Berita Keuskupan


Festival Kitab Suci, Perayaan Puncak Bulan Kitab Suci 2018

By Ferdinand Lamak,

TAMAN MINI – September bagi umat Katolik dirayakan sebagai Bulan Kitab Suci. Pada bulan ini umat Katolik diajak untuk menjadi lebih akrab dengan Kitab Suci melalui berbagai cara, sehingga iman semakin tangguh.

Dalam rangka tersebut, Komisi Kerasulan Kitab Suci bekerja sama dengan Komisi Katekese, Komisi Liturgi, Komisi Keluarga, Komisi Kepemudaan dan Komisi Komunikasi Sosial menyelenggarakan Festival Kitab Suci sebagai puncak dari seluruh rangkaian perayaan Bulan Kitab Suci 2018 di Sasono Utomo TMII, Minggu (29/9/18).

Acara Festival Kitab Suci dengan tema “Bersatu Dalam Terang Sabda” meliputi Seminar Kitab Suci, Seminar Keluarga, Perkenalan komunitas-komunitas Kitab Suci, Final Lomba Family Bible se-KAJ, Workshop upgrading skill bagi Para Pemazmur dan Fasilitator BIR/BIA dan Talk Show yang menghadirkan Ign. Jonan (Menteri ESDM), tokoh lintas agama (Gus Mis), Mgr Ign. Suharyo dan ditutup dengan Misa.

Festival yang dimulai pukul 07.00 sampai 18.00 WIB dipandu Donna Agnesia dan Rocky Pasadena, dihibur antara lain Didik SSS & Callista, Lisa A Riyanto, Nikita Natasha, Chrisiandy Yuniarto (ayah The Sacred Riana).

Sekitar 1600 orang hadir dalam festival ini, beberapa Imam KAJ, komunitas penggiat kitab suci dan umat katolik se-KAJ, tak terkecuali umat Paroki Pulogebang yang dikoordinir oleh Selvya (seksi KKS) mengajak  anak-anak dan pembina BIR, OMK, Pemazmur, KKS dan Komsos.

Selama Bulan Kitab Suci, Paroki Pulogebang juga berpartisipasi dalam lomba pemazmur, family bible dan pembina BIA di tingkat paroki maupun dekenat. Semoga kegiatan ini mendorong umat mulai dari anak-anak, remaja, OMK, dewasa, lansia semakin mencintai Kitab Suci.

(Deny Kus, foto: GPC)

Sejuta Mawar untuk Bunda Maria

By Ferdinand Lamak,

CILINCING – October is coming! Bulan yang dinantikan oleh umat Katolik selain Mei, dua bulan itu dirayakan sebagai Bulan Maria, dua bulan yang khusus didedikasikan bagi devosi kepada Bunda Maria baik secara pribadi maupun bersama lingkungan dan paroki.  Pembukaan bulan Maria ini, ditandai dengan misa yang diadakan di semua paroki pada tanggal 30 september 2018, yang kebetulan jatuh pada hari minggu, termasuk di Paroki Cilincing, Misa pembukaan bulan Maria di Gereja Salib Suci, mengusung tema yang cantik yaitu Malam Persembahan Sejuta Mawar.

Melalui 3 macam kupon yang diedarkan ke paroki-paroki lain, termasuk ke Paroki St Gabriel Pulo Gebang, umat bisa membeli bunga mawar melalui kupon ini . Kupon A untuk 1 tangkai  mawar, kupon B untuk 10 tangkai dan kupon C untuk 20 tangkai mawar, dan dibalik kupon umat bisa menuliskan semua ujud doa yang diinginkan. Maka tidak heran kalau ada umat paroki Pulo gebang yang menghadiri misa pembukaan bulan Maria pada hari itu di Gereja Salib Suci, termasuk saya dan keluarga.

Acara ini baru pertama kalinya diadakan di Gereja Salib Suci,  dan merupakan  salah satu kegiatan dalam rangka pencarian dana untuk pembangunan gedung karya pastoral  yang sedang dibangun. Pada bulan Oktober ini, panitia pembangunan GKP mengadakan acara ini sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih  kepada Bunda Maria sekaligus membantu pembangunan gedung karya pastoral di Paroki Cilincing, lewat penjualan kupon.

Penukaran kupon dengan bunga mawar dimulai sejak pukul 16.30 di depan pintu masuk gereja, bunga mawar asli diberikan sebanyak kupon yang dibeli dan kemudian  kupon diambil panitia agar ujud-ujud doa yang telah ditulisi oleh umat bisa dikumpulkan untuk kemudian dibakar di gua Maria setelah ritual perarakan patung setelah misa nanti. Gedung GKP yang terletak didepan gedung gereja memang terlihat sedang dalam proses pembangunan. Umat  yang tidak bisa hadir namun ikut membeli kupon, bisa menitipkan kuponnya kepada yang lain atau kepada panitia jika kenal, sehingga ujud-ujud doa yang telah dituliskan tetap bisa di persembahkan bersama bunga mawar mereka.

Misa konselebrasi yang dimulai pada pukul 18.00, dibawakan oleh 6 orang pastor yaitu : Romo Canisius Sigit Tridrianto, CM (Pastor Paroki Cilincing), Romo Alexius Dwi Widiatna, CM., Romo E. Prasetyono, CM., Romo Didit Soepartono Pr dan Romo Jost Kokoh Pr.

Homili dibawakan oleh Romo Kokoh dan Romo Pras dengan gaya interaktif yang melibatkan umat. Be happy, be healthy and be holy, inti kotbah kedua romo tersebut. Seru dengan gerak dan pantun, terasa begitu meriah dan semarak ditambah banyaknya bunga mawar cantik yang dipegang oleh masing-masing umat saat misa untuk nantinya diberkati dengan percikan air suci oleh ke enam romo yang hadir sebelum dipersembahkan kepada Bunda Maria di gua.

Setelah misa selesai, dimulailah perarakan patung Bunda Maria mengikuti  rute jalan salib mengelilingi gereja dengan iringan doa rosario, umat dengan rapih dan tertib sambil memegang lilin dan bunga mawar masing-msing mengikuti perarakan yang berakhir di gua Maria dimana patung yang dibawa selama perarakan di letakkan di tempat yang telah disediakan. Lalu dengan berbaris, bergantian umat meletakkan bunga bunga mawar yang dipersembahkan kepada Bunda Maria dengan meletakkannya secara rapih memenuhi gua Maria, menyalakan lilin dan berdoa. Rangkaian acara ini berakhir sekitar pukul 21.00 wib.

Kuletakkan bunga mawarku dihadapan Bunda tercinta dan  dalam hening aku memejamkan mata, mengatupkan tangan…mempersembahkan semua ujud doa yang telah kami haturkan kepada Bunda Penolong, Ratu Rosari dan Bunda Pelindung Kami. Sejuta mawar buat bunda, sejuta harapan, sejuta doa dari kami anak-anakMu….semoga lewat perantaraan Bunda , putraNya yang terkasih Tuhan kami Yesus Kristus sudi mendengar dan mengabulkan doa-doa kami.

Mari kita  memasuki bulan Maria mulai tanggal 01 Oktober ini, dan selamat berdevosi sebulan penuh kepada Bunda Maria dengan berdoa rosario, novena dan berziarah ke Gua Maria sebagai wujud syukur, terima kasih dan cinta kita kepada Bunda Maria , Bunda kita semua.

Bunda Maria, Bunga Mawar yang Gaib, semoga Bunda menerima persembahan kami malam ini, malam yang penuh bunga mawar cantik berwarna warni untuk menyenangkan hati Bunda. Santa Bunda Allah, doakanlah kami agar kami pantas menerima janji Kristus, Amin. (Penulis dan Foto: Limut, Editor: Ferdinand Lamak)

Indahnya Kebersamaan Saat Buka Puasa Bersama di Katedral Jakarta

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Ada hal yang menarik, terjadi di Gereja Katedral Jakarta, Jumat kemarin (1/6/2018), bertepatan dengan peringatan Hari Kelahiran Pancasila. Masih juga dalam suasana mencekam pasca teror bom yang melanda sejumlah gereja dan lokasi di Surabaya. Sejumlah kelompok masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Kerja Bakti Demi Negeri menggelar kegiatan buka puasa di kawasan gereja itu. Ada diantara Anda yang mungkin akan bertanya, buka puasa kok bisa diadakan di kawasan gereja?

Jawabannya, ya! Dan itu sudah terjadi dalam suasana penuh kehangatan dengan  kehadiran sejumlah pihak antara lain Majelis Ulama Indonesia (MUI), PB Nahdlatul Ulama (PBNU), Jaringan Gusdurian, Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan anggota komunitas lainnya.

Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alisa Wahid mengatakan tujuan dari acara buka bersama ini untuk menunjukkan semangat saling berbagi dan solidaritas.

“Di sini tidak ada tokoh dan tidak ada yang ditokohkan dalam gerakan ini, artinya gerakan milik rakyat, tidak ada agenda politik apapun. Artinya memang banyak orang yang ingin bekerja untuk negeri ini, banyak orang yang ingin damai, banyak orang yang tidak ingin ada sekat agama yang memisahkan dan menginginkan kebaikan untuk negeri ini,” kata Alisa di Aula Gereja Kathedral, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (1/6/2018).

Baca juga: Buka Puasa Bersama Dekenat Jakarta Timur di Gereja Santo Gabriel, Pulo Gebang

Alisa menambahkan kebetulan acara buka bersama ini digelar pada 1 Juni yang merupakan hari peringatan Kelahiran Pancasila. Dia pun mengajak semua pihak agar terus bersatu agar tidak mudah dipecah belah.

Pastor Hani Rudi Hartoko, romo kepala di paroki ini mengapresiasi kehadiran Komunitas Kerja Bakti Demi Negeri untuk buka bersama. Romo Hani berharap semangat itu akan menyebar ke masyarakat lainnya. “Peristiwa ini menarik karena judulnya komunitas kerja bakti demi negeri, karena saya kira istilah yang sudah ada hidup di negeri kita, kerja bakti, saling bekerja sama, gotong royong. Namun sekarang ini sudah mulai luntur semangat kerja bakti tersebut. Maka saya sangat mengapresiasi dan saya setuju untuk merevitalisasi kerja bakti ini,” ujar Hani.

Acara buka bersama ini juga diawali dengan pemutaran video yang bertema keberagaman. Sebelum berbuka puasa umat muslim juga diajak Pastor Hani untuk berkeliling melihat bangunan Gereja Kathedral.

Usai berkeliling, para tamu kemudian diajak ke aula gereja untuk berbuka puasa bersama. Mereka duduk lesehan dan membentuk lingkaran. Suasana akrab terasa saat mereka saling berbincang dan makan bersama. Salah satu ruangan aula juga disediakan sebagai ruangan salat, para tamu dipersilakan menunaikan salat magrib di ruangan tersebut.

“Terima kasih atas semua pihak yang membantu, terutama pengelola Kathedral yang tiba-tiba digeruduk orang segini banyak dengan persiapan seadanya. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah hadir dan menyumbangkan apapun khususnya menyumbang semangat untuk menjadi langkah awal kita menjaga Indonesia tetap jaya tetap merdeka dan tetap ber-Pancasila,” pungkas Alisa. (Sumber: Detik.com)

Paus Ajak Anak Muda Katolik, Bacalah Injil Setidaknya 2 Menit Sehari

By Ferdinand Lamak,

VATIKAN – ‘Apakah Anda membaca Injil setiap hari? Demikian pertanyaan yang disampaikan Paus Fransiskus kepada anak muda di Argentina melalui pesan video. Bapa Suci mengirimkan pesan video lima belas menit kepada para peserta dalam Pertemuan Pemuda Nasional II yang berlangsung di Rosario pada tanggal 25-27 Mei. Paus Fransiskus mengajak orang-orang muda untuk membaca Injil setidaknya dua menit sehari, dan dia menekankan kehadiran, persekutuan, dan misi.

“Berapa banyak dari Anda yang membaca Injil selama dua menit setiap hari?” Paus mengajak anak muda untuk membawa buku kecil Injil setiap bepergian dan membacanya ketika mereka berada di bus atau duduk di rumah. Itu akan mengubah hidup mereka, katanya.

“Mengapa? Karena Anda akan bertemu Yesus. Anda menghadapi Firman.”

Paus Fransiskus juga merefleksikan pentingnya kehadiran, persekutuan, dan misi dalam kehidupan seorang anak muda. “Yesus menjadikan dirinya saudara kita, dan dia mengundang kita untuk membuat diri kita berinkarnasi, membangun bersama cita-cita indah peradaban cinta, sebagai murid dan misionarisnya di sini-dan-sekarang.”

Dia mengatakan ini dapat dilakukan dalam situasi kehidupan sehari-hari dimana kita berada. Tetapi, katanya, kita harus bersama Yesus “dalam doa, di dalam Firman, dan Sakramen. Dedikasikan waktu untukNya. Diamlah sehingga Anda mungkin mendengar suaranya.” (Ferdinand Lamak, Sumber: www.vaticannews.va)

Paus Francis: Doktrin Sosial Gereja Membangun Keadilan Ekonomi, Kesetaraan dan Inklusi

By Ferdinand Lamak,

VATIKAN – Paus Fransiskus pada hari Sabtu (26/5/2018) berbicara kepada para peserta dalam konferensi internasional yang membahas kebijakan dan gaya hidup di era digital. Ia mendesak agar kekayaan ajaran sosial Gereja Katolik yang tersebar di seluruh dunia dimaksimalkan untuk membantu membangun budaya global yakni keadilan ekonomi, kesetaraan dan inklusi.

“Kesulitan dan krisis saat ini dalam sistem ekonomi global memiliki dimensi etika yang tak terbantahkan,” kata Paus.

“Mereka terkait dengan mentalitas egoisme dan eksklusi yang telah secara efektif menciptakan budaya sampah buta bagi martabat manusia yang paling rentan,” kata Paus kepada peserta dalam konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Centsimus Annus pro Pontifice Foundation.

Paus Yohanes Paulus II melembagakan yayasan tersebut (Centsimus Annus pro Pontifice – red) pada tahun 1993 untuk mempromosikan ajaran sosial Gereja, terutama yang dituangkan dalam ensiklik tahun 1991,

“Centesimus Annus” sekaligus memperingati 100 tahun ensiklik penting Paus Leo XXIII tentang ajaran sosial Gereja.

Para peserta dalam konferensi di Roma pada 24-26 Mei ini membahas tema, “Kebijakan dan Gaya Hidup Baru di Era Digital.”

Dalam ceramahnya, Paus Francis menyesalkan ‘ketidakpedulian globalisasi’ yang semakin meningkat, yang menempatkan ‘berbagai hambatan yang integral bagi perkembangan manusia’ baik di negara miskin maupun negara maju.

Dia secara khusus menunjuk pada ‘masalah etika mendesak yang terkait dengan gerakan migrasi global.’ Bapa Suci juga mengritik ‘dikotomi palsu’ antara ajaran etis dari tradisi agama dan kepedulian praktis dari komunitas bisnis saat ini. (Ferdinand Lamak, Sumber: www.vaticannews.va)