Dipanggil dan Dipersatukan untuk Bahagia

  Berita Paroki > Berita Utama

Keluarga Kristiani merupakan tempat dilaksanakannya misi suci gereja. Keluarga sebagai Ecclesia Domestica yaitu sebuah keluarga yang merupakan “Gereja Kecil” sebagai pusat pembinaan dan pewartaan iman serta penumbuhan semangat kasih yang tunduk pada pimpinan Yesus sendiri. Artinya dalam keluarga, setiap anggota mengalami bahwa Allah hadir dan berkarya.

“Tuhan menciptakan suami istri tujuannya untuk hidup bahagia dan saling membahagiakan satu dengan yang lain. Dalam Surat Rasul Paulus kepada umat di Kolose (3 : 12) dinyatakan bahwa engkau adalah pilihan Allah, engkau yang dikuduskan dan dikasihiNya. “Panggilan sebagai suami istri tidak berasal dari kita sendiri, tetapi berasal dari kehendak Tuhan. Kalau kita mencintai suami atau istri berarti kita mencintai Tuhan. Menjadi suami istri juga telah dikuduskan dalam sakramen perkawinan suci dan berjanji dihadapan Tuhan dan gereja,”tutur Rm. A. Setya Gunawan, Pr saat membuka Rekoleksi atau Seminar Keluarga di GKP Lt.3, Minggu (22/4/2018).

Rm. A. Setya Gunawan, Pr juga berharap rekoleksi ini menyegarkan kembali relasi sebagai suami istri, semakin rukun, bersatu, mengerti dalam segala kelebihan dan kekurangan. Romo juga mengingatkan akan sapaan Tuhan, “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mat 19:6).

Rekoleksi Keluarga yang mengambil tema ‘Dipanggil dan Dipersatukan untuk Bahagia” merupakan rangkaian acara setelah Misa Hari Ulang Tahun Perkawinan bagi para pasutri yang mengikrarkan janji perkawinan pada periode Januari – April. Acara ini diprakarsai Kategorial ME (Marriage Encounter) yang bersinergi dengan Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) Paroki Pulogebang.

Rekoleksi ini menghadirkan pembicara dari ME Distrik 1 Jakarta yaitu pasutri Ferry-Agnes (40 thn menikah), Hendra-Luly (23 thn) dan Sanjaya-Sisil (24 thn).

Ferry-Agnes menyampaikan bahwa semua pasangan ingin  membina rumah tangganya sebagai keluarga Katolik yang harmonis dan bahagia, namun kenyataannya banyak masalah dan tantangan dalam pergumulan hidup berkeluarga. Pasutri ini menyampaikan 5 pintu menuju keindahan dan kebahagiaan dalam keluarga yaitu :

  1. Berhenti untuk membandingkan dan mulai mengalir (start comparing, start flowing)
  2. Mawas diri dan mengenal kehidupan
  3. Memberi dan selalu memberi (Life is giving)
  4. Berawal dari semakin gelap hidup anda, semakin terang cahaya anda di dalam
  5. Surga bukanlah sebuah tempat, melainkan adalah rangkaian sikap.

Lebih lanjut, 3 pasang pasutri saling berbagi pengalaman kehidupan berkeluarga dan jatuh bangun dalam mempertahankan biduk rumah tangga. Di pertengahan acara, ada sesi diskusi kelompok yang masing-masing terdiri dari 3 pasang pasutri untuk saling berbagi pengalaman dalam hidup berkeluarga.

Sharing pembicara cukup menarik sehingga peserta sangat antusias mengikuti acara ini. Sebagai peserta, Johanes Nenot (wilayah 7) sangat terkesan karena bisa menimba pengalaman dari keluarga lainnya. “Tadinya saya tidak tahu solusi terhadap tantangan dalam berkeluarga seperti apa, sharing ini sangat memberikan pengalaman mengatasi permasalahan keluarga yang tidak pernah terpikirkan,” ungkapnya.

Sama seperti Nenot, Antonius Inoki Julianto (lingkungan Rafael) yang juga baru pertama kali mengikuti rekoleksi ini mengatakan, materi dari pembicara sangat bagus dan menarik. “Pengalaman kehidupan keluarga ditampilkan nyata oleh pembicara, hanya saja emosi lebih ditonjolkan untuk mendapatkan kesan yang mendalam,”pesannya.

Ketua Panitia, Yohanes Singgih Utomo, mengatakan rekoleksi ini sudah yang ke-3,  hari ini lebih fokus ke Marriage Encounter. “Kali ini rekoleksi diisi pembicara dari pasutri ME Distrik I Jakarta, setelah acara ini akan dievaluasi dan menentukan HUP berikutnya, selalu berganti konsep sehingga tidak bosan,”ungkapnya.

Frater Bernard yang diminta panitia untuk menutup acara, mengatakan bahwa hari ini kita berkumpul untuk sesuatu yang istimewa. ”Tidak terbayang, saya harus mengisi hari Minggu Panggilan dengan panggilan berkeluarga, suatu yang khas dan istimewa, semoga indah pada akhirnya,”harapnya. Frater Bernard, anak sulung yang kedua adiknya perempuan, mengingat saat orang tuanya pulang dari Weekend ME, beliau menangis karena orang tuanya membawa sesuatu yang indah dan akhirnya menyelamatkan hidupnya. “Saya berdiri disini karena orang tua saya bisa mendampingi saya sampai saat ini, salah satu yang berperan adalah ME, sebagai seorang anak, saya bersyukur orang tua saya ikut ME,”ungkapnya sambil berpesan bahwa ikut ME bukan berarti keluarga bermasalah tetapi cara untuk menghayati hidup berkeluarga menjadi lebih baik lagi.

Rekoleksi keluarga yang dihadiri 64 pasutri ini dipandu oleh pasutri Vinsensius Marsuki Suryono (Yanki) dan Maria Faustina Yanti (Yanti) yang merupakan ME angkatan ke-400. Menurut Yanki,  para pastor juga bisa mengikuti weekend ME berpartner dengan pastor juga. Rm A. Susilo Wijoyo, Pr dan Rm. A. Setya Gunawan, Pr sudah pernah mengikuti weekend ME ini. Acara cukup meriah dengan adanya doorprize dan kejutan-kejutan menarik dari panitia, berlangsung dari pukul 10:30 – 13:30 WIB, ditutup doa oleh Frater Bernard dan dilanjutkan makan siang bersama.

(Penulis : Deny Kus Indarto, Editor : Erin, Foto : Juan/Ninik/Deny)