Features


Damainya Suasana Ramadan dan Perayaan Lebaran di Vatikan

By Ferdinand Lamak,

Merayakan Idul Fitri di Indonesia, tentu saja berbeda dengan mereka yang merayakannya di negeri yang tidak banyak umat Islam. Jangankan di negara yang berbeda, suasana Idul Fitri  pada kota-kota besar di Jawa tentu saja berbeda dengan kota-kota seperti Jayapura, Manado, Kupang dan Denpasar. Kendati demikian, bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa hingga merayakan Hari Raya Idul Fitri selalu dihormati. Seperti yang terjadi di Vatikan, negara kecil yang dikenal sebagai pusat Agama Katolik di dunia itu.

Memang, Duta Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan kali ini adalah seorang Katolik. Antonius Agus Sriyono, alumnnus Kolese De Britto tahun 1975 ini, memiliki dua orang staf beragama Islam di KBRI Vatikan. Dubes sebelumnya, Budiarman Bahar, bertugas sejak Desember 2011 sebelum ia digantikan oleh Sriyono, yang dilantik pada Januari 2016 silam.

Bahar sebagaimana dikutip dari UCANews, mengatakan tidak ada yang berbeda dari Ramadan di Indonesia dan Vatikan. Sekalipun ia berada di negara pusat Katolik dunia, umat Islam disana bebas menjalankan ibadah puasa dan marayakan Idul Fitri sebagaimana di Indonesia.

”Meski di sini umat Islam termasuk minoritas, kami bebas beribadah. Tidak ada larangan apa-apa. Bahkan, kami dihormati,” ujarnya.

Ia bersama staf di KBRI serta para duta besar dan staf kedubes dari negara-negara Islam seperti Iran, Mesir, Lybia sungguh merasakan bagaimana Ramadan dan Idul Fitri mereka dihormati oleh penduduk di Vatikan yang hampir 100% beragama Katolik.

Moschea di Roma, Masjid di Kota Roma (Foto: Wikipedia)

KBRI Vatikan sendiri menaungi para pastor, suster dan bruder asal Indonesia yang bertugas di Vatikan, di gereja-gereja dan biara-biara baik di Vatikan maupun di sekitarnya.

Lantas bagaimana tradisi buka puasa bersama atau halal bihalal dilakukan di Vatikan dalam lingkup KBRI? Bahar pun berkisah, tradisi ini pun tetap dilakukan sekalipun mayoritas yang hadir adalah para pastor, suster dan bruder.

”Itulah toleransi antarumat beragama yang konkrit. Mereka (pastor dan suster) akan datang bila diundang dalam acara-acara tradisi umat Islam itu. Seperti halnya bila mereka datang untuk acara sosialisasi pemilu atau perayaan hari kemerdekaan RI,” papar Bahar.

”Saat buka bersama ditutup dengan doa secara Islam, mereka ikut dengan khusyuk berdoa dengan cara mereka sendiri,” imbuhnya.

Yang tidak dapat dirasakan oleh pria Minang ini di Vatikan adalah, bagaimana bunyi suara tiang listrik yang dipukul saban dinihari untuk membangunkan orang yang hendak sahur. Juga merdunya suara adzan yang bersahut-sahutan dari masjid-masjid yang ada di Indonesia.

Asal tahu saja, di Vatikan, umat Islam disana memiliki satu masjid yang disebut Moschea di Roma atau Masjid Roma. Masjid ini dibangun secara berpatungan oleh sejumlah negara, termasuk Indonesia. Ada 23 negara totalnya. Masjid ini dibangun diatas lahan yang cukup luas, sekira 3 hektar luasnya.

Di dalam masjid inilah, umat Islam pun menjalankan ibadah mereka selama Ramadhan kemarin hingga Idul Fitri pada hari ini. Semuanya berjalan dalam suasana penuh kedamaian dan kerukunan.

Tahun ini, kepada umat Islam di seluruh dunia, Dewan Kepausan Vatikan untuk Dialog Antaragama (PCID) menyampaikan pesan Ramadan dan Idul Fitri 1440 Hijriah. Vatikan berharap momentum Ramadan dan Idul Fitri bisa menjadi perekat persaudaraan dengan umat Kristiani. Dewan kepausan juga meminta kepada umat Kristen dan Islam di seluruh dunia untuk mempromosikan budaya dialog.

“Vatikan menyerukan kepada umat Kristen dan Islam di seluruh dunia untuk mempromosikan persaudaraan dan keharmonisan dengan membangun jembatan persahabatan serta mempromosikan budaya dialog di mana kekerasan ditolak dan kemanusiaan lebih dihormati,” bunyi pernyataan seperti dilaporkan Vatikan News.

Sementara itu, khusus untuk masyarakat Indonesia Anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, Pater Markus Solo Kewuta, SVD menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri secara khusus. “Semoga damai sejahtera menyertai kita semua. Perayaan ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperat persaudaraan dan kebersamaan sebagai sesama warga bangsa.”

Tidak hanya itu, Dubes Antonius Agus Sriyono bersama sejumlah biarawan-biarawati dari Indonesia dalam sebuah orkestra sederhana pun menyampaikan ucapan Selamat Lebaran dalam nada dan lagu sebagaimana yang dapat disaksikan pada link youtube berikut ini: https://www.youtube.com/watch?v=igaXuCJ4tx0&pbjreload=10

Vatikan dan warganya telah menunjukkan bagaimana penghargaan terhadap umat Islam yang menjalankan ibadah agamanya. Semoga Indonesia, negara dengan ragam agama dan suku ini tetap damai dalam perbedaan dan saling menghormati satu sama lain. Selamat Hari Lebaran, Minal Aidin Wal Faizin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. (FL)

 

 

 

 

One Day Trip To BSP Farm

By Christine Lerin,

Tanggal 19 Mei  2019 hari Minggu pagi pukul 06.00 rombongan yang terdiri dari 9 orang pengurus SKP berangkat dari halaman Gereja St Gabriel Pulo Gebang  menuju  BSP Farm  Cigombong – Bogor.

SKP ( Seksi Keadilan dan Perdamaian)  dibentuk oleh KAJ ( Keuskupan Agung Jakarta) pada tahun 2016 dan dibentuk  Dewan Paroki Pulo Gebang pada tahun 2017.  SKP bertujuan untuk  mengajak umat / manusia  cinta damai dan keadilan.  Perdamaian dan keadilan tidak hanya dilakukan/ diberikan kepada sesama manusia namun juga harus diberikan untuk lingkungan dan bumi serta seisinya,  seluruh ciptaan Tuhan, seperti yang sering disampaikan  oleh  Uskup  Agung Jakarta  Mgr Ignatius  Suharyo dalam  Video khotbah Gembala. Maksud cinta kepada lingkungan bumi dan seisinya adalah bahwa manusia harus hidup berdampingan dengan  tumbuhan, alam, binatang tanah dan udara, kita saling memelihara dan menjaga. Untuk lebih memahami maksud SKP dalam kehidupan nyata, maka Yana Kurniadi  ketua SKP Paroki Pulo Gebang mengajak seluruh pengurus SKP mengunjungi Pertanian Organik BSP ( Bumi Sarana Panorama) Farm.

Perjalanan pagi yang  lancar dan udara sejuk, sepertinya sangat mendukung  rombongan kecil ini, mereka tidak menyia-nyiakan waktu, hingga dalam perjalanan pun rombongan serius membicarakan banyak hal yang berkaitan dengan kelangsungan  SKP. Mobil yang berayun  karena jalanan yang meliuk-liuk dan deru mobil di jalanan sama sekali tidak mengganggu konsentrasi diskusi pagi itu.

Pukul 7.30 rombongan tiba di BSP Farm yang  memiliki area 40 hektar berada pada  ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut dikelilingi oleh Gunung Salak. Tanaman tumbuh subur, udara pagi sejuk bersih. kami  mencoba menarik nafas lama dan dalam, setiap tarikan  nafas seolah  otot paru-paru menjadi kuat dan oksigen  bersih penuh terhirup ke paru.

Di teras  Vila, sejauh mata memandang, terlihat  pegunungan Salak menjulang tinggi  molek hijau, mata tidak ingin berkedip, bibir ingin selalu tersenyum melihat keagungan  Tuhan Sang Pencipta semesta yang begitu indah. Tentu saja seluruh peserta yang terdiri dari 6 Wanita dan 3 Pria mengabadikan saat  indah bahagia ini dengan berfoto.

Pukul 9  rombongan di ajak  berkeliling kebun melewati seluruh fasilitas yang dimiliki BSP misalnya area kamping dan Vila. Sebelum berkeliling, koordinator perkebunan yang bernama pak “Usaha” menjelaskan tentang  perkebunan BSP yang melakukan usaha perkebunan secara organik. Sesuai penuturanya  Organik harus meliputi  3 hal yaitu ; Ekonomi, Ekologis dan Sikap. Contohnya;  sejak mengolah tanah sampai memanen  harus dihitung  secara matang untung ruginya, kesejahteraan petani , kesuburan tanah dan tanaman harus diperhatikan.  Kelestarian alam  dan ekonomi warga terjaga  dengan cara menggunakan pupuk kandang ( BSP Farm membeli kotoran kambing dari warga sekitar untuk dijadikan pupuk ).  Sikap menjaga kelestarian alam tidak menggunakan pupuk pestisida, memanfaatkan tanah sesuai dengan fungsinya, jika tanah resapan maka tidak boleh didirikan bangunan.

Dalam berkeliling kebun kami dibekali tongkat bambu sepanjang ±150cm sebagai penopang badan menjaga keseimbangan tubuh, supaya jangan terpeleset atau terjungkal. Jalanan setapak menuju perkebunan yang kami lalui dari area kebun satu ke area lainnya dengan kontur tanah yang naik turun, terjal sempit, kadang berbatu dan becek. Sepertinya perjalanan kami ini  bisa disebut treking kecil-kecilan agak menguras tenaga.  Aneka jenis perkebunan dan penginapan yang dimiliki BSP Farm sangat menyadarkan pengurus SKP ini, betapa hidup yang berkesinambungan selayaknya dijaga dan dipelihara. Misalnya di area perkebunan aquaponik, nutrisi tanaman disupply dari kotoran ikan yang dipelihara di samping kebun. Di area sawah padi dan kebun sayuran ( Wortel, bit, daun bawang, kol, sawi, pokcoy, cabe dsb)  di sepanjang parit di tanami pohon sejenis kenikir, sebagai makanan hama tanaman. Hama tanaman menyukai bunga sejenis kenikir. Tanaman produktif tumbuh sehat, aman. Hama tanaman senang beterbangan didekat kebun tanpa mengganggu tanaman produktif  karena hama sudah kenyang dengan menghisap bunga kenikir. Kami penasaran dengan aroma, rasa bunga dan daun yang sangat mirip kenikir dan disukai hama. Mencoba mencium  dan kunyah secuil daun dan bunga  tsb, tentu saja tidak kami telan, ternyata tidak ada rasa dan aroma apapun ( entah kenapa hama menyukainya, tentu karena ketajaman  penciuman  kami berbeda dengan hama tanaman). Berbeda dengan kenikir yang biasa kita konsumsi memiliki bau yang khas – biasa orang jawa menyebutnya bau sengir.

Ayam  dipelihara di sebagian area  perkebunan sayur, melingkari satu bidang kebun sayur dibuatkan  seperti gorong-gorong yang terbuat dari kawat untuk bermain-main ayam, di ujung kebun dibuatkan kandang ayam yang beratap.  Di ujung kebun bagian lain  area untuk fermentasi pupuk kandang. Pupuk dibuat dari campuran pupuk kandang, sekam padi,  sampah kebun dsb, setiap sebulan sekali di aduk supaya tercampur. Durasi fermentasi ± 3 bulan pupuk siap digunakan.   Setelah Pukul 11.30 kami istirahat makan siang, makanan yang kami konsumsi ; Sayur, lauk dan buah yang rasanya enak siang itu   semuanya dari hasil  organik BSP Farm, sesuai penuturan  penyaji  makanan.

Pukul 13 Perjalanan mengelilingi kebun dilanjutkan.  Jika di Jakarta jam 13 adalah udara sangat menyengat seolah matahari di atas kepala,  berbeda di area kebun ini, kontur tanah menanjak sempit  dan terjal tidak membuat kami cepat lelah karena banyak pohon-pohon besar dan beberapa kolam  dengan air  jernih dan dingin membuat tubuh tidak terasa panas meski disiang hari.  Area yang kami kunjungi pertama adalah  perkebunan kopi ( jenis kopi Robusta), kemudian kebun teh dan terakhir kebun salak. Di setiap area kebun , pemandu menerangkan cara memanen dan mengolah hasil kebun, serta ekosistimnya.  Misalnya ; setiap tanaman teh satu hektar menghasilkan 5 liter air di dalam tanah. Kami  merasa sangat terhibur ketika diperkenankan  memetik salak yang sudah siap panen dan sangat lebat . Sambil duduk-duduk di antara pohon salak  menikmati buah salak hasil metik sendiri, pemandu menjelaskan cara pembuahan pohon salak, panen dan pembersihan kulit salak yang ternyata tajam berduri bila masih menempel di pohon.  Pemandu memberikan tips cara  membersihkan  duri  lembut di kulit salak dengan cara salak dimasukkan dalam karung besar kemudian karung digoyang goyang, dengan demikian duri akan rontok.

Pukul 16.00 waktu kami pun habis dalam kunjungan ke BSP Farm. Seluruh rombongan SKP  Paroki Pulo Gebang pulang  menuju Jakarta dengan hati riang gembira, membawa harapan bahwa pengalaman ini bisa ditularkan ke semakin banyak orang. Hidup menjaga keadilan dan perdamaian bagi seluruh makhluk hidup ciptaan Tuhan tanpa menyakiti satu sama lain. Sesungguhnya Alam adalah jujur, bila kita menjaganya maka Alam akan membalas kebaikan kita.  Mari kita jaga perut bumi dan alam raya ini dengan sepenuh hati, dengan memelihara ekosistim kita sebagai mahkluk hidup.  –Rita-

 

 

Kartini Jaman Now Lomba Memasak Nasi Goreng

By Christine Lerin,

Kartini memberi kesempatan kepada Wanita Indonesia untuk menyatakan eksistensinya. Ukuran eksistensi wanita tidak hanya diukur dari kemampuan akademis atau pencapaian prestasi di dunia kerja,  Eksistensi  Wanita diukur jika melakukan segala sesuatu dengan penuh komitmen, tanggungjawab dan profesional,  itulah perwujudan dari cita-cita Kartini. Wanita Katolik RI  St. Gabriel – Pulo Gebang memperingati hari Kartini di halaman parkir Gedung Karya Pastoral Pulo Gebang, pada sabtu pagi tanggal 27 April  pukul 9, bekerjasama dengan Maxim dan Pronas mengadakan lomba memasak nasi goreng. Peserta yang dihadiri 100 anggota WKRI dan 20 ibu-ibu PKK Pulogebang dan Pulo Jahe berlangsung meriah penuh kegembiraan.  Peserta lomba adalah perwakilan dari 10 Ranting ,tiap ranting mengirim 2 peserta. Seluruh peserta dan tamu undangan  hadir  mengenakan berbagai macam baju kebaya modern.  Peserta hanya menyiapkan satu porsi nasi putih, isian pelengkap serta garnis . Alat masak dan bumbu disiapkan oleh Maxim dan Pronas.

Acara diawali  doa pembukaan dan menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini  kemudian  Henny Gunawan sebagai Ketua Cabang WKRI St. Gabriel memberikan sambutan. Menyempurnakan lomba ini panitia menghadirkan Chef Herry dari Maxim untuk memberikan contoh cara memasak dan menggunakan alat masak yang benar. Misalnya cara memasak ayam lada hitam dan cara merawat alat masak berbahan teflon yaitu setelah alat masak dicuci  dan kering, supaya dioleskan mentega dan minyak sebelum disimpan, hal ini supaya saat dipakai tetap licin.

Peserta lomba masak tampil seperti koki handal dengan mengenakan celemek, diberikan waktu 30 menit untuk menyelesaikan masakannya sampai dengan cara menyajikan ( misalnya dengan garnish dsb). Selama lomba berlangsung, para pendukung dan tamu undangan dihibur  music/ line dance bersama .

Juri lomba memasak nasi goreng ala Kartini jaman now ini dari berbagai kalangan yaitu  Ibu  Rita Agus dari kader PKK Pulo Gebang ( Seorang Muslim),  mbak Dina Perwakilan OMK, Bpk Edy Purnomo sebagai perwakilan Bapak-bapak. Berdasarkan keputusan Juri sebagai juara adalah ; juara I – nasi goreng mengkudu dari ranting Yakobus,  Juara II -Nasi goreng hijau Ndeso dari Ranting Elizabeth, Juara III -Nasi goreng udang Fantasi dari ranting Paulus. Ranting JGC mendapat juara harapan 1, Ranting FX juara harapan 2 dan Ranting Petrus juara harapan 3. Para pemenang mendapat hadiah yang disponsori oleh Maxim dan Pronas, dan mendapat hadiah tambahan dari Pak Eddy berupa produk Probio C.  Peserta yang belum mendapat juara pun mendapatkan hadiah sponsor dari Pronas. Gerai Pronas dan Maxim  tidak luput dari serbuan ibu-ibu karena memberikan diskon khusus dan hadiah menarik.

Setelah berfoto  bersama, acara ditutup dengan doa. Kegembiraan peringatan hari Kartini nyata dihati  yang hadir dan pulang dalam suka cita. Sukses Wanita Katolik Gabriel

Lusia Nurini / WK ranting Paulus.

 

Misa Syukur 19 Tahun KMKS Paroki Pulogebang

By Christine Lerin,

Komunitas Meditasi Kitab Suci (KMKS) Paroki Pulogebang merayakan ulang tahun ke-19 dengan misa syukur bersama Romo A. Susilo Wijoyo, Pr di kapel Gereja St. Gabriel Pulogebang,  rabu (13/2) malam. Misa ini dipersembahkan juga untuk ulang tahun Romo A. Susilo Wijoyo Pr yang ke-51. Dalam homilinya Romo berpesan, kita harus menjadi orang yang pandai bersyukur karenanya akan mudah bahagia, kita juga mempunyai tugas mewartakan perutusan agar umat juga ikut menerima kabar bahagia itu.

Ketua KMKS Paroki Pulogebang, Yohanes Rasul, mengenang Romo Frans Doy, Pr sebagai pendiri KMKS Paroki Pulogebang, walaupun sudah dipanggil Tuhan, tetapi teman-teman KMKS tetap setia dalam pelayanan doa dan meditasi hingga saat ini. KMKS juga menampilkan kesederhanaan dan kekeluargaan. Seperti dalam acara ramah tamah setelah misa syukur ini, panitia menyediakan sajian dari pedagang keliling di sekitaran gereja agar bisa berbagi berkat dengan mereka.

DenyKus

 

 

Marilah, Segala Sesuatu Telah Tersedia

By Christine Lerin,

Hari Doa Sedunia (HDS) merupakan suatu gerakan solidaritas yang menyatukan seluruh Perempuan Kristen di dunia untuk berkomitmen dalam doa dan tindakan di setiap Jumat pertama bulan Maret.  Abad 19 para perempuan Kristen di Amerika dan Kanada memulai gerakan ini,  kini gerakan HDS didukung oleh komunitas Kristen di 170 negara termasuk  Indonesia yang menjadi anak rantai melalui PGI pada tahun 1950

Tema dan buku panduan perayaan HDS disiapkan oleh Komite HDS dari negara yang berbeda setiap tahunnya. Pada tahun 2019, buku panduan tata ibadah disiapkan oleh Komite HDS Negara Slovenia dengan tema “Marilah, segala sesuatu telah tersedia” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Biro Perempuan dan Anak PGI.

BKSWKK (Badan Kerja Sama Wanita Kristen Katolik) se-Wilayah Timur 3 Jakarta turut mengambil bagian perayaan HDS 2019, dan mempercayakan Wanita Katolik RI Cabang Santo Gabriel-Pulogebang sebagai tuan rumah. Sabtu pagi, 30 Maret 2019 jam 10.00  perwakilan dari 8 gereja Kristen Katolik – yaitu PWKI Anak Cabang Pondok Kopi, GPIB Surya Kasih, GKI Buaran, GIPIB Menara Iman, GKPI Jatinegara, WKRI Cabang St. Gabriel, WKRI Cabang St. Anna-Duren Sawit, GKI Cipinang Elok dan 1 simpatisan dari GKI Marturia, mulai hadir memenuhi Kapel St. Gabriel.

Tuan rumah tampil meriah dengan busana (semirip mungkin) khas Slovenia, menyambut ramah kehadiran para tamu.  Tuan rumah menyajikan makanan khas Indonesia, sebagai bentuk kebanggaan dan bentuk syukur atas keaneka ragaman panganan di Indonesia.

Jam 10.00 ibadat dimulai dengan prosesi sambil membawa simbol-simbol menuju meja  yang telah ditutup dengan taplak bewarna putih, seperti halnya kebiasaan rumah-rumah di pedesaan Slovenia. Simbol yang dibawa berupa bendera Indonesia, bendera Slovenia, roti berbentuk salib, kendi berisi air, madu, garam, minuman anggur, buah anggur dan bunga Anyelir merah, kemudian dibacakan latar belakang Slovenia baik geografi maupun demografinya.  Sambutan selamat datang disampaikan oleh Ketua BKSWKK Wilayah Timur 3, Donna Nainggolan dari PWKI Anak Cabang Pondok Kopi, disusul sambutan oleh Ketua WKRI Cabang St. Gabriel, Heni Gunawan.

Dalam Ibadah ini diisi beberapa acara antara lain; paduan suara  bergantian menyanyikan lagu-lagu pujian perwakilan dari  8 gereja anggota BKSWKK Wilayah Timur 3, pembacaan kisah nyata dan pergulatannya  yang dibacakan oleh beberapa orang  yang berpakaian Negara Slovenia. Kisah yang dibacakan adalah hal-hal ;  diskriminasi, pengungsi, masalah buruh migran, kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan dan jaminan sosial, pengangguran, ketergantungan alkohol serta kekerasan rumah tangga.  Masalah yang umum dihadapi oleh kaum perempuan di belahan dunia yang lain.

Ibadah dilanjutkan dengan pembacaan Injil dari Lukas 14:15-24 yang menjadi dasar tema HDS 2019 oleh Pastur Aloysius Gunawan, Pr sebagai pastur pendamping WKRI St, Gabriel.

Dalam Khotbahnya  Pastur Gunawan menyampaikan bahwa Gereja Katolik juga memiliki Pekan Doa Sedunia yang di rayakan setiap tanggal 18-25 Januari sebagai tradisi perayaaan doa bersama bagi persatuan umat Kristiani.  Pastur Gunawan mengingatkan pentingnya ora et labora – doa dan karya pelayanan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Sebagai wujud cinta dan terimakasih kepada Tuhan yang telah menyelamatkan kita, maka kitapun wajib melakukan tindakan kasih untuk sesama.

Doa syukur didaraskan untuk mendoakan sekaligus menguatkan rakyat Slovenia agar tetap bersandar pada Tuhan, dan secara umum berdoa agar dengan kekuatan Tuhan kita mampu membangun relasi berdasarkan keadilan, perdamaian dan kasih. Sama seperti perumpaan yang diceritakan Yesus mengenai undangan makan malam yang dihadiri orang-orang yang dipanggil dari jalanan, Perempuan Slovenia mengajak umat Kristen Indonesia dan seluruh umat Kristiani di seluruh dunia untuk mengundang/menerima orang-orang yang terpinggirkan dan terabaikan serta dapatmembangun, menguatkan dan memperluas komunitas kita sebagai umat Kristiani.

Pada tahun-tahun berikutnya, Slovenia bertekad untuk terus mempromosikan HDS, membentuk kelompok-kelompok baru untuk pelayanan anak dan meningkatkan partisipasi perempuan muda. Sebagai tanda solidaritas, pengumpulan persembahan HDS akan diperuntukkan bagi Program Kemanusiaan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak di Negara Slovenia yang akan dikirimkan melalui Komisi International HDS.

Ibadah diakhiri dengan pengutusan dan berkat oleh Pastur Gunawan, dilanjutkan foto bersama dan ramah tamah.

Sampai jumpa di Zimbabwe, tuan rumah HDS 2020!

“Rise! Take your Mat and Walk”.

(Emil / WK  ranting Yakobus)