Features


Kartini Jaman Now Lomba Memasak Nasi Goreng

By Christine Lerin,

Kartini memberi kesempatan kepada Wanita Indonesia untuk menyatakan eksistensinya. Ukuran eksistensi wanita tidak hanya diukur dari kemampuan akademis atau pencapaian prestasi di dunia kerja,  Eksistensi  Wanita diukur jika melakukan segala sesuatu dengan penuh komitmen, tanggungjawab dan profesional,  itulah perwujudan dari cita-cita Kartini. Wanita Katolik RI  St. Gabriel – Pulo Gebang memperingati hari Kartini di halaman parkir Gedung Karya Pastoral Pulo Gebang, pada sabtu pagi tanggal 27 April  pukul 9, bekerjasama dengan Maxim dan Pronas mengadakan lomba memasak nasi goreng. Peserta yang dihadiri 100 anggota WKRI dan 20 ibu-ibu PKK Pulogebang dan Pulo Jahe berlangsung meriah penuh kegembiraan.  Peserta lomba adalah perwakilan dari 10 Ranting ,tiap ranting mengirim 2 peserta. Seluruh peserta dan tamu undangan  hadir  mengenakan berbagai macam baju kebaya modern.  Peserta hanya menyiapkan satu porsi nasi putih, isian pelengkap serta garnis . Alat masak dan bumbu disiapkan oleh Maxim dan Pronas.

Acara diawali  doa pembukaan dan menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini  kemudian  Henny Gunawan sebagai Ketua Cabang WKRI St. Gabriel memberikan sambutan. Menyempurnakan lomba ini panitia menghadirkan Chef Herry dari Maxim untuk memberikan contoh cara memasak dan menggunakan alat masak yang benar. Misalnya cara memasak ayam lada hitam dan cara merawat alat masak berbahan teflon yaitu setelah alat masak dicuci  dan kering, supaya dioleskan mentega dan minyak sebelum disimpan, hal ini supaya saat dipakai tetap licin.

Peserta lomba masak tampil seperti koki handal dengan mengenakan celemek, diberikan waktu 30 menit untuk menyelesaikan masakannya sampai dengan cara menyajikan ( misalnya dengan garnish dsb). Selama lomba berlangsung, para pendukung dan tamu undangan dihibur  music/ line dance bersama .

Juri lomba memasak nasi goreng ala Kartini jaman now ini dari berbagai kalangan yaitu  Ibu  Rita Agus dari kader PKK Pulo Gebang ( Seorang Muslim),  mbak Dina Perwakilan OMK, Bpk Edy Purnomo sebagai perwakilan Bapak-bapak. Berdasarkan keputusan Juri sebagai juara adalah ; juara I – nasi goreng mengkudu dari ranting Yakobus,  Juara II -Nasi goreng hijau Ndeso dari Ranting Elizabeth, Juara III -Nasi goreng udang Fantasi dari ranting Paulus. Ranting JGC mendapat juara harapan 1, Ranting FX juara harapan 2 dan Ranting Petrus juara harapan 3. Para pemenang mendapat hadiah yang disponsori oleh Maxim dan Pronas, dan mendapat hadiah tambahan dari Pak Eddy berupa produk Probio C.  Peserta yang belum mendapat juara pun mendapatkan hadiah sponsor dari Pronas. Gerai Pronas dan Maxim  tidak luput dari serbuan ibu-ibu karena memberikan diskon khusus dan hadiah menarik.

Setelah berfoto  bersama, acara ditutup dengan doa. Kegembiraan peringatan hari Kartini nyata dihati  yang hadir dan pulang dalam suka cita. Sukses Wanita Katolik Gabriel

Lusia Nurini / WK ranting Paulus.

 

Misa Syukur 19 Tahun KMKS Paroki Pulogebang

By Christine Lerin,

Komunitas Meditasi Kitab Suci (KMKS) Paroki Pulogebang merayakan ulang tahun ke-19 dengan misa syukur bersama Romo A. Susilo Wijoyo, Pr di kapel Gereja St. Gabriel Pulogebang,  rabu (13/2) malam. Misa ini dipersembahkan juga untuk ulang tahun Romo A. Susilo Wijoyo Pr yang ke-51. Dalam homilinya Romo berpesan, kita harus menjadi orang yang pandai bersyukur karenanya akan mudah bahagia, kita juga mempunyai tugas mewartakan perutusan agar umat juga ikut menerima kabar bahagia itu.

Ketua KMKS Paroki Pulogebang, Yohanes Rasul, mengenang Romo Frans Doy, Pr sebagai pendiri KMKS Paroki Pulogebang, walaupun sudah dipanggil Tuhan, tetapi teman-teman KMKS tetap setia dalam pelayanan doa dan meditasi hingga saat ini. KMKS juga menampilkan kesederhanaan dan kekeluargaan. Seperti dalam acara ramah tamah setelah misa syukur ini, panitia menyediakan sajian dari pedagang keliling di sekitaran gereja agar bisa berbagi berkat dengan mereka.

DenyKus

 

 

Marilah, Segala Sesuatu Telah Tersedia

By Christine Lerin,

Hari Doa Sedunia (HDS) merupakan suatu gerakan solidaritas yang menyatukan seluruh Perempuan Kristen di dunia untuk berkomitmen dalam doa dan tindakan di setiap Jumat pertama bulan Maret.  Abad 19 para perempuan Kristen di Amerika dan Kanada memulai gerakan ini,  kini gerakan HDS didukung oleh komunitas Kristen di 170 negara termasuk  Indonesia yang menjadi anak rantai melalui PGI pada tahun 1950

Tema dan buku panduan perayaan HDS disiapkan oleh Komite HDS dari negara yang berbeda setiap tahunnya. Pada tahun 2019, buku panduan tata ibadah disiapkan oleh Komite HDS Negara Slovenia dengan tema “Marilah, segala sesuatu telah tersedia” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Biro Perempuan dan Anak PGI.

BKSWKK (Badan Kerja Sama Wanita Kristen Katolik) se-Wilayah Timur 3 Jakarta turut mengambil bagian perayaan HDS 2019, dan mempercayakan Wanita Katolik RI Cabang Santo Gabriel-Pulogebang sebagai tuan rumah. Sabtu pagi, 30 Maret 2019 jam 10.00  perwakilan dari 8 gereja Kristen Katolik – yaitu PWKI Anak Cabang Pondok Kopi, GPIB Surya Kasih, GKI Buaran, GIPIB Menara Iman, GKPI Jatinegara, WKRI Cabang St. Gabriel, WKRI Cabang St. Anna-Duren Sawit, GKI Cipinang Elok dan 1 simpatisan dari GKI Marturia, mulai hadir memenuhi Kapel St. Gabriel.

Tuan rumah tampil meriah dengan busana (semirip mungkin) khas Slovenia, menyambut ramah kehadiran para tamu.  Tuan rumah menyajikan makanan khas Indonesia, sebagai bentuk kebanggaan dan bentuk syukur atas keaneka ragaman panganan di Indonesia.

Jam 10.00 ibadat dimulai dengan prosesi sambil membawa simbol-simbol menuju meja  yang telah ditutup dengan taplak bewarna putih, seperti halnya kebiasaan rumah-rumah di pedesaan Slovenia. Simbol yang dibawa berupa bendera Indonesia, bendera Slovenia, roti berbentuk salib, kendi berisi air, madu, garam, minuman anggur, buah anggur dan bunga Anyelir merah, kemudian dibacakan latar belakang Slovenia baik geografi maupun demografinya.  Sambutan selamat datang disampaikan oleh Ketua BKSWKK Wilayah Timur 3, Donna Nainggolan dari PWKI Anak Cabang Pondok Kopi, disusul sambutan oleh Ketua WKRI Cabang St. Gabriel, Heni Gunawan.

Dalam Ibadah ini diisi beberapa acara antara lain; paduan suara  bergantian menyanyikan lagu-lagu pujian perwakilan dari  8 gereja anggota BKSWKK Wilayah Timur 3, pembacaan kisah nyata dan pergulatannya  yang dibacakan oleh beberapa orang  yang berpakaian Negara Slovenia. Kisah yang dibacakan adalah hal-hal ;  diskriminasi, pengungsi, masalah buruh migran, kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan dan jaminan sosial, pengangguran, ketergantungan alkohol serta kekerasan rumah tangga.  Masalah yang umum dihadapi oleh kaum perempuan di belahan dunia yang lain.

Ibadah dilanjutkan dengan pembacaan Injil dari Lukas 14:15-24 yang menjadi dasar tema HDS 2019 oleh Pastur Aloysius Gunawan, Pr sebagai pastur pendamping WKRI St, Gabriel.

Dalam Khotbahnya  Pastur Gunawan menyampaikan bahwa Gereja Katolik juga memiliki Pekan Doa Sedunia yang di rayakan setiap tanggal 18-25 Januari sebagai tradisi perayaaan doa bersama bagi persatuan umat Kristiani.  Pastur Gunawan mengingatkan pentingnya ora et labora – doa dan karya pelayanan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Sebagai wujud cinta dan terimakasih kepada Tuhan yang telah menyelamatkan kita, maka kitapun wajib melakukan tindakan kasih untuk sesama.

Doa syukur didaraskan untuk mendoakan sekaligus menguatkan rakyat Slovenia agar tetap bersandar pada Tuhan, dan secara umum berdoa agar dengan kekuatan Tuhan kita mampu membangun relasi berdasarkan keadilan, perdamaian dan kasih. Sama seperti perumpaan yang diceritakan Yesus mengenai undangan makan malam yang dihadiri orang-orang yang dipanggil dari jalanan, Perempuan Slovenia mengajak umat Kristen Indonesia dan seluruh umat Kristiani di seluruh dunia untuk mengundang/menerima orang-orang yang terpinggirkan dan terabaikan serta dapatmembangun, menguatkan dan memperluas komunitas kita sebagai umat Kristiani.

Pada tahun-tahun berikutnya, Slovenia bertekad untuk terus mempromosikan HDS, membentuk kelompok-kelompok baru untuk pelayanan anak dan meningkatkan partisipasi perempuan muda. Sebagai tanda solidaritas, pengumpulan persembahan HDS akan diperuntukkan bagi Program Kemanusiaan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak di Negara Slovenia yang akan dikirimkan melalui Komisi International HDS.

Ibadah diakhiri dengan pengutusan dan berkat oleh Pastur Gunawan, dilanjutkan foto bersama dan ramah tamah.

Sampai jumpa di Zimbabwe, tuan rumah HDS 2020!

“Rise! Take your Mat and Walk”.

(Emil / WK  ranting Yakobus)

Urip Iku Kudu Urup

By Christine Lerin,

Urip iku kudu urup, urip iku kudu nguripi wong liyo” Ucapan dari Romo Susilo yang beliau ucapkan saat homili pada misa malam Paskah ke-2 Sabtu (20/04/19) yang lalu membekas sangat di hati dan pikiran saya. Sejalan dengan segala lambang yang berhubungan dengan kebangkitan Yesus, saya merasa hal ini sangat menginspirasi saya. Ucapan yang berasal dari bahasa Jawa tersebut mempunyai arti : Hidup itu harus menjadi terang/bermanfaat, hidup itu harus bisa memberi hidup/terang untuk orang lain. Melihat segala rangkaian peristiwa dari Mingu Palma sampai dengan Sabtu Suci saya melihat semua yang dilakukan dan diajarkan Yesus Kristus, Tuhan kita, sangat mencerminkan ungkapan tersebut.

Hidup Yesus menjadi terang bagi kita. Semua yang dilakukan Yesus semasa hidupNya memberikan banyak pengajaran dan pandangan baru yang menginspirasi kehidupan bangsa Yahudi pada saat itu, dan pada kenyataannya masih tetap relevan setelah kurun waktu 2000 tahun berlalu. Hal ini menginspirasi saya juga. Bagaimana membuat hidup saya menjadi terang dan terang itu juga bisa menghidupi orang lain lewat pekerjaan dan pelayanan saya di dalam kehidupan saya sehari-hari sebagai seorang guru.

Dalam perjalanan saya sebagai seorang guru, di awal-awal karir saya dimulai, mengajar buat saya adalah suatu pekerjaan di mana saya dapat menghasilkan materi untuk kehidupan saya sehari-hari. Semakin dikejar materi tersebut, memang hidup saya menjadi terang karena berhasil ‘memintarkan’ anak-anak didik saya, namun saya merasa ada sesuatu yang hilang. Di satu titik, Tuhan memberikan satu kesempatan kepada saya, membuka tidak hanya akal budi saya, namun juga mata hati saya, membawa suatu dimensi baru di dalam menjalani pengajaran dan pendidikan saya. Sejak saat itu pandangan saya berubah 180° dan hasilnya juga lebih dari yang saya bayangkan. Saat saya menambahkan unsur kasih yang tanpa batas, Tuhan mengembalikan berkali-kali lipat tidak terbatas hanya dalam bentuk materi, namun juga kepuasan batin, prestasi anak-anak didik saya, dan juga kasih berlipat ganda yang kembali kepada saya. Mencintai dulu daru dicintai, memahami dulu baru dipahami, mengampuni dulu baru diampuni, contoh Yesus sudah sangat jelas di dalam rangkaian peristiwa Paskah. Yesus memberi contoh bahwa dengan melayani dan mencintai lebih dulu, kita akan menjadi bangkit seperti Dia dan menjadi manusia baru. Yesus hidup bukan saja menjadi terang, namun hidup Yesus juga menerangi hidup orang lain. (dee_5217)

Memaknai Imlek dengan Belajar Memasak

By Christine Lerin,

Banyak orang atau komunitas setiap tahunnya selalu merayakan Tahun baru China atau Imlek dengan sukacita dan kegembiraan serta harapan baru yang lebih baik dibanding tahun  sebelumnya. Wanita Katolik RI ranting  St Yakobus yang berjarak 4 km  arah barat  dari Gereja St Gabriel Pulo Gebang,  juga ikut serta melestarikan Budaya Perayaan Imlek .  Anggota Ranting yang berjumlah 20 orang berlatar belakang dari berbagai daerah atau  budaya terlihat sangat kompak dan riang gembira di hari sabtu tanggal 16 Februari 2019 .  Mereka merayakan Imlek dengan caranya yang unik yaitu belajar membuat  makanan khas Palembang ; Tekwan dan  Es Kacang Merah. Mereka juga berharap tahun baru ini mempunyai harapan baru   untuk Ranting St Yakobus yaitu  lebih kompak, bersemangat  dan semua diberi kesehatan yang lebih  baik. Konon belajar memasak ini juga merupakan bagian dari program kerja Ranting tersebut.

Kegiatan memasak  dimulai pada jam 14.15  diawali dengan doa pembukaan bertempat di rumah Ibu Yana Kurniadi.  Tuan rumah  sekaligus yang menjadi pengajar memasak di siang hari itu, mengawalinya dengan memperkenalkan taste serta seluk beluk tekwan dan es kacang merah. Seperti  kelas  memasak di televisi, Yana Kurniadi  yang memiliki warisan darah palembang dari Ibunya ini memberikan rincian bahan, ukuran dan cara memasak tahap demi tahap dengan jelas dan terlihat sangat menguasai  materi dan cara membuat Tekwan dan Es Kacang Merah.   Semua bahan  dan alat telah disiapkan di meja makan; misalnya kompor kecil, panci, ikan tenggiri yang telah dihaluskan, tepung, bumbu, tak ketinggalan timbangan untuk menimbang tepung dan ikan. Bahan untuk es kacang merah sudah siap santap. Menurut pengajar, membuat es kacang merah haruslah kacang merah yang bagus, di rendam satu malam dan direbus lama.  Mereka saling bergantian membantu  mengaduk, menuang  air dan sebagainya,  sementara pengajar menerangkan langkah memasak, bagaimana teknik membuat kuah yang segar, memilih ikan sampai cara mengaduk adonan tekwan yang benar,   sebagian peserta lainnya sibuk memotret ada juga yang rajin mencatat.

Seluruh yang hadir antusias mendengarkan dan sangat memperhatikan tahapan dan teknik memasak.  Ada hal lucu yang dilakukan  para anggota Wanita Katolik yang sedang belajar memasak ini.  Ketika  bulatan bakso tekwan  baru matang beberapa bulatan,  salah satu ibu tidak sabar untuk segera mencicipi  tekwan dan  mengedarkan  bakso tekwan  yang belum ada kuahnya tersebut  untuk diicip keseluruh yang hadir, karena merasa enak,   ada ibu yang mengambil berulang kali, disambut dengan gelak tawa dan saling mengejek  bercanda menandakan sebuah keakraban dan riang gembira.

Meski kehadiran anggota pada siang hari itu tidak banyak, namun kegembiraan dan keakraban tanpa sekat sangat terasa di antara mereka meski satu sama lain memiliki umur yang bervariasi  jauh dan berasal dari beberapa lingkungan. Setelah seluruh proses memasak selesai,  dengan aroma kuah yang segar dan panas,  mereka bersama menikmati Tekwan dan Es Kacang Merah. Bagi yang suka pedas menambahkan sambal  dari cabai rawit hijau yang diulek halus. Puas menikmati hasil masakan sendiri dilanjutkan  foto bersama  dengan berbagai  ornamen Imlek, khususnya ornamen babi yang melambangkan tahun babi.

Sekitar pukul 16.15 ditutup doa Syukur dan tentu saja acara Plastikisasi ( meminjam istilah mereka) maksudnya adalah membawa makanan yang ada, menggunakan plastik untuk dibawa pulang. Selamat menikmati tahun baru China, hidup baru, semoga Wanita Katolik Ranting St Yakobus mempunyai semangat baru untuk tetap berkembang dan bergembira

Tuhan memberkati

Penulis Rita Suseno, Foto- Emil

Santo Fransiskus Xaverius Datang Menjemputnya, Pulang ke Rumah Bapa

By Ferdinand Lamak,

“Romo Frans Doy, Engkau tak kan hilang dalam kenang. Bagaimana Engkau menjadi teman seperjalanan umat dalam meditasi Kitab Suci. Yang sampai sekarang telah mencetak beberapa awam yang handal untuk menjadi pendamping sesama umat. Bagaimana Engkau menjadi teman seperjalanan umat dalam senam sehat jasmani dan rohani. Yang sampai sekarang rekaman audionya masih ada dan dipakai di berbagai kesempatan. Bagaimana Engkau dengan rendah hati, mau rendah hati untuk tinggal di pastoran Wisma Samadi yang menginspirasi terciptanya Wisma Unio Jakarta untuk para imam yang perlu “istirahat sejenak.” Yang sampai hari ini Engkau pergi ke rumah sakit dari sana untuk akhirnya “istirahat selamanya” di Rumah Bapa di Surga. Sudah banyak orang sakit dan terluka yang menjadi sembuh, tenang dan damai karena Engkau. Kini Engkau tidak merasakan sakit lagi, melainkan sembuh total. Terima kasih telah menjadi teman seperjalanan kami dan umat yang sederhana dan setia. Rm. Frans Doy, selamat beristirahat dalam damai.” – Romo Aloysius Susilo Wijoyo, Pr.

Pagi itu, sekira tigapuluhan umat, pagi-pagi sekali sudah hadir di dalam gereja Santo Fransikus Xaverius, Boawae, Nagekeo, Flores, NTT. Dalam misa harian pagi itu, umat juga merayakan pesta pelindung paroki dan gereja mereka, karena 3 Desember menjadi pesta orang kudus, Santo Fransiskus Xaverius. Beberapa jam kemudian, dari Jakarta datang kabar duka yang seketika merebak di kalangan umat paroki itu. Ame (romo atau bapa, dalam bahasa Nagekeo-red) Fransiskus Xaverius Talinau Doy, putera kelahiran Boawae, 3 Januari 1943 itu dipanggil Bapa, tepat satu bulan sebelum ia merayakan ulang tahun kelahirannya yang ke-76 tahun. Bukan sebuah kebetulan, iman Katolik meyakini jika ia telah dijemput oleh Santo Fransiskus Xaverius, santo pelindungnya, menuju rumah Bapa di Surga.

Dan, di Rumah Duka RS. Sint Carolus, tadi malam. Suasana duka yang sejak sehari sebelumnya menyelimuti hati dan wajah para pelayat, lebur dalam sukacita dan syukur. Instrumental Kasih yang Sempurna, mengalun lembut pada malam itu, dari saxophone yang ditiup oleh koleganya, Romo Rochadi, pun meleburkan rasa haru karena ditinggalkan, menjadi kepasrahan total kepada Sang empunya kehidupan. Ya, itu adalah sebuah lagu yang sering dinyanyikan oleh pria yang paling berbahagia malam itu.

Betapa tidak, bukan hanya persembahan instumental khusus dari koleganya, namun ia sungguh menjadi yubilaris, orang yang paling berbahagia pada malam tadi, karena perjalanannya pulang ke rumah bapa, didoakan dalam sebuah ekaristi yang dipimpin langsung oleh Bapa Uskup, Mgr. Ignatius Suharyo sebagai selebran utama didampingi konselebran yang jumlahnya mencapai belasan imam.

——–

Romo Frans Doy, demikian umat di Paroki Pulo Gebang menyapanya adalah seorang pribadi yang sangat dekat dengan umat yang pernah digembalakannya semasa menjadi pastor rekan di paroki ini, 1999-2013. Kecintaan umat kepadanya, demikian pula sebaliknya, dapat terlihat dari masing seringnya ia hadir melayani di beberapa kesempatan di paroki, maupun di kediaman umat.

Kesetiaan dan kerendahan hati romo yang satu ini, dilukiskan dalam berbagai jejak tapak kakinya yang masih terjaga baik dan terus berkembang di paroki ini, sebagaimana diungkapkan oleh Romo Susilo sesaat setelah mendapat kabar berpulangnya Romo Frans Doy.

Kepada media ini, ia mengatakan, “Romo Frans Doy, Engkau tak kan hilang dalam kenang. Bagaimana Engkau menjadi teman seperjalanan umat dalam meditasi Kitab Suci. Yang sampai sekarang telah mencetak beberapa awam yang handal untuk menjadi pendamping sesama umat. Bagaimana Engkau menjadi teman seperjalanan umat dalam senam sehat jasmani dan rohani. Yang sampai sekarang rekaman audionya masih ada dan dipakai di berbagai kesempatan. Bagaimana Engkau dengan rendah hati, mau rendah hati untuk tinggal di pastoran Wisma Samadi yang menginspirasi terciptanya Wisma Unio Jakarta untuk para imam yang perlu “istirahat sejenak.” Yang sampai hari ini Engkau pergi ke rumah sakit dari sana untuk akhirnya “istirahat selamanya” di Rumah Bapa di Surga. Sudah banyak orang sakit dan terluka yang menjadi sembuh, tenang dan damai karena Engkau. Kini Engkau tidak merasakan sakit lagi, melainkan sembuh total. Terima kasih telah menjadi teman seperjalanan kami dan umat yang sederhana dan setia. Rm. Frans Doy, selamat beristirahat dalam damai.”

Perjalanan panjang Romo Frans melayani umat di paroki ini menjadi kebersamaan yang panjang juga antara dirinya dengan sejumlah umat yang telah lama menjadi bagian dari paroki ini. Tidak sedikit kenangan yang berbekas dan menjadi legacy yang indah dari seorang Romo Frans bagi mereka.

Albertus Witjaksono, Wakil Ketua DPH Paroki Pulo Gebang adalah salah satunya. Kepada media ini, ia mengatakan, dirinya pertama kali mengenal Romo Frans sejak beliau ditugaskan oleh Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ., yang kala itu menjadi Uskup KAJ, menjadi pastor rekan di Paroki Pulo Gebang sekitar tahun  tahun 1999. “Kekhasan unik beliau adalah, selalu bersikap baik pada umat, dan selalu berkeinginan melayani seluruh umat, sehingga karena keunikan itu, jadi kadang-kadang lupa kalau sudah berjanji dengan umatnya.”

Pulangnya Romo Frans pun meninggalkan jejak yang terlukis indah di paroki ini. Witjaksono pun menambahkan, “Warna yang diberikan oleh beliau sebagai pastor rekan adalah bisa menempatkan diri bahwa beliau adalah pastor rekan sehingga karenanya kebijakan yang beliau ambil selalu seiring sejalan dengan pastor kepala paroki, siapapun itu pastor kepala parokinya. Dan, yang lebih menjadi warna khas beliau adalah, jika mendengar nama Romo Frans Doy, pasti akan langsung terbersit tentang meditasi dan penyembuhan melalui doa meditasi, dan sekarang di paroki kita hal ini sudah mulai senyap sepoi-sepoi,” ujarnya sambil mengingatkan.

Witjaksono masih sempat bertemu dan berkomunikasi dengan Romo Frans, ketika datang menjenguknya di rumah sakit. Ia bahkan tak tahu sakit apa yang dia derita sehingga harus dirawat. Romo yang humble, rendah hati, ramah dan selalu menyapa baik secara langsung bertemu maupun lewat media komunikasi utamanya ponsel, dan tidak segan untuk memuji umatnya jika umat tersebut menurut pandangan beliau adalah umat yang berusaha untuk menjaga dan mengembangkan paroki itu, hanya berkata ia hanya butuh istirahat karena faktor usia.

Bagi keluarga Witjaksono, ada kenangan, pemberian dari Romo Frans Doy yang hingga detik ini masih terawat dengan baik, yakni rumah ayam berwarna hijau yang ada di pelataran rumah mereka. Romo memberikan itu sebagai kenangan, ketika ia hendak meninggalkan paroki ini.

Lain lagi dengan Michael Anggita, Ketua Lingkungan Santo Paulus, Wilayah 6, Paroki Pulo Gebang. Romo Frans Doy baginya tak ubahnya seperti seorang ayah kandung. Anggit, demikian ia disapa mengaku sekira tiga tahun bekerja mendampingi sang romo dan itu adalah sebuah kehormatan besar baginya dan keluarganya.

“Disaat susah dan sedih, beliau menjadi tempat curahan hati yang dengan rendah hati mau mendengarkan keluh kesah semua umatnya. Disaat gembira beliau juga senantiasa berbagi, dan kembali lagi bukan untuk beliau sendiri atau keluarganya namun beliau bagikan bagi seluruh umatnya terutama yang membutuhkan.”

Masih segar dalam ingatan Anggit, kutipan Injil yang selalu didengungkan Romo Frans, “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma, (Mat: 1-: 8B).”

Berpijak pada kutipan Injil itulah, Romo Frans telah menjadi sosok sebagaimana yang dikenal oleh umat dan para koleganya sesama imam. Romo Frans sanggup merelakan waktunya ditengah malam sampai dini hari, hanya untuk mengunjungi umatnya yang sedang sakit di rumah sakit.

——–

Romo Frans Doy menempuh perjalanan imamatnya dalam sebuah proses yang tidak sama dengan kebanyakan imam lainnya. Ia memulai panggilan hidupnya dengan menjadi katekis awam yang taat, mengajarkan ajaran Kristus kepada sesama hingga akhirnya meretas jalan panggilannya menjadi imam di KAJ.

Bagi para pewarta media, pribadinya sewarna dan secorak dengan adiknya, almarhum Valens G. Doy, wartawan senior KOMPAS sekaligus guru bagi sejumlah jurnalis andal negeri ini, yang sudah lebih dulu menantinya di rumah Bapa. Sosok yang sederhana, penuh senyum dan ringan tangan untuk menolong sesama yang membutuhkan. Sang kakak, Romo Frans Doy sebagaimana testimoni sejumlah imam diosesan KAJ, memiliki kepribadian yang menjadi kenangan indah bagi siapa saja yang mengenalnya dari dekat, terlebih mereka yang merasakan langsung sentuhan tangannya sebagai gembala.

Romo Frans Doy dithabiskan dalam sebuah kemeriahan di Balai Sidang Senayan Jakarta pada 15 Agustus 1986 oleh Alm. Mgr. Leo Soekoto, SJ. Dan, Senin 3 Desember kemarin, ia dijemput oleh santo pelindungnya dalam kemeriahan perayaan Pesta Santo Fransiskus Xaverius. Selamat Pulang Ame…… (Penulis: Ferdinand Lamak, Kontributor: Denny Kus)

Baksos WKRI Cabang Santo Gabriel Menyambut Hari Pangan Sedunia

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Pagi itu, di ruangan bernuansa hijau, Posyandu Permata Bunda I yang ukurannya tidak terlalu besar itu, terdengar riuh suara anak-anak. Posyandu yang terletak di kantor RW,pada hari Sabtu, 6 Oktober 2018 itu, mendapat kunjungan dari Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang St. Gabriel. Para anggota WK datang ke posyandu itu untuk memberikan Pelayanan Peningkatan Gizi Balita, dalam rangka menyambut hari pangan sedunia. Bekerjasama dengan PSE (PengembanganSosial Ekonomi) Paroki Pulo Gebang, anggota WKRI dari cabang maupun ranting, melebur bersama dengan anak-anak balita berumur 12 – 58 bulan di tempat itu.

Posyandu yang terletak di Pulo Jahe RW 14, Jatinegara, Cakung, Jakarta Timur ini menjadi pilihan WKRI Cabang St. Gabriel untuk melakukan kegiatan ini. Tempat ini menjadi tujuan pelayanan mengingat masih banyak balita yang membutuhkan perhatian khusus. Pelayanan yang dimulai jam 8 pagi sampai jam 9.30 ini menyasar Balita Garis Merah (BGM) atau Balita Garis Kuning (BGK).

Asal tahu saja, BGM dan BGK adalah balita yang mempunyai berat badan di bawah rata-rata atau mengalami gizi buruk sebagaimana standar KMS (Kartu Menuju Sehat). Pelayanan di Pulo Jahe ini dilakukan setiap Sabtu selama 4 kali, di mulai pada 6 Oktober dan akan berakhir pada 27 oktober

Dari data yang ditemukan terdapat 22 anak yang termasuk dalam kategori tersebut. Anak-anak inilah yang mendapatkan bantuan. Terdapat tiga macam bantuan yang diberikan yaitu pemeriksaan dokter yang dilakukan oleh dokter-dokter dari PSE yaitu dr. Willy dan dr. Stella. Kedua, memberikan makanan 4 sehat yang menunya bergantian setiap minggunya; seperti bubur sumsum, buah, bubur kacang hijau, nasi sup + perkedel/ nuget, buah dan agar-agar. Ketiga, memberikan 1 dus susu 400gr, biskuit dan vitamin. Kebutuhan untuk bakti sosial ini sebagian besar dananya bersumber dari PSE dengan T. Iwan Darmawan sebagai ketua seksinya. Sebagian lagi dananya berasal dari WKRI cabang  dan ranting serta  donatur individu.

Berbagi keceriaan  dengan anak-anak dan mendengarkan keluhan para orangtua menjadi kesan tersendiri bagi anggota WK dalam pelayanan tersebut. Dengan didampingi oleh Setyorini dan Kuswarini sebagai pengurus Posyandu Permata Bunda I, pelayanan ini berjalan dengan lancar dan menyenangkan dari awal hingga selesai. Semoga pelayanan ini menjadi bermanfaat untuk masyarakat Pulo Jahe. (Penulis dan Foto: Rita, Editor: Ferdinand Lamak)

Legio Maria dan Umat Lingkungan Alfonsus, Novena dan Rosario 7 Dukacita Maria

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Malam tadi, seperti malam-malam sebelumnya di lingkungan kami, Lingkungan Alfonsus di Wilayah II, yang berada di Blok H, Pulo Gebang Permai. Di salah satu rumah warga, beberapa umat sudah mulai berdatangan, ketika tiga wajah baru yang bukan warga lingkungan kami melangkah masuk ke dalam kediaman Lukas – Wiwi di Blok H13/24. Ya, malam tadi kami berkumpul di rumah itu untuk berdoa rosario, malam ke-12 sekaligus novena Tiga Salam Maria yang memasuki malam ke-5 sejak dimulai pada 8 Oktober silam.

“Selamat malam,” sapa ketiga tamu itu disambut beberapa wajah yang agak kaget karena tak menyangka ada kunjungan dari para pengurus Legio Mariae Paroki Pulo Gebang.

Markus Orong dan Pasutri Heri-Susan pun ramah disalami belasan umat yang sudah hadir. Sambil menunggu kehadiran umat yang lain, obrolan ringan pun mengalir. Asal tahu saja, ini kali kedua Legio Mariae paroki hadir secara khusus ke lingkungan kami. Pertama kali, terjadi pada 2016 saat kami melakukan rosario pula.

Tak berapa lama, berdatanganlah umat mulai dari oma-opa, dewasa hingga anak-anak dengan rosario di tangan mereka. Sebagaimana kebiasaan, satu persatu mereka menyalami umat yang sudah lebih dulu hadir, juga tiga orang tamu kami ini. Tepat jam 19.50, sebagaimana malam-malam yang lalu, kami memulai rosario Tujuh Dukacita Bunda Maria.

——- ——

Rosario Tujuh Dukacita Maria mulai kami perkenalkan di lingkungan ini sejak Mei 2017 sebagai pengganti dari peristiwa dukacita pada rosario lima peristiwa yang didaraskan pada setiap Selasa dan Jumat. Doa ini mengantarkan umat untuk merenungkan tujuh peristiwa duka yang dialami Santa Perawan ketika mendampingi Sang Putera sedari bayi hingga dimakamkan.

Ketika pertama kali diperkenalkan, sejumlah umat bahkan meminta buku panduan yang diterbitkan oleh pengurus lingkungan untuk digandakan sendiri, lantaran mereka ingin mendoakannya secara pribadi di rumah masing-masing. Bahkan ada yang berinisiatif untuk mencari dan membeli rosario-nya yang berbeda dengan rosario lima peristiwa.

Malam tadi, saya memimpin sendiri ibadat rosario dan novena ini. Jika malam-malam sebelumnya kehadiran pernah mencapai 43 orang dan tidak pernah kurang dari 23 orang, malam tadi kami, ber-28 orang ditambah 3 tamu, khusyuk dalam suasana doa dan larut dalam narasi yang menggambarkan kedukaan Bunda Maria. Seluruh umat pun secara bergantian mengangkat doa Salam Maria yang diulang sebanyak tujuh kali, pada tujuh peristiwa dukacita itu.

——- ——

Lingkungan Alfonsus hanyalah satu bagian dari paroki ini. Namun kesungguhan dan kesadaran umat akan pentingnya devosi kepada Bunda Maria dalam tiga tahun terakhir ini sudah menunjukkan kemajuan yang baik. Jika sebelumnya, sebagaimana jamak dilakukan di banyak lingkungan lain, rosario hanya dilakukan selama 9 kali dengan mengacu pada novena yang disatukan dengan rosario, sejak Oktober 2016 umat di lingkungan ini menjalankan rosario selama sebulan penuh, baik di Oktober maupun Mei.

Tak hanya rosario sebulan penuh, petugas ibadat yang tadinya hanya itu-itu saja lantaran tidak banyak yang berani memimpin doa, kini digilir dan lebih dari 50% umat sudah berani untuk memimpin doa, baik orang tua maupun anak-anak. Ada juga yang bertugas membacakan ujud, membawakan bacaan Injil dan renungan harian yang diambil dari Buku Inspirasi Batin.

Dorongan dan ajakan bahkan mungkin ada yang memulainya dengan terpaksa, tetapi perlahan-lahan semua mulai terbiasa. Dan setiap menjelang akhir bulan Oktober dan Mei, umat justru merindukan suasana rosario saban malam seperti malam-malam yang sudah lewat.

Sebetulnya alasan utama mengapa di lingkungan ini rosario dilakukan sebulan penuh, sederhana saja. Sebagai ketua lingkungan, ada mimpi untuk melihat semua umat terlibat, setidaknya menampakkan wajahnya dalam kegiatan lingkungan. Jika tidak bisa setiap kegiatan, minimal sekali dua kali mereka hadir. Melalui kesepakatan bersama umat, metode ini pun dilakukan agar setiap kepala keluarga menyediakan rumah mereka untuk berdoa bersama umat. Alhasil, 30 hingga 31 KK dengan sukacita memilih tanggal sesuai kesediaan mereka.

Memang, tidak semua warga kebagian ketempatan namun kami mengaturnya agar rumah-rumah yang sudah kebagian pendalaman iman pada bulan lalu, kali ini tidak mendapatkan bagian ketempatan.

—— ——-

Rosario dan novena malam tadi pun berakhir sekira jam 21.00 lewat sedikit. Usai mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah dan para petugas ibadat, saya pun meminta waktu sebentar kepada umat untuk mendengarkan beberapa sharing dari Tim Legio Mariae.

Markus Orong menyampaikan sedikit tentang perkembangan terkini dari Legio Mariae yang tadinya hanya terdiri dari dua presidium, kini akan menjadi lima presidium. Ia juga memperkenalkan sekitar 8 orang warga lingkungan ini yang tergabung dalam Legio Mariae.

“Terima kasih karena kami boleh diterima di tempat ini dan kami senang melihat semangat umat di lingkungan ini yang bersedia meluangkan waktu setiap malam sekitar lebih dari 1 jam untuk berdoa bersama dengan jumlah yang sebanyak ini.”

Setelah Orong, Susan pun membagian sedikit pengalaman rohani yang dia alami tentang kekuatan devosional kepada Bunda Maria. Ia pun mengimbau agar kesungguhan dalam berdoa, pengorbanan waktu dan tenaga yang diberikan untuk mengisi Bulan Maria dan Bulan Rosario ini akan menjadi lebih sempurna jika teladan Ibu Maria diejawantahkan dalam kehidupan umat sehari-hari.

Pertemuan kami berakhir dengan foto-foto bersama meski beberapa umat pamit lebih awal untuk urusan masing-masing mereka.

Masih ada 18 hari kedepan dan lingkungan ini terbuka bagi umat dari lingkungan tetangga yang ingin hadir dalam doa rasorio yang selalu ada setiap malamnya. Semoga kisah ini dapat menginspirasi kita semua. (Penulis: Ferdinand Lamak, Ketua Lingkungan Santo Alfonsus, Wilayah II)

 

 

 

HP Suci, Fenomena Umat Kekinian

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Suatu hari, ketika aku mengikuti ibadat penghiburan di sebuah rumah duka,  seorang Pendeta muda memberikan kotbah didepan umat yang hadir sambil memegang iPad di tangan kirinya dan mike di tangan kanannya. Lalu beliau berkata: ”Mari saudara-saudaraku terkasih, kita buka dan baca bersama-sama firman Tuhan dari Yohanes 14, ayat 2 dan 3..”,  seketika semua umat yang hadir dalam ibadat tersebut, memegang handphone mereka, sibuk mengetik dan mencari ayat yang diminta, lalu kemudian secara bersama-sama membaca ayat-ayat yang tertera di layar handphone sesuai instruksi sang Pendeta. Beberapa orang terlihat mengecek pesan whats app mereka setelah selesai membaca firman …hehe…mungkin mumpung sekalian lagi buka handphone.

Pemandangan seperti cerita diatas, adalah pemandangan umum yang sudah biasa aku lihat, dalam setiap kegiatan rohani jaman now. Mau tidak mau, suka tidak suka, kemajuan teknologi melalui alat canggih yang bernama handphone tampaknya mulai membawa dampak kedalam kehidupan rohani kita.

Aplikasi-aplikasi rohani dengan mudah dapat ditemukan dalam gadget yang ada ditangan kita. Dengan hati yang entah kenapa terasa tidak nyaman melihat fenomena “baca firman lewat Hp” yang kian umum dilakukan dalam kegiatan rohani maupun ibadat dan dianggap sudah biasa dan wajar karena jaman sudah canggih. Aku pernah bahas dengan seorang teman tentang hal ini, pertanyaan yang mengganjal dalam hatiku yang aku kemukakan adalah : “Kayaknya kok ga etis ya baca firman dari handphone ,bukan dari kitab suci, dalam suatu kegiatan rohani dan ibadat , memangnya sama dan diperbolehkan gereja?” temanku menjawab : “Sama aja, lebih praktis, ga usah berat-berat bawa alkitab, diperbolehkan kok sama gereja, buktinya ada tuh ekatolik , gereja yang bikin, tinggal kamu download aja di playstore, yang penting kita imani”.

Dan karena keingintahuanku, aku mendownload ekatolik tersebut, dan memang semuanya lengkap , banyak pilihan menu, apa saja ada…mau perjanjian lama, perjanjian baru, renungan, doa-doa, komplit deh pokoknya. So, kenyataannya kecanggihan rohani mengikuti kecanggihan teknologi…..turut serta membenahi  diri dalam tuntutan dinamika perkembangan zaman yang bergerak begitu cepat dan moderen.

Semua perubahan itu tentu saja akan membawa pengaruh pula pada  sikap-sikap dan keputusan-keputusan rohani kita, sebagai contoh: ketika ketua di salah satu grup rohaniku punya usul ingin menyumbang 50 buah kitab suci dan puji syukur untuk dikirim  ke sebuah gereja di daerah yang agak terpencil …hampir semua anggota grup tidak setuju….dengan argumen buat apa alkitab dan puji syukur, semua sekarang bisa dilihat lewat hp, lewat internet, jadi cuma buang-buang uang, mending nyumbang  yang lain.

OMG…Oh My God….hal-hal seperti ini sering membuat aku galau, apa sekarang Tuhan pindah ke hp? Ga ada lagi di kitab suci? Aku galau karena mungkin aku termasuk jadul, susah move on dari kebiasaan lama yang sudah kukenal berpuluh-puluh tahun selama menjadi katolik…tetap saja senengnya bawa-bawa alkitab, yang rasanya sekarang sering aku malah kelihatan ribet dan jadul. Saat aku sibuk  buka-buka lembaran alkitab mencari ayat yang disebutkan, sedangkan sebelahku dalam hitungan detik sudah menemukan ayat tersebut hanya dengan membuka ekatolik di hpnya lalu melirik kearahku dan nyeletuk, ”Kelamaan kamu, ga praktis sih, ngapain bawa-bawa alkitab, berat-beratin ajah!”……pembelaan diri dibenakku adalah : kitab itu buku, aku kutu buku makanya seneng bawa alkitab…aku bukan virus hp….jadi sampai kapanpun aku lebih suka kitab suci ketibang hp suci (tentu saja omongan pembelaan diri ini cuma aku dan Tuhan yang  tau hehe).

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi, tentu juga punya dampak positif, contoh salah satunya adalah melalui forwarded messages dengan mudah kita semua menerima renungan-renungan rohani beserta ayat firman Tuhan yang menyertai,  memang merupakan siraman rohani yang membuat kita yang membacanya menjadi merenung, meresapi dan memberi kekuatan. Aku pribadi juga merasakan manfaat dari aplikasi rohani di hpku…ketika jam-jam doa angelus tiba, alarm di hpku berbunyi  dan aku langsung membuka hpku, dan berdoa Malaikat Tuhan yang ada di aplikasi ekatolik….dan kalau harus pergi keluar kota atau keluar negri, aplikasi ini sangat membantuku untuk tetap berdoa dan membaca firman.

Salah satu forwarded message yang aku baca di grup whatsapp SMPku menguatkan keprihatinan dalam hatiku dalam melihat fenomena rohani jaman now ini bahwa aku tidak galau sendirian.  Berikut adalah renungan tersebut : “TOLONG BANTU ALKITAB YANG AKAN MENJADI EXTINCTION ( KEPUNAHAN )…Tahukah anda, bahwa alkitab tidak dapat dilihat dimana saja dalam 50 tahun mendatang jika tidak ada yang dilakukan untuk menyelamatkannya. Tahukah anda,bahwa setan menggunakan teknologi baru untuk menghapus alkitab dari toko-toko buku, rak buku , gereja dan orang-orang kristen. Dan orang-orang kristen membantu setan mencapai hal itu tanpa sepengetahuan mereka? Ketika para pelayan Tuhan berkhotbah dari laptop mereka, iPad dan handphone, tanpa membawa alkitab lagi, bukannya dari alkitab lagi, mereka secara tidak sengaja mendorong para anggota mereka untuk datang ke kebaktian gereja dengan  handphone mereka, bukan membawa alkitab mereka lagi. Sementara kelompok agama lainnya bekerja keras untuk melestarikan buku-buku agama mereka, orang-orang kristen bekerja keras untuk menghapus kitab suci…alkitab…dari hardcopy ke softcopy untuk kenyamanan mereka. Jika orang kristen melanjutkan sikap ini, maka alkitab akan kurang dijual dan secara bertahap penerbit akan menghentikan produksi alkitab. Teknologi telah menghasilkan banyak hal saat ini. Dimana TV hitam dan putih? Obor bertenaga baterai secara bertahap dihapus karena sudah ada obor yang dapat diisi ulang.  Tolong jangan biarkan kitab suci mengalami nasib yang sama. Masih ada kitab di surga (wahyu 20:12). Mari kita pergi ke kebaktian gereja dan persekutuan kita dengan alkitab kita. Jika pemberitaan dari Kitab suci adalah kuno dan memberatkan, marilah kita terus berkotbah darinya demi Kristus dan untuk melestarikan kitab suci. Jika pergi ke kebaktian gereja dengan alkitab adalah beban, ingatlah Yesus membawa beban yang lebih besar untuk anda. Anda dapat menggunakan iPad dan handphone saat membaca alkitab secara pribadi dirumah  untuk kenyamanan anda, tapi tolong selamatkan alkitab dari kepunahan dengan membawa  BUKU KITAB SUCI ke gereja dan persekutuan. Jika anda setuju dengan tulisan ini, tolong kirimkan pesan ini kepada semua orang kristen dan anak-anak Tuhan yang anda kenal”.

Siapapun yang menulis text message ini,  orang tersebut sama prihatinnya dan galaunya dengan aku….memang akan seperti itu, kitab suci terancam punah didunia. Teringat apa yang dikatakan anakku dan temanku ketika aku membeli dua buah alkitab yang  berukuran sedang di Gramedia untuk kubawa-bawa, karena sekarang aku hanya punya ukuran besar. Mereka berkomentar dengan heran: ”Hah, ngapain beli alkitab? kan udah ada semua di handphone”.  Patut kita renungkan bersama pesan yang di forward tersebut menjadi keprihatinan kita. Bersyukur aku sebagai orang katolik tidak membawa alkitab setiap misa ke gereja, karena aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau satu gereja semua umat, Imam serta  lektor/lektrisnya memegang handphone lalu ketika selesai membaca firman Tuhan mengangkat handphonenya dan berkata : ”Demikianlah sabda Tuhan….” atau ketika lektor/lektris tidak bisa lagi berkata: “Bacaan pertama diambil dari kitab kejadian bab etc…..”, tapi diganti menjadi: “bacaan pertama diambil dari ekatolik menu alkitab perjanjian lama etc…..”. Ngeri  ya ngebayanginnya, dan betapa menyedihkan kalau sampai nanti terjadi.

Kalau saja saudara seiman kita dari gereja Kristen sudah mulai alert atau waspada melihat fenomena “hp suci”….mereka dapat melihatnya lebih cepat karena membawa alkitab adalah ritual wajib setiap kegereja dan pengkotbah mereka juga membawa alkitab dalam memberikan kotbah untuk mengajak umat membuka dan membaca firman…maka aku berharap kita sebagai umat Katolik juga mulai aware atau sadar, fenomena “hp suci” tersebut belum sampai masuk ke gereja, namun  sudah masuk ke persekutan doa, pendalaman iman dan kegiatan rohani umat serta ke dalam persepsi pikiran umat bahwa semua itu sudah seharusnya terjadi karena teknologi semakin canggih dan sekarang jaman digital jadi tidak mengherankan kalau  kitab suci tidak  berbentuk kitab lagi.

Pertanyaanku adalah: Apa Tuhan ikut canggih dari kitab pindah ke hp? Apa hp itu jadi suci karena banyak aplikasi rohani didalamnya berdampingan dengan aplikasi duniawi yang menyesatkan lainnya? Apa benar sah-sah aja baca firman Tuhan lewat hp asal kita imani dan amini? Apa Tuhan pun maklum dan mengerti karena kecanggihan teknologi, dan perkembangan jaman, kitab suci akan berubah menjadi hp suci?. Semoga ini adalah PR ( pekerjaan rumah ) kita bersama sebagai umat katolik, mari selamatkan alkitab, kitab suci dimana saat kita membuka dan membacanya ,hanya kebenaran firman Tuhan dan kehadiran Tuhan yang kita lihat, tidak ada yang lain. God Bless us. (Penulis: Limut/ Triesly Wigati)

Sejuta Mawar untuk Bunda Maria

By Ferdinand Lamak,

CILINCING – October is coming! Bulan yang dinantikan oleh umat Katolik selain Mei, dua bulan itu dirayakan sebagai Bulan Maria, dua bulan yang khusus didedikasikan bagi devosi kepada Bunda Maria baik secara pribadi maupun bersama lingkungan dan paroki.  Pembukaan bulan Maria ini, ditandai dengan misa yang diadakan di semua paroki pada tanggal 30 september 2018, yang kebetulan jatuh pada hari minggu, termasuk di Paroki Cilincing, Misa pembukaan bulan Maria di Gereja Salib Suci, mengusung tema yang cantik yaitu Malam Persembahan Sejuta Mawar.

Melalui 3 macam kupon yang diedarkan ke paroki-paroki lain, termasuk ke Paroki St Gabriel Pulo Gebang, umat bisa membeli bunga mawar melalui kupon ini . Kupon A untuk 1 tangkai  mawar, kupon B untuk 10 tangkai dan kupon C untuk 20 tangkai mawar, dan dibalik kupon umat bisa menuliskan semua ujud doa yang diinginkan. Maka tidak heran kalau ada umat paroki Pulo gebang yang menghadiri misa pembukaan bulan Maria pada hari itu di Gereja Salib Suci, termasuk saya dan keluarga.

Acara ini baru pertama kalinya diadakan di Gereja Salib Suci,  dan merupakan  salah satu kegiatan dalam rangka pencarian dana untuk pembangunan gedung karya pastoral  yang sedang dibangun. Pada bulan Oktober ini, panitia pembangunan GKP mengadakan acara ini sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih  kepada Bunda Maria sekaligus membantu pembangunan gedung karya pastoral di Paroki Cilincing, lewat penjualan kupon.

Penukaran kupon dengan bunga mawar dimulai sejak pukul 16.30 di depan pintu masuk gereja, bunga mawar asli diberikan sebanyak kupon yang dibeli dan kemudian  kupon diambil panitia agar ujud-ujud doa yang telah ditulisi oleh umat bisa dikumpulkan untuk kemudian dibakar di gua Maria setelah ritual perarakan patung setelah misa nanti. Gedung GKP yang terletak didepan gedung gereja memang terlihat sedang dalam proses pembangunan. Umat  yang tidak bisa hadir namun ikut membeli kupon, bisa menitipkan kuponnya kepada yang lain atau kepada panitia jika kenal, sehingga ujud-ujud doa yang telah dituliskan tetap bisa di persembahkan bersama bunga mawar mereka.

Misa konselebrasi yang dimulai pada pukul 18.00, dibawakan oleh 6 orang pastor yaitu : Romo Canisius Sigit Tridrianto, CM (Pastor Paroki Cilincing), Romo Alexius Dwi Widiatna, CM., Romo E. Prasetyono, CM., Romo Didit Soepartono Pr dan Romo Jost Kokoh Pr.

Homili dibawakan oleh Romo Kokoh dan Romo Pras dengan gaya interaktif yang melibatkan umat. Be happy, be healthy and be holy, inti kotbah kedua romo tersebut. Seru dengan gerak dan pantun, terasa begitu meriah dan semarak ditambah banyaknya bunga mawar cantik yang dipegang oleh masing-masing umat saat misa untuk nantinya diberkati dengan percikan air suci oleh ke enam romo yang hadir sebelum dipersembahkan kepada Bunda Maria di gua.

Setelah misa selesai, dimulailah perarakan patung Bunda Maria mengikuti  rute jalan salib mengelilingi gereja dengan iringan doa rosario, umat dengan rapih dan tertib sambil memegang lilin dan bunga mawar masing-msing mengikuti perarakan yang berakhir di gua Maria dimana patung yang dibawa selama perarakan di letakkan di tempat yang telah disediakan. Lalu dengan berbaris, bergantian umat meletakkan bunga bunga mawar yang dipersembahkan kepada Bunda Maria dengan meletakkannya secara rapih memenuhi gua Maria, menyalakan lilin dan berdoa. Rangkaian acara ini berakhir sekitar pukul 21.00 wib.

Kuletakkan bunga mawarku dihadapan Bunda tercinta dan  dalam hening aku memejamkan mata, mengatupkan tangan…mempersembahkan semua ujud doa yang telah kami haturkan kepada Bunda Penolong, Ratu Rosari dan Bunda Pelindung Kami. Sejuta mawar buat bunda, sejuta harapan, sejuta doa dari kami anak-anakMu….semoga lewat perantaraan Bunda , putraNya yang terkasih Tuhan kami Yesus Kristus sudi mendengar dan mengabulkan doa-doa kami.

Mari kita  memasuki bulan Maria mulai tanggal 01 Oktober ini, dan selamat berdevosi sebulan penuh kepada Bunda Maria dengan berdoa rosario, novena dan berziarah ke Gua Maria sebagai wujud syukur, terima kasih dan cinta kita kepada Bunda Maria , Bunda kita semua.

Bunda Maria, Bunga Mawar yang Gaib, semoga Bunda menerima persembahan kami malam ini, malam yang penuh bunga mawar cantik berwarna warni untuk menyenangkan hati Bunda. Santa Bunda Allah, doakanlah kami agar kami pantas menerima janji Kristus, Amin. (Penulis dan Foto: Limut, Editor: Ferdinand Lamak)