Behind The Scene: Muasalnya Drama Panggilan Itu

  Berita Utama > Features

Berawal dari kegelisahan akan panggilan untuk menjadi seorang imam, bruder dan suster yang sangat rendah tercetuslah gagasan untuk mengadakan promosi panggilan dengan bentuk dan kemasan yang lain dari sebelumnya. Pasalnya, promosi, animasi atau misi panggilan dalam panggilan khusus ini di Paroki Pulo Gebang walau sudah berjalan sebelumnya namun masih belum maksimal dan efektif. Menumbuh-kembangkan keinginan dan minat masuk seminari masih sangat sulit.

Cara-cara lama seperti mengundang frater dan suster dari masing-masing tarekat untuk hadir di paroki baik dalam acara live in atau promosi belum sepenuhnya efektif. Mengajak para orang tua untuk bisa merelakan atau menganjurkan anak-anaknya masuk seminari melalui sharing pengalaman pribadi belumlah maksimal. Masih perlu perjuangan yang sangat besar dengan caara-cara yang lain.

Sudah sejak tahun sebelumnya, tumbuh kembang dan minat masuk seminari mulai terasakan. Walau masih perlu perjuangan ekstra keras, tapi sudah ada semangat dan keinginan dari anak-anak untuk masuk seminari. Dalam hal ini, perlu ada cara-cara yang berbeda dari biasa dilakukan supaya keinginan dan minat semakin besar, khususnya para orang tua.

Oleh karena itu, dalam merayakan Minggu Panggilan yang memang sudah disediakan khusus guna membuat ketertarikan dan minat masuk seminari, harus ada acara lain. Seringnya sharing dan penyampaian pengalaman dari para Frater dan Suster dalam Homili di Minggu Panggilan merupakan salah satu inspirasi untuk membuat acara berbeda.

Dengan semangat baru inilah, membuat drama panggilan untuk dipentaskan dalam homili di Minggu Panggilan menjadi alternatif baru kegiatan panggilan khusus ini. Homili dalam bentuk drama memang jarang sekali dilakukan dan bisa jadi ajakan baru untuk menyampaikan pesan.

Usulan membuat drama panggilan supaya bisa mengetuk hati dan pikiran para orang tua menjadi tema dan cara khusus di Paroki Pulo Gebang. Atas dasar inilah, usulan ditawarkan kepada Dewan Pendamping dan Pastor Paroki sehingga selama Minggu Panggilan, homili dalam setiap Misa diawali dengan suatu drama panggilan. Dukungan Dewan Pendamping dan para Pastor di Paroki Pulo Gebang menjadi penyemangat agar drama panggilan ini menjadi kenyataan.

Berdasarkan persetujuan yang didapat, maka pencarian bakat untuk para pemain drama khususnya yang bisa menggugah hati dan pikiran para orang tua tentunya adalah anak-anak misdinar. Justru anak-anak misdinar yang mempunyai keinginan untuk masuk seminari yang memang selama ini sudah menjadi bagian dari pengkaderan panggilan khusus, menjadi target utama pemeran dari drama panggilan ini. Tidak banyak kesulitan menawarkan pemeran drama pangglan kepada anak-anak misdinar di Pulo Gebang. Selain karena mereka sudah saling kenal dan dalam satu kekerabatan, mereka juga punya keinginan dan minat yang sama menjadi seminaris.

Kesenyapan dari publikasi tentang adanya drama panggilan, yang kalah jauh dengan publikasi Hari Ulang Tahun Perkawinan tidak menyurutkan semangat menampilkan drama panggilan. Memang kejutan yang ingin ditampilkan oleh drama panggilan dalam homili, merupakan keinginan tersendiri. Latihan dan persiapan menjelang penampilan terus ditingkatkan sebaik-baiknya. Membangun kebersamaan dan chemistry antar pemain terjadi dalam beberapa kali latihan selanjutnya. Hal ini disebabkan karena para pemain drama ini belum semuanya terbiasa sebagai pemeran dalam suatu kegiatan teater atau drama. Tetapi, semangat menampilkan sesuatu yang lain merupakan dorongan dan harapan dari para pemain ini.

Akhirnya, menjelang satu minggu sebelum hari H dari Minggu Panggilan, para pemain semakin mantap dan yakin akan penampilan mereka. Biarlah Penyelenggaran Ilahi saja yang berperan atas diri masing-masing pemeran supaya bisa menampilkan yang terbaik. Kepasrahan total dari para pemeran ini kiranya dapat menjadi pesan dan ajakan bagi para orang tua agar merelakan dan menganjurkan anak-anaknya memilih panggilan khusus dan masuk ke seminari dan biara menjadi Frater dan Suster. (Penulis dan Foto: @njozasm / Editor: Ferdinand Lamak)