Renungan


Eksklusivisme? No. Way!

By Christine Lerin,

Apakah eksklusivisme itu? Lalu mengapa no way?  Dalam kamus besar bahasa Indonesia, ekslusivisme adalah paham yang mempunyai kecenderungan untuk memisahkan diri dari masyarakat. Pandangan ini barangkali nampak jelas di kota-kota besar. Mengapa? Kota besar seperti Jakarta, merupakan tempat pertemuan  berbagai suku, agama, ras dan golongan.  Dengan demikian, kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya merupakan ‘melting pot’ dari berbagai suku, agama, budaya serta bahasa. Adanya berbagai pertemuan,maka terbentuklah kebhinekaan (pluralisme) di kota itu.

Namun demikian, tak dapat dipungkiri ada saja yang berusaha untuk membentuk eksklusivisme dalam kehidupan mereka.  Mereka cenderung memisahkan diri dari kelompok lain. Dibentuklah syarat-syarat dan ketentuan untuk menjadikan eksklusivisme. Mungkin karena agama tertentu, atau budaya tertentu, dan lain-lain, dan orang lain tak mungkin menjadi bagian dari kelompok yang eksklusif ini kalau tidak  satu budaya atau satu agama yang sama.

Eksklusivisme pada dasarnya bertentangan dengan  kebhinekaan. Tuhan telah menciptakan keberagaman sebagai suatu ketentuan di dalam hidup ini. Demikian pula ketika Allah menciptakan manusia dan dari sekitar 6 milyar jumlah umat manusia, tak satu pun ada yang sama.Kemiripan bisa saja terjadi, tetapi pasti tidak sama persis.  Masing-masing ciptaan itu unik. Jadi siapa pun yang berusaha  menjadikan semuanya sama, maka hal itu bertentangan dengan maksud Allah sendiri. Allah mencipta dengan sempurna. Kalau ada yang tidak sempurna, itu berarti Allah mempunyai rencana lain. Yang pasti ciptaan Tuhan tidak ada yang gagal atau kurang sempurna. Kesempurnaan itu hanya milik Allah, jadi kalau kita kurang sempurna, biarlah Allah sendiri yang menyempurnakan itu.

Oleh karena itu, topik yang kita angkat kali ini adalah: Eksklusivisme, No Way! Banyak contoh di dunia, di mana ekslusivisme membawa bencana bagi kelompoknya sendiri. Salah satunya adalah eksklusivisme orang-orang Farisi dan ahli Taurat di dalam Perjanjian Lama.  Mereka merasa eksklusif sebagai umat pilihan sehingga di luar kelompoknya adalah orang kafir. Karena sebagai umat pilihan, mereka merasa dirinya paling terhormat, paling mengerti tentang hukum Taurat,  paling hebat di dalam menjalankan agama, sehingga orang lain harus tunduk hormat kepada mereka.

Oleh karena itu,  kehadiran Yesus dengan ajaran yang baruNya, menjadi batu sandungan bagi mereka. Mereka terus memata-matai Yesus kemana pergi dan kemana pun Yesus mengajar.  Bahkan perbuatan murid-Nya pun diawasi. Ingat ketika para murid lapar dan memakan gandum, atau ketika Yesus melakukan banyak penyembuhan pada hari Sabat? Ada banyak hal dalam Kitab Suci, bagaimana eksklusivisme sangat ditentang oleh Yesus sebagaimana orang-orang Farisi dan ahli Taurat.

Contoh lain. Masih kita kenal dengan Santo Paulus yang sebelumnya  bernama Saulus. Dialah seorang Yahudi tulen dari golongan Farisi. Akibat terlalu pintar dalam hukum Taurat, maka ia juga terus mengusahakan bagaimana mencegah maraknya pengikut Yesus dan bahkan akan terus berusaha membinasakan para pengikut Yesus.  Ia sudah mengantongi ijin dari para petinggi orang Farisi dan ahli Taurat untuk menganiaya para pengikut Kristus.

Sewaktu  Stefanus dirajam oleh orang-orang Farisi, karena dianggap menghujat Allah, Saulus menunggui dan menyaksikannya. Jadi Saulus sebelum bernama Paulus memang orang pintar yang fanatik dari golongan Farisi.

Man propose God dispose’, demikian sebuh kata bijak. Yang artinya kurang lebih, manusia boleh berencana, tetapi Tuhan yang memutuskan. Ketika Saulus seorang remaja yang aktif, dan tegartengkuk ingin terus mengejar-kejar para pengikut Kristus, namun Tuhan berkehendak lain. Dalam perjalanan menuju Damsyik, Saulus menerima  sinar yang menyilaukan, dan akhirnya Saulus terjatuh. Ia mendengar suara dari langit yang kurang lebih begini bunyinya:” Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku”. Saulus pun bertanya:” Siapakah Engkau Tuhan?”. Tuhanmenjawab, “Akulah Yesus dari Nazaret yang engkau aniaya”.  Saulus tersungkur dan jatuh dan selama tiga hari tidak bisa melihat.

Singkat kata, akhirnya menjadi pengikut Kristus, dan bahkan menjadi rasul yang istimewa. Dialah orang pilihan Kristus yang mewartakan kabar sukacita di luar orang-orang Yahudi. Ia keluar dari ekslusivisme Yahudi, dan memberikan pewartaan tentang Kristus yang bangkit di luar masyarakat Yahudi. Sebagai rasul yang istimewa,  pilihan Kristus sendiri, Paulus mewartakan  kabar sukacita di sekitar Asia Kecil, Laut Tengah,  dan tempat-tempat lain yang kesemuanya bukan masyarakat Yahudi. Kalau selama ini Paulus dalam mewartakan  Injil di luar masyarakat Yahudi, itu berarti ia keluar dari eklusivisme kelompoknya.

Dalam  hidup menggereja, terkadang kita juga menjumpai kelompok-kelompok yang eksklusif. Kelompok ini cenderung memandang bahwa hanya kelompoknya sendiri yang terbaik. Dalam hidup menggereja, hal ini dapat menimbulkan kesombongan rohani. Oleh karena itu, eksklusivisme bisa jadi menjadi batu sandungan dalam hidup menggereja. Dengan demikian, eksklusivisme, no way lah.

 

(Penulis : Jus Soekidjo, Editor : Erin, Foto : Juan)

Yesus Sang Korban Cinta

By Christine Lerin,

Ibadat Jumat Agung

 

Jumat Agung 30 Maret 2018 // 18.30 // Rm. Aloysius Susilo, Pr

Jumat Agung bagi kita adalah sebuah hari dimana Yesus menunjukkan cintaNya yang begitu dalam pada kita umat manusia. Bagaimana tidak? Dia mengorbankan hidupNya sendiri dengan mati di kayu salib untuk semua kesalahan yang dituduhkan kepadaNya, yang kita tahu bersama bahwa dosa kitalah yang ditanggungNya.

Jika kita sungguh menghayati Jalan Salib, kita akan dibawa kepada sebuah penghayatan iman bahwa sesungguhnya jika kita sedang mengalami penderitaan hal itu belum seberapa jika dibanding dengan penderitaan yang Yesus alami.  Disiksa dengan cambukan yang bertubi-tubi menghujam tubuhNya. Darah mengalir bercampuran dengan keringat membasahi luka-luka yang terdapat dalam tubuhNya. Tidak hanya selesai sampai disitu, kurang lebih 2 Km jalan berliku, berbatu dan menanjak harus Ia lalui sambil memikul salib. Berjalan pelan menahan rasa sakit sekaligus lelah dan sedih tanpa mengeluh dan menghindar, hingga akhirnya sampai di Bukit Golgota dan disalibkan bersama dengan dua orang pendosa di sisi kanan dan kiriNya.

Cerita ini memang sudah tidak asing bagi kita, karena setiap tahun kita memperingati Jumat Agung sebagai hari yang luar biasa. Namun apakah jalan salib Kristus sudah menjadi bahan permenungan tersendiri bagi hidup kita? Berfaedahkah kisah sengsara Yesus Kritus yang setiap kali kita dengarkan dalam kehidupan kita?

Jalan salib terakhir pada hari Jumat Agung berjalan tidak seperti biasanya. Kali ini diiringi dialog – dialog singkat yang menggambarkan suasana saat dimana Yesus memikul salib hingga dimakamkan, belum lagi  ditambah dengan iringan instrumentalis yang mebuat hati seperti terenyuh ketika mendengarnya. Sesaat hal-hal tersebut bisa membuat kita melayangkan imajinasi akan betapa tersiksanya Yesus kala itu karena dosa – dosa kita. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor 5 : 21)

Pada momen Jumat Agung kisah sengsara Yesus atau yang dikenal dengan Passio dibacakan kembali dengan cara dinyanyikan, mengapa demikian? Hal ini dapat kita jawab dengan jawaban sederhana yaitu agar penghayatan terhadap peristiwa penyelamatan yang Yesus lakukan untuk kita dapat kita terima, kita resapi dan kita mengerti dnegan baik, sehingga siksaan yang Dia terima hingga kematianNya di salib bukan hanya menjadi penebusan yang sia-sia karena bebalnya hati kita terhadap dosa.

Lantas mengapakah kisah yang memilukan ini dibacakan berulang-ulang setiap kali Jumat Agung kita peringati? Karena kisah sengsara yang memilukan ini merupakan surat cinta dari Tuhan yang begitu bermaknanya sehingga seperti surat cinta pada umumnya yang akan semakin manis jika kita baca berulang ulang maka hendaknya surat cinta Tuhan ini bisa menjadi suatu yang manis untuk kita kenang dan kita resapi dalam kehidupan kita. Bahwa saking Ia mencintai kita, Ia rela mati menebus kita dengan menderita dan mati di kayu salib.

Panjang dan diulang ulangnya kisah sengsara Yesus, sebenarnya ingin mengatakan : Dia mau wafat menjadi korban cinta untuk kita. Maka hendaknya ketika hari ini kita akan merendahakan diri kita menyembah salib, menghormati salib dan mencium Yesus yang ada di salib, kiranya hal itu jangan hanya menjadi sebuah rutinitas hari raya yang biasa kita lakukan, melainkan di dalam hati kita sungguh sungguh menghayati perjalanan salib itu sendiri sambil berucap “Terimakasih Yesus karena telah menyelamatkan aku.”

Secara singkat, dalam homilinya Romo Susilo menyampaikan bahwa Kristus yang mati di salib telah menjadi korban cintaNya untuk kita. Sungguh sebuah pengorbanan yang tidak tanggung-tanggung. Ketika jatuh, Ia mau bangkit kembali. Ketika banyak perempuan menangisiNya, Ia memberikan penghiburan. Bahkan ketika tergantung di atas salib, Ia memaafkan mereka yang menyiksaNya. Bisakah contoh penderitaan itu menjadi kekuatan tersendiri bagi kita ketika salib hidup kita terasa begitu berat? Bisakah cinta Tuhan yang begitu sempurna kepada kita yang berdosa ini, menjadi contoh sebuah cinta yang bsia kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari kita?

Mari kita merenungkan.

 

Selamat Paskah!

Yunita Wardhani