Features


Urip Iku Kudu Urup

By Christine Lerin,

Urip iku kudu urup, urip iku kudu nguripi wong liyo” Ucapan dari Romo Susilo yang beliau ucapkan saat homili pada misa malam Paskah ke-2 Sabtu (20/04/19) yang lalu membekas sangat di hati dan pikiran saya. Sejalan dengan segala lambang yang berhubungan dengan kebangkitan Yesus, saya merasa hal ini sangat menginspirasi saya. Ucapan yang berasal dari bahasa Jawa tersebut mempunyai arti : Hidup itu harus menjadi terang/bermanfaat, hidup itu harus bisa memberi hidup/terang untuk orang lain. Melihat segala rangkaian peristiwa dari Mingu Palma sampai dengan Sabtu Suci saya melihat semua yang dilakukan dan diajarkan Yesus Kristus, Tuhan kita, sangat mencerminkan ungkapan tersebut.

Hidup Yesus menjadi terang bagi kita. Semua yang dilakukan Yesus semasa hidupNya memberikan banyak pengajaran dan pandangan baru yang menginspirasi kehidupan bangsa Yahudi pada saat itu, dan pada kenyataannya masih tetap relevan setelah kurun waktu 2000 tahun berlalu. Hal ini menginspirasi saya juga. Bagaimana membuat hidup saya menjadi terang dan terang itu juga bisa menghidupi orang lain lewat pekerjaan dan pelayanan saya di dalam kehidupan saya sehari-hari sebagai seorang guru.

Dalam perjalanan saya sebagai seorang guru, di awal-awal karir saya dimulai, mengajar buat saya adalah suatu pekerjaan di mana saya dapat menghasilkan materi untuk kehidupan saya sehari-hari. Semakin dikejar materi tersebut, memang hidup saya menjadi terang karena berhasil ‘memintarkan’ anak-anak didik saya, namun saya merasa ada sesuatu yang hilang. Di satu titik, Tuhan memberikan satu kesempatan kepada saya, membuka tidak hanya akal budi saya, namun juga mata hati saya, membawa suatu dimensi baru di dalam menjalani pengajaran dan pendidikan saya. Sejak saat itu pandangan saya berubah 180° dan hasilnya juga lebih dari yang saya bayangkan. Saat saya menambahkan unsur kasih yang tanpa batas, Tuhan mengembalikan berkali-kali lipat tidak terbatas hanya dalam bentuk materi, namun juga kepuasan batin, prestasi anak-anak didik saya, dan juga kasih berlipat ganda yang kembali kepada saya. Mencintai dulu daru dicintai, memahami dulu baru dipahami, mengampuni dulu baru diampuni, contoh Yesus sudah sangat jelas di dalam rangkaian peristiwa Paskah. Yesus memberi contoh bahwa dengan melayani dan mencintai lebih dulu, kita akan menjadi bangkit seperti Dia dan menjadi manusia baru. Yesus hidup bukan saja menjadi terang, namun hidup Yesus juga menerangi hidup orang lain. (dee_5217)

Memaknai Imlek dengan Belajar Memasak

By Christine Lerin,

Banyak orang atau komunitas setiap tahunnya selalu merayakan Tahun baru China atau Imlek dengan sukacita dan kegembiraan serta harapan baru yang lebih baik dibanding tahun  sebelumnya. Wanita Katolik RI ranting  St Yakobus yang berjarak 4 km  arah barat  dari Gereja St Gabriel Pulo Gebang,  juga ikut serta melestarikan Budaya Perayaan Imlek .  Anggota Ranting yang berjumlah 20 orang berlatar belakang dari berbagai daerah atau  budaya terlihat sangat kompak dan riang gembira di hari sabtu tanggal 16 Februari 2019 .  Mereka merayakan Imlek dengan caranya yang unik yaitu belajar membuat  makanan khas Palembang ; Tekwan dan  Es Kacang Merah. Mereka juga berharap tahun baru ini mempunyai harapan baru   untuk Ranting St Yakobus yaitu  lebih kompak, bersemangat  dan semua diberi kesehatan yang lebih  baik. Konon belajar memasak ini juga merupakan bagian dari program kerja Ranting tersebut.

Kegiatan memasak  dimulai pada jam 14.15  diawali dengan doa pembukaan bertempat di rumah Ibu Yana Kurniadi.  Tuan rumah  sekaligus yang menjadi pengajar memasak di siang hari itu, mengawalinya dengan memperkenalkan taste serta seluk beluk tekwan dan es kacang merah. Seperti  kelas  memasak di televisi, Yana Kurniadi  yang memiliki warisan darah palembang dari Ibunya ini memberikan rincian bahan, ukuran dan cara memasak tahap demi tahap dengan jelas dan terlihat sangat menguasai  materi dan cara membuat Tekwan dan Es Kacang Merah.   Semua bahan  dan alat telah disiapkan di meja makan; misalnya kompor kecil, panci, ikan tenggiri yang telah dihaluskan, tepung, bumbu, tak ketinggalan timbangan untuk menimbang tepung dan ikan. Bahan untuk es kacang merah sudah siap santap. Menurut pengajar, membuat es kacang merah haruslah kacang merah yang bagus, di rendam satu malam dan direbus lama.  Mereka saling bergantian membantu  mengaduk, menuang  air dan sebagainya,  sementara pengajar menerangkan langkah memasak, bagaimana teknik membuat kuah yang segar, memilih ikan sampai cara mengaduk adonan tekwan yang benar,   sebagian peserta lainnya sibuk memotret ada juga yang rajin mencatat.

Seluruh yang hadir antusias mendengarkan dan sangat memperhatikan tahapan dan teknik memasak.  Ada hal lucu yang dilakukan  para anggota Wanita Katolik yang sedang belajar memasak ini.  Ketika  bulatan bakso tekwan  baru matang beberapa bulatan,  salah satu ibu tidak sabar untuk segera mencicipi  tekwan dan  mengedarkan  bakso tekwan  yang belum ada kuahnya tersebut  untuk diicip keseluruh yang hadir, karena merasa enak,   ada ibu yang mengambil berulang kali, disambut dengan gelak tawa dan saling mengejek  bercanda menandakan sebuah keakraban dan riang gembira.

Meski kehadiran anggota pada siang hari itu tidak banyak, namun kegembiraan dan keakraban tanpa sekat sangat terasa di antara mereka meski satu sama lain memiliki umur yang bervariasi  jauh dan berasal dari beberapa lingkungan. Setelah seluruh proses memasak selesai,  dengan aroma kuah yang segar dan panas,  mereka bersama menikmati Tekwan dan Es Kacang Merah. Bagi yang suka pedas menambahkan sambal  dari cabai rawit hijau yang diulek halus. Puas menikmati hasil masakan sendiri dilanjutkan  foto bersama  dengan berbagai  ornamen Imlek, khususnya ornamen babi yang melambangkan tahun babi.

Sekitar pukul 16.15 ditutup doa Syukur dan tentu saja acara Plastikisasi ( meminjam istilah mereka) maksudnya adalah membawa makanan yang ada, menggunakan plastik untuk dibawa pulang. Selamat menikmati tahun baru China, hidup baru, semoga Wanita Katolik Ranting St Yakobus mempunyai semangat baru untuk tetap berkembang dan bergembira

Tuhan memberkati

Penulis Rita Suseno, Foto- Emil

Santo Fransiskus Xaverius Datang Menjemputnya, Pulang ke Rumah Bapa

By Ferdinand Lamak,

“Romo Frans Doy, Engkau tak kan hilang dalam kenang. Bagaimana Engkau menjadi teman seperjalanan umat dalam meditasi Kitab Suci. Yang sampai sekarang telah mencetak beberapa awam yang handal untuk menjadi pendamping sesama umat. Bagaimana Engkau menjadi teman seperjalanan umat dalam senam sehat jasmani dan rohani. Yang sampai sekarang rekaman audionya masih ada dan dipakai di berbagai kesempatan. Bagaimana Engkau dengan rendah hati, mau rendah hati untuk tinggal di pastoran Wisma Samadi yang menginspirasi terciptanya Wisma Unio Jakarta untuk para imam yang perlu “istirahat sejenak.” Yang sampai hari ini Engkau pergi ke rumah sakit dari sana untuk akhirnya “istirahat selamanya” di Rumah Bapa di Surga. Sudah banyak orang sakit dan terluka yang menjadi sembuh, tenang dan damai karena Engkau. Kini Engkau tidak merasakan sakit lagi, melainkan sembuh total. Terima kasih telah menjadi teman seperjalanan kami dan umat yang sederhana dan setia. Rm. Frans Doy, selamat beristirahat dalam damai.” – Romo Aloysius Susilo Wijoyo, Pr.

Pagi itu, sekira tigapuluhan umat, pagi-pagi sekali sudah hadir di dalam gereja Santo Fransikus Xaverius, Boawae, Nagekeo, Flores, NTT. Dalam misa harian pagi itu, umat juga merayakan pesta pelindung paroki dan gereja mereka, karena 3 Desember menjadi pesta orang kudus, Santo Fransiskus Xaverius. Beberapa jam kemudian, dari Jakarta datang kabar duka yang seketika merebak di kalangan umat paroki itu. Ame (romo atau bapa, dalam bahasa Nagekeo-red) Fransiskus Xaverius Talinau Doy, putera kelahiran Boawae, 3 Januari 1943 itu dipanggil Bapa, tepat satu bulan sebelum ia merayakan ulang tahun kelahirannya yang ke-76 tahun. Bukan sebuah kebetulan, iman Katolik meyakini jika ia telah dijemput oleh Santo Fransiskus Xaverius, santo pelindungnya, menuju rumah Bapa di Surga.

Dan, di Rumah Duka RS. Sint Carolus, tadi malam. Suasana duka yang sejak sehari sebelumnya menyelimuti hati dan wajah para pelayat, lebur dalam sukacita dan syukur. Instrumental Kasih yang Sempurna, mengalun lembut pada malam itu, dari saxophone yang ditiup oleh koleganya, Romo Rochadi, pun meleburkan rasa haru karena ditinggalkan, menjadi kepasrahan total kepada Sang empunya kehidupan. Ya, itu adalah sebuah lagu yang sering dinyanyikan oleh pria yang paling berbahagia malam itu.

Betapa tidak, bukan hanya persembahan instumental khusus dari koleganya, namun ia sungguh menjadi yubilaris, orang yang paling berbahagia pada malam tadi, karena perjalanannya pulang ke rumah bapa, didoakan dalam sebuah ekaristi yang dipimpin langsung oleh Bapa Uskup, Mgr. Ignatius Suharyo sebagai selebran utama didampingi konselebran yang jumlahnya mencapai belasan imam.

——–

Romo Frans Doy, demikian umat di Paroki Pulo Gebang menyapanya adalah seorang pribadi yang sangat dekat dengan umat yang pernah digembalakannya semasa menjadi pastor rekan di paroki ini, 1999-2013. Kecintaan umat kepadanya, demikian pula sebaliknya, dapat terlihat dari masing seringnya ia hadir melayani di beberapa kesempatan di paroki, maupun di kediaman umat.

Kesetiaan dan kerendahan hati romo yang satu ini, dilukiskan dalam berbagai jejak tapak kakinya yang masih terjaga baik dan terus berkembang di paroki ini, sebagaimana diungkapkan oleh Romo Susilo sesaat setelah mendapat kabar berpulangnya Romo Frans Doy.

Kepada media ini, ia mengatakan, “Romo Frans Doy, Engkau tak kan hilang dalam kenang. Bagaimana Engkau menjadi teman seperjalanan umat dalam meditasi Kitab Suci. Yang sampai sekarang telah mencetak beberapa awam yang handal untuk menjadi pendamping sesama umat. Bagaimana Engkau menjadi teman seperjalanan umat dalam senam sehat jasmani dan rohani. Yang sampai sekarang rekaman audionya masih ada dan dipakai di berbagai kesempatan. Bagaimana Engkau dengan rendah hati, mau rendah hati untuk tinggal di pastoran Wisma Samadi yang menginspirasi terciptanya Wisma Unio Jakarta untuk para imam yang perlu “istirahat sejenak.” Yang sampai hari ini Engkau pergi ke rumah sakit dari sana untuk akhirnya “istirahat selamanya” di Rumah Bapa di Surga. Sudah banyak orang sakit dan terluka yang menjadi sembuh, tenang dan damai karena Engkau. Kini Engkau tidak merasakan sakit lagi, melainkan sembuh total. Terima kasih telah menjadi teman seperjalanan kami dan umat yang sederhana dan setia. Rm. Frans Doy, selamat beristirahat dalam damai.”

Perjalanan panjang Romo Frans melayani umat di paroki ini menjadi kebersamaan yang panjang juga antara dirinya dengan sejumlah umat yang telah lama menjadi bagian dari paroki ini. Tidak sedikit kenangan yang berbekas dan menjadi legacy yang indah dari seorang Romo Frans bagi mereka.

Albertus Witjaksono, Wakil Ketua DPH Paroki Pulo Gebang adalah salah satunya. Kepada media ini, ia mengatakan, dirinya pertama kali mengenal Romo Frans sejak beliau ditugaskan oleh Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ., yang kala itu menjadi Uskup KAJ, menjadi pastor rekan di Paroki Pulo Gebang sekitar tahun  tahun 1999. “Kekhasan unik beliau adalah, selalu bersikap baik pada umat, dan selalu berkeinginan melayani seluruh umat, sehingga karena keunikan itu, jadi kadang-kadang lupa kalau sudah berjanji dengan umatnya.”

Pulangnya Romo Frans pun meninggalkan jejak yang terlukis indah di paroki ini. Witjaksono pun menambahkan, “Warna yang diberikan oleh beliau sebagai pastor rekan adalah bisa menempatkan diri bahwa beliau adalah pastor rekan sehingga karenanya kebijakan yang beliau ambil selalu seiring sejalan dengan pastor kepala paroki, siapapun itu pastor kepala parokinya. Dan, yang lebih menjadi warna khas beliau adalah, jika mendengar nama Romo Frans Doy, pasti akan langsung terbersit tentang meditasi dan penyembuhan melalui doa meditasi, dan sekarang di paroki kita hal ini sudah mulai senyap sepoi-sepoi,” ujarnya sambil mengingatkan.

Witjaksono masih sempat bertemu dan berkomunikasi dengan Romo Frans, ketika datang menjenguknya di rumah sakit. Ia bahkan tak tahu sakit apa yang dia derita sehingga harus dirawat. Romo yang humble, rendah hati, ramah dan selalu menyapa baik secara langsung bertemu maupun lewat media komunikasi utamanya ponsel, dan tidak segan untuk memuji umatnya jika umat tersebut menurut pandangan beliau adalah umat yang berusaha untuk menjaga dan mengembangkan paroki itu, hanya berkata ia hanya butuh istirahat karena faktor usia.

Bagi keluarga Witjaksono, ada kenangan, pemberian dari Romo Frans Doy yang hingga detik ini masih terawat dengan baik, yakni rumah ayam berwarna hijau yang ada di pelataran rumah mereka. Romo memberikan itu sebagai kenangan, ketika ia hendak meninggalkan paroki ini.

Lain lagi dengan Michael Anggita, Ketua Lingkungan Santo Paulus, Wilayah 6, Paroki Pulo Gebang. Romo Frans Doy baginya tak ubahnya seperti seorang ayah kandung. Anggit, demikian ia disapa mengaku sekira tiga tahun bekerja mendampingi sang romo dan itu adalah sebuah kehormatan besar baginya dan keluarganya.

“Disaat susah dan sedih, beliau menjadi tempat curahan hati yang dengan rendah hati mau mendengarkan keluh kesah semua umatnya. Disaat gembira beliau juga senantiasa berbagi, dan kembali lagi bukan untuk beliau sendiri atau keluarganya namun beliau bagikan bagi seluruh umatnya terutama yang membutuhkan.”

Masih segar dalam ingatan Anggit, kutipan Injil yang selalu didengungkan Romo Frans, “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma, (Mat: 1-: 8B).”

Berpijak pada kutipan Injil itulah, Romo Frans telah menjadi sosok sebagaimana yang dikenal oleh umat dan para koleganya sesama imam. Romo Frans sanggup merelakan waktunya ditengah malam sampai dini hari, hanya untuk mengunjungi umatnya yang sedang sakit di rumah sakit.

——–

Romo Frans Doy menempuh perjalanan imamatnya dalam sebuah proses yang tidak sama dengan kebanyakan imam lainnya. Ia memulai panggilan hidupnya dengan menjadi katekis awam yang taat, mengajarkan ajaran Kristus kepada sesama hingga akhirnya meretas jalan panggilannya menjadi imam di KAJ.

Bagi para pewarta media, pribadinya sewarna dan secorak dengan adiknya, almarhum Valens G. Doy, wartawan senior KOMPAS sekaligus guru bagi sejumlah jurnalis andal negeri ini, yang sudah lebih dulu menantinya di rumah Bapa. Sosok yang sederhana, penuh senyum dan ringan tangan untuk menolong sesama yang membutuhkan. Sang kakak, Romo Frans Doy sebagaimana testimoni sejumlah imam diosesan KAJ, memiliki kepribadian yang menjadi kenangan indah bagi siapa saja yang mengenalnya dari dekat, terlebih mereka yang merasakan langsung sentuhan tangannya sebagai gembala.

Romo Frans Doy dithabiskan dalam sebuah kemeriahan di Balai Sidang Senayan Jakarta pada 15 Agustus 1986 oleh Alm. Mgr. Leo Soekoto, SJ. Dan, Senin 3 Desember kemarin, ia dijemput oleh santo pelindungnya dalam kemeriahan perayaan Pesta Santo Fransiskus Xaverius. Selamat Pulang Ame…… (Penulis: Ferdinand Lamak, Kontributor: Denny Kus)

Baksos WKRI Cabang Santo Gabriel Menyambut Hari Pangan Sedunia

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Pagi itu, di ruangan bernuansa hijau, Posyandu Permata Bunda I yang ukurannya tidak terlalu besar itu, terdengar riuh suara anak-anak. Posyandu yang terletak di kantor RW,pada hari Sabtu, 6 Oktober 2018 itu, mendapat kunjungan dari Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang St. Gabriel. Para anggota WK datang ke posyandu itu untuk memberikan Pelayanan Peningkatan Gizi Balita, dalam rangka menyambut hari pangan sedunia. Bekerjasama dengan PSE (PengembanganSosial Ekonomi) Paroki Pulo Gebang, anggota WKRI dari cabang maupun ranting, melebur bersama dengan anak-anak balita berumur 12 – 58 bulan di tempat itu.

Posyandu yang terletak di Pulo Jahe RW 14, Jatinegara, Cakung, Jakarta Timur ini menjadi pilihan WKRI Cabang St. Gabriel untuk melakukan kegiatan ini. Tempat ini menjadi tujuan pelayanan mengingat masih banyak balita yang membutuhkan perhatian khusus. Pelayanan yang dimulai jam 8 pagi sampai jam 9.30 ini menyasar Balita Garis Merah (BGM) atau Balita Garis Kuning (BGK).

Asal tahu saja, BGM dan BGK adalah balita yang mempunyai berat badan di bawah rata-rata atau mengalami gizi buruk sebagaimana standar KMS (Kartu Menuju Sehat). Pelayanan di Pulo Jahe ini dilakukan setiap Sabtu selama 4 kali, di mulai pada 6 Oktober dan akan berakhir pada 27 oktober

Dari data yang ditemukan terdapat 22 anak yang termasuk dalam kategori tersebut. Anak-anak inilah yang mendapatkan bantuan. Terdapat tiga macam bantuan yang diberikan yaitu pemeriksaan dokter yang dilakukan oleh dokter-dokter dari PSE yaitu dr. Willy dan dr. Stella. Kedua, memberikan makanan 4 sehat yang menunya bergantian setiap minggunya; seperti bubur sumsum, buah, bubur kacang hijau, nasi sup + perkedel/ nuget, buah dan agar-agar. Ketiga, memberikan 1 dus susu 400gr, biskuit dan vitamin. Kebutuhan untuk bakti sosial ini sebagian besar dananya bersumber dari PSE dengan T. Iwan Darmawan sebagai ketua seksinya. Sebagian lagi dananya berasal dari WKRI cabang  dan ranting serta  donatur individu.

Berbagi keceriaan  dengan anak-anak dan mendengarkan keluhan para orangtua menjadi kesan tersendiri bagi anggota WK dalam pelayanan tersebut. Dengan didampingi oleh Setyorini dan Kuswarini sebagai pengurus Posyandu Permata Bunda I, pelayanan ini berjalan dengan lancar dan menyenangkan dari awal hingga selesai. Semoga pelayanan ini menjadi bermanfaat untuk masyarakat Pulo Jahe. (Penulis dan Foto: Rita, Editor: Ferdinand Lamak)

Legio Maria dan Umat Lingkungan Alfonsus, Novena dan Rosario 7 Dukacita Maria

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Malam tadi, seperti malam-malam sebelumnya di lingkungan kami, Lingkungan Alfonsus di Wilayah II, yang berada di Blok H, Pulo Gebang Permai. Di salah satu rumah warga, beberapa umat sudah mulai berdatangan, ketika tiga wajah baru yang bukan warga lingkungan kami melangkah masuk ke dalam kediaman Lukas – Wiwi di Blok H13/24. Ya, malam tadi kami berkumpul di rumah itu untuk berdoa rosario, malam ke-12 sekaligus novena Tiga Salam Maria yang memasuki malam ke-5 sejak dimulai pada 8 Oktober silam.

“Selamat malam,” sapa ketiga tamu itu disambut beberapa wajah yang agak kaget karena tak menyangka ada kunjungan dari para pengurus Legio Mariae Paroki Pulo Gebang.

Markus Orong dan Pasutri Heri-Susan pun ramah disalami belasan umat yang sudah hadir. Sambil menunggu kehadiran umat yang lain, obrolan ringan pun mengalir. Asal tahu saja, ini kali kedua Legio Mariae paroki hadir secara khusus ke lingkungan kami. Pertama kali, terjadi pada 2016 saat kami melakukan rosario pula.

Tak berapa lama, berdatanganlah umat mulai dari oma-opa, dewasa hingga anak-anak dengan rosario di tangan mereka. Sebagaimana kebiasaan, satu persatu mereka menyalami umat yang sudah lebih dulu hadir, juga tiga orang tamu kami ini. Tepat jam 19.50, sebagaimana malam-malam yang lalu, kami memulai rosario Tujuh Dukacita Bunda Maria.

——- ——

Rosario Tujuh Dukacita Maria mulai kami perkenalkan di lingkungan ini sejak Mei 2017 sebagai pengganti dari peristiwa dukacita pada rosario lima peristiwa yang didaraskan pada setiap Selasa dan Jumat. Doa ini mengantarkan umat untuk merenungkan tujuh peristiwa duka yang dialami Santa Perawan ketika mendampingi Sang Putera sedari bayi hingga dimakamkan.

Ketika pertama kali diperkenalkan, sejumlah umat bahkan meminta buku panduan yang diterbitkan oleh pengurus lingkungan untuk digandakan sendiri, lantaran mereka ingin mendoakannya secara pribadi di rumah masing-masing. Bahkan ada yang berinisiatif untuk mencari dan membeli rosario-nya yang berbeda dengan rosario lima peristiwa.

Malam tadi, saya memimpin sendiri ibadat rosario dan novena ini. Jika malam-malam sebelumnya kehadiran pernah mencapai 43 orang dan tidak pernah kurang dari 23 orang, malam tadi kami, ber-28 orang ditambah 3 tamu, khusyuk dalam suasana doa dan larut dalam narasi yang menggambarkan kedukaan Bunda Maria. Seluruh umat pun secara bergantian mengangkat doa Salam Maria yang diulang sebanyak tujuh kali, pada tujuh peristiwa dukacita itu.

——- ——

Lingkungan Alfonsus hanyalah satu bagian dari paroki ini. Namun kesungguhan dan kesadaran umat akan pentingnya devosi kepada Bunda Maria dalam tiga tahun terakhir ini sudah menunjukkan kemajuan yang baik. Jika sebelumnya, sebagaimana jamak dilakukan di banyak lingkungan lain, rosario hanya dilakukan selama 9 kali dengan mengacu pada novena yang disatukan dengan rosario, sejak Oktober 2016 umat di lingkungan ini menjalankan rosario selama sebulan penuh, baik di Oktober maupun Mei.

Tak hanya rosario sebulan penuh, petugas ibadat yang tadinya hanya itu-itu saja lantaran tidak banyak yang berani memimpin doa, kini digilir dan lebih dari 50% umat sudah berani untuk memimpin doa, baik orang tua maupun anak-anak. Ada juga yang bertugas membacakan ujud, membawakan bacaan Injil dan renungan harian yang diambil dari Buku Inspirasi Batin.

Dorongan dan ajakan bahkan mungkin ada yang memulainya dengan terpaksa, tetapi perlahan-lahan semua mulai terbiasa. Dan setiap menjelang akhir bulan Oktober dan Mei, umat justru merindukan suasana rosario saban malam seperti malam-malam yang sudah lewat.

Sebetulnya alasan utama mengapa di lingkungan ini rosario dilakukan sebulan penuh, sederhana saja. Sebagai ketua lingkungan, ada mimpi untuk melihat semua umat terlibat, setidaknya menampakkan wajahnya dalam kegiatan lingkungan. Jika tidak bisa setiap kegiatan, minimal sekali dua kali mereka hadir. Melalui kesepakatan bersama umat, metode ini pun dilakukan agar setiap kepala keluarga menyediakan rumah mereka untuk berdoa bersama umat. Alhasil, 30 hingga 31 KK dengan sukacita memilih tanggal sesuai kesediaan mereka.

Memang, tidak semua warga kebagian ketempatan namun kami mengaturnya agar rumah-rumah yang sudah kebagian pendalaman iman pada bulan lalu, kali ini tidak mendapatkan bagian ketempatan.

—— ——-

Rosario dan novena malam tadi pun berakhir sekira jam 21.00 lewat sedikit. Usai mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah dan para petugas ibadat, saya pun meminta waktu sebentar kepada umat untuk mendengarkan beberapa sharing dari Tim Legio Mariae.

Markus Orong menyampaikan sedikit tentang perkembangan terkini dari Legio Mariae yang tadinya hanya terdiri dari dua presidium, kini akan menjadi lima presidium. Ia juga memperkenalkan sekitar 8 orang warga lingkungan ini yang tergabung dalam Legio Mariae.

“Terima kasih karena kami boleh diterima di tempat ini dan kami senang melihat semangat umat di lingkungan ini yang bersedia meluangkan waktu setiap malam sekitar lebih dari 1 jam untuk berdoa bersama dengan jumlah yang sebanyak ini.”

Setelah Orong, Susan pun membagian sedikit pengalaman rohani yang dia alami tentang kekuatan devosional kepada Bunda Maria. Ia pun mengimbau agar kesungguhan dalam berdoa, pengorbanan waktu dan tenaga yang diberikan untuk mengisi Bulan Maria dan Bulan Rosario ini akan menjadi lebih sempurna jika teladan Ibu Maria diejawantahkan dalam kehidupan umat sehari-hari.

Pertemuan kami berakhir dengan foto-foto bersama meski beberapa umat pamit lebih awal untuk urusan masing-masing mereka.

Masih ada 18 hari kedepan dan lingkungan ini terbuka bagi umat dari lingkungan tetangga yang ingin hadir dalam doa rasorio yang selalu ada setiap malamnya. Semoga kisah ini dapat menginspirasi kita semua. (Penulis: Ferdinand Lamak, Ketua Lingkungan Santo Alfonsus, Wilayah II)