Features


Sejuta Mawar untuk Bunda Maria

By Ferdinand Lamak,

CILINCING – October is coming! Bulan yang dinantikan oleh umat Katolik selain Mei, dua bulan itu dirayakan sebagai Bulan Maria, dua bulan yang khusus didedikasikan bagi devosi kepada Bunda Maria baik secara pribadi maupun bersama lingkungan dan paroki.  Pembukaan bulan Maria ini, ditandai dengan misa yang diadakan di semua paroki pada tanggal 30 september 2018, yang kebetulan jatuh pada hari minggu, termasuk di Paroki Cilincing, Misa pembukaan bulan Maria di Gereja Salib Suci, mengusung tema yang cantik yaitu Malam Persembahan Sejuta Mawar.

Melalui 3 macam kupon yang diedarkan ke paroki-paroki lain, termasuk ke Paroki St Gabriel Pulo Gebang, umat bisa membeli bunga mawar melalui kupon ini . Kupon A untuk 1 tangkai  mawar, kupon B untuk 10 tangkai dan kupon C untuk 20 tangkai mawar, dan dibalik kupon umat bisa menuliskan semua ujud doa yang diinginkan. Maka tidak heran kalau ada umat paroki Pulo gebang yang menghadiri misa pembukaan bulan Maria pada hari itu di Gereja Salib Suci, termasuk saya dan keluarga.

Acara ini baru pertama kalinya diadakan di Gereja Salib Suci,  dan merupakan  salah satu kegiatan dalam rangka pencarian dana untuk pembangunan gedung karya pastoral  yang sedang dibangun. Pada bulan Oktober ini, panitia pembangunan GKP mengadakan acara ini sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih  kepada Bunda Maria sekaligus membantu pembangunan gedung karya pastoral di Paroki Cilincing, lewat penjualan kupon.

Penukaran kupon dengan bunga mawar dimulai sejak pukul 16.30 di depan pintu masuk gereja, bunga mawar asli diberikan sebanyak kupon yang dibeli dan kemudian  kupon diambil panitia agar ujud-ujud doa yang telah ditulisi oleh umat bisa dikumpulkan untuk kemudian dibakar di gua Maria setelah ritual perarakan patung setelah misa nanti. Gedung GKP yang terletak didepan gedung gereja memang terlihat sedang dalam proses pembangunan. Umat  yang tidak bisa hadir namun ikut membeli kupon, bisa menitipkan kuponnya kepada yang lain atau kepada panitia jika kenal, sehingga ujud-ujud doa yang telah dituliskan tetap bisa di persembahkan bersama bunga mawar mereka.

Misa konselebrasi yang dimulai pada pukul 18.00, dibawakan oleh 6 orang pastor yaitu : Romo Canisius Sigit Tridrianto, CM (Pastor Paroki Cilincing), Romo Alexius Dwi Widiatna, CM., Romo E. Prasetyono, CM., Romo Didit Soepartono Pr dan Romo Jost Kokoh Pr.

Homili dibawakan oleh Romo Kokoh dan Romo Pras dengan gaya interaktif yang melibatkan umat. Be happy, be healthy and be holy, inti kotbah kedua romo tersebut. Seru dengan gerak dan pantun, terasa begitu meriah dan semarak ditambah banyaknya bunga mawar cantik yang dipegang oleh masing-masing umat saat misa untuk nantinya diberkati dengan percikan air suci oleh ke enam romo yang hadir sebelum dipersembahkan kepada Bunda Maria di gua.

Setelah misa selesai, dimulailah perarakan patung Bunda Maria mengikuti  rute jalan salib mengelilingi gereja dengan iringan doa rosario, umat dengan rapih dan tertib sambil memegang lilin dan bunga mawar masing-msing mengikuti perarakan yang berakhir di gua Maria dimana patung yang dibawa selama perarakan di letakkan di tempat yang telah disediakan. Lalu dengan berbaris, bergantian umat meletakkan bunga bunga mawar yang dipersembahkan kepada Bunda Maria dengan meletakkannya secara rapih memenuhi gua Maria, menyalakan lilin dan berdoa. Rangkaian acara ini berakhir sekitar pukul 21.00 wib.

Kuletakkan bunga mawarku dihadapan Bunda tercinta dan  dalam hening aku memejamkan mata, mengatupkan tangan…mempersembahkan semua ujud doa yang telah kami haturkan kepada Bunda Penolong, Ratu Rosari dan Bunda Pelindung Kami. Sejuta mawar buat bunda, sejuta harapan, sejuta doa dari kami anak-anakMu….semoga lewat perantaraan Bunda , putraNya yang terkasih Tuhan kami Yesus Kristus sudi mendengar dan mengabulkan doa-doa kami.

Mari kita  memasuki bulan Maria mulai tanggal 01 Oktober ini, dan selamat berdevosi sebulan penuh kepada Bunda Maria dengan berdoa rosario, novena dan berziarah ke Gua Maria sebagai wujud syukur, terima kasih dan cinta kita kepada Bunda Maria , Bunda kita semua.

Bunda Maria, Bunga Mawar yang Gaib, semoga Bunda menerima persembahan kami malam ini, malam yang penuh bunga mawar cantik berwarna warni untuk menyenangkan hati Bunda. Santa Bunda Allah, doakanlah kami agar kami pantas menerima janji Kristus, Amin. (Penulis dan Foto: Limut, Editor: Ferdinand Lamak)

Juara IV Lomba Menulis WKRI: Meluangkan Waktu Bersama Anak dalam Bersosial Media

By Ferdinand Lamak,

Oleh: Maria Gorethi Janawaty Kurniadi (Lingkungan Yakobus)

Bermedia sosial tidak selalu memberi dampak buruk bagi anak, mereka  layak menggunakan media sosial, tentu saja dengan pendampingan orangtua.

Menurut undang-undang Republik Indonesia no. 35 tahun 2014 pasal 1 – anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang masih di dalam kandungan – sumber dari Mitrawacana.or.id

Orangtua harus mengerti dan mau belajar tentang hal-hal positif maupun negatif dalam bermedia sosial sehingga tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Tanpa pendampingan orangtua, kemajuan teknologi  terutama media sosial berdampak buruk bagi perkembangan anak-anak, seperti telah diberitakan  di ‘ ANTARA’  https//m.antaranews.com   bahwa ada anak SMP dan SMA mengalami masalah kejiwaan karena penggunaan gawai ( Gadget) yang tidak terkendali, baik konten/ isi maupun durasi waktunya. Bahkan yang bersangkutan membentur-benturkan kepalanya ke tembok ketika sangat ingin menggunakan gawainya, namun tidak di ijinkan oleh orangtuanya.

Pengalaman bersama anak-anak saya memasuki  dunia media sosial, Puji Tuhan kami bisa bekerjasama dengan baik.

Beberapa hal yang kami sepakati bersama antara lain :

  1. Membatasi penggunaan internet; waktu ber internet tidak boleh mengganggu waktu belajar, waktu makan dan waktu doa. Kami orangtuanya juga tidak bermain internet di depan anak-anak.
  2. Memilih konten yang layak sesuai dengan umur anak ; Pornografi berakibat lebih buruk daripada narkoba, Pornografi  bila di tonton secara terus menerus, bisa menimbulkan dorongan sex yang tidak baik,  Hal ini terjadi  seperti yang telah  diberitakan di TribunNews.com,   pelecehan anak-anak kecil  yang berdampak negatif, dan buruk bagi perkembangan anak.
  3. Berita sesat , hoax, terorisme ; memberi tahukan kepada anak supaya tidak ikut menyebarkan berita yang belum  tentu kebenarannya dan  tidak jelas narasumbernya.

Memberitahukan  ke anak supaya  tidak membuat artikel artikel keagamaan yang bersifat radikal, menjurus terorisme.

  1. Informasi yang sifatnya pribadi ; Tidak memberikan informasi yang sifatnya pribadi kepada orang yang baru dikenal di media sosial, misalnya memberi nomor telpon, alamat rumah dan lain-lain.
  2. Berteman; orangtua berteman dengan anak-anak baik di face book, instagram, Whatsapp ( Wa), sehingga kita tahu siapa saja teman mereka dalam bermedia sosial
  3. Tempat bermedia sosial ; saya membiarkan anak bermedia sosial di rumah, supaya lebih mudah memantau kegiatan mereka bermedia sosial, terutama selama liburan karena mereka menghabiskan waktu bermedia sosial lebih lama dibanding hari-hari lainnya.
  4. Jujur ; menganjurkan anak untuk mengatakan jujur apabila mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan saat bermedia sosial  baik  dari teman atau dari orang yang baru mereka kenal.

Dengan kerjasama dan kesepakatan kami ( orangtua dan anak) tersebut di atas, Puji Tuhan saat ini anak anak kami sudah dewasa menjadi anak yang  jujur, tumbuh berkembang sempurna, menggunakan media sosial  tepat guna ( digunakan untuk hal-hal positif).

Bukti dari bermedia sosial tepat guna adalah  mereka  mencari dan mendapatkan  pekerjaan berkat informasi yang didapatkan  dari media internet.  Salah satu anak kami mendapatkan beasiswa juga    informasi dari media internet.

Saya dan suami  semakin meyakini  bahwa  sesibuk apapun kita sebagai orangtua, tetap harus meluangkan waktu untuk anak-anak terutama saat anak usia remaja, komunikasi yang baik menciptakan relasi yang baik antara anak dan orangtua. (Editor: Ferdinand Lamak)

Komitmen Kerukunan di HUT RI ke-73, RW 13 Pulo Gebang Permai

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Menjalin persaudaraan dan kerukunan antara sesama warga masyarakat yang plural adalah sebuah proses yang gampang-gampang-susah. Perbedaan dalam keragaman adalah sesuatu yang pasti, namun jika ada kerukunan didalamnya, maka itu menjadi sebuah potret yang indah. Demikian pula semangat yang tergambar dari warga seluruh RT yang ada di lingkup RW 13, Kelurahan Pulo Gebang Permai dalam merayakan HUT RI ke-73 tahun ini. Dalam sebuah rangkaian kegiatan yang dimulai sejak akhir Juli silam, Sabtu 25 Agustus 2018 malam, warga RW ini tiba pada puncak perayaan Gebyar HUT RI ke-73 di Graha RW-13. Memperkokoh Komitmen Kerukunan, begitu tema kegiatan malam itu.

Setelah pada petang harinya, pihak panitia menuntaskan beberapa kegiatan final lomba dan pertandingan, sekira pukul 18.00-an, warga pun mulai berdatangan ke lokasi acara. Ketua RW 13 melalui panitia memang mengundang secara khusus semua warga untuk hadir dalam acara ini. Ketika memasuki lokasi acara, kental terasa bahwa kegiatan ini telah dipersiapkan secara baik oleh panitia. Semakin malam, semakin banyak pula warga yang datang, mengantri didepan meja registrasi kemudian mendapatkan makanan ringan lalu mengambil tempat di deretan kursi yang telah disediakan. Antusiasme warga terlihat jelas dengan penuhnya semua kursi yang disediakan oleh panitia.

Tampak di deretan bangku terdepan, Ketua RW 13 disampingi oleh ustadz, pendeta dan para pengurus RT di dalam di dalam lingkup RW 13. Umat Paroki Pulo Gebang pun patut bersyukur karena di deretan itu, tampak pula Romo Alphonsus Setya Gunawan yang hadir, tidak hanya sebagai undangan melainkan juga sebagai warga lantaran Wisma Paroki berada dalam wilayah RW ini. Juga, ada tiga lingkungan yang berada di dalam RW ini yakni Lingkungan Maria, Alfonsus dan Mikael. Romo Gun datang didampingi sejumlah Pengurus DPH antara lain A. Witjaksono, Teguh Hartono dan Larry Sihombing.

Sarwoto Kasino sebagai Ketua Panitia HUT RI ke-73 RW 13 didaulat menyampaikan sambutannya. Ia melaporkan semua rangkaian kegiatan yang telah diadakan dalam rangka perayaan hari besar Bangsa Indonesia ini. Terima kasih atas kerjasama yang terjalin hingga terselenggaranya rangkaian kegiatan ini, pun terselip dalam sambutannya yang disambut tepuk tangan warga yang hadir.

Romo Gunawan pun didaulat untuk memberikan sambutan selaku undangan mewakili Pastor Paroki Pulo Gebang. Dalam sambutannya mengatakan, Memperkokoh Komitmen Kerukunan adalah sungguh suatu tema yang sangat indah, sangat menyejukkan dan sangat membanggakan kita semua. Apa yang terjadi pada saat negara ini berdiri, 17 Agustus 1945, negara kita berdiri dan terdiri dari berbagai suku, agama, bahasa, ras dan golongan tetapi kita semua bersatu dalam satu kesatuan karena kita bersama-sama berjuang untuk Indonesia merdeka.

Syihabuddin Latief, Ketua RW 13 dalam sambutannya mengajak seluruh warga agar dengan perayaan kemerdekaan RI ke-73 ini, agar bersatu dalam keberagaman serta menjaga selalu persatuan dalam perbedaan.

“Tadi sudah disampaikan oleh romo tentang bagaimana komitmen kita untuk memperkokoh komitmen kerukunan ini, dan kita semua tahu bahwa untuk membangun kerukunan di RW ini, kuncinya ada 3. Pertama, seluruh warga ini menerima perbedaan masing-masing. Karena statistik di RW ini, semua agama, suku dan bahasa ada semua di RW ini. Kedua warga harus memahami dan menerima perbedaan dan ketiga adalah mari bekerjasama dalam perbedaan. Dan, ini terbukti dalam kerjasama mempersiapkan kegiatan ini yang telah berjalan dengan baik tanpa gesekan. Terima kasih untuk semua warga.”

Acara malam itu diisi juga dengan penampilan warga yang mempersembahkan lagu-lagu nasional, tarian daerah dalam kemasan modern, juga penampilan band yang dibawakan oleh Karang Taruna RW 13. Tak lupa, door prize pun membanjiri acara itu dengan iringan organ tunggal yang diisi oleh buduanita yang disiapkan panitia serta sumbangan lagu-lagu ditingkahi tarian spontan dari warga yang hadir.

Tema yang diusung dalam kegiatan kali ini benar-benar tergambar dalam rangkaian pelaksanaan kegiatan HUT RI ke-73 hingga berpuncak pada acara malam itu. Menjelang pukul 00.00, rangkaian kegiatan ditutup dengan bersama membawakan lagu Kemesraan. Merdeka! (Ferdinand Lamak)

 

 

Rayakan Ulang Tahun Kelahiran dengan Berbagi Kasih di Panti Asuhan

By Ferdinand Lamak,

METLAND MENTENG – Ucapan syukur atas hari jadi kelahiran tentu identik dengan pesta atau dirayakan secara meriah. Tak terkecuali yang sedang berbahagia itu adalah seorang anak yang baru akan menginjak remaja. Tentu kebahagiaan tersebut akan lebih meriah dengan acara bersama kawan-kawan dalam alunan musik dan keramaian. Banyak cara yang dilakukan untuk memperingati hari jadinya tersebut.

Namun, ada ungkapan lain yang mungkin saja telah dilakukan oleh beberapa orang untuk merayakan hari kelahiran dengan cara yang berbeda. Model berbagi kasih disaat merayakan kebahagiaan tentu jalan tersendiri yang bisa dilakukan. Berbagi kasih kepada sesama dengan cara berkunjung dan memberikan donasi ke salah satu panti asuhan memang kerap dilakukan oleh orang-orang yang ingin merayakan kebahagiaannya dengan cara yang sederhana. Kesederhaan itu tampak dari orang yang menerima uluran kasih.

Eugenia Shani Gisela, seorang anak yang baru menginjak remaja, salah satu umat di Lingkungan Nathalia. Anak dari pasangan Stanislaus Dwi Putra Budiyanto dengan Skolastika Fanny Widiarja mengajak orang tua dan keluarga merayakan hari jadinya dengan berbagi kasih ke panti asuhan. Rupanya berbagi kasih demikian memang sering dilakukan oleh keluarga ini dan menjadi rutinitas keluarga untuk menolong sesama yang kekurangan.

Untuk mewujudkan kegiatan tersebut, Fanny yang memang dekat dengan Julya Theresia, Ketua Lingkungan Nathalia ini, menyampaikan ide dan usulannya untuk kegiatan di lingkungan. Maka, berdasarkan informasi yang disampaikan oleh salah satu umat tentang keberadaan suatu panti asuhan di Perumahan Harapan Indah, kegiatan atas nama lingkungan dengan dukungan penuh dari keluarga Fanny pun mulai dipersiapkan. Info kegiatan disampaikan melalui WAG lingkungan untuk mengajak keterlibatan umat dan partisipasi melalui donasi atau sumbangan yang ingin diberikan. Partisipasi bisa diberikan dalam bentuk barang ataupun uang.

Menurut Ibu Julya, kegiatan ini selain dalam rangka merayakan kebahagian salah satu keluarga di lingkungan juga untuk mengajak umat lingkungan berbagi kepada mereka yang kekurangan. Selain lokasi yang dekat, juga Panti Asuhan Vita Dulcedo ini dikelola oleh Suster dari Komunitas/Kongregrasi Suster Kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik (KYM).

Akhirnya, tepat tanggal 28 Juli 2018 pukul 10.45, keluarga pasangan Dwi dan Fanny bersama dengan umat lingkungan yang dikomandoi oleh Julya berangkat menuju lokasi dengan mobil pribadi yang disediakan oleh umat. Kehadiran umat Lingkungan Nathalia telah disambut oleh anak-anak panti asuhan dan suster-suster yang mengelola panti asuhan. Sebagian besar anak-anak Panti Asuhan berasal dari Papua. Itu diketahui saat anak-anak Panti Asuhan memperkenalkan diri. Usia anak-anak penghuni Panti Asuhan masih dibawah 12 tahun dan berpendidikan Sekolah Dasar (SD). Memang ada yang sudah Sekolah Menengah Pertama (SMP) tetapi tidak banyak.

Kebersamaan antara pengunjung dan penghuni panti asuhan terlihat akrab dan dekat. Anak-anak panti asuhan tidak merasa berbeda. Mereka siap dengan memperagakan aksi dan kemampuannya. Bernyanyi dan berjoget bersama merupakan persembahan dari mereka kepada umat yang datang. Mereka terlihat senang dan gembira telah dikunjungi. Umat pun membaur dan masing-masing saling bercanda dan berbicara dengan anak-anak dan Suster-suster. Acara yang dipandu oleh Dwi ini terlihat mengalir tanpa perencanaan yang terlalu rumit dan sulit.

Tepat pukul 12.00 siang, acara dihentikan sementara karena akan berdoa Malaikat Tuhan. Bersama-sama yang dipimpin oleh Suster Landelina KYM, semua mendaraskan doa Malaikat Tuhan. Setelah itu, acara dilanjutkan kembali. Selanjutnya, karena hari sudah menjelang siang, pukul 12.30, bersama-sama makan siang. Sebelum makan, secara simbolis melalui perwakilan Fanny menyerahkan uang tunai dan Julya menyerahkan beras kepada Suster Landelina KYM untuk kebutuhan panti asuhan. Jadi, selain uang tunai, barang-barang yang disumbangkan hasil dari partisipasi umat selain beras, juga berupa alat-alat tulis, indomie dan lainnya.

Acara berlangsung hingga pukul 14.30 dan umat lingkungan pamit untuk meninggalkan lokasi panti asuhan. Setelah foto bersama, satu per satu bersalaman dengan seluruh penghuni panti asuhan dan meninggalkan lokasi. Berbagi kasih dengan cara demikian merupakan sarana untuk lebih dekat dengan Tuhan karena seperti yang tertulis, “Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Markus 10:21)-(@nJoz)

Perayaan Syukur 25 Tahun PDPKK Santo Gabriel Melayani Umat

By Ferdinand Lamak,

25 Tahun, bukanlah perjalanan waktu yang singkat. Persekutuan Doa Pembaharuan Kharismatik Katolik Santo Gabriel Pulo Gebang telah melewati berbagai aral yang merintangi. Namun, kini mereka masih tegak dan kokoh berdiri sebagai sebagai salah satau pohon kekayaan Gereja Katolik khususnya di Paroki Santo Gabriel Pulo Gebang.

Dengan mengusung tema: Bersyukur…Bertumbuh dan Menjadi Berkat, Hut ke 25  PDPKK St. Gabriel dirayakan secara sederhana di Kapel Santo Gabriel pada hari Jumat, 1 Juni 2018 dalam wujud misa syukur dan adorasi. Seluruh pengurus, umat, wakil dari seksi dan kelompok kategorial paroki pun turut hadir. Ada juga beberapa tamu yang diundang khusus yaitu para aktivis yang pernah turut berkarya di Persekutuan Doa St. Gabriel namun sudah pindah paroki.

Misa yang dipersembahkan oleh Romo Aloysius Susilo Wijoyo, Pr dimulai pada pukul 10.00 dengan lagu-lagu pujian awal dan lagu pembukaan Jadikanlah aku rumah doamu. Diawal homilinya Romo Susilo yang belum lama memulai karya pelayanannya sebagai Pastor Kepala di Paroki St. Gabriel ini  sempat bingung mendengar perayaan HUT PDPKK yang ke 25 tahun, sedangkan usia paroki St. Gabriel sendiri baru mau 23 tahun pada bulan Juli nanti. Rupanya PDPKK ini sudah lahir dua tahun lebih awal saat paroki masih berbentuk stasi.

Dalam Homilinya Romo Susilo memberi sebuah cerita perumpamaan tentang Zakheus (Lukas 19: 4) yang menaiki Pohon Ara untuk dapat melihat Yesus karena badannya pendek. Persekutuan Doa Karismatik Katolik termasuk salah satu pohon kekayaan yang dimiliki oleh gereja, dan setiap orang boleh memilih pohonnya sendiri sebagai sarana. Panjatlah pohon tersebut dan gunakanlah  untuk bertemu dengan Yesus seperti Zakheus. Yang penting dpaat bertemu Yesus agar terjadi konsolasi rohani (kesegaran iman) dari yang tadinya desolasi rohani (kekeringan iman) karena Yesus merupakan sumber kesegaran iman.

Lebih lanjut, Romo Susilo menerangkan, untuk mengembangkan iman diperlukan spiritualitas, dan spiritualitas membutuhkan sarana. Ada 5 sarana spiritualitas yaitu: 1. Ekaristi Kudus 2. Baca Kitab Suci 3. Doa pribadi karena doa artinya: Dikuatkan Oleh Allah 4. Hidup berkomunitas melalui pohon-pohon kekayaan gereja 5. Pelayanan, karena iman itu perlu action atau tindakan, jangan hanya memikirkan diri sendiri karena Yesus sendiri datang untuk melayani bukan dilayani.

“Kunci melayani adalah merasakan kegembiraan tersendiri yaitu kegembiraan rohani yang tidak bisa diukur oleh uang atau apapun, hanya merasa bersyukur dan bersukacita,” ungkap Romo Susilo.

Di akhir homili, Romo Susilo mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-25 kepada PDPKK St. Gabriel Pulo Gebang. Usia 25 tahun bukanlah usia yang singkat namun suatu perjalanan panjang dan penuh dinamika yang harus terus dipertahankan karena PDPKK adalah kekayaan gereja sebagai salah satu pohon yang bisa membawa umat mengalami suka cita dalam Tuhan.

Sesudah Liturgi Ekaristi, acara dilanjutkan dengan Adorasi, penyembahan kepada Sakramen Mahakudus diiringi oleh lagu Tantum Ergo, lalu misa ditutup dengan lagu Jangan Lelah.

Semua tata cara dan urutan Perayaan Ekaristi selama Misa dan Adorasi sesuai dengan koridor liturgi Katolik, seperti Misa Katolik pada umumnya. Yang terasa berbeda hanya ada pada lagu-lagu karismatik yang dinyanyikan seperti FirmanMu Pelita Bagiku lagu antar bacaan dan Jadikan Aku Istana CintaMu sebagai lagu komuni. Tentu saja, ini memberi nuansa lain karena sentuhan pembaharuan karismatik.

Napak Tilas perjalanan 25 tahun PDKK St. Gabriel Pulo gebang

Setelah Misa dan Adorasi selesai, umat dan undangan menyaksikan penanyangan perjalanan PDPKK St. Gabriel yang ditampilkan di layar proyektor. PDPKK St Gabriel pada awalnya bernama PD Thomas Aquinas, terbentuk pada tahun 1993, diambil dari nama Pastor Paroki Pulomas pada masa itu yakni Romo Thomas Aquinas Murdjanto Rochadi Widagdo, Pr sebagai romo pembimbing Persekutuan Doa Stasi Pulo Gebang (Pastor Kepala Romo Silvester Nong, Pr), dan koordinator PD pertama adalah Alm. Eddy Partadinata.

Pada awalnya kegiatan PD Thomas Aquinas dilaksanakan di rumah salah satu aktifis PD yaitu Alm. Pasutri Ignatius Adjie / Elsye di PGP Blok B2/26, lalu pindah ke Stasi Pulo Gebang yang berlokasi di PGP Blok H.  Dengan berjalannya waktu, setelah Stasi Pulo Gebang diresmikan menjadi paroki ke 51 di KAJ pada tanggal 23 Juli 1995, maka PD Thomas Aquinas berubah menjadi PD. St. Gabriel, dan selanjutnya kegiatan rutin PDPKK dilaksanakan di gedung gereja ( rumah umat ) di PGP Blok F.

Masa Kepengurusan koordinator PDPKK St Gabriel selama 25 tahun adalah sebagai berikut :

  1. Eddy Partadinata Th 1993- 1996 ( PD Thomas Aquinas )
  2. Elsye Bernadeth Th 1996 – 2001 ( PD St. Gabriel )
  3. Vincent Chandra Th 2001 – 2004
  4. Monica Theresia Widiasih Th 2004 – 2013
  5. Laurentius Prajogi Sadikin Th 2013 – sekarang

Kegiatan PDPKK juga pernah mengalami masa masa sulit karena harus berpindah –pindah lokasi bolak balik diluar gedung gereja lalu kembali lagi ke gedung gereja, diantaranya :

  • Th 1998 pasca kerusuhan Mei – 2000, kegiatan dilaksanakan di rumah Pasutri Edu / Acunawati ( Taman Modern, H 4 / 12 )
  • Th 2000 – 2006, kembali ke paroki di gedung serbaguna pada masa kepengurusan Romo Bambang Wiryo Pr dan Rm Frans Doy Pr
  • Th 2006 -2011, pindah lagi ke rumah Pasutri Edu / Acunawati ( Taman modern H 4 / 12 )
  • Th 2011 – 2012, pindah ke kantor Tri Karya milik Pasutri Edu / Acunawati di Jalan Raya Bekasi
  • Th 2012, selama 2 bulan, pindah ke rumah Pasutri Donny Kindangen / Monica Widiasih ( Taman Modern, A 3/6 )
  • Th 2012 – 2015, pindah ke rumah Pasutri Dharmadi / Lidya ( Taman Modern, A2/29 )
  • Th 2015, hanya beberapa bulan, pindah ke gedung sekertariat paroki yang saat itu belum dibangun ( sekarang adalah GKP )
  • Th 2015 – 2016, pindah ke Kapel Sang Timur di Taman Modern
  • Th 2016 – sekarang, PDPKK sudah kembali ke Ruang Lukas di GKP

PDPKK juga beberapa kali  menyelenggarakan acara KKRK  (Kebaktian Kebangunan Rohani Katolik) di PRJ Kemayoran sebagai kegiatan dan dalam rangka membantu pencarian dana untuk pembangunan Gedung Gereja St. Gabriel. Pelayanan PDPKK dalam paroki yang sudah dilakukan dan dirasakan oleh umat paroki diantaranya adalah mengadakan persekutuan doa rutin setiap minggu, pembinaan tim dan umat berupa SHDRK (Seminar Hidup Baru dalam Roh Kudus), KEP (Kursus Evangelisasi Pribadi), retret, pelayanan doa bagi umat yang membutuhkan, dan sebagainya.

Kesan dan Harapan untuk PD PKK St Gabriel

Acara di kapel ditutup dengan sesi foto Pengurus PDPKK dan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng ulang tahun di Ruang Yakobus yang diwakili oleh Romo Susilo, Prajogi sebagai koordinator serta kedua eks koordinator (Vincent dan Monica), kemudian diakhiri dengan ramah tamah dan makan siang bersama hingga pukul 14.00.

Berikut adalah kesan dan harapan dari para koordinator serta umat yang hadir dalam perayaan Hut ke 25 tahun PDPKK St. Gabriel yang sempat diwawancarai.

Vincent chandra ( ex koordinator PDPKK 2001- 2004 )

PDPKK St Gabriel ini adalah karya Roh Kudus, jadi apapun tantangannya Tuhan selalu menyertai. Selama 25 tahun ini banyak tantangan, pindah lokasi, segala macam termasuk kesetiaan dari pada team dan orang yang terlibat didalamnya menunjukkan bahwa Roh Kudus semakin nyata dan menguatkan sehingga dengan tantangan tersebut team semakin kuat. Pesan saya adalah biarkan PD ini menggarami banyak orang sehingga menjadi tempat untuk bertumbuh dalam iman dan membawa banyak orang semakin dekat kepada Yesus. Dengan tetap setia dalam doa, tetap setia dalam melayani dan menghadapi tantangan, maka harapannya banyak orang terutama umat St. Gabriel yang akan mengalami kasih Tuhan.

Monica Theresia Widiasih ( ex koordinator PDPKK 2004 – 2013 )

PDPKK St Gabriel sangat tergantung dengan gembala, kalau dapat gembala yang men-support, kami jalannya ringan. Umat yang datang pun kadang banyak, kadang sedikit, namun kami bisa memahami dan menerima ini karena kembali kepada selera seperti yang diucapkan Romo Susilo dalam homili, ada yang suka bertumbuh dan berbuah melalui PD, ada yang suka dengan sarana yang lain. Kami juga sedikit prihatin melihat orang muda katolik yang menyeberang ke Kristen, karena mereka merasa ibadat di Kristen lebih hidup dan bersemangat. Kenapa kita tidak merangkul mereka dengan menunjukkan kepada mereka, kita di Katolik juga punya yang seperti itu namun tetap Katolik. Yang sekarang kami syukuri adalah Gereja St Gabriel punya GKP ( Gedung Karya Pastoral ), punya gedung gereja dan romo yang sangat mendukung. Dengan mempunyai tempat kegiatan dan tim yang sudah solid, harapan kami kedepannya PDPKK akan lebih baik lagi dan terus bertumbuh. Pesan saya kepada umat St Gabriel….Mari datanglah ke PDPKK, dan rasakan hadirat Tuhan, PDPKK siap melayani.

Laurentius Prajogi Sadikin ( Koordinator PDPKK 2013 – sekarang )

Seperti tema yang kami pilih , kami ingin bersyukur atas penyertaan Tuhan selama 25 tahun terhadap PDPKK St Gabriel, harapan kami adalah kami bisa terus bertumbuh sebagai salah satu pohon kekayaan gereja dan dapat menjadi berkat bagi orang lain khususnya bagi seluruh umat St. Gabriel. Perlu sekali sosialisasi PDPKK agar umat dapat memahami karena tujuannya adalah memperbaharui seluruh gereja bukan hanya kelompok tertentu, bahkan Bapak Suci Paus berpesan demikian, agar umat katolik memperbaharui hidupnya terus menerus sejalan dengan arti dari PDPKK sendiri adalah Persekutuan Doa Pembaharuan Karismatik Katolik yang sah dan resmi. Kami bersyukur, umat St Gabriel sangat menerima, terlebih pengurus dan tim PDPKK berbaur juga dengan kegiatan lain di paroki. Bagi umat yang suka memuji-muji Tuhan dengan lagu-lagu pujian yang lebih meriah, mari datang dan ikut kegiatan kami, sedangkan bagi umat yang lebih suka ketenangan, keheningan silahkan mengikuti kegiatan yang sesuai, seperti saya sendiri berasal dari kelompok Legio Maria sebelumnya. Harapan saya pribadi adalah semakin banyak yang dapat merasakan berkat dan menjadi berkat, minimal dalam keluarga dan lingkungan.

Anastasia  (Ketua Lingk St Monica)

Umat senang dengan keberadaan Persekutuan Doa ini karena banyak membantu umat dalam pelayanan khususnya bagi umat yang membutuhkan dukungan doa, semoga PDPKK St Gabriel semakin maju dan terus bertumbuh serta setia dalam pelayanan.

Dolly (Umat Lingk St Agatha)

Keberadaan Persekutuan Doa di Gereja St Gabriel membantu umat dengan kegiatan yang diadakan seperti KEP, SHBDR namun kadang masih kurang sosialisasi sehingga umat tidak mengetahui kegiatan rutin apa saja yang diadakan. Umat sendiri tidak pernah keberatan dengan keberadaan Persekutuan Doa karena memang sangat membantu dalam pelayanan kepada umat khususnya karena mempunyai team doa sendiri.

Sekapur Sirih

Perkembangan gerakan Pembaharuan Karismatik Katolik di Indonesia cukup pesat, tetapi tanggapan umat dan pimpinan Gereja yang masih simpang siur memang membutuhkan  bimbingan dan pengarahan dari pimpinan Gereja yang resmi, jelas dan sesuai dengan iman Gereja. Keberadaan PDPKK St Gabriel patut kita syukuri dengan melihat karya nyata Roh Kudus selama 25 tahun eksistensinya telah banyak  menghasilkan buah-buah roh lewat kegiatan dan pelayanan yang setia diberikan membawa berkat dan menjadi berkat untuk seluruh umat di paroki St. Gabriel Pulo Gebang. Proficiat untuk PDPKK St Gabriel, selamat merayakan hari ulang tahun ke 25. Selamat merayakan Pesta Perak yang penuh berkat dan syukur. Tuhan memberkati. (Penulis dan Foto: Triesly Wigati/Editor: Ferdinand Lamak)