Features


Kelahiran KKI Santo Gabriel, Bukti Kebesaran Tuhan Lewat Hamba Pilihan

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Umat beriman yang selalu aktif dan penuh dengan sukacita dalam melayani Tuhan dan sesama adalah impian dari semua gereja dalam pengertian yang sesungguhnya. Paroki Pulo Gebang patut bersyukur karena pada tahun ini, tepatnya Mei 2019 Paroki Pulo Gebang tumbuh lagi sebuah kelompok kategorial baru. Mereka adalah Komunitas Kerahiman Ilahi (KKI), sebuah komunitas orang beriman yang mendedikasikan dirinya untuk selalu melakukan devosi Katolik  dengan fokus pada cinta belas kasihan Allah dan keinginan untuk membiarkan cinta dan rahmat tersebut mengalir melalui hati seseorang terhadap orang-orang yang membutuhkan hal itu.

Tiga hal utama dalam devosi  ini adalah, meminta dan mendapatkan kerahiman Allah, percaya kepada rahmat Kritus yang berlimpah, serta menunjukan kerahiman kepada sesama dan bertindak sebagai saluran untuk kemurahan Allah terhadap mereka.

Adalah Leoni, seorang ibu yang mengisahkan cerita di balik berdirinya komunitas ini. Ia menjadi orang yang mendapatkan rahmat dan ditugaskan langsung oleh Tuhan sebagai pembawa Misi Kerahiman Ilahi. Anda mungkin berpikir bahwa Leoni adalah seorang aktifis gereja sehingga dipilih Tuhan untuk perkara yang satu ini. Tidak! Leoni memang salah satu umat di Paroki St. Gabriel Pulo Gebang, namun selama ini tidak aktif mengikuti kegiatan kategorial apapun di paroki. Ia pun bukan seorang devosan Kerahiman Ilahi, Ia bahkan tidak tahu apa-apa tentang apa itu devosi Kerahiman.

Tuhan, melalui Roh Kudus pun bekerja, dan jika kekuatan dahsyat ini sudah bekerja maka tak ada yang mustahil untuk terjadi.  Tepatnya April 2018, Leoni memutuskan untuk mulai aktif mengikuti kegiatan Legio Maria. Empat bulan berselang, tepatnya Agustus 2018, saat Ia sedang mengucapkan janji Legio, sekonyong-konyong ada dorongan yang begitu kuat dari dalam hatinya, yang muncul begitu saja dan memintanya untuk menemui Joseph Gunarto. Siapa itu Gunarto, ia pun pun tidak begitu mengenalnya, kecuali diketahuinya sebagai katekis yang mengajar puteranya saat hendak menerima komuni. Dia sendiri pun bingung dengan dorongan yang dirasakannya itu.

“Untuk apa saya harus menemui Pak Joseph?” begitu kira-kira pertanyaan yang terbersit di dalam benaknya. Ia penuh dengan ketidakmengertian. Dorongan itu sempat Ia abaikan. Namun semakin diabaikan, semakin terus muncul dan tidak pernah berhenti ia memikirkannya. Ia jadi tidak tenang hingga pada Februari 2019, Ia menceritakan kegelisahannya tersebut kepada ketua lingkungannya. Ia pun diarahkan untuk menghubungi Joseph Gunarto dan minta waktu bertemu.

Leoni pun bertandang ke kediaman Gunarto. Saat Leoni datang dan masuk kerumah itu, matanya terpaku pada gambar Kerahiman Ilahi berukuran besar di kediaman Gunarto yang nota bene seorang devosan Kerahiman Ilahi. Hatinya berdebar kencang. Keduanya sempat bingung dan ditengah kebingungan mereka, mengapa Leoni mendapat dorongan untuk menemui Gunarto dan apa yang dapat Gunarto lakukan untuk Leoni, mereka berdua pun memulai dengan obrolan ringan. Obrolan yang mengarah kepada sharing pribadi pengalaman sang tuan rumah sendiri tentang bagaimana hidupnya diubah dan banyak pertolongan yang ia dapatkan sejak mengenal dan melakukan devosi Kerahiman Ilahi.

Rupanya, di Paroki St. Gabriel pun sekitar tahun 2008, Gunarto pernah mempunyai komunitas kecil Kerahiman Ilahi namun aktifitas komunitas itu pun terhenti saat ia harus pindah ke luar kota. Saat  Gunarto tengah membagikan pengalamannya tentang Kerahiman Ilahi, lagi-lagi Leoni mendapat dorongan untuk mengatakan sesuatu. ”Pak, ayo bapak bangkitkan lagi komunitas Kerahiman Ilahi di paroki.”

Gunarto ragu dan menjawab dengan penolakan karena hal itu tidak mudah. Harus mendapatkan ijin pastor paroki. Namun ia berjanji untuk membawakan niat itu dalam doa.

Sejak pertemuan tersebut, Leoni terus menerus mengajak Gunarto untuk membangkitkan kembali komunitas Kerahiman Ilahi yang pernah mereka jalankan dahulu. Namun, selalu pula dijawab bahwa belum ada jawaban dan petunjuk dari doanya.

06 – 07 April 2019, Leoni mengikuti Retus (retret perutusan ) KEP angkatan 13 dimana ia menjadi salah satu pesertanya. Pada malam pencurahan Roh Kudus, dengan jelas Leoni mendapatkan penglihatan gambar Kerahiman Ilahi dalam bentuk kecil seperti yang dilihatnya di rumah GUnarto. Penglihatan itu pun membuatnya merasa bersalah dan minta didoakan oleh Romo Suyatno yang hari itu datang mendampingi peserta Retus untuk sesi pengakuan dosa sebelum pencurahan Roh Kudus.

Romo Suyatno ternyata seorang devosan Kerahiman juga. Ia pun memotivasi Leoni agar dapat mewujudkan misi Kerahiman Ilahi dengan berbicara kepada Pastor Kepala Paroki. Esok harinya, tanggal 07 April 2019, secara mengejutkan, Romo Susilo datang menggantikan Romo Gunawan yang mendadak tidak bisa datang untuk membawakan misa penutupan dan perutusan. Pada kesempatan inilah, Leoni pun menceritakan semua yang dialaminya. Romo Susilo mendengarkan dengan seksama dan tanpa diduga ia mengatakan, “Ibu, silahkan jalankan dan wujudkan misi kerahiman yang ibu terima, saya mengijinkan dan mendukung.”

Sukacita dalam hati Leoni tak tergambarkan dan sepulang Retus, Ia langsung menyampaikan kabar baik ini kepada Gunarto. Keduanya pun diliputi sukacita. Mereka pun bertemu kembali dengan Romo Susilo dan  proses pembentukan komunitas Kerahiman Ilahi pun dimulai. Semua proses berjalan dalam bimbingan Tuhan hingga gambar Kerahiman Ilahi yang akan dipakai oleh komunitas itu pun diberkati pada Misa Pesta Kerahiman Ilahi,  hari Minggu kedua setelah Paskah oleh Romo Gunawan.

Pertemuan perdana Komunitas Kerahiman Ilahi  ( KKI ) St. Gabriel diadakan pada Jumat, 24 Mei 2019, di GKP Lt 2 Ruang Lukas 24. Sebanyak 24 orang umat paroki hadir dalam pertemuan itu. Selanjutnya secara rutin,  devosi Kerahiman Ilahi akan diadakan dua kali sebulan, setiap Jumat ke 2 dan ke 4, pada pukul 19.30- 21.00 diruang itu.  Komunitas Kerahiman Ilahi pun sah menjadi salah satu kelompok kategorial di paroki ini, yang ditandai dengan pelantikan pengurus KKI periode 2019- 2022 pada saat Misa Perayaan HUT Paroki St Gabriel ke 24.

Para pengurus KKI Santo Gabriel antara lain: Joseph Gunarto sebagai Ketua, Leoni Togatorop sebagai Wakil Ketua dan Anastasia Ngoei sebagai Bendahara. Sebagai sarana komunikasi komunitas, dibentuklah grup whatsapp KKI Santo Gabriel.

Sejak dibentuk pada Mei 2019, jumlah devosan KKI terus bertambah dan per Agustus, KKI Santo Gabriel sudah memiliki 60 orang devosan. Semua bersyukur dan berterimakasih kepada Allah Yang Maha Baik, karena kebesaranNya dan belas kasihNya-lah, misi yang disampaikan melalui Leoni ini dapat terwujud. Kesaksian iman ini, sebelumnya sudah kisahkan Leoni kepada para devosan KKI pada saat pertemuan komunitas.

Tuhan menunjukkan kuasaNya dan sungguh ajaib cara Tuhan bekerja. Ia memakai Leoni dan Joseph Gunarto secara luar biasa. Umat “biasa” (tidak aktif dan tidak pernah tahu tentang kerahiman Ilahi), telah dipertemukan dengan seorang devosan Kerahiman Ilahi untuk menyelesaikan misi kerahiman.  Semua ini tentu dapat terjadi, karena belas kasih kasih Allah kepada umat Paroki St Gabriel Pulo Gebang. Kelahiran KKI Santo Gabriel adalah bukti kebesaran Tuhan lewat hamba pilihanNya.

Tuhan telah menunjukkan kebesaranNya maka patutlah jika KKI mengajak seluruh umat Paroki St. Gabriel Pulo Gebang untuk bersama-sama berdevosi kepada Kerahiman Ilahi melalui doa Koronka dan doa Jam Kerahiman seperti pesan yang disampaikan sendiri oleh Yesus kepada rasul kerahiman yaitu Santa Faustina yang dituangkan dalam buku hariannya yang terkenal dan dipakai sebagai dasar pemahaman dan pengetahuan mengenai Kerahiman Allah yaitu BUKU HARIAN FAUSTINA ( BHF ) 1167 : Setan sangat membenci Kerahiman Allah , ia tidak mau mengakui bahwa Allahitu baik.

Mari kita berdevosi Kerahiman Ilahi dengan mengucapkan: Yesus, Raja Kerahiman Ilahi, Engkaulah andalanku. (Penulis: Lily Imut/Editor: Ferdinand Lamak)

Damainya Suasana Ramadan dan Perayaan Lebaran di Vatikan

By Ferdinand Lamak,

Merayakan Idul Fitri di Indonesia, tentu saja berbeda dengan mereka yang merayakannya di negeri yang tidak banyak umat Islam. Jangankan di negara yang berbeda, suasana Idul Fitri  pada kota-kota besar di Jawa tentu saja berbeda dengan kota-kota seperti Jayapura, Manado, Kupang dan Denpasar. Kendati demikian, bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa hingga merayakan Hari Raya Idul Fitri selalu dihormati. Seperti yang terjadi di Vatikan, negara kecil yang dikenal sebagai pusat Agama Katolik di dunia itu.

Memang, Duta Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan kali ini adalah seorang Katolik. Antonius Agus Sriyono, alumnnus Kolese De Britto tahun 1975 ini, memiliki dua orang staf beragama Islam di KBRI Vatikan. Dubes sebelumnya, Budiarman Bahar, bertugas sejak Desember 2011 sebelum ia digantikan oleh Sriyono, yang dilantik pada Januari 2016 silam.

Bahar sebagaimana dikutip dari UCANews, mengatakan tidak ada yang berbeda dari Ramadan di Indonesia dan Vatikan. Sekalipun ia berada di negara pusat Katolik dunia, umat Islam disana bebas menjalankan ibadah puasa dan marayakan Idul Fitri sebagaimana di Indonesia.

”Meski di sini umat Islam termasuk minoritas, kami bebas beribadah. Tidak ada larangan apa-apa. Bahkan, kami dihormati,” ujarnya.

Ia bersama staf di KBRI serta para duta besar dan staf kedubes dari negara-negara Islam seperti Iran, Mesir, Lybia sungguh merasakan bagaimana Ramadan dan Idul Fitri mereka dihormati oleh penduduk di Vatikan yang hampir 100% beragama Katolik.

Moschea di Roma, Masjid di Kota Roma (Foto: Wikipedia)

KBRI Vatikan sendiri menaungi para pastor, suster dan bruder asal Indonesia yang bertugas di Vatikan, di gereja-gereja dan biara-biara baik di Vatikan maupun di sekitarnya.

Lantas bagaimana tradisi buka puasa bersama atau halal bihalal dilakukan di Vatikan dalam lingkup KBRI? Bahar pun berkisah, tradisi ini pun tetap dilakukan sekalipun mayoritas yang hadir adalah para pastor, suster dan bruder.

”Itulah toleransi antarumat beragama yang konkrit. Mereka (pastor dan suster) akan datang bila diundang dalam acara-acara tradisi umat Islam itu. Seperti halnya bila mereka datang untuk acara sosialisasi pemilu atau perayaan hari kemerdekaan RI,” papar Bahar.

”Saat buka bersama ditutup dengan doa secara Islam, mereka ikut dengan khusyuk berdoa dengan cara mereka sendiri,” imbuhnya.

Yang tidak dapat dirasakan oleh pria Minang ini di Vatikan adalah, bagaimana bunyi suara tiang listrik yang dipukul saban dinihari untuk membangunkan orang yang hendak sahur. Juga merdunya suara adzan yang bersahut-sahutan dari masjid-masjid yang ada di Indonesia.

Asal tahu saja, di Vatikan, umat Islam disana memiliki satu masjid yang disebut Moschea di Roma atau Masjid Roma. Masjid ini dibangun secara berpatungan oleh sejumlah negara, termasuk Indonesia. Ada 23 negara totalnya. Masjid ini dibangun diatas lahan yang cukup luas, sekira 3 hektar luasnya.

Di dalam masjid inilah, umat Islam pun menjalankan ibadah mereka selama Ramadhan kemarin hingga Idul Fitri pada hari ini. Semuanya berjalan dalam suasana penuh kedamaian dan kerukunan.

Tahun ini, kepada umat Islam di seluruh dunia, Dewan Kepausan Vatikan untuk Dialog Antaragama (PCID) menyampaikan pesan Ramadan dan Idul Fitri 1440 Hijriah. Vatikan berharap momentum Ramadan dan Idul Fitri bisa menjadi perekat persaudaraan dengan umat Kristiani. Dewan kepausan juga meminta kepada umat Kristen dan Islam di seluruh dunia untuk mempromosikan budaya dialog.

“Vatikan menyerukan kepada umat Kristen dan Islam di seluruh dunia untuk mempromosikan persaudaraan dan keharmonisan dengan membangun jembatan persahabatan serta mempromosikan budaya dialog di mana kekerasan ditolak dan kemanusiaan lebih dihormati,” bunyi pernyataan seperti dilaporkan Vatikan News.

Sementara itu, khusus untuk masyarakat Indonesia Anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, Pater Markus Solo Kewuta, SVD menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri secara khusus. “Semoga damai sejahtera menyertai kita semua. Perayaan ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperat persaudaraan dan kebersamaan sebagai sesama warga bangsa.”

Tidak hanya itu, Dubes Antonius Agus Sriyono bersama sejumlah biarawan-biarawati dari Indonesia dalam sebuah orkestra sederhana pun menyampaikan ucapan Selamat Lebaran dalam nada dan lagu sebagaimana yang dapat disaksikan pada link youtube berikut ini: https://www.youtube.com/watch?v=igaXuCJ4tx0&pbjreload=10

Vatikan dan warganya telah menunjukkan bagaimana penghargaan terhadap umat Islam yang menjalankan ibadah agamanya. Semoga Indonesia, negara dengan ragam agama dan suku ini tetap damai dalam perbedaan dan saling menghormati satu sama lain. Selamat Hari Lebaran, Minal Aidin Wal Faizin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. (FL)

 

 

 

 

One Day Trip To BSP Farm

By Christine Lerin,

Tanggal 19 Mei  2019 hari Minggu pagi pukul 06.00 rombongan yang terdiri dari 9 orang pengurus SKP berangkat dari halaman Gereja St Gabriel Pulo Gebang  menuju  BSP Farm  Cigombong – Bogor.

SKP ( Seksi Keadilan dan Perdamaian)  dibentuk oleh KAJ ( Keuskupan Agung Jakarta) pada tahun 2016 dan dibentuk  Dewan Paroki Pulo Gebang pada tahun 2017.  SKP bertujuan untuk  mengajak umat / manusia  cinta damai dan keadilan.  Perdamaian dan keadilan tidak hanya dilakukan/ diberikan kepada sesama manusia namun juga harus diberikan untuk lingkungan dan bumi serta seisinya,  seluruh ciptaan Tuhan, seperti yang sering disampaikan  oleh  Uskup  Agung Jakarta  Mgr Ignatius  Suharyo dalam  Video khotbah Gembala. Maksud cinta kepada lingkungan bumi dan seisinya adalah bahwa manusia harus hidup berdampingan dengan  tumbuhan, alam, binatang tanah dan udara, kita saling memelihara dan menjaga. Untuk lebih memahami maksud SKP dalam kehidupan nyata, maka Yana Kurniadi  ketua SKP Paroki Pulo Gebang mengajak seluruh pengurus SKP mengunjungi Pertanian Organik BSP ( Bumi Sarana Panorama) Farm.

Perjalanan pagi yang  lancar dan udara sejuk, sepertinya sangat mendukung  rombongan kecil ini, mereka tidak menyia-nyiakan waktu, hingga dalam perjalanan pun rombongan serius membicarakan banyak hal yang berkaitan dengan kelangsungan  SKP. Mobil yang berayun  karena jalanan yang meliuk-liuk dan deru mobil di jalanan sama sekali tidak mengganggu konsentrasi diskusi pagi itu.

Pukul 7.30 rombongan tiba di BSP Farm yang  memiliki area 40 hektar berada pada  ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut dikelilingi oleh Gunung Salak. Tanaman tumbuh subur, udara pagi sejuk bersih. kami  mencoba menarik nafas lama dan dalam, setiap tarikan  nafas seolah  otot paru-paru menjadi kuat dan oksigen  bersih penuh terhirup ke paru.

Di teras  Vila, sejauh mata memandang, terlihat  pegunungan Salak menjulang tinggi  molek hijau, mata tidak ingin berkedip, bibir ingin selalu tersenyum melihat keagungan  Tuhan Sang Pencipta semesta yang begitu indah. Tentu saja seluruh peserta yang terdiri dari 6 Wanita dan 3 Pria mengabadikan saat  indah bahagia ini dengan berfoto.

Pukul 9  rombongan di ajak  berkeliling kebun melewati seluruh fasilitas yang dimiliki BSP misalnya area kamping dan Vila. Sebelum berkeliling, koordinator perkebunan yang bernama pak “Usaha” menjelaskan tentang  perkebunan BSP yang melakukan usaha perkebunan secara organik. Sesuai penuturanya  Organik harus meliputi  3 hal yaitu ; Ekonomi, Ekologis dan Sikap. Contohnya;  sejak mengolah tanah sampai memanen  harus dihitung  secara matang untung ruginya, kesejahteraan petani , kesuburan tanah dan tanaman harus diperhatikan.  Kelestarian alam  dan ekonomi warga terjaga  dengan cara menggunakan pupuk kandang ( BSP Farm membeli kotoran kambing dari warga sekitar untuk dijadikan pupuk ).  Sikap menjaga kelestarian alam tidak menggunakan pupuk pestisida, memanfaatkan tanah sesuai dengan fungsinya, jika tanah resapan maka tidak boleh didirikan bangunan.

Dalam berkeliling kebun kami dibekali tongkat bambu sepanjang ±150cm sebagai penopang badan menjaga keseimbangan tubuh, supaya jangan terpeleset atau terjungkal. Jalanan setapak menuju perkebunan yang kami lalui dari area kebun satu ke area lainnya dengan kontur tanah yang naik turun, terjal sempit, kadang berbatu dan becek. Sepertinya perjalanan kami ini  bisa disebut treking kecil-kecilan agak menguras tenaga.  Aneka jenis perkebunan dan penginapan yang dimiliki BSP Farm sangat menyadarkan pengurus SKP ini, betapa hidup yang berkesinambungan selayaknya dijaga dan dipelihara. Misalnya di area perkebunan aquaponik, nutrisi tanaman disupply dari kotoran ikan yang dipelihara di samping kebun. Di area sawah padi dan kebun sayuran ( Wortel, bit, daun bawang, kol, sawi, pokcoy, cabe dsb)  di sepanjang parit di tanami pohon sejenis kenikir, sebagai makanan hama tanaman. Hama tanaman menyukai bunga sejenis kenikir. Tanaman produktif tumbuh sehat, aman. Hama tanaman senang beterbangan didekat kebun tanpa mengganggu tanaman produktif  karena hama sudah kenyang dengan menghisap bunga kenikir. Kami penasaran dengan aroma, rasa bunga dan daun yang sangat mirip kenikir dan disukai hama. Mencoba mencium  dan kunyah secuil daun dan bunga  tsb, tentu saja tidak kami telan, ternyata tidak ada rasa dan aroma apapun ( entah kenapa hama menyukainya, tentu karena ketajaman  penciuman  kami berbeda dengan hama tanaman). Berbeda dengan kenikir yang biasa kita konsumsi memiliki bau yang khas – biasa orang jawa menyebutnya bau sengir.

Ayam  dipelihara di sebagian area  perkebunan sayur, melingkari satu bidang kebun sayur dibuatkan  seperti gorong-gorong yang terbuat dari kawat untuk bermain-main ayam, di ujung kebun dibuatkan kandang ayam yang beratap.  Di ujung kebun bagian lain  area untuk fermentasi pupuk kandang. Pupuk dibuat dari campuran pupuk kandang, sekam padi,  sampah kebun dsb, setiap sebulan sekali di aduk supaya tercampur. Durasi fermentasi ± 3 bulan pupuk siap digunakan.   Setelah Pukul 11.30 kami istirahat makan siang, makanan yang kami konsumsi ; Sayur, lauk dan buah yang rasanya enak siang itu   semuanya dari hasil  organik BSP Farm, sesuai penuturan  penyaji  makanan.

Pukul 13 Perjalanan mengelilingi kebun dilanjutkan.  Jika di Jakarta jam 13 adalah udara sangat menyengat seolah matahari di atas kepala,  berbeda di area kebun ini, kontur tanah menanjak sempit  dan terjal tidak membuat kami cepat lelah karena banyak pohon-pohon besar dan beberapa kolam  dengan air  jernih dan dingin membuat tubuh tidak terasa panas meski disiang hari.  Area yang kami kunjungi pertama adalah  perkebunan kopi ( jenis kopi Robusta), kemudian kebun teh dan terakhir kebun salak. Di setiap area kebun , pemandu menerangkan cara memanen dan mengolah hasil kebun, serta ekosistimnya.  Misalnya ; setiap tanaman teh satu hektar menghasilkan 5 liter air di dalam tanah. Kami  merasa sangat terhibur ketika diperkenankan  memetik salak yang sudah siap panen dan sangat lebat . Sambil duduk-duduk di antara pohon salak  menikmati buah salak hasil metik sendiri, pemandu menjelaskan cara pembuahan pohon salak, panen dan pembersihan kulit salak yang ternyata tajam berduri bila masih menempel di pohon.  Pemandu memberikan tips cara  membersihkan  duri  lembut di kulit salak dengan cara salak dimasukkan dalam karung besar kemudian karung digoyang goyang, dengan demikian duri akan rontok.

Pukul 16.00 waktu kami pun habis dalam kunjungan ke BSP Farm. Seluruh rombongan SKP  Paroki Pulo Gebang pulang  menuju Jakarta dengan hati riang gembira, membawa harapan bahwa pengalaman ini bisa ditularkan ke semakin banyak orang. Hidup menjaga keadilan dan perdamaian bagi seluruh makhluk hidup ciptaan Tuhan tanpa menyakiti satu sama lain. Sesungguhnya Alam adalah jujur, bila kita menjaganya maka Alam akan membalas kebaikan kita.  Mari kita jaga perut bumi dan alam raya ini dengan sepenuh hati, dengan memelihara ekosistim kita sebagai mahkluk hidup.  –Rita-

 

 

Kartini Jaman Now Lomba Memasak Nasi Goreng

By Christine Lerin,

Kartini memberi kesempatan kepada Wanita Indonesia untuk menyatakan eksistensinya. Ukuran eksistensi wanita tidak hanya diukur dari kemampuan akademis atau pencapaian prestasi di dunia kerja,  Eksistensi  Wanita diukur jika melakukan segala sesuatu dengan penuh komitmen, tanggungjawab dan profesional,  itulah perwujudan dari cita-cita Kartini. Wanita Katolik RI  St. Gabriel – Pulo Gebang memperingati hari Kartini di halaman parkir Gedung Karya Pastoral Pulo Gebang, pada sabtu pagi tanggal 27 April  pukul 9, bekerjasama dengan Maxim dan Pronas mengadakan lomba memasak nasi goreng. Peserta yang dihadiri 100 anggota WKRI dan 20 ibu-ibu PKK Pulogebang dan Pulo Jahe berlangsung meriah penuh kegembiraan.  Peserta lomba adalah perwakilan dari 10 Ranting ,tiap ranting mengirim 2 peserta. Seluruh peserta dan tamu undangan  hadir  mengenakan berbagai macam baju kebaya modern.  Peserta hanya menyiapkan satu porsi nasi putih, isian pelengkap serta garnis . Alat masak dan bumbu disiapkan oleh Maxim dan Pronas.

Acara diawali  doa pembukaan dan menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini  kemudian  Henny Gunawan sebagai Ketua Cabang WKRI St. Gabriel memberikan sambutan. Menyempurnakan lomba ini panitia menghadirkan Chef Herry dari Maxim untuk memberikan contoh cara memasak dan menggunakan alat masak yang benar. Misalnya cara memasak ayam lada hitam dan cara merawat alat masak berbahan teflon yaitu setelah alat masak dicuci  dan kering, supaya dioleskan mentega dan minyak sebelum disimpan, hal ini supaya saat dipakai tetap licin.

Peserta lomba masak tampil seperti koki handal dengan mengenakan celemek, diberikan waktu 30 menit untuk menyelesaikan masakannya sampai dengan cara menyajikan ( misalnya dengan garnish dsb). Selama lomba berlangsung, para pendukung dan tamu undangan dihibur  music/ line dance bersama .

Juri lomba memasak nasi goreng ala Kartini jaman now ini dari berbagai kalangan yaitu  Ibu  Rita Agus dari kader PKK Pulo Gebang ( Seorang Muslim),  mbak Dina Perwakilan OMK, Bpk Edy Purnomo sebagai perwakilan Bapak-bapak. Berdasarkan keputusan Juri sebagai juara adalah ; juara I – nasi goreng mengkudu dari ranting Yakobus,  Juara II -Nasi goreng hijau Ndeso dari Ranting Elizabeth, Juara III -Nasi goreng udang Fantasi dari ranting Paulus. Ranting JGC mendapat juara harapan 1, Ranting FX juara harapan 2 dan Ranting Petrus juara harapan 3. Para pemenang mendapat hadiah yang disponsori oleh Maxim dan Pronas, dan mendapat hadiah tambahan dari Pak Eddy berupa produk Probio C.  Peserta yang belum mendapat juara pun mendapatkan hadiah sponsor dari Pronas. Gerai Pronas dan Maxim  tidak luput dari serbuan ibu-ibu karena memberikan diskon khusus dan hadiah menarik.

Setelah berfoto  bersama, acara ditutup dengan doa. Kegembiraan peringatan hari Kartini nyata dihati  yang hadir dan pulang dalam suka cita. Sukses Wanita Katolik Gabriel

Lusia Nurini / WK ranting Paulus.

 

Misa Syukur 19 Tahun KMKS Paroki Pulogebang

By Christine Lerin,

Komunitas Meditasi Kitab Suci (KMKS) Paroki Pulogebang merayakan ulang tahun ke-19 dengan misa syukur bersama Romo A. Susilo Wijoyo, Pr di kapel Gereja St. Gabriel Pulogebang,  rabu (13/2) malam. Misa ini dipersembahkan juga untuk ulang tahun Romo A. Susilo Wijoyo Pr yang ke-51. Dalam homilinya Romo berpesan, kita harus menjadi orang yang pandai bersyukur karenanya akan mudah bahagia, kita juga mempunyai tugas mewartakan perutusan agar umat juga ikut menerima kabar bahagia itu.

Ketua KMKS Paroki Pulogebang, Yohanes Rasul, mengenang Romo Frans Doy, Pr sebagai pendiri KMKS Paroki Pulogebang, walaupun sudah dipanggil Tuhan, tetapi teman-teman KMKS tetap setia dalam pelayanan doa dan meditasi hingga saat ini. KMKS juga menampilkan kesederhanaan dan kekeluargaan. Seperti dalam acara ramah tamah setelah misa syukur ini, panitia menyediakan sajian dari pedagang keliling di sekitaran gereja agar bisa berbagi berkat dengan mereka.

DenyKus