Features


Baksos WKRI Cabang Santo Gabriel Menyambut Hari Pangan Sedunia

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Pagi itu, di ruangan bernuansa hijau, Posyandu Permata Bunda I yang ukurannya tidak terlalu besar itu, terdengar riuh suara anak-anak. Posyandu yang terletak di kantor RW,pada hari Sabtu, 6 Oktober 2018 itu, mendapat kunjungan dari Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang St. Gabriel. Para anggota WK datang ke posyandu itu untuk memberikan Pelayanan Peningkatan Gizi Balita, dalam rangka menyambut hari pangan sedunia. Bekerjasama dengan PSE (PengembanganSosial Ekonomi) Paroki Pulo Gebang, anggota WKRI dari cabang maupun ranting, melebur bersama dengan anak-anak balita berumur 12 – 58 bulan di tempat itu.

Posyandu yang terletak di Pulo Jahe RW 14, Jatinegara, Cakung, Jakarta Timur ini menjadi pilihan WKRI Cabang St. Gabriel untuk melakukan kegiatan ini. Tempat ini menjadi tujuan pelayanan mengingat masih banyak balita yang membutuhkan perhatian khusus. Pelayanan yang dimulai jam 8 pagi sampai jam 9.30 ini menyasar Balita Garis Merah (BGM) atau Balita Garis Kuning (BGK).

Asal tahu saja, BGM dan BGK adalah balita yang mempunyai berat badan di bawah rata-rata atau mengalami gizi buruk sebagaimana standar KMS (Kartu Menuju Sehat). Pelayanan di Pulo Jahe ini dilakukan setiap Sabtu selama 4 kali, di mulai pada 6 Oktober dan akan berakhir pada 27 oktober

Dari data yang ditemukan terdapat 22 anak yang termasuk dalam kategori tersebut. Anak-anak inilah yang mendapatkan bantuan. Terdapat tiga macam bantuan yang diberikan yaitu pemeriksaan dokter yang dilakukan oleh dokter-dokter dari PSE yaitu dr. Willy dan dr. Stella. Kedua, memberikan makanan 4 sehat yang menunya bergantian setiap minggunya; seperti bubur sumsum, buah, bubur kacang hijau, nasi sup + perkedel/ nuget, buah dan agar-agar. Ketiga, memberikan 1 dus susu 400gr, biskuit dan vitamin. Kebutuhan untuk bakti sosial ini sebagian besar dananya bersumber dari PSE dengan T. Iwan Darmawan sebagai ketua seksinya. Sebagian lagi dananya berasal dari WKRI cabang  dan ranting serta  donatur individu.

Berbagi keceriaan  dengan anak-anak dan mendengarkan keluhan para orangtua menjadi kesan tersendiri bagi anggota WK dalam pelayanan tersebut. Dengan didampingi oleh Setyorini dan Kuswarini sebagai pengurus Posyandu Permata Bunda I, pelayanan ini berjalan dengan lancar dan menyenangkan dari awal hingga selesai. Semoga pelayanan ini menjadi bermanfaat untuk masyarakat Pulo Jahe. (Penulis dan Foto: Rita, Editor: Ferdinand Lamak)

Legio Maria dan Umat Lingkungan Alfonsus, Novena dan Rosario 7 Dukacita Maria

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Malam tadi, seperti malam-malam sebelumnya di lingkungan kami, Lingkungan Alfonsus di Wilayah II, yang berada di Blok H, Pulo Gebang Permai. Di salah satu rumah warga, beberapa umat sudah mulai berdatangan, ketika tiga wajah baru yang bukan warga lingkungan kami melangkah masuk ke dalam kediaman Lukas – Wiwi di Blok H13/24. Ya, malam tadi kami berkumpul di rumah itu untuk berdoa rosario, malam ke-12 sekaligus novena Tiga Salam Maria yang memasuki malam ke-5 sejak dimulai pada 8 Oktober silam.

“Selamat malam,” sapa ketiga tamu itu disambut beberapa wajah yang agak kaget karena tak menyangka ada kunjungan dari para pengurus Legio Mariae Paroki Pulo Gebang.

Markus Orong dan Pasutri Heri-Susan pun ramah disalami belasan umat yang sudah hadir. Sambil menunggu kehadiran umat yang lain, obrolan ringan pun mengalir. Asal tahu saja, ini kali kedua Legio Mariae paroki hadir secara khusus ke lingkungan kami. Pertama kali, terjadi pada 2016 saat kami melakukan rosario pula.

Tak berapa lama, berdatanganlah umat mulai dari oma-opa, dewasa hingga anak-anak dengan rosario di tangan mereka. Sebagaimana kebiasaan, satu persatu mereka menyalami umat yang sudah lebih dulu hadir, juga tiga orang tamu kami ini. Tepat jam 19.50, sebagaimana malam-malam yang lalu, kami memulai rosario Tujuh Dukacita Bunda Maria.

——- ——

Rosario Tujuh Dukacita Maria mulai kami perkenalkan di lingkungan ini sejak Mei 2017 sebagai pengganti dari peristiwa dukacita pada rosario lima peristiwa yang didaraskan pada setiap Selasa dan Jumat. Doa ini mengantarkan umat untuk merenungkan tujuh peristiwa duka yang dialami Santa Perawan ketika mendampingi Sang Putera sedari bayi hingga dimakamkan.

Ketika pertama kali diperkenalkan, sejumlah umat bahkan meminta buku panduan yang diterbitkan oleh pengurus lingkungan untuk digandakan sendiri, lantaran mereka ingin mendoakannya secara pribadi di rumah masing-masing. Bahkan ada yang berinisiatif untuk mencari dan membeli rosario-nya yang berbeda dengan rosario lima peristiwa.

Malam tadi, saya memimpin sendiri ibadat rosario dan novena ini. Jika malam-malam sebelumnya kehadiran pernah mencapai 43 orang dan tidak pernah kurang dari 23 orang, malam tadi kami, ber-28 orang ditambah 3 tamu, khusyuk dalam suasana doa dan larut dalam narasi yang menggambarkan kedukaan Bunda Maria. Seluruh umat pun secara bergantian mengangkat doa Salam Maria yang diulang sebanyak tujuh kali, pada tujuh peristiwa dukacita itu.

——- ——

Lingkungan Alfonsus hanyalah satu bagian dari paroki ini. Namun kesungguhan dan kesadaran umat akan pentingnya devosi kepada Bunda Maria dalam tiga tahun terakhir ini sudah menunjukkan kemajuan yang baik. Jika sebelumnya, sebagaimana jamak dilakukan di banyak lingkungan lain, rosario hanya dilakukan selama 9 kali dengan mengacu pada novena yang disatukan dengan rosario, sejak Oktober 2016 umat di lingkungan ini menjalankan rosario selama sebulan penuh, baik di Oktober maupun Mei.

Tak hanya rosario sebulan penuh, petugas ibadat yang tadinya hanya itu-itu saja lantaran tidak banyak yang berani memimpin doa, kini digilir dan lebih dari 50% umat sudah berani untuk memimpin doa, baik orang tua maupun anak-anak. Ada juga yang bertugas membacakan ujud, membawakan bacaan Injil dan renungan harian yang diambil dari Buku Inspirasi Batin.

Dorongan dan ajakan bahkan mungkin ada yang memulainya dengan terpaksa, tetapi perlahan-lahan semua mulai terbiasa. Dan setiap menjelang akhir bulan Oktober dan Mei, umat justru merindukan suasana rosario saban malam seperti malam-malam yang sudah lewat.

Sebetulnya alasan utama mengapa di lingkungan ini rosario dilakukan sebulan penuh, sederhana saja. Sebagai ketua lingkungan, ada mimpi untuk melihat semua umat terlibat, setidaknya menampakkan wajahnya dalam kegiatan lingkungan. Jika tidak bisa setiap kegiatan, minimal sekali dua kali mereka hadir. Melalui kesepakatan bersama umat, metode ini pun dilakukan agar setiap kepala keluarga menyediakan rumah mereka untuk berdoa bersama umat. Alhasil, 30 hingga 31 KK dengan sukacita memilih tanggal sesuai kesediaan mereka.

Memang, tidak semua warga kebagian ketempatan namun kami mengaturnya agar rumah-rumah yang sudah kebagian pendalaman iman pada bulan lalu, kali ini tidak mendapatkan bagian ketempatan.

—— ——-

Rosario dan novena malam tadi pun berakhir sekira jam 21.00 lewat sedikit. Usai mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah dan para petugas ibadat, saya pun meminta waktu sebentar kepada umat untuk mendengarkan beberapa sharing dari Tim Legio Mariae.

Markus Orong menyampaikan sedikit tentang perkembangan terkini dari Legio Mariae yang tadinya hanya terdiri dari dua presidium, kini akan menjadi lima presidium. Ia juga memperkenalkan sekitar 8 orang warga lingkungan ini yang tergabung dalam Legio Mariae.

“Terima kasih karena kami boleh diterima di tempat ini dan kami senang melihat semangat umat di lingkungan ini yang bersedia meluangkan waktu setiap malam sekitar lebih dari 1 jam untuk berdoa bersama dengan jumlah yang sebanyak ini.”

Setelah Orong, Susan pun membagian sedikit pengalaman rohani yang dia alami tentang kekuatan devosional kepada Bunda Maria. Ia pun mengimbau agar kesungguhan dalam berdoa, pengorbanan waktu dan tenaga yang diberikan untuk mengisi Bulan Maria dan Bulan Rosario ini akan menjadi lebih sempurna jika teladan Ibu Maria diejawantahkan dalam kehidupan umat sehari-hari.

Pertemuan kami berakhir dengan foto-foto bersama meski beberapa umat pamit lebih awal untuk urusan masing-masing mereka.

Masih ada 18 hari kedepan dan lingkungan ini terbuka bagi umat dari lingkungan tetangga yang ingin hadir dalam doa rasorio yang selalu ada setiap malamnya. Semoga kisah ini dapat menginspirasi kita semua. (Penulis: Ferdinand Lamak, Ketua Lingkungan Santo Alfonsus, Wilayah II)

 

 

 

HP Suci, Fenomena Umat Kekinian

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Suatu hari, ketika aku mengikuti ibadat penghiburan di sebuah rumah duka,  seorang Pendeta muda memberikan kotbah didepan umat yang hadir sambil memegang iPad di tangan kirinya dan mike di tangan kanannya. Lalu beliau berkata: ”Mari saudara-saudaraku terkasih, kita buka dan baca bersama-sama firman Tuhan dari Yohanes 14, ayat 2 dan 3..”,  seketika semua umat yang hadir dalam ibadat tersebut, memegang handphone mereka, sibuk mengetik dan mencari ayat yang diminta, lalu kemudian secara bersama-sama membaca ayat-ayat yang tertera di layar handphone sesuai instruksi sang Pendeta. Beberapa orang terlihat mengecek pesan whats app mereka setelah selesai membaca firman …hehe…mungkin mumpung sekalian lagi buka handphone.

Pemandangan seperti cerita diatas, adalah pemandangan umum yang sudah biasa aku lihat, dalam setiap kegiatan rohani jaman now. Mau tidak mau, suka tidak suka, kemajuan teknologi melalui alat canggih yang bernama handphone tampaknya mulai membawa dampak kedalam kehidupan rohani kita.

Aplikasi-aplikasi rohani dengan mudah dapat ditemukan dalam gadget yang ada ditangan kita. Dengan hati yang entah kenapa terasa tidak nyaman melihat fenomena “baca firman lewat Hp” yang kian umum dilakukan dalam kegiatan rohani maupun ibadat dan dianggap sudah biasa dan wajar karena jaman sudah canggih. Aku pernah bahas dengan seorang teman tentang hal ini, pertanyaan yang mengganjal dalam hatiku yang aku kemukakan adalah : “Kayaknya kok ga etis ya baca firman dari handphone ,bukan dari kitab suci, dalam suatu kegiatan rohani dan ibadat , memangnya sama dan diperbolehkan gereja?” temanku menjawab : “Sama aja, lebih praktis, ga usah berat-berat bawa alkitab, diperbolehkan kok sama gereja, buktinya ada tuh ekatolik , gereja yang bikin, tinggal kamu download aja di playstore, yang penting kita imani”.

Dan karena keingintahuanku, aku mendownload ekatolik tersebut, dan memang semuanya lengkap , banyak pilihan menu, apa saja ada…mau perjanjian lama, perjanjian baru, renungan, doa-doa, komplit deh pokoknya. So, kenyataannya kecanggihan rohani mengikuti kecanggihan teknologi…..turut serta membenahi  diri dalam tuntutan dinamika perkembangan zaman yang bergerak begitu cepat dan moderen.

Semua perubahan itu tentu saja akan membawa pengaruh pula pada  sikap-sikap dan keputusan-keputusan rohani kita, sebagai contoh: ketika ketua di salah satu grup rohaniku punya usul ingin menyumbang 50 buah kitab suci dan puji syukur untuk dikirim  ke sebuah gereja di daerah yang agak terpencil …hampir semua anggota grup tidak setuju….dengan argumen buat apa alkitab dan puji syukur, semua sekarang bisa dilihat lewat hp, lewat internet, jadi cuma buang-buang uang, mending nyumbang  yang lain.

OMG…Oh My God….hal-hal seperti ini sering membuat aku galau, apa sekarang Tuhan pindah ke hp? Ga ada lagi di kitab suci? Aku galau karena mungkin aku termasuk jadul, susah move on dari kebiasaan lama yang sudah kukenal berpuluh-puluh tahun selama menjadi katolik…tetap saja senengnya bawa-bawa alkitab, yang rasanya sekarang sering aku malah kelihatan ribet dan jadul. Saat aku sibuk  buka-buka lembaran alkitab mencari ayat yang disebutkan, sedangkan sebelahku dalam hitungan detik sudah menemukan ayat tersebut hanya dengan membuka ekatolik di hpnya lalu melirik kearahku dan nyeletuk, ”Kelamaan kamu, ga praktis sih, ngapain bawa-bawa alkitab, berat-beratin ajah!”……pembelaan diri dibenakku adalah : kitab itu buku, aku kutu buku makanya seneng bawa alkitab…aku bukan virus hp….jadi sampai kapanpun aku lebih suka kitab suci ketibang hp suci (tentu saja omongan pembelaan diri ini cuma aku dan Tuhan yang  tau hehe).

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi, tentu juga punya dampak positif, contoh salah satunya adalah melalui forwarded messages dengan mudah kita semua menerima renungan-renungan rohani beserta ayat firman Tuhan yang menyertai,  memang merupakan siraman rohani yang membuat kita yang membacanya menjadi merenung, meresapi dan memberi kekuatan. Aku pribadi juga merasakan manfaat dari aplikasi rohani di hpku…ketika jam-jam doa angelus tiba, alarm di hpku berbunyi  dan aku langsung membuka hpku, dan berdoa Malaikat Tuhan yang ada di aplikasi ekatolik….dan kalau harus pergi keluar kota atau keluar negri, aplikasi ini sangat membantuku untuk tetap berdoa dan membaca firman.

Salah satu forwarded message yang aku baca di grup whatsapp SMPku menguatkan keprihatinan dalam hatiku dalam melihat fenomena rohani jaman now ini bahwa aku tidak galau sendirian.  Berikut adalah renungan tersebut : “TOLONG BANTU ALKITAB YANG AKAN MENJADI EXTINCTION ( KEPUNAHAN )…Tahukah anda, bahwa alkitab tidak dapat dilihat dimana saja dalam 50 tahun mendatang jika tidak ada yang dilakukan untuk menyelamatkannya. Tahukah anda,bahwa setan menggunakan teknologi baru untuk menghapus alkitab dari toko-toko buku, rak buku , gereja dan orang-orang kristen. Dan orang-orang kristen membantu setan mencapai hal itu tanpa sepengetahuan mereka? Ketika para pelayan Tuhan berkhotbah dari laptop mereka, iPad dan handphone, tanpa membawa alkitab lagi, bukannya dari alkitab lagi, mereka secara tidak sengaja mendorong para anggota mereka untuk datang ke kebaktian gereja dengan  handphone mereka, bukan membawa alkitab mereka lagi. Sementara kelompok agama lainnya bekerja keras untuk melestarikan buku-buku agama mereka, orang-orang kristen bekerja keras untuk menghapus kitab suci…alkitab…dari hardcopy ke softcopy untuk kenyamanan mereka. Jika orang kristen melanjutkan sikap ini, maka alkitab akan kurang dijual dan secara bertahap penerbit akan menghentikan produksi alkitab. Teknologi telah menghasilkan banyak hal saat ini. Dimana TV hitam dan putih? Obor bertenaga baterai secara bertahap dihapus karena sudah ada obor yang dapat diisi ulang.  Tolong jangan biarkan kitab suci mengalami nasib yang sama. Masih ada kitab di surga (wahyu 20:12). Mari kita pergi ke kebaktian gereja dan persekutuan kita dengan alkitab kita. Jika pemberitaan dari Kitab suci adalah kuno dan memberatkan, marilah kita terus berkotbah darinya demi Kristus dan untuk melestarikan kitab suci. Jika pergi ke kebaktian gereja dengan alkitab adalah beban, ingatlah Yesus membawa beban yang lebih besar untuk anda. Anda dapat menggunakan iPad dan handphone saat membaca alkitab secara pribadi dirumah  untuk kenyamanan anda, tapi tolong selamatkan alkitab dari kepunahan dengan membawa  BUKU KITAB SUCI ke gereja dan persekutuan. Jika anda setuju dengan tulisan ini, tolong kirimkan pesan ini kepada semua orang kristen dan anak-anak Tuhan yang anda kenal”.

Siapapun yang menulis text message ini,  orang tersebut sama prihatinnya dan galaunya dengan aku….memang akan seperti itu, kitab suci terancam punah didunia. Teringat apa yang dikatakan anakku dan temanku ketika aku membeli dua buah alkitab yang  berukuran sedang di Gramedia untuk kubawa-bawa, karena sekarang aku hanya punya ukuran besar. Mereka berkomentar dengan heran: ”Hah, ngapain beli alkitab? kan udah ada semua di handphone”.  Patut kita renungkan bersama pesan yang di forward tersebut menjadi keprihatinan kita. Bersyukur aku sebagai orang katolik tidak membawa alkitab setiap misa ke gereja, karena aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau satu gereja semua umat, Imam serta  lektor/lektrisnya memegang handphone lalu ketika selesai membaca firman Tuhan mengangkat handphonenya dan berkata : ”Demikianlah sabda Tuhan….” atau ketika lektor/lektris tidak bisa lagi berkata: “Bacaan pertama diambil dari kitab kejadian bab etc…..”, tapi diganti menjadi: “bacaan pertama diambil dari ekatolik menu alkitab perjanjian lama etc…..”. Ngeri  ya ngebayanginnya, dan betapa menyedihkan kalau sampai nanti terjadi.

Kalau saja saudara seiman kita dari gereja Kristen sudah mulai alert atau waspada melihat fenomena “hp suci”….mereka dapat melihatnya lebih cepat karena membawa alkitab adalah ritual wajib setiap kegereja dan pengkotbah mereka juga membawa alkitab dalam memberikan kotbah untuk mengajak umat membuka dan membaca firman…maka aku berharap kita sebagai umat Katolik juga mulai aware atau sadar, fenomena “hp suci” tersebut belum sampai masuk ke gereja, namun  sudah masuk ke persekutan doa, pendalaman iman dan kegiatan rohani umat serta ke dalam persepsi pikiran umat bahwa semua itu sudah seharusnya terjadi karena teknologi semakin canggih dan sekarang jaman digital jadi tidak mengherankan kalau  kitab suci tidak  berbentuk kitab lagi.

Pertanyaanku adalah: Apa Tuhan ikut canggih dari kitab pindah ke hp? Apa hp itu jadi suci karena banyak aplikasi rohani didalamnya berdampingan dengan aplikasi duniawi yang menyesatkan lainnya? Apa benar sah-sah aja baca firman Tuhan lewat hp asal kita imani dan amini? Apa Tuhan pun maklum dan mengerti karena kecanggihan teknologi, dan perkembangan jaman, kitab suci akan berubah menjadi hp suci?. Semoga ini adalah PR ( pekerjaan rumah ) kita bersama sebagai umat katolik, mari selamatkan alkitab, kitab suci dimana saat kita membuka dan membacanya ,hanya kebenaran firman Tuhan dan kehadiran Tuhan yang kita lihat, tidak ada yang lain. God Bless us. (Penulis: Limut/ Triesly Wigati)

Sejuta Mawar untuk Bunda Maria

By Ferdinand Lamak,

CILINCING – October is coming! Bulan yang dinantikan oleh umat Katolik selain Mei, dua bulan itu dirayakan sebagai Bulan Maria, dua bulan yang khusus didedikasikan bagi devosi kepada Bunda Maria baik secara pribadi maupun bersama lingkungan dan paroki.  Pembukaan bulan Maria ini, ditandai dengan misa yang diadakan di semua paroki pada tanggal 30 september 2018, yang kebetulan jatuh pada hari minggu, termasuk di Paroki Cilincing, Misa pembukaan bulan Maria di Gereja Salib Suci, mengusung tema yang cantik yaitu Malam Persembahan Sejuta Mawar.

Melalui 3 macam kupon yang diedarkan ke paroki-paroki lain, termasuk ke Paroki St Gabriel Pulo Gebang, umat bisa membeli bunga mawar melalui kupon ini . Kupon A untuk 1 tangkai  mawar, kupon B untuk 10 tangkai dan kupon C untuk 20 tangkai mawar, dan dibalik kupon umat bisa menuliskan semua ujud doa yang diinginkan. Maka tidak heran kalau ada umat paroki Pulo gebang yang menghadiri misa pembukaan bulan Maria pada hari itu di Gereja Salib Suci, termasuk saya dan keluarga.

Acara ini baru pertama kalinya diadakan di Gereja Salib Suci,  dan merupakan  salah satu kegiatan dalam rangka pencarian dana untuk pembangunan gedung karya pastoral  yang sedang dibangun. Pada bulan Oktober ini, panitia pembangunan GKP mengadakan acara ini sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih  kepada Bunda Maria sekaligus membantu pembangunan gedung karya pastoral di Paroki Cilincing, lewat penjualan kupon.

Penukaran kupon dengan bunga mawar dimulai sejak pukul 16.30 di depan pintu masuk gereja, bunga mawar asli diberikan sebanyak kupon yang dibeli dan kemudian  kupon diambil panitia agar ujud-ujud doa yang telah ditulisi oleh umat bisa dikumpulkan untuk kemudian dibakar di gua Maria setelah ritual perarakan patung setelah misa nanti. Gedung GKP yang terletak didepan gedung gereja memang terlihat sedang dalam proses pembangunan. Umat  yang tidak bisa hadir namun ikut membeli kupon, bisa menitipkan kuponnya kepada yang lain atau kepada panitia jika kenal, sehingga ujud-ujud doa yang telah dituliskan tetap bisa di persembahkan bersama bunga mawar mereka.

Misa konselebrasi yang dimulai pada pukul 18.00, dibawakan oleh 6 orang pastor yaitu : Romo Canisius Sigit Tridrianto, CM (Pastor Paroki Cilincing), Romo Alexius Dwi Widiatna, CM., Romo E. Prasetyono, CM., Romo Didit Soepartono Pr dan Romo Jost Kokoh Pr.

Homili dibawakan oleh Romo Kokoh dan Romo Pras dengan gaya interaktif yang melibatkan umat. Be happy, be healthy and be holy, inti kotbah kedua romo tersebut. Seru dengan gerak dan pantun, terasa begitu meriah dan semarak ditambah banyaknya bunga mawar cantik yang dipegang oleh masing-masing umat saat misa untuk nantinya diberkati dengan percikan air suci oleh ke enam romo yang hadir sebelum dipersembahkan kepada Bunda Maria di gua.

Setelah misa selesai, dimulailah perarakan patung Bunda Maria mengikuti  rute jalan salib mengelilingi gereja dengan iringan doa rosario, umat dengan rapih dan tertib sambil memegang lilin dan bunga mawar masing-msing mengikuti perarakan yang berakhir di gua Maria dimana patung yang dibawa selama perarakan di letakkan di tempat yang telah disediakan. Lalu dengan berbaris, bergantian umat meletakkan bunga bunga mawar yang dipersembahkan kepada Bunda Maria dengan meletakkannya secara rapih memenuhi gua Maria, menyalakan lilin dan berdoa. Rangkaian acara ini berakhir sekitar pukul 21.00 wib.

Kuletakkan bunga mawarku dihadapan Bunda tercinta dan  dalam hening aku memejamkan mata, mengatupkan tangan…mempersembahkan semua ujud doa yang telah kami haturkan kepada Bunda Penolong, Ratu Rosari dan Bunda Pelindung Kami. Sejuta mawar buat bunda, sejuta harapan, sejuta doa dari kami anak-anakMu….semoga lewat perantaraan Bunda , putraNya yang terkasih Tuhan kami Yesus Kristus sudi mendengar dan mengabulkan doa-doa kami.

Mari kita  memasuki bulan Maria mulai tanggal 01 Oktober ini, dan selamat berdevosi sebulan penuh kepada Bunda Maria dengan berdoa rosario, novena dan berziarah ke Gua Maria sebagai wujud syukur, terima kasih dan cinta kita kepada Bunda Maria , Bunda kita semua.

Bunda Maria, Bunga Mawar yang Gaib, semoga Bunda menerima persembahan kami malam ini, malam yang penuh bunga mawar cantik berwarna warni untuk menyenangkan hati Bunda. Santa Bunda Allah, doakanlah kami agar kami pantas menerima janji Kristus, Amin. (Penulis dan Foto: Limut, Editor: Ferdinand Lamak)

Juara IV Lomba Menulis WKRI: Meluangkan Waktu Bersama Anak dalam Bersosial Media

By Ferdinand Lamak,

Oleh: Maria Gorethi Janawaty Kurniadi (Lingkungan Yakobus)

Bermedia sosial tidak selalu memberi dampak buruk bagi anak, mereka  layak menggunakan media sosial, tentu saja dengan pendampingan orangtua.

Menurut undang-undang Republik Indonesia no. 35 tahun 2014 pasal 1 – anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang masih di dalam kandungan – sumber dari Mitrawacana.or.id

Orangtua harus mengerti dan mau belajar tentang hal-hal positif maupun negatif dalam bermedia sosial sehingga tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Tanpa pendampingan orangtua, kemajuan teknologi  terutama media sosial berdampak buruk bagi perkembangan anak-anak, seperti telah diberitakan  di ‘ ANTARA’  https//m.antaranews.com   bahwa ada anak SMP dan SMA mengalami masalah kejiwaan karena penggunaan gawai ( Gadget) yang tidak terkendali, baik konten/ isi maupun durasi waktunya. Bahkan yang bersangkutan membentur-benturkan kepalanya ke tembok ketika sangat ingin menggunakan gawainya, namun tidak di ijinkan oleh orangtuanya.

Pengalaman bersama anak-anak saya memasuki  dunia media sosial, Puji Tuhan kami bisa bekerjasama dengan baik.

Beberapa hal yang kami sepakati bersama antara lain :

  1. Membatasi penggunaan internet; waktu ber internet tidak boleh mengganggu waktu belajar, waktu makan dan waktu doa. Kami orangtuanya juga tidak bermain internet di depan anak-anak.
  2. Memilih konten yang layak sesuai dengan umur anak ; Pornografi berakibat lebih buruk daripada narkoba, Pornografi  bila di tonton secara terus menerus, bisa menimbulkan dorongan sex yang tidak baik,  Hal ini terjadi  seperti yang telah  diberitakan di TribunNews.com,   pelecehan anak-anak kecil  yang berdampak negatif, dan buruk bagi perkembangan anak.
  3. Berita sesat , hoax, terorisme ; memberi tahukan kepada anak supaya tidak ikut menyebarkan berita yang belum  tentu kebenarannya dan  tidak jelas narasumbernya.

Memberitahukan  ke anak supaya  tidak membuat artikel artikel keagamaan yang bersifat radikal, menjurus terorisme.

  1. Informasi yang sifatnya pribadi ; Tidak memberikan informasi yang sifatnya pribadi kepada orang yang baru dikenal di media sosial, misalnya memberi nomor telpon, alamat rumah dan lain-lain.
  2. Berteman; orangtua berteman dengan anak-anak baik di face book, instagram, Whatsapp ( Wa), sehingga kita tahu siapa saja teman mereka dalam bermedia sosial
  3. Tempat bermedia sosial ; saya membiarkan anak bermedia sosial di rumah, supaya lebih mudah memantau kegiatan mereka bermedia sosial, terutama selama liburan karena mereka menghabiskan waktu bermedia sosial lebih lama dibanding hari-hari lainnya.
  4. Jujur ; menganjurkan anak untuk mengatakan jujur apabila mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan saat bermedia sosial  baik  dari teman atau dari orang yang baru mereka kenal.

Dengan kerjasama dan kesepakatan kami ( orangtua dan anak) tersebut di atas, Puji Tuhan saat ini anak anak kami sudah dewasa menjadi anak yang  jujur, tumbuh berkembang sempurna, menggunakan media sosial  tepat guna ( digunakan untuk hal-hal positif).

Bukti dari bermedia sosial tepat guna adalah  mereka  mencari dan mendapatkan  pekerjaan berkat informasi yang didapatkan  dari media internet.  Salah satu anak kami mendapatkan beasiswa juga    informasi dari media internet.

Saya dan suami  semakin meyakini  bahwa  sesibuk apapun kita sebagai orangtua, tetap harus meluangkan waktu untuk anak-anak terutama saat anak usia remaja, komunikasi yang baik menciptakan relasi yang baik antara anak dan orangtua. (Editor: Ferdinand Lamak)