Features


HP Suci, Fenomena Umat Kekinian

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Suatu hari, ketika aku mengikuti ibadat penghiburan di sebuah rumah duka,  seorang Pendeta muda memberikan kotbah didepan umat yang hadir sambil memegang iPad di tangan kirinya dan mike di tangan kanannya. Lalu beliau berkata: ”Mari saudara-saudaraku terkasih, kita buka dan baca bersama-sama firman Tuhan dari Yohanes 14, ayat 2 dan 3..”,  seketika semua umat yang hadir dalam ibadat tersebut, memegang handphone mereka, sibuk mengetik dan mencari ayat yang diminta, lalu kemudian secara bersama-sama membaca ayat-ayat yang tertera di layar handphone sesuai instruksi sang Pendeta. Beberapa orang terlihat mengecek pesan whats app mereka setelah selesai membaca firman …hehe…mungkin mumpung sekalian lagi buka handphone.

Pemandangan seperti cerita diatas, adalah pemandangan umum yang sudah biasa aku lihat, dalam setiap kegiatan rohani jaman now. Mau tidak mau, suka tidak suka, kemajuan teknologi melalui alat canggih yang bernama handphone tampaknya mulai membawa dampak kedalam kehidupan rohani kita.

Aplikasi-aplikasi rohani dengan mudah dapat ditemukan dalam gadget yang ada ditangan kita. Dengan hati yang entah kenapa terasa tidak nyaman melihat fenomena “baca firman lewat Hp” yang kian umum dilakukan dalam kegiatan rohani maupun ibadat dan dianggap sudah biasa dan wajar karena jaman sudah canggih. Aku pernah bahas dengan seorang teman tentang hal ini, pertanyaan yang mengganjal dalam hatiku yang aku kemukakan adalah : “Kayaknya kok ga etis ya baca firman dari handphone ,bukan dari kitab suci, dalam suatu kegiatan rohani dan ibadat , memangnya sama dan diperbolehkan gereja?” temanku menjawab : “Sama aja, lebih praktis, ga usah berat-berat bawa alkitab, diperbolehkan kok sama gereja, buktinya ada tuh ekatolik , gereja yang bikin, tinggal kamu download aja di playstore, yang penting kita imani”.

Dan karena keingintahuanku, aku mendownload ekatolik tersebut, dan memang semuanya lengkap , banyak pilihan menu, apa saja ada…mau perjanjian lama, perjanjian baru, renungan, doa-doa, komplit deh pokoknya. So, kenyataannya kecanggihan rohani mengikuti kecanggihan teknologi…..turut serta membenahi  diri dalam tuntutan dinamika perkembangan zaman yang bergerak begitu cepat dan moderen.

Semua perubahan itu tentu saja akan membawa pengaruh pula pada  sikap-sikap dan keputusan-keputusan rohani kita, sebagai contoh: ketika ketua di salah satu grup rohaniku punya usul ingin menyumbang 50 buah kitab suci dan puji syukur untuk dikirim  ke sebuah gereja di daerah yang agak terpencil …hampir semua anggota grup tidak setuju….dengan argumen buat apa alkitab dan puji syukur, semua sekarang bisa dilihat lewat hp, lewat internet, jadi cuma buang-buang uang, mending nyumbang  yang lain.

OMG…Oh My God….hal-hal seperti ini sering membuat aku galau, apa sekarang Tuhan pindah ke hp? Ga ada lagi di kitab suci? Aku galau karena mungkin aku termasuk jadul, susah move on dari kebiasaan lama yang sudah kukenal berpuluh-puluh tahun selama menjadi katolik…tetap saja senengnya bawa-bawa alkitab, yang rasanya sekarang sering aku malah kelihatan ribet dan jadul. Saat aku sibuk  buka-buka lembaran alkitab mencari ayat yang disebutkan, sedangkan sebelahku dalam hitungan detik sudah menemukan ayat tersebut hanya dengan membuka ekatolik di hpnya lalu melirik kearahku dan nyeletuk, ”Kelamaan kamu, ga praktis sih, ngapain bawa-bawa alkitab, berat-beratin ajah!”……pembelaan diri dibenakku adalah : kitab itu buku, aku kutu buku makanya seneng bawa alkitab…aku bukan virus hp….jadi sampai kapanpun aku lebih suka kitab suci ketibang hp suci (tentu saja omongan pembelaan diri ini cuma aku dan Tuhan yang  tau hehe).

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi, tentu juga punya dampak positif, contoh salah satunya adalah melalui forwarded messages dengan mudah kita semua menerima renungan-renungan rohani beserta ayat firman Tuhan yang menyertai,  memang merupakan siraman rohani yang membuat kita yang membacanya menjadi merenung, meresapi dan memberi kekuatan. Aku pribadi juga merasakan manfaat dari aplikasi rohani di hpku…ketika jam-jam doa angelus tiba, alarm di hpku berbunyi  dan aku langsung membuka hpku, dan berdoa Malaikat Tuhan yang ada di aplikasi ekatolik….dan kalau harus pergi keluar kota atau keluar negri, aplikasi ini sangat membantuku untuk tetap berdoa dan membaca firman.

Salah satu forwarded message yang aku baca di grup whatsapp SMPku menguatkan keprihatinan dalam hatiku dalam melihat fenomena rohani jaman now ini bahwa aku tidak galau sendirian.  Berikut adalah renungan tersebut : “TOLONG BANTU ALKITAB YANG AKAN MENJADI EXTINCTION ( KEPUNAHAN )…Tahukah anda, bahwa alkitab tidak dapat dilihat dimana saja dalam 50 tahun mendatang jika tidak ada yang dilakukan untuk menyelamatkannya. Tahukah anda,bahwa setan menggunakan teknologi baru untuk menghapus alkitab dari toko-toko buku, rak buku , gereja dan orang-orang kristen. Dan orang-orang kristen membantu setan mencapai hal itu tanpa sepengetahuan mereka? Ketika para pelayan Tuhan berkhotbah dari laptop mereka, iPad dan handphone, tanpa membawa alkitab lagi, bukannya dari alkitab lagi, mereka secara tidak sengaja mendorong para anggota mereka untuk datang ke kebaktian gereja dengan  handphone mereka, bukan membawa alkitab mereka lagi. Sementara kelompok agama lainnya bekerja keras untuk melestarikan buku-buku agama mereka, orang-orang kristen bekerja keras untuk menghapus kitab suci…alkitab…dari hardcopy ke softcopy untuk kenyamanan mereka. Jika orang kristen melanjutkan sikap ini, maka alkitab akan kurang dijual dan secara bertahap penerbit akan menghentikan produksi alkitab. Teknologi telah menghasilkan banyak hal saat ini. Dimana TV hitam dan putih? Obor bertenaga baterai secara bertahap dihapus karena sudah ada obor yang dapat diisi ulang.  Tolong jangan biarkan kitab suci mengalami nasib yang sama. Masih ada kitab di surga (wahyu 20:12). Mari kita pergi ke kebaktian gereja dan persekutuan kita dengan alkitab kita. Jika pemberitaan dari Kitab suci adalah kuno dan memberatkan, marilah kita terus berkotbah darinya demi Kristus dan untuk melestarikan kitab suci. Jika pergi ke kebaktian gereja dengan alkitab adalah beban, ingatlah Yesus membawa beban yang lebih besar untuk anda. Anda dapat menggunakan iPad dan handphone saat membaca alkitab secara pribadi dirumah  untuk kenyamanan anda, tapi tolong selamatkan alkitab dari kepunahan dengan membawa  BUKU KITAB SUCI ke gereja dan persekutuan. Jika anda setuju dengan tulisan ini, tolong kirimkan pesan ini kepada semua orang kristen dan anak-anak Tuhan yang anda kenal”.

Siapapun yang menulis text message ini,  orang tersebut sama prihatinnya dan galaunya dengan aku….memang akan seperti itu, kitab suci terancam punah didunia. Teringat apa yang dikatakan anakku dan temanku ketika aku membeli dua buah alkitab yang  berukuran sedang di Gramedia untuk kubawa-bawa, karena sekarang aku hanya punya ukuran besar. Mereka berkomentar dengan heran: ”Hah, ngapain beli alkitab? kan udah ada semua di handphone”.  Patut kita renungkan bersama pesan yang di forward tersebut menjadi keprihatinan kita. Bersyukur aku sebagai orang katolik tidak membawa alkitab setiap misa ke gereja, karena aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau satu gereja semua umat, Imam serta  lektor/lektrisnya memegang handphone lalu ketika selesai membaca firman Tuhan mengangkat handphonenya dan berkata : ”Demikianlah sabda Tuhan….” atau ketika lektor/lektris tidak bisa lagi berkata: “Bacaan pertama diambil dari kitab kejadian bab etc…..”, tapi diganti menjadi: “bacaan pertama diambil dari ekatolik menu alkitab perjanjian lama etc…..”. Ngeri  ya ngebayanginnya, dan betapa menyedihkan kalau sampai nanti terjadi.

Kalau saja saudara seiman kita dari gereja Kristen sudah mulai alert atau waspada melihat fenomena “hp suci”….mereka dapat melihatnya lebih cepat karena membawa alkitab adalah ritual wajib setiap kegereja dan pengkotbah mereka juga membawa alkitab dalam memberikan kotbah untuk mengajak umat membuka dan membaca firman…maka aku berharap kita sebagai umat Katolik juga mulai aware atau sadar, fenomena “hp suci” tersebut belum sampai masuk ke gereja, namun  sudah masuk ke persekutan doa, pendalaman iman dan kegiatan rohani umat serta ke dalam persepsi pikiran umat bahwa semua itu sudah seharusnya terjadi karena teknologi semakin canggih dan sekarang jaman digital jadi tidak mengherankan kalau  kitab suci tidak  berbentuk kitab lagi.

Pertanyaanku adalah: Apa Tuhan ikut canggih dari kitab pindah ke hp? Apa hp itu jadi suci karena banyak aplikasi rohani didalamnya berdampingan dengan aplikasi duniawi yang menyesatkan lainnya? Apa benar sah-sah aja baca firman Tuhan lewat hp asal kita imani dan amini? Apa Tuhan pun maklum dan mengerti karena kecanggihan teknologi, dan perkembangan jaman, kitab suci akan berubah menjadi hp suci?. Semoga ini adalah PR ( pekerjaan rumah ) kita bersama sebagai umat katolik, mari selamatkan alkitab, kitab suci dimana saat kita membuka dan membacanya ,hanya kebenaran firman Tuhan dan kehadiran Tuhan yang kita lihat, tidak ada yang lain. God Bless us. (Penulis: Limut/ Triesly Wigati)

Sejuta Mawar untuk Bunda Maria

By Ferdinand Lamak,

CILINCING – October is coming! Bulan yang dinantikan oleh umat Katolik selain Mei, dua bulan itu dirayakan sebagai Bulan Maria, dua bulan yang khusus didedikasikan bagi devosi kepada Bunda Maria baik secara pribadi maupun bersama lingkungan dan paroki.  Pembukaan bulan Maria ini, ditandai dengan misa yang diadakan di semua paroki pada tanggal 30 september 2018, yang kebetulan jatuh pada hari minggu, termasuk di Paroki Cilincing, Misa pembukaan bulan Maria di Gereja Salib Suci, mengusung tema yang cantik yaitu Malam Persembahan Sejuta Mawar.

Melalui 3 macam kupon yang diedarkan ke paroki-paroki lain, termasuk ke Paroki St Gabriel Pulo Gebang, umat bisa membeli bunga mawar melalui kupon ini . Kupon A untuk 1 tangkai  mawar, kupon B untuk 10 tangkai dan kupon C untuk 20 tangkai mawar, dan dibalik kupon umat bisa menuliskan semua ujud doa yang diinginkan. Maka tidak heran kalau ada umat paroki Pulo gebang yang menghadiri misa pembukaan bulan Maria pada hari itu di Gereja Salib Suci, termasuk saya dan keluarga.

Acara ini baru pertama kalinya diadakan di Gereja Salib Suci,  dan merupakan  salah satu kegiatan dalam rangka pencarian dana untuk pembangunan gedung karya pastoral  yang sedang dibangun. Pada bulan Oktober ini, panitia pembangunan GKP mengadakan acara ini sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih  kepada Bunda Maria sekaligus membantu pembangunan gedung karya pastoral di Paroki Cilincing, lewat penjualan kupon.

Penukaran kupon dengan bunga mawar dimulai sejak pukul 16.30 di depan pintu masuk gereja, bunga mawar asli diberikan sebanyak kupon yang dibeli dan kemudian  kupon diambil panitia agar ujud-ujud doa yang telah ditulisi oleh umat bisa dikumpulkan untuk kemudian dibakar di gua Maria setelah ritual perarakan patung setelah misa nanti. Gedung GKP yang terletak didepan gedung gereja memang terlihat sedang dalam proses pembangunan. Umat  yang tidak bisa hadir namun ikut membeli kupon, bisa menitipkan kuponnya kepada yang lain atau kepada panitia jika kenal, sehingga ujud-ujud doa yang telah dituliskan tetap bisa di persembahkan bersama bunga mawar mereka.

Misa konselebrasi yang dimulai pada pukul 18.00, dibawakan oleh 6 orang pastor yaitu : Romo Canisius Sigit Tridrianto, CM (Pastor Paroki Cilincing), Romo Alexius Dwi Widiatna, CM., Romo E. Prasetyono, CM., Romo Didit Soepartono Pr dan Romo Jost Kokoh Pr.

Homili dibawakan oleh Romo Kokoh dan Romo Pras dengan gaya interaktif yang melibatkan umat. Be happy, be healthy and be holy, inti kotbah kedua romo tersebut. Seru dengan gerak dan pantun, terasa begitu meriah dan semarak ditambah banyaknya bunga mawar cantik yang dipegang oleh masing-masing umat saat misa untuk nantinya diberkati dengan percikan air suci oleh ke enam romo yang hadir sebelum dipersembahkan kepada Bunda Maria di gua.

Setelah misa selesai, dimulailah perarakan patung Bunda Maria mengikuti  rute jalan salib mengelilingi gereja dengan iringan doa rosario, umat dengan rapih dan tertib sambil memegang lilin dan bunga mawar masing-msing mengikuti perarakan yang berakhir di gua Maria dimana patung yang dibawa selama perarakan di letakkan di tempat yang telah disediakan. Lalu dengan berbaris, bergantian umat meletakkan bunga bunga mawar yang dipersembahkan kepada Bunda Maria dengan meletakkannya secara rapih memenuhi gua Maria, menyalakan lilin dan berdoa. Rangkaian acara ini berakhir sekitar pukul 21.00 wib.

Kuletakkan bunga mawarku dihadapan Bunda tercinta dan  dalam hening aku memejamkan mata, mengatupkan tangan…mempersembahkan semua ujud doa yang telah kami haturkan kepada Bunda Penolong, Ratu Rosari dan Bunda Pelindung Kami. Sejuta mawar buat bunda, sejuta harapan, sejuta doa dari kami anak-anakMu….semoga lewat perantaraan Bunda , putraNya yang terkasih Tuhan kami Yesus Kristus sudi mendengar dan mengabulkan doa-doa kami.

Mari kita  memasuki bulan Maria mulai tanggal 01 Oktober ini, dan selamat berdevosi sebulan penuh kepada Bunda Maria dengan berdoa rosario, novena dan berziarah ke Gua Maria sebagai wujud syukur, terima kasih dan cinta kita kepada Bunda Maria , Bunda kita semua.

Bunda Maria, Bunga Mawar yang Gaib, semoga Bunda menerima persembahan kami malam ini, malam yang penuh bunga mawar cantik berwarna warni untuk menyenangkan hati Bunda. Santa Bunda Allah, doakanlah kami agar kami pantas menerima janji Kristus, Amin. (Penulis dan Foto: Limut, Editor: Ferdinand Lamak)

Juara IV Lomba Menulis WKRI: Meluangkan Waktu Bersama Anak dalam Bersosial Media

By Ferdinand Lamak,

Oleh: Maria Gorethi Janawaty Kurniadi (Lingkungan Yakobus)

Bermedia sosial tidak selalu memberi dampak buruk bagi anak, mereka  layak menggunakan media sosial, tentu saja dengan pendampingan orangtua.

Menurut undang-undang Republik Indonesia no. 35 tahun 2014 pasal 1 – anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang masih di dalam kandungan – sumber dari Mitrawacana.or.id

Orangtua harus mengerti dan mau belajar tentang hal-hal positif maupun negatif dalam bermedia sosial sehingga tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Tanpa pendampingan orangtua, kemajuan teknologi  terutama media sosial berdampak buruk bagi perkembangan anak-anak, seperti telah diberitakan  di ‘ ANTARA’  https//m.antaranews.com   bahwa ada anak SMP dan SMA mengalami masalah kejiwaan karena penggunaan gawai ( Gadget) yang tidak terkendali, baik konten/ isi maupun durasi waktunya. Bahkan yang bersangkutan membentur-benturkan kepalanya ke tembok ketika sangat ingin menggunakan gawainya, namun tidak di ijinkan oleh orangtuanya.

Pengalaman bersama anak-anak saya memasuki  dunia media sosial, Puji Tuhan kami bisa bekerjasama dengan baik.

Beberapa hal yang kami sepakati bersama antara lain :

  1. Membatasi penggunaan internet; waktu ber internet tidak boleh mengganggu waktu belajar, waktu makan dan waktu doa. Kami orangtuanya juga tidak bermain internet di depan anak-anak.
  2. Memilih konten yang layak sesuai dengan umur anak ; Pornografi berakibat lebih buruk daripada narkoba, Pornografi  bila di tonton secara terus menerus, bisa menimbulkan dorongan sex yang tidak baik,  Hal ini terjadi  seperti yang telah  diberitakan di TribunNews.com,   pelecehan anak-anak kecil  yang berdampak negatif, dan buruk bagi perkembangan anak.
  3. Berita sesat , hoax, terorisme ; memberi tahukan kepada anak supaya tidak ikut menyebarkan berita yang belum  tentu kebenarannya dan  tidak jelas narasumbernya.

Memberitahukan  ke anak supaya  tidak membuat artikel artikel keagamaan yang bersifat radikal, menjurus terorisme.

  1. Informasi yang sifatnya pribadi ; Tidak memberikan informasi yang sifatnya pribadi kepada orang yang baru dikenal di media sosial, misalnya memberi nomor telpon, alamat rumah dan lain-lain.
  2. Berteman; orangtua berteman dengan anak-anak baik di face book, instagram, Whatsapp ( Wa), sehingga kita tahu siapa saja teman mereka dalam bermedia sosial
  3. Tempat bermedia sosial ; saya membiarkan anak bermedia sosial di rumah, supaya lebih mudah memantau kegiatan mereka bermedia sosial, terutama selama liburan karena mereka menghabiskan waktu bermedia sosial lebih lama dibanding hari-hari lainnya.
  4. Jujur ; menganjurkan anak untuk mengatakan jujur apabila mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan saat bermedia sosial  baik  dari teman atau dari orang yang baru mereka kenal.

Dengan kerjasama dan kesepakatan kami ( orangtua dan anak) tersebut di atas, Puji Tuhan saat ini anak anak kami sudah dewasa menjadi anak yang  jujur, tumbuh berkembang sempurna, menggunakan media sosial  tepat guna ( digunakan untuk hal-hal positif).

Bukti dari bermedia sosial tepat guna adalah  mereka  mencari dan mendapatkan  pekerjaan berkat informasi yang didapatkan  dari media internet.  Salah satu anak kami mendapatkan beasiswa juga    informasi dari media internet.

Saya dan suami  semakin meyakini  bahwa  sesibuk apapun kita sebagai orangtua, tetap harus meluangkan waktu untuk anak-anak terutama saat anak usia remaja, komunikasi yang baik menciptakan relasi yang baik antara anak dan orangtua. (Editor: Ferdinand Lamak)

Komitmen Kerukunan di HUT RI ke-73, RW 13 Pulo Gebang Permai

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Menjalin persaudaraan dan kerukunan antara sesama warga masyarakat yang plural adalah sebuah proses yang gampang-gampang-susah. Perbedaan dalam keragaman adalah sesuatu yang pasti, namun jika ada kerukunan didalamnya, maka itu menjadi sebuah potret yang indah. Demikian pula semangat yang tergambar dari warga seluruh RT yang ada di lingkup RW 13, Kelurahan Pulo Gebang Permai dalam merayakan HUT RI ke-73 tahun ini. Dalam sebuah rangkaian kegiatan yang dimulai sejak akhir Juli silam, Sabtu 25 Agustus 2018 malam, warga RW ini tiba pada puncak perayaan Gebyar HUT RI ke-73 di Graha RW-13. Memperkokoh Komitmen Kerukunan, begitu tema kegiatan malam itu.

Setelah pada petang harinya, pihak panitia menuntaskan beberapa kegiatan final lomba dan pertandingan, sekira pukul 18.00-an, warga pun mulai berdatangan ke lokasi acara. Ketua RW 13 melalui panitia memang mengundang secara khusus semua warga untuk hadir dalam acara ini. Ketika memasuki lokasi acara, kental terasa bahwa kegiatan ini telah dipersiapkan secara baik oleh panitia. Semakin malam, semakin banyak pula warga yang datang, mengantri didepan meja registrasi kemudian mendapatkan makanan ringan lalu mengambil tempat di deretan kursi yang telah disediakan. Antusiasme warga terlihat jelas dengan penuhnya semua kursi yang disediakan oleh panitia.

Tampak di deretan bangku terdepan, Ketua RW 13 disampingi oleh ustadz, pendeta dan para pengurus RT di dalam di dalam lingkup RW 13. Umat Paroki Pulo Gebang pun patut bersyukur karena di deretan itu, tampak pula Romo Alphonsus Setya Gunawan yang hadir, tidak hanya sebagai undangan melainkan juga sebagai warga lantaran Wisma Paroki berada dalam wilayah RW ini. Juga, ada tiga lingkungan yang berada di dalam RW ini yakni Lingkungan Maria, Alfonsus dan Mikael. Romo Gun datang didampingi sejumlah Pengurus DPH antara lain A. Witjaksono, Teguh Hartono dan Larry Sihombing.

Sarwoto Kasino sebagai Ketua Panitia HUT RI ke-73 RW 13 didaulat menyampaikan sambutannya. Ia melaporkan semua rangkaian kegiatan yang telah diadakan dalam rangka perayaan hari besar Bangsa Indonesia ini. Terima kasih atas kerjasama yang terjalin hingga terselenggaranya rangkaian kegiatan ini, pun terselip dalam sambutannya yang disambut tepuk tangan warga yang hadir.

Romo Gunawan pun didaulat untuk memberikan sambutan selaku undangan mewakili Pastor Paroki Pulo Gebang. Dalam sambutannya mengatakan, Memperkokoh Komitmen Kerukunan adalah sungguh suatu tema yang sangat indah, sangat menyejukkan dan sangat membanggakan kita semua. Apa yang terjadi pada saat negara ini berdiri, 17 Agustus 1945, negara kita berdiri dan terdiri dari berbagai suku, agama, bahasa, ras dan golongan tetapi kita semua bersatu dalam satu kesatuan karena kita bersama-sama berjuang untuk Indonesia merdeka.

Syihabuddin Latief, Ketua RW 13 dalam sambutannya mengajak seluruh warga agar dengan perayaan kemerdekaan RI ke-73 ini, agar bersatu dalam keberagaman serta menjaga selalu persatuan dalam perbedaan.

“Tadi sudah disampaikan oleh romo tentang bagaimana komitmen kita untuk memperkokoh komitmen kerukunan ini, dan kita semua tahu bahwa untuk membangun kerukunan di RW ini, kuncinya ada 3. Pertama, seluruh warga ini menerima perbedaan masing-masing. Karena statistik di RW ini, semua agama, suku dan bahasa ada semua di RW ini. Kedua warga harus memahami dan menerima perbedaan dan ketiga adalah mari bekerjasama dalam perbedaan. Dan, ini terbukti dalam kerjasama mempersiapkan kegiatan ini yang telah berjalan dengan baik tanpa gesekan. Terima kasih untuk semua warga.”

Acara malam itu diisi juga dengan penampilan warga yang mempersembahkan lagu-lagu nasional, tarian daerah dalam kemasan modern, juga penampilan band yang dibawakan oleh Karang Taruna RW 13. Tak lupa, door prize pun membanjiri acara itu dengan iringan organ tunggal yang diisi oleh buduanita yang disiapkan panitia serta sumbangan lagu-lagu ditingkahi tarian spontan dari warga yang hadir.

Tema yang diusung dalam kegiatan kali ini benar-benar tergambar dalam rangkaian pelaksanaan kegiatan HUT RI ke-73 hingga berpuncak pada acara malam itu. Menjelang pukul 00.00, rangkaian kegiatan ditutup dengan bersama membawakan lagu Kemesraan. Merdeka! (Ferdinand Lamak)

 

 

Rayakan Ulang Tahun Kelahiran dengan Berbagi Kasih di Panti Asuhan

By Ferdinand Lamak,

METLAND MENTENG – Ucapan syukur atas hari jadi kelahiran tentu identik dengan pesta atau dirayakan secara meriah. Tak terkecuali yang sedang berbahagia itu adalah seorang anak yang baru akan menginjak remaja. Tentu kebahagiaan tersebut akan lebih meriah dengan acara bersama kawan-kawan dalam alunan musik dan keramaian. Banyak cara yang dilakukan untuk memperingati hari jadinya tersebut.

Namun, ada ungkapan lain yang mungkin saja telah dilakukan oleh beberapa orang untuk merayakan hari kelahiran dengan cara yang berbeda. Model berbagi kasih disaat merayakan kebahagiaan tentu jalan tersendiri yang bisa dilakukan. Berbagi kasih kepada sesama dengan cara berkunjung dan memberikan donasi ke salah satu panti asuhan memang kerap dilakukan oleh orang-orang yang ingin merayakan kebahagiaannya dengan cara yang sederhana. Kesederhaan itu tampak dari orang yang menerima uluran kasih.

Eugenia Shani Gisela, seorang anak yang baru menginjak remaja, salah satu umat di Lingkungan Nathalia. Anak dari pasangan Stanislaus Dwi Putra Budiyanto dengan Skolastika Fanny Widiarja mengajak orang tua dan keluarga merayakan hari jadinya dengan berbagi kasih ke panti asuhan. Rupanya berbagi kasih demikian memang sering dilakukan oleh keluarga ini dan menjadi rutinitas keluarga untuk menolong sesama yang kekurangan.

Untuk mewujudkan kegiatan tersebut, Fanny yang memang dekat dengan Julya Theresia, Ketua Lingkungan Nathalia ini, menyampaikan ide dan usulannya untuk kegiatan di lingkungan. Maka, berdasarkan informasi yang disampaikan oleh salah satu umat tentang keberadaan suatu panti asuhan di Perumahan Harapan Indah, kegiatan atas nama lingkungan dengan dukungan penuh dari keluarga Fanny pun mulai dipersiapkan. Info kegiatan disampaikan melalui WAG lingkungan untuk mengajak keterlibatan umat dan partisipasi melalui donasi atau sumbangan yang ingin diberikan. Partisipasi bisa diberikan dalam bentuk barang ataupun uang.

Menurut Ibu Julya, kegiatan ini selain dalam rangka merayakan kebahagian salah satu keluarga di lingkungan juga untuk mengajak umat lingkungan berbagi kepada mereka yang kekurangan. Selain lokasi yang dekat, juga Panti Asuhan Vita Dulcedo ini dikelola oleh Suster dari Komunitas/Kongregrasi Suster Kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik (KYM).

Akhirnya, tepat tanggal 28 Juli 2018 pukul 10.45, keluarga pasangan Dwi dan Fanny bersama dengan umat lingkungan yang dikomandoi oleh Julya berangkat menuju lokasi dengan mobil pribadi yang disediakan oleh umat. Kehadiran umat Lingkungan Nathalia telah disambut oleh anak-anak panti asuhan dan suster-suster yang mengelola panti asuhan. Sebagian besar anak-anak Panti Asuhan berasal dari Papua. Itu diketahui saat anak-anak Panti Asuhan memperkenalkan diri. Usia anak-anak penghuni Panti Asuhan masih dibawah 12 tahun dan berpendidikan Sekolah Dasar (SD). Memang ada yang sudah Sekolah Menengah Pertama (SMP) tetapi tidak banyak.

Kebersamaan antara pengunjung dan penghuni panti asuhan terlihat akrab dan dekat. Anak-anak panti asuhan tidak merasa berbeda. Mereka siap dengan memperagakan aksi dan kemampuannya. Bernyanyi dan berjoget bersama merupakan persembahan dari mereka kepada umat yang datang. Mereka terlihat senang dan gembira telah dikunjungi. Umat pun membaur dan masing-masing saling bercanda dan berbicara dengan anak-anak dan Suster-suster. Acara yang dipandu oleh Dwi ini terlihat mengalir tanpa perencanaan yang terlalu rumit dan sulit.

Tepat pukul 12.00 siang, acara dihentikan sementara karena akan berdoa Malaikat Tuhan. Bersama-sama yang dipimpin oleh Suster Landelina KYM, semua mendaraskan doa Malaikat Tuhan. Setelah itu, acara dilanjutkan kembali. Selanjutnya, karena hari sudah menjelang siang, pukul 12.30, bersama-sama makan siang. Sebelum makan, secara simbolis melalui perwakilan Fanny menyerahkan uang tunai dan Julya menyerahkan beras kepada Suster Landelina KYM untuk kebutuhan panti asuhan. Jadi, selain uang tunai, barang-barang yang disumbangkan hasil dari partisipasi umat selain beras, juga berupa alat-alat tulis, indomie dan lainnya.

Acara berlangsung hingga pukul 14.30 dan umat lingkungan pamit untuk meninggalkan lokasi panti asuhan. Setelah foto bersama, satu per satu bersalaman dengan seluruh penghuni panti asuhan dan meninggalkan lokasi. Berbagi kasih dengan cara demikian merupakan sarana untuk lebih dekat dengan Tuhan karena seperti yang tertulis, “Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Markus 10:21)-(@nJoz)