Raut wajah Kristina (76) nampak semringah mengiringi langkahnya memasuki halaman gereja Santo Gabriel, Pulogebang. Kondisi fisiknya yang melemah karena usia sehingga sedikit sulit berjalan, tetapi tidak menyurutkan semangatnya untuk mengikuti misa offline perdana khusus lansia (lanjut usia). “Senang sekali bisa misa di gereja lagi, sudah lebih dari setahun hanya ikut misa online,” ungkapnya. Kristina tidak sendirian tetapi datang bersama tiga rekannya, semuanya dari lingkungan Filipus. Tampak juga satu umat lingkungan yang mendampingi tiga lansia itu.

Tim TGKP melayani lansia

Umat lainnya, Joko Warsito (68) yang hadir bersama istrinya (67) juga merasakan hal yang luar biasa. “Puji Tuhan bisa ikut Ekaristi Kudus di gereja lagi, saya sampai merinding,” katanya penuh haru.

Elizabeth (66) juga merasakan sukacita yang sama. “Saat ada kabar bahwa lansia bisa misa di gereja, saya langsung daftar paling awal. Selama ini hanya misa live streaming di rumah dan menerima komuni melalui Petugas Pembawa Komuni (PPK),” ungkapnya senang karena sejak akhir Februari 2019 sudah tidak ke gereja lagi.

 

Misa Offline Lansia Perdana

Gereja Santo Gabriel, Paroki Pulogebang mengadakan misa offline perdana lansia pada Sabtu (29/5/2021) pukul 17.00. Misa digelar untuk menjawab kerinduan para lansia karena setahun lebih tidak bisa mengikuti Ekaristi di gereja karena pandemi Covid-19.

Sebelumnya, Tim TGKP (Tim Gugus Kendali Paroki) Pulogebang sudah menyiapkan segala yang diperlukan agar para lansia bisa merayakan Ekaristi di gereja. Tentu saja protokol kesehatan menjadi syarat mutlak dalam penyelenggaraan misa khusus ini.

Protokol Kesehatan Ketat

Usaha ini membuahkan hasil setelah Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mengeluarkan Surat Keputusan KAJ nomor 255/3.5.1.2/2021 yang menetapkan Paroki Pulogebang diizinkan untuk melaksanakan Misa Offline bagi anak/remaja dan lansia. Berdasarkan surat KAJ tersebut, Gereja Santo Gabriel mendapatkan izin untuk menggelar misa offline lansia setiap sabtu sore.

Selanjutnya, Tim TGKP melakukan sosialisasi misa offline ini kepada umat secara daring pada Selasa (25 Mei 2021) pukul 19.00 WIB. Misa offline tetap mengikuti ketentuan. Para lansia yang diizinkan ikut misa adalah berusia 60 tahun keatas, dalam keadaan sehat dan telah mendapat vaksinasi Covid-19 dosis 1 dan 2. Lansia harus mendapatkan izin dari keluarga, dengan kesadaran pribadi mengikuti misa offline, dan mendaftar melalui ketua lingkungan di website misa.parokipulogebang.org.

 

Sambutan Luar Biasa

Misa lansia mendapat sambutan yang luar biasa. Semangat para lansia tampak sekali dari mulai pendaftaran. “Karena masih dimasa pandemi Covid-19, quota umat dibatasi hanya 20% dari kapasitas gereja atau sekitar 250 tiket (bangku). Tidak perlu waktu lama, quota yang diberikan tim ke setiap lingkungan cepat terisi penuh oleh umat bahkan kurang,” kata Dr. Yohan Naftali salah satu tim belarasa (TGKP).

“Mungkin karena usia, perlu waktu lebih lama saat men-scan barcode umat via gadget, sebelum masuk ke gereja. Tetapi sudah diantisipasi dengan menambah tim yang stanby membantu para lansia,” tambahnya.

Briefing Tim TGKP dan Cek Barcode Umat Yang Baru Datang

Koordinator lapangan tim TGKP, Hendro Tan, yang ikut terlibat dalam misa lansia juga merasa terharu dan sukacita karena boleh melayani para lansia yang semangatnya luar biasa. “Para lansia datang ke gereja lebih awal. Jadi setengah jam sebelum misa, bangku bawah sudah terisi penuh,” ungkapnya mengapresiasi.

“Pengalaman ini luar biasa. Kami boleh melayani para lansia, saya anggap seperti orang tua saya sendiri. Kalau mereka menangis saya ikutan menangis,” katanya penuh emosi.

 

Hari Istimewa

Misa Lansia yang dipimpin oleh Romo Aloysius Susilo Wijoyo, Pr adalah hari yang istimewa, karena gereja merayakan Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus bersamaan dengan Novena Tubuh dan Darah Kristus hari kedua.

“Semoga di hari raya Tri Tunggal Maha Kudus ini, umat hidup penuh kasih. Bisa menjadi pendoa dan pembawa berkat bagi keluarga dan sesama,” kata Romo Susilo dalam homilinya.

Suasana Misa Lansia

Romo juga mengatakan bahwa Sabtu (29/5/2021) ini juga hari yang istimewa, karena misa perdana lansia bertepatan dengan hari lansia nasional. “Semoga kerinduan umat lansia terobati setelah satu tahun lebih karena pandemi, tidak bisa hadir ke gereja,” harapnya.

Di hari istimewa itu, beberapa lansia juga nampak terlibat dalam pelayanan, seperti Iwan Darmawan (60) bertugas sebagai pemazmur. “Senang luar biasa bisa masuk lagi ke ruang Sakristi dan perdana membawakan mazmur setelah istirahat 1,5 tahun,” katanya.

Romo Susilo bersama prodiakon dan pemazmur, 3 diantaranya lansia

Ada juga Hubert Tanzil (72) dan Rommel Ginting (63) bertugas sebagai prodiakon. Kepercayaan yang diberikan oleh tim liturgi disambutnya dengan sukacita.

 

Perasaan Haru dan Sukacita

Setelah Misa berakhir, nampak wajah-wajah haru dan sukacita tergambar dari para lansia. Bahkan pasutri Susan (67) dan Heri (74) menangis saat misa.

“Begitu masuk gereja, duduk, nggak bisa berdoa dengan kata-kata tetapi hanya bisa menangis dan terima kasih terus dan bersyukur. Dan itu terus menangis sampai persembahan baru rada tenang dan saat komuni mulai nangis lagi. Pokoknya banjir air mata. Wah pokoknya perasaan nggak bisa diceritakan,” ungkapnya penuh kerinduan.

Umat yang terharu bisa mengikuti Misa perdana lansia

Antusias umat lansia juga dirasakan ketua lingkungan Santa Maria dr. Stella. “Antusias umat lingkungan Santa Maria luar biasa. Sebelum pendaftaran dibuka, lansia sudah banyak yang pesan tiket. Bahkan setelah ikut misa perdana, mereka sudah minta dipesankan tiket lagi untuk misa sabtu depan dan sabtu seterusnya,” ujarnya semangat.

Romo Susilo juga bersyukur kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh umat lansia. “Bersyukur semoga menjadi awal yang baik,” harapnya saat ditemui komsos seusai misa.

 

DenyKus (foto : dokpri, tim tgkp, komsos)