sejumlah kelompok masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Kerja Bakti Demi Negeri menggelar kegiatan buka puasa di kawasan gereja itu. Ada diantara Anda yang mungkin akan bertanya, buka puasa kok bisa diadakan di kawasan gereja?

Jawabannya, ya! Dan itu sudah terjadi dalam suasana penuh kehangatan dengan  kehadiran sejumlah pihak antara lain Majelis Ulama Indonesia (MUI), PB Nahdlatul Ulama (PBNU), Jaringan Gusdurian, Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan anggota komunitas lainnya.

Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alisa Wahid mengatakan tujuan dari acara buka bersama ini untuk menunjukkan semangat saling berbagi dan solidaritas.

“Di sini tidak ada tokoh dan tidak ada yang ditokohkan dalam gerakan ini, artinya gerakan milik rakyat, tidak ada agenda politik apapun. Artinya memang banyak orang yang ingin bekerja untuk negeri ini, banyak orang yang ingin damai, banyak orang yang tidak ingin ada sekat agama yang memisahkan dan menginginkan kebaikan untuk negeri ini,” kata Alisa di Aula Gereja Kathedral, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (1/6/2018).

Baca juga: Buka Puasa Bersama Dekenat Jakarta Timur di Gereja Santo Gabriel, Pulo Gebang

Alisa menambahkan kebetulan acara buka bersama ini digelar pada 1 Juni yang merupakan hari peringatan Kelahiran Pancasila. Dia pun mengajak semua pihak agar terus bersatu agar tidak mudah dipecah belah.

Pastor Hani Rudi Hartoko, romo kepala di paroki ini mengapresiasi kehadiran Komunitas Kerja Bakti Demi Negeri untuk buka bersama. Romo Hani berharap semangat itu akan menyebar ke masyarakat lainnya. “Peristiwa ini menarik karena judulnya komunitas kerja bakti demi negeri, karena saya kira istilah yang sudah ada hidup di negeri kita, kerja bakti, saling bekerja sama, gotong royong. Namun sekarang ini sudah mulai luntur semangat kerja bakti tersebut. Maka saya sangat mengapresiasi dan saya setuju untuk merevitalisasi kerja bakti ini,” ujar Hani.

Acara buka bersama ini juga diawali dengan pemutaran video yang bertema keberagaman. Sebelum berbuka puasa umat muslim juga diajak Pastor Hani untuk berkeliling melihat bangunan Gereja Kathedral.

Usai berkeliling, para tamu kemudian diajak ke aula gereja untuk berbuka puasa bersama. Mereka duduk lesehan dan membentuk lingkaran. Suasana akrab terasa saat mereka saling berbincang dan makan bersama. Salah satu ruangan aula juga disediakan sebagai ruangan salat, para tamu dipersilakan menunaikan salat magrib di ruangan tersebut.

“Terima kasih atas semua pihak yang membantu, terutama pengelola Kathedral yang tiba-tiba digeruduk orang segini banyak dengan persiapan seadanya. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah hadir dan menyumbangkan apapun khususnya menyumbang semangat untuk menjadi langkah awal kita menjaga Indonesia tetap jaya tetap merdeka dan tetap ber-Pancasila,” pungkas Alisa. (Sumber: Detik.com)

Paus Ajak Anak Muda Katolik, Bacalah Injil Setidaknya 2 Menit Sehari

By Ferdinand Lamak,

VATIKAN – ‘Apakah Anda membaca Injil setiap hari? Demikian pertanyaan yang disampaikan Paus Fransiskus kepada anak muda di Argentina melalui pesan video. Bapa Suci mengirimkan pesan video lima belas menit kepada para peserta dalam Pertemuan Pemuda Nasional II yang berlangsung di Rosario pada tanggal 25-27 Mei. Paus Fransiskus mengajak orang-orang muda untuk membaca Injil setidaknya dua menit sehari, dan dia menekankan kehadiran, persekutuan, dan misi.

“Berapa banyak dari Anda yang membaca Injil selama dua menit setiap hari?” Paus mengajak anak muda untuk membawa buku kecil Injil setiap bepergian dan membacanya ketika mereka berada di bus atau duduk di rumah. Itu akan mengubah hidup mereka, katanya.

“Mengapa? Karena Anda akan bertemu Yesus. Anda menghadapi Firman.”

Paus Fransiskus juga merefleksikan pentingnya kehadiran, persekutuan, dan misi dalam kehidupan seorang anak muda. “Yesus menjadikan dirinya saudara kita, dan dia mengundang kita untuk membuat diri kita berinkarnasi, membangun bersama cita-cita indah peradaban cinta, sebagai murid dan misionarisnya di sini-dan-sekarang.”

Dia mengatakan ini dapat dilakukan dalam situasi kehidupan sehari-hari dimana kita berada. Tetapi, katanya, kita harus bersama Yesus “dalam doa, di dalam Firman, dan Sakramen. Dedikasikan waktu untukNya. Diamlah sehingga Anda mungkin mendengar suaranya.” (Ferdinand Lamak, Sumber: www.vaticannews.va)

Paus Francis: Doktrin Sosial Gereja Membangun Keadilan Ekonomi, Kesetaraan dan Inklusi

By Ferdinand Lamak,

VATIKAN – Paus Fransiskus pada hari Sabtu (26/5/2018) berbicara kepada para peserta dalam konferensi internasional yang membahas kebijakan dan gaya hidup di era digital. Ia mendesak agar kekayaan ajaran sosial Gereja Katolik yang tersebar di seluruh dunia dimaksimalkan untuk membantu membangun budaya global yakni keadilan ekonomi, kesetaraan dan inklusi.

“Kesulitan dan krisis saat ini dalam sistem ekonomi global memiliki dimensi etika yang tak terbantahkan,” kata Paus.

“Mereka terkait dengan mentalitas egoisme dan eksklusi yang telah secara efektif menciptakan budaya sampah buta bagi martabat manusia yang paling rentan,” kata Paus kepada peserta dalam konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Centsimus Annus pro Pontifice Foundation.

Paus Yohanes Paulus II melembagakan yayasan tersebut (Centsimus Annus pro Pontifice – red) pada tahun 1993 untuk mempromosikan ajaran sosial Gereja, terutama yang dituangkan dalam ensiklik tahun 1991,

“Centesimus Annus” sekaligus memperingati 100 tahun ensiklik penting Paus Leo XXIII tentang ajaran sosial Gereja.

Para peserta dalam konferensi di Roma pada 24-26 Mei ini membahas tema, “Kebijakan dan Gaya Hidup Baru di Era Digital.”

Dalam ceramahnya, Paus Francis menyesalkan ‘ketidakpedulian globalisasi’ yang semakin meningkat, yang menempatkan ‘berbagai hambatan yang integral bagi perkembangan manusia’ baik di negara miskin maupun negara maju.

Dia secara khusus menunjuk pada ‘masalah etika mendesak yang terkait dengan gerakan migrasi global.’ Bapa Suci juga mengritik ‘dikotomi palsu’ antara ajaran etis dari tradisi agama dan kepedulian praktis dari komunitas bisnis saat ini. (Ferdinand Lamak, Sumber: www.vaticannews.va)

Website Paroki Pulo Gebang Pemenang INMI Awards 2018

By Christine Lerin,

Website Paroki Pulo Gebang tampil sebagai website Paroki terbaik INMI Awards 2018 kategori Penyajian Informasi Terlengkap.

Kabar sukacita datang bagi Paroki Pulo Gebang. Pasalnya, website www.parokiPulo Gebang.org dinobatkan menjadi pemenang “Penyajian Informasi Terlengkap Website Paroki Terbaik” pilihan Inter Mirifica (INMI) Awards 2018, Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ).

Selain meraih piala dan piagam pemenang ‘Penyajian Informasi Terlengkap Website Paroki Terbaik’, website yang dikelola oleh Komsos Paroki Pulo Gebang tersebut juga masuk 6 besar Nominasi Berita Terbaik Website berjudul “Wkri Pulo Gebang Peringati Hari Kartini Dengan Latihan Shibori”, 6 besar Nominasi Feature Terbaik Website berjudul “Kisah Keluarga Sagala dan Kepedulian Umat di Wilayah 2” dan 5 besar Nominasi Best Of The Best INMI Awards (Web) 2018.

 

Piagam dan plakat penghargaan INMI Awards 2018 untuk umat Paroki Pulo Gebang

INMI Awards merupakan agenda tahunan Komsos KAJ dalam rangka memperingati Hari Komunikasi Sedunia, merupakan ajang penghargaan untuk website-website paroki se-KAJ, lomba foto, dan film pendek. Bersamaan dengan INMI Award, terdapat juga HIDUP Award yaitu penghargaan untuk majalah paroki-paroki yang tidak saja lingkup KAJ tapi ada juga dari luar KAJ.

Malam anugerah INMI Awards bersama HIDUP Awards mengambil tema ‘Amalkan Pancasila, Kita Bhineka, Kita Indonesia’ digelar di Aula Gereja Katedral Jakarta, Jakarta Pusat, Minggu (13/5). Ratusan pegiat Komsos hadir dan berkumpul bersama menyaksikan pengumuman pemenang dari berbagai nominasi baik media cetak ataupun daring (online).

Piala dan piagam penghargaan diserahkan langsung oleh Romo Yohanes Boedirahardjo dari Paroki Danau Sunter kepada perwakilan Komsos Bertha yang saat itu hadir bersama Bowo dan ketua Komsos Reiner. Hadir juga Uskup Agung KAJ Mgr Ignatius Suharyo dalam acara ini.


Reiner selaku ketua seksi Komsos dan Romo A. Susilo Wijoyo, Pr

Ucapan syukur pun disampaikan Pastor Paroki Pulo Gebang Romo A. Susilo Wijoyo, Pr saat ditemui sehabis misa minggu sore (20/5). Romo Susilo memberikan ucapan selamat kepada seluruh team Komsos atas pencapaian ini. “Saya ucapkan proficiat, turut gembira atas pelayanan Komsos khususnya di bidang website sehingga mendapatkan anugerah INMI Awards, maju terus Komsos,’ ujarnya. Lebih lanjut, Romo Susilo berharap website bisa dikelola dan dikembangkan dengan baik sehingga menjadi media komunikasi modern untuk terus mewartakan kabar baik dalam menumbuhkan iman umat, baik internal maupun eksternal bagi umat paroki lain.

Ketua Seksi Komsos Paroki Pulo Gebang Reiner menambahkan, penghargaan tersebut akan memicu semangat timnya untuk terus meningkatkan produktivitas. “Atas nama tim, kami bersyukur atas anugerah ini, padahal website paroki sempat tidak aktif beberapa tahun yang lalu dan kembali  launching awal tahun 2018 ini oleh Romo Rafael Y. Kristianto, Pr dan menjadi kado terindah saat kepindahan Romo Rafael ke Paroki Ambrosius, 14 Januari lalu,” ungkapnya.

Komsos Paroki Pulo Gebang selain mengelola Website, juga menangani Warta Minggu dan majalah paroki Diaga yang terbit 3 kali dalam setahun (edisi Paskah, Natal dan HUT Paroki).

Tentu kita berharap diajang selanjutnya bisa mendapat prestasi lebih baik dan lebih banyak lagi di berbagai kategori. Mari kita pertahankan dan tingkatkan prestasi kita tentunya dengan kerja keras dalam mengembangkan konten website secara bersama-sama.

Penulis : Deny Kus Indarto, Editor : Erin, Foto : Reiner,Deny,Witjak

 

Jalan Santai Kebhinekaan HUT KAJ 211

By Christine Lerin,

Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinnekaan Lintas Agama di HUT Gereja KAJ ke-211

Sabtu (12/5/2018) subuh, satu persatu umat dari Dewan Paroki Harian, Seksi dan Komisi Paroki Pulogebang yakni HAAK (Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan), PPTP (Panitia Penggerak Tahun Persatuan), OMK (Orang Muda Katolik), Komsos (Komunikasi Sosial) dan perwakilan umat dari wilayah, mulai berkumpul di depan gereja St. Gabriel Pulogebang.

Pemandangan lain terlihat karena dresscode yang kami pakai adalah busana pakaian adat, baik adat betawi, sunda, jawa, batak, minang hingga flores. Selain itu, panitia (HAAK) juga menyertakan warga lintas agama yaitu 4 orang muslim di sekitar gereja. Ikut juga Rm A. Setya Gunawan Pr, dalam rombongan ini.

Pukul 05.30 WIB, bus mengantar sekitar 30 peserta menuju Katedral. Kurang dari 1 jam, kami sudah sampai di parkiran Masjid Istiqlal yang cukup penuh dengan bus peserta lainnya. Hari ini kami akan bergabung dalam acara ‘Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinekaan Lintas Agama” dalam rangka memperingati Ulang Tahun ke-211 (8 Mei 1807 – 2018) Gereja Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dan Tahun Persatuan dengan tema “Amalkan Pancasila: Kita Bhinneka, Kita Indonesia” di lapangan parkir gereja Paroki Katedral Jakarta.

Hadir dalam acara, Uskup Agung KAJ Mgr. Ignatius Suharyo, Menteri ESDM Ignatius Jonan, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta Ahmad Syafii Mufid, perwakilan Pemprov DKI Taufan dan tokoh-tokoh lintas agama.

Persembahan marching band sekolah Tarakanita, dan rebana dari saudara kita umat muslim.

 

Pukul 06.30 WIB, MC membuka acara, kemudian dikumandangkan lagu Indonesia Raya, Kita Bhinneka Kita Indonesia yang diiringi oleh marching band, dilanjutkan sambutan-sambutan.

“Saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran ibu, bapak, saudara sekalian. Kehadiran perwakilan  Pemerintah  dan sahabat-sahabat pimpinan komunitas agama membesarkan hati kami untuk  membina  umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta menjadi warga negara yang semakin  baik. Semoga jalan bersama ini menjadi simbol, menjadi lambang niat kita bersama untuk berjalan bersama menuju  cita-cita kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Uskup Agung KAJ, Mgr. Ignatius Suharyo.

Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta Ahmad Syafii Mufid mengungkapkan rasa syukurnya atas kegiatan ini.  Menurutnya, perayaan dengan tema ‘Kita Bhinneka, Kita Indonesia’ sangat menyentuh hati dan perasaan bahwa semua orang tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

“Kita harus berjalan bersama-sama untuk menuju cita-cita bangsa Indonesia yang adil dan sejahtera. Mudah-mudahan Gereja Katolik  dan kita semua umat beragama dapat berada di tengah-tengah perjuangan bangsa untuk mencapai cita-citanya, bersama-sama dengan komponen bangsa lainnya, membangun persatuan dan kesatuan untuk dapat mengamalkan Pancasila,” kata Syafii Mufid.

Menteri ESDM Ignatius Jonan memberikan semangat pada para peserta. Menurutnya, kerukunan antar umat beragama adalah keharusan. Apapun agamanya, tetap satu Indonesia.

“Sebaiknya kita dari kelompok atau keyakinan  apapun tidak menjadi eksklusif di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak juga mengasingkan diri atau memisahkan diri dari masyarakat. Kebhinnekaan membuat kita kaya dan kuat,” tuturnya.

Jalan santai lintas agama.

Selanjutnya ada pemotongan tumpeng oleh Mgr. Suharyo dan doa bersama sebelum dimulainya acara jalan santai. Adapun rute jalan santai menempuh jarak 3,8 km dimulai dari titik start halaman Gereja Katedral-Jalan Veteran III Gambir-Jalan Perwira Kota Jakarta Pusat-Jalan Lapangan Banteng Selatan-Jalan Lapangan Banteng Timur-Jalan Lapangan Banteng Utara dan kembali lagi ke titik finish halaman Gereja Katedral.

Di pelataran gereja Katedral yang sudah penuh dengan peserta dengan beragam pakaian adat, kami bertemu dengan rombongan dari gereja Pulogebang yang lainnya yang kemudian bergabung melakukan jalan santai bersama.

Disela-sela jalan santai, ketua panitia dan juga ketua komisi HAAK KAJ Rm. Antonius Suyadi, Pr yang sempat diwawancara mengatakan bahwa kegiatan ini dikoordinir oleh Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) bersama perwakilan komisi-komisi lain yang berada di KAJ. Kegiatan yang baru pertama kali di KAJ, dengan persiapan sekitar 1,5 bulan bertujuan mengajak umat Katolik untuk semakin hadir dan terlibat dalam kehidupan bermasyarakat.

Sekitar 45 menit, kami bisa menyelesaikan jalan santai ini. Ada sekitar dua ribu peserta perwakilan umat Katolik Gereja-gereja Paroki se-KAJ dan hampir seribu perwakilan dari agama lainnya. Umat Pulogebang tidak hanya menjadi perwakilan gereja saja tetapi ada yang mengambil bagian dalam tim kesehatan maupun dalam pengisi acara yaitu anggota Jathilan.

Sambil menikmati komsumsi, kami disuguhkan penampilan marching band dari sekolah Tarakanita, Rebana, Barongsai, Ondel-ondel, Kesenian Pencak Silat THS-THM, dan kesenian daerah Jathilan, dengan maksud untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan Indonesia.

Bersama menjaga tradisi Indonesia.

Menurut peserta dari umat muslim Sunter yaitu Kani (72), Asmina (68) dan Susi (65) sangat antusias mengikuti kegiatan ini, mereka juga sering ikut kegiatan berobat gratis bahkan mendapat bantuan sosial dari gereja Paroki Sunter. Demikian juga umat muslim dari Pulogebang yaitu Katarina dan Haryani, sangat menikmati acara ini dan mendukung demi kerukunan umat antar agama.

Semoga kegiatan Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinnekaan ini dapat menjadi media bersama dalam mewujudkan silaturahmi nyata untuk mempererat persaudaraan antar agama khususnya di DKI Jakarta.

 

(Penulis : Deny Kus Indarto. Foto by @yc0pxv, Yosi, etc. Editor : Erin)

Di Gereja St. Laurensius, Mgr. Suharyo Tahbiskan Empat Imam Baru

By Ferdinand Lamak,

ALAM SUTERA – Bapa Uskup Mgr. Ignatius Suharyo memimpin misa pentahbisan imamat empat orang frater diakon Keuskupan Agung Jakarta menjadi imam. Dalam Ekaristi Kudus ini uskup didampingi sejumlah pastor sementara puluhan pastor ikut dalam perayaan itu. Keempat orang frater diakon yang tahbiskan adalah Fr. Ambrosius Lolong (Frater Rosi) dari Paroki Keluarga Kudus, Pasar Minggu, Fr. Yoseph Purboyo Diaz (Frater Diaz) dari Paroki Leo Agung, Jatiwaringin, Fr. Bonifasius Lumintang (Frater Boni) dari Paroki Fransiskus Xaverius, Tanjung Priok serta Fr. Nemesius Pradipta (Frater Dipta) dari Paroki Arnoldus Jansen, Bekasi.

Ekaristi berlangsung khidmat dengan iringan paduan suara yang meriah. Dalam pengantar, ucapan terima kasih disampaikan kepada berbagai pihak yang telah berperan dalam panggilan dan imamat keempat diakon itu. Para orang tua dan keluarga, semua yang mengambil bagian dalam perjalanan panggilan, pengajar di berbagai tingkatan, Seminari Tinggi KAJ, STF Driyarkara, Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan Yogyakarta, Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta. Juga umat dan dewan paroki St. Laurensius Alam Sutera.

Dalam liturgi tahbisan, perwakilan orang tua secara resmi menyerahkan putera-putera mereka kepada gereja untuk ditahbiskan. “Bapa uskup yang Mulia Tuhan telah memperkenankan dan mempercayai kami untuk membesarkan putera-putera kami, dan mendampingi hidupnya dalam keluarga kami. Maka, jika Tuhan memanggil dia menjadi imamnya, dengan rela hati kami mengantarkan dan menghaturkan mereka untuk menerima anugerah imamat. Terima kasih.”

Uskup atas nama Gereja Kudus, Keuskupan Agung Jakarta menerima penyerahan itu. Yang Mulia pun berkata, “Dengan gembira hati kami menerima penyerahan ini Tuhan telah memulai karya panggilanNya dalam keluarga maka Ia pun  pasti melanjutkan karyaNya dalam perjalanan panggilan putera-putera Anda. Semoga Tuhan melimpahkan anugerah kepada keluarga yang telah diperkenankan ikut dalam karya panggilan ini.”

Dalam homilinya, uskup menyampaikan selamat kepada para frater diakon yang telah memutuskan untuk menjadi imam. Ia juga menyampaikan bahwa, mungkin ini adalah angkatan imam yang ditahbiskan pada saat perayaan ulang tahun Keuskupan Agung Jakarta yang ke 211, persis pada hari itu (8/5/2018).

“Imamat itu bukan tujuan, imamat adalah jalan yang dipilih untuk menjawab panggilan Tuhan, berulang-ulang harus dikatakan, menuju kesempurnaan kasih, kepenuhan hidup kristiani dan kesucian yang sempurna.”

Uskup juga mengatakan, para frater diakon tidak memilih bacaan khusus untuk ekaristi tahbisan ini. Mereka memilih menggunakan bacaan harian sesuai kalender liturgi. “Kala Yesus pergi, Roh Kudus akan menarik murid-murid itu dari zona nyaman, menguatkan mereka dengan daya kasih yang baru sehingga mereka siap untuk mewartakan sukacita injil dengan percaya dan gembira.”

Semboyan tahbisan para diakon ini adalah, ‘Mewartakan sukacita injil dengan berani, kreatif dan bijaksana.’

Uskup juga menanyakan, apakah yang dimaksud dengan panggilan kesucian? Jawabannya ada pada surat apostolik Paus Fransiskus, 18 Maret 2018 yang berjudul ‘Bergembira dan bersukacitalah tentang panggilan menuju kesucian pada jaman dan dunia sekarang ini.’

Menurut uskup, Paus menulis, “Kita bertumbuh dalam kesucian yang merupakan panggilan kita semua melalui hal-hal kecil sehari-hari. Contohnya, seorang ibu pergi berbelanja dan ia berjumpa dengan seorang tetangga, tetangganya mulai berbicara dan mulai bergosip berbicara tentang orang lain, namun ibu itu berkata dalam hatinya, saya tidak akan berbicara jelek mengenai orang lain.”

Lanjut uskup, “Paus memberikan catatan, adalah satu langkah maju dalam kesucian.”

Selanjutnya di rumah, salah satu anaknya ingin berbicara dengan dia mengenai harapan-harapan dan mimpi dan meskipun ia  lelah, ia duduk dan mendengarkan dengan sabar, penuh perhatian serta kasih. “Catatan Paus, adalah pengorbanan lain yang mendatangkan kesucian.”

Berikutnya ia merasa cemas, tetapi ketika itu ia ingat akan kasih Bunda Maria maka ia mengambil rosario dan berdoa dengan penuh iman. “Suatu jalan lain lagi menuju kesucian.”

Berikutnya lagi, ia pergi ke jalan dan berjumpa dengan seorang miskin, dan ia berhenti untuk menyapa orang miskin itu. “Satu langkah lagi menuju kesucian.”

“Jalan seperti inilah yang saya yakin dipilih oleh para diakon ini, nanti sebagai imam. Dalam kata-kata orang suci, jalan hidup seperti itu dirumuskan ‘menghidupi setiap saat sebagai kesempatan untuk berbuat kasih. Melakukan hal-hal sehari-hari yang biasa dengan cara yang luar biasa.’ Semoga Maria Bunda Pengantara Segala Rahmat, yang kita kenangkan dan kita peringati pada hari ini menyertai kita semua dalam langkah-langkah kita,” tutup uskup.

Uskup kemudian melanjutkan tahapan penyelidikan calon dengan beberapa pertanyaan tentang kesediaan mereka dalam menjalankan tugas-tugas pelayanan sebagai imam. Para diakon pun menjawab, bersedia.

Selanjutnya, masing-masing diakon diminta untuk berjanji setia, dan menghormati gereja dalam wujud ketaatan pada uskup. Mereka maju satu persatu sambil disebutkan namanya menghadap uskup dan masing-masing menjawab dengan tegas, “Ya, saya berjanji.”

Berikutnya, umat mendaraskan Litani Orang Kudus dinyanyikan dengan diiringi paduan suara yang bertugas petang itu.

Bagian selanjutnya, liturgi tahbisan dilakukan dalam dua tahap yakni penumpangan tangan oleh uskup dan oleh para imam. Tahap berikutnya adalah doa tahbisan, untuk mendoakan para imam baru.

Uskup bersama para asistennya pun melakukan penumpangan tangan kepada para imam baru, sementara umat menyaksikannya sambil berdiri hormat dan khidmat. Setelah itu, para pastor yang jumlahnya puluhan orang itu pun melakukan penumpangan tangan kepada keempat diakon.

Setelah pentahbisan, keempat imam baru itu pun langsung bergabung bersama uskup untuk mempersembahkan ekaristi dari persembahan hingga penutup. Dan pada akhirnya, imam baru ini pun mendengarkan perutusan mereka. Romo Bonifasius Lumintang diutus menjadi pastor rekan di Paroki Kalvari, Lubang Buaya. Romo Albertus Lolong, diutus menjadi pastor rekan di Paroki Santo Albertus, Harapan Indah. Romo Nemesius Pradipta menjadi pastor rekan di Paroki Gregorius Kutabumi, Tangerang. Romo Yoseph Purboyo Diaz menjadi pastor rekan di Paroki Thomas Rasul, Bojong Indah. Selamat menjalankan tugas perutusanmu, para imam baru. (Ferdinand Lamak)

 

 

Tuduhan Kristenisasi Terbantah, Ada Mushola di Lembah Karmel

By Ferdinand Lamak,

CIANJUR – Anda pernah berkunjung ke Lembah Karmel, Cikanyere, Cianjur, Jawa Barat? Jika pernah, tentu Anda tahu bagaimana program dan aktifitas yang dilakukan di biara Kongregasi Carmelitae Sancti Eliae (CSE) itu. Baru-baru ini media sosial dihebohkan dengan isu miring seputar tempat retret dan rekoleksi Katolik itu. Pendiri Biara CSE, Pastor Yohanes Indrakusuma CSE., mengatakan, ada sejumlah kelompok melalui media sosial menuduh Lembah Karmel sebagai pusat kristenisasi terbesar di Asia. Ia membantah isu itu, namun justru isu itu dimanfaatkan untuk memeras mereka.

Majalah HIDUP Edisi 6 Mei 2018 menuliskan, untuk membuktikan kebenaran isu itu, Kamis 26 April silam rombongan Forum Kerukunan Umat Beragama DKI Jakarta tiba di tempat itu. Lahan seluas 14 hektar itu pun dikelilingi oleh rombongan FKUB DKI yang dipimpin oleh sekretarisnya, H. Taufiq Rahman.

“Apa yang diisukan itu tidak benar. Pertama, isu 250 hektar Lembah Karmel itu tidak ada. Baru saja dilihat, ternyata hanya belasan hektar. Saya juga bangga bahwa di dalam kompleks ini terdapat mushola,” ungkap H. Taufiq Rahman usai berkeliling.

Ia juga membantah kabar yang mengatakan bahwa terjadi pembaptisan di sana karena praktik pembaptisan itu hanya terjadi di paroki, sementara Lembah Karmel bukanlah sebuah paroki. “Lembah Karmel merupakan tempat pendalaman iman, umatnya berasal dari paroki-paroki lain. Kami berkomitmen untuk meluruskan kesalahpahaman ini dengan mensosialisasikan kepada setiap pemuka agama,” terangnya.

Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAAK) Keuskupan Agung Jakarta, Pastor Antonius Suyadi mengatakan isu yang dihembuskan tentang Lembah Karmel memiliki beragam motif seperti ekonomi dan politik. Ia pun berharap, kedatangan FKUB DKI Jakarta ini akan membantu untuk mengklarifikasi dan mensosialisasikan apa yang sesungguhnya terjadi di tempat itu.

Sembari mengatakan bahwa sebagian pekerja di Lembah Karmel beragama Islam, ia juga berharap kunjungan FKUB DKI Jakarta ini bisa menanamkan saling pengertian, memahami dan terbuka antar para pemeluk agama. Karena, yang perlu dikembangkan saat ini adalah budaya damai dan toleransi, bukan saling memusuhi. (Penulis: Ferdinand Lamak, Sumber: Majalah HIDUP, Foto: jalancerita.com)

 

Begini Asyiknya Sekolah di Seminari Wacana Bhakti

By Ferdinand Lamak,

PULOGEBANG – Romo Gunawan Pr. dalam homilnya pada Misa Minggu Panggilan Sedunia, (22/4/2018) di Gereja Santo Gabriel Pulo Gebang memerkenalkan keutamaan pendidikan di seminari, khususnya pada Seminari Wacana Bhakti yang dimiliki Keuskupan Agung Jakarta. Seluruh kegiatan seminaris bermuara dalam 4 hal yakni kekudusan (sanctitas), kesehatan (sanitas), keilmuan (scientia) dan persaudaraan (societas). Tiga keutamaan itu dapat terlihat dari aktifitas para seminaris di asrama yang mereka huni, persis di belakang Kolese Gonzaga.

Kemandirian dan disiplin adalah corak utama yang tergambar dari kehidupan para seminaris di dalam asrama, maupun tatkala mereka pulang berlibur ke rumah orang tuanya. Pasalnya, di dalam asrama mereka diajarkan kedisiplinan yang tinggi.

Suasana misa Minggu Palma 2018 di Kapel Seminari Wacana Bhakti (Foto: picbear.club/wacanabhakti)

Saban petang, usai bangun tidur siang selama 1 jam, mereka langsung disibukkan dengan jenis kegiatan yang mereka sebut sebagai opera. Opera adalah kerja tangan, seperti membersihkan kamar mandi, kamar tidur, lorong, kapela, taman dan lain sebagainya. Saban sore, mereka lakukan opera sehingga praktis anak-anak yang dari rumah tidak bisa menyentuh pekerjaan di rumah pun kian hari kian terlatih untuk mandiri dalam bekerja.

Usai kerja, mereka tinggal pilih jenis olahraga apa yang hendak mereka mainkan. Semua fasilitasnya tersedia di dalam kompleks seminari dan SMA Kolese Gonzaga. Mulai dari basket, voli, sepak bola hingga tenis meja, semuanya tersedia.

Anda mungkin bertanya, lantas bagaimana dengan makanan para seminaris di asrama? Makanannya tergolong enak untuk ukuran anak-anak di asrama, bahkan lebih enak jika dibandingkan dengan sejumlah seminari di daerah lain di Indonesia. Semur telur, krupuk adalah beberapa menu wajib yang disantap anak-anak seminari.

Seminari Menengah Terbuka

Wacana Bhakti merupakan seminari menengah terbuka, dimana para seminaris mengeyam pendidikan setingkat SLTA bersama-sama dengan siswa-siswi SMA Kolese Gonzaga. Dari jam 7 pagi hingga jam 14.45, dari Senin hingga Jumat, mereka menimba ilmu di sekolah. Selanjutnya pada Sabtu, para siswa lain libur, seminaris lanjut dengan pelajaran khusus mereka seperti Bahasa Latin, Discipleship, Discerment dan Sejarah Gereja.

Romo Albertus Yogo Prasetianto, Pr. sebagaimana dituliskan Majalah HIDUP 17 September 2017 mengatakan, mengenyam pendidikan di sekolah gabungan dengan siswa-siswi umum dimaksudkan agar para seminaris sejak awal mengetahui gerak atau dinamika gereja. Juga, mengenal karakter umat, khususnya di Keuskupan Agung Jakarta.

Ada hal yang menarik dari model pendidikan gabungan ini. Para seminaris dilarang menggunakan gadget baik di lingkungan seminari maupun sekolah. Namun, tantangan mereka dapatkan ketika di sekolah mereka menyaksikan teman-teman mereka menggunakan alat itu. Kadang ada seminaris yang nekad meminjam gadget temannya yang siswa umum.

“Di sekolah mungkin kami agak lunak, tapi tidak di seminari. Begitu kami dapat, kami beri surat peringatan,” tegasnya.

Untuk mendukung kehidupan seminaris agar tidak ketinggalan informasi pada saat gadget menjadi hal yang dilarang secara serius di lingkup seminari, para pastor di Wacana Bhakti menyediakan sejumlah komputer dengan akses internet. Komputer-komputer itu pun sudah terkoneksi dengan internet.

Seminari Wacana Bhakti pun tidak hanya menyediakan fasilitas olahraga saja. Mereka memiliki fasilitas musik yang lengkap. Seminaris pun mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari kelompok orkestra yang dimiliki seminari itu. Orkestra Seminari Wacana Bhakti kerap tampil dalam promosi panggilan yang dilakukan di sejumlah paroki di lingkung Keuskupan Agung Jakarta.

Pada Minggu Panggilan Sedunia 2018 kemarin, mereka tampil di Gereja Santo Arnoldus Jansen, Bekasi. Entah kapan, tetapi semoga suatu saat mereka dapat hadir menghibur umat di Paroki Santo Gabriel, Pulo Gebang sekaligus menggugah hati umat agar lebih banyak mengirimkan anak-anaknya bersekolah di seminari. (Penulis/Editor: Ferdinand Lamak, Foto: Seminari Wacana Bhakti)