Features


Perayaan Syukur 25 Tahun PDPKK Santo Gabriel Melayani Umat

By Ferdinand Lamak,

25 Tahun, bukanlah perjalanan waktu yang singkat. Persekutuan Doa Pembaharuan Kharismatik Katolik Santo Gabriel Pulo Gebang telah melewati berbagai aral yang merintangi. Namun, kini mereka masih tegak dan kokoh berdiri sebagai sebagai salah satau pohon kekayaan Gereja Katolik khususnya di Paroki Santo Gabriel Pulo Gebang.

Dengan mengusung tema: Bersyukur…Bertumbuh dan Menjadi Berkat, Hut ke 25  PDPKK St. Gabriel dirayakan secara sederhana di Kapel Santo Gabriel pada hari Jumat, 1 Juni 2018 dalam wujud misa syukur dan adorasi. Seluruh pengurus, umat, wakil dari seksi dan kelompok kategorial paroki pun turut hadir. Ada juga beberapa tamu yang diundang khusus yaitu para aktivis yang pernah turut berkarya di Persekutuan Doa St. Gabriel namun sudah pindah paroki.

Misa yang dipersembahkan oleh Romo Aloysius Susilo Wijoyo, Pr dimulai pada pukul 10.00 dengan lagu-lagu pujian awal dan lagu pembukaan Jadikanlah aku rumah doamu. Diawal homilinya Romo Susilo yang belum lama memulai karya pelayanannya sebagai Pastor Kepala di Paroki St. Gabriel ini  sempat bingung mendengar perayaan HUT PDPKK yang ke 25 tahun, sedangkan usia paroki St. Gabriel sendiri baru mau 23 tahun pada bulan Juli nanti. Rupanya PDPKK ini sudah lahir dua tahun lebih awal saat paroki masih berbentuk stasi.

Dalam Homilinya Romo Susilo memberi sebuah cerita perumpamaan tentang Zakheus (Lukas 19: 4) yang menaiki Pohon Ara untuk dapat melihat Yesus karena badannya pendek. Persekutuan Doa Karismatik Katolik termasuk salah satu pohon kekayaan yang dimiliki oleh gereja, dan setiap orang boleh memilih pohonnya sendiri sebagai sarana. Panjatlah pohon tersebut dan gunakanlah  untuk bertemu dengan Yesus seperti Zakheus. Yang penting dpaat bertemu Yesus agar terjadi konsolasi rohani (kesegaran iman) dari yang tadinya desolasi rohani (kekeringan iman) karena Yesus merupakan sumber kesegaran iman.

Lebih lanjut, Romo Susilo menerangkan, untuk mengembangkan iman diperlukan spiritualitas, dan spiritualitas membutuhkan sarana. Ada 5 sarana spiritualitas yaitu: 1. Ekaristi Kudus 2. Baca Kitab Suci 3. Doa pribadi karena doa artinya: Dikuatkan Oleh Allah 4. Hidup berkomunitas melalui pohon-pohon kekayaan gereja 5. Pelayanan, karena iman itu perlu action atau tindakan, jangan hanya memikirkan diri sendiri karena Yesus sendiri datang untuk melayani bukan dilayani.

“Kunci melayani adalah merasakan kegembiraan tersendiri yaitu kegembiraan rohani yang tidak bisa diukur oleh uang atau apapun, hanya merasa bersyukur dan bersukacita,” ungkap Romo Susilo.

Di akhir homili, Romo Susilo mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-25 kepada PDPKK St. Gabriel Pulo Gebang. Usia 25 tahun bukanlah usia yang singkat namun suatu perjalanan panjang dan penuh dinamika yang harus terus dipertahankan karena PDPKK adalah kekayaan gereja sebagai salah satu pohon yang bisa membawa umat mengalami suka cita dalam Tuhan.

Sesudah Liturgi Ekaristi, acara dilanjutkan dengan Adorasi, penyembahan kepada Sakramen Mahakudus diiringi oleh lagu Tantum Ergo, lalu misa ditutup dengan lagu Jangan Lelah.

Semua tata cara dan urutan Perayaan Ekaristi selama Misa dan Adorasi sesuai dengan koridor liturgi Katolik, seperti Misa Katolik pada umumnya. Yang terasa berbeda hanya ada pada lagu-lagu karismatik yang dinyanyikan seperti FirmanMu Pelita Bagiku lagu antar bacaan dan Jadikan Aku Istana CintaMu sebagai lagu komuni. Tentu saja, ini memberi nuansa lain karena sentuhan pembaharuan karismatik.

Napak Tilas perjalanan 25 tahun PDKK St. Gabriel Pulo gebang

Setelah Misa dan Adorasi selesai, umat dan undangan menyaksikan penanyangan perjalanan PDPKK St. Gabriel yang ditampilkan di layar proyektor. PDPKK St Gabriel pada awalnya bernama PD Thomas Aquinas, terbentuk pada tahun 1993, diambil dari nama Pastor Paroki Pulomas pada masa itu yakni Romo Thomas Aquinas Murdjanto Rochadi Widagdo, Pr sebagai romo pembimbing Persekutuan Doa Stasi Pulo Gebang (Pastor Kepala Romo Silvester Nong, Pr), dan koordinator PD pertama adalah Alm. Eddy Partadinata.

Pada awalnya kegiatan PD Thomas Aquinas dilaksanakan di rumah salah satu aktifis PD yaitu Alm. Pasutri Ignatius Adjie / Elsye di PGP Blok B2/26, lalu pindah ke Stasi Pulo Gebang yang berlokasi di PGP Blok H.  Dengan berjalannya waktu, setelah Stasi Pulo Gebang diresmikan menjadi paroki ke 51 di KAJ pada tanggal 23 Juli 1995, maka PD Thomas Aquinas berubah menjadi PD. St. Gabriel, dan selanjutnya kegiatan rutin PDPKK dilaksanakan di gedung gereja ( rumah umat ) di PGP Blok F.

Masa Kepengurusan koordinator PDPKK St Gabriel selama 25 tahun adalah sebagai berikut :

  1. Eddy Partadinata Th 1993- 1996 ( PD Thomas Aquinas )
  2. Elsye Bernadeth Th 1996 – 2001 ( PD St. Gabriel )
  3. Vincent Chandra Th 2001 – 2004
  4. Monica Theresia Widiasih Th 2004 – 2013
  5. Laurentius Prajogi Sadikin Th 2013 – sekarang

Kegiatan PDPKK juga pernah mengalami masa masa sulit karena harus berpindah –pindah lokasi bolak balik diluar gedung gereja lalu kembali lagi ke gedung gereja, diantaranya :

  • Th 1998 pasca kerusuhan Mei – 2000, kegiatan dilaksanakan di rumah Pasutri Edu / Acunawati ( Taman Modern, H 4 / 12 )
  • Th 2000 – 2006, kembali ke paroki di gedung serbaguna pada masa kepengurusan Romo Bambang Wiryo Pr dan Rm Frans Doy Pr
  • Th 2006 -2011, pindah lagi ke rumah Pasutri Edu / Acunawati ( Taman modern H 4 / 12 )
  • Th 2011 – 2012, pindah ke kantor Tri Karya milik Pasutri Edu / Acunawati di Jalan Raya Bekasi
  • Th 2012, selama 2 bulan, pindah ke rumah Pasutri Donny Kindangen / Monica Widiasih ( Taman Modern, A 3/6 )
  • Th 2012 – 2015, pindah ke rumah Pasutri Dharmadi / Lidya ( Taman Modern, A2/29 )
  • Th 2015, hanya beberapa bulan, pindah ke gedung sekertariat paroki yang saat itu belum dibangun ( sekarang adalah GKP )
  • Th 2015 – 2016, pindah ke Kapel Sang Timur di Taman Modern
  • Th 2016 – sekarang, PDPKK sudah kembali ke Ruang Lukas di GKP

PDPKK juga beberapa kali  menyelenggarakan acara KKRK  (Kebaktian Kebangunan Rohani Katolik) di PRJ Kemayoran sebagai kegiatan dan dalam rangka membantu pencarian dana untuk pembangunan Gedung Gereja St. Gabriel. Pelayanan PDPKK dalam paroki yang sudah dilakukan dan dirasakan oleh umat paroki diantaranya adalah mengadakan persekutuan doa rutin setiap minggu, pembinaan tim dan umat berupa SHDRK (Seminar Hidup Baru dalam Roh Kudus), KEP (Kursus Evangelisasi Pribadi), retret, pelayanan doa bagi umat yang membutuhkan, dan sebagainya.

Kesan dan Harapan untuk PD PKK St Gabriel

Acara di kapel ditutup dengan sesi foto Pengurus PDPKK dan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng ulang tahun di Ruang Yakobus yang diwakili oleh Romo Susilo, Prajogi sebagai koordinator serta kedua eks koordinator (Vincent dan Monica), kemudian diakhiri dengan ramah tamah dan makan siang bersama hingga pukul 14.00.

Berikut adalah kesan dan harapan dari para koordinator serta umat yang hadir dalam perayaan Hut ke 25 tahun PDPKK St. Gabriel yang sempat diwawancarai.

Vincent chandra ( ex koordinator PDPKK 2001- 2004 )

PDPKK St Gabriel ini adalah karya Roh Kudus, jadi apapun tantangannya Tuhan selalu menyertai. Selama 25 tahun ini banyak tantangan, pindah lokasi, segala macam termasuk kesetiaan dari pada team dan orang yang terlibat didalamnya menunjukkan bahwa Roh Kudus semakin nyata dan menguatkan sehingga dengan tantangan tersebut team semakin kuat. Pesan saya adalah biarkan PD ini menggarami banyak orang sehingga menjadi tempat untuk bertumbuh dalam iman dan membawa banyak orang semakin dekat kepada Yesus. Dengan tetap setia dalam doa, tetap setia dalam melayani dan menghadapi tantangan, maka harapannya banyak orang terutama umat St. Gabriel yang akan mengalami kasih Tuhan.

Monica Theresia Widiasih ( ex koordinator PDPKK 2004 – 2013 )

PDPKK St Gabriel sangat tergantung dengan gembala, kalau dapat gembala yang men-support, kami jalannya ringan. Umat yang datang pun kadang banyak, kadang sedikit, namun kami bisa memahami dan menerima ini karena kembali kepada selera seperti yang diucapkan Romo Susilo dalam homili, ada yang suka bertumbuh dan berbuah melalui PD, ada yang suka dengan sarana yang lain. Kami juga sedikit prihatin melihat orang muda katolik yang menyeberang ke Kristen, karena mereka merasa ibadat di Kristen lebih hidup dan bersemangat. Kenapa kita tidak merangkul mereka dengan menunjukkan kepada mereka, kita di Katolik juga punya yang seperti itu namun tetap Katolik. Yang sekarang kami syukuri adalah Gereja St Gabriel punya GKP ( Gedung Karya Pastoral ), punya gedung gereja dan romo yang sangat mendukung. Dengan mempunyai tempat kegiatan dan tim yang sudah solid, harapan kami kedepannya PDPKK akan lebih baik lagi dan terus bertumbuh. Pesan saya kepada umat St Gabriel….Mari datanglah ke PDPKK, dan rasakan hadirat Tuhan, PDPKK siap melayani.

Laurentius Prajogi Sadikin ( Koordinator PDPKK 2013 – sekarang )

Seperti tema yang kami pilih , kami ingin bersyukur atas penyertaan Tuhan selama 25 tahun terhadap PDPKK St Gabriel, harapan kami adalah kami bisa terus bertumbuh sebagai salah satu pohon kekayaan gereja dan dapat menjadi berkat bagi orang lain khususnya bagi seluruh umat St. Gabriel. Perlu sekali sosialisasi PDPKK agar umat dapat memahami karena tujuannya adalah memperbaharui seluruh gereja bukan hanya kelompok tertentu, bahkan Bapak Suci Paus berpesan demikian, agar umat katolik memperbaharui hidupnya terus menerus sejalan dengan arti dari PDPKK sendiri adalah Persekutuan Doa Pembaharuan Karismatik Katolik yang sah dan resmi. Kami bersyukur, umat St Gabriel sangat menerima, terlebih pengurus dan tim PDPKK berbaur juga dengan kegiatan lain di paroki. Bagi umat yang suka memuji-muji Tuhan dengan lagu-lagu pujian yang lebih meriah, mari datang dan ikut kegiatan kami, sedangkan bagi umat yang lebih suka ketenangan, keheningan silahkan mengikuti kegiatan yang sesuai, seperti saya sendiri berasal dari kelompok Legio Maria sebelumnya. Harapan saya pribadi adalah semakin banyak yang dapat merasakan berkat dan menjadi berkat, minimal dalam keluarga dan lingkungan.

Anastasia  (Ketua Lingk St Monica)

Umat senang dengan keberadaan Persekutuan Doa ini karena banyak membantu umat dalam pelayanan khususnya bagi umat yang membutuhkan dukungan doa, semoga PDPKK St Gabriel semakin maju dan terus bertumbuh serta setia dalam pelayanan.

Dolly (Umat Lingk St Agatha)

Keberadaan Persekutuan Doa di Gereja St Gabriel membantu umat dengan kegiatan yang diadakan seperti KEP, SHBDR namun kadang masih kurang sosialisasi sehingga umat tidak mengetahui kegiatan rutin apa saja yang diadakan. Umat sendiri tidak pernah keberatan dengan keberadaan Persekutuan Doa karena memang sangat membantu dalam pelayanan kepada umat khususnya karena mempunyai team doa sendiri.

Sekapur Sirih

Perkembangan gerakan Pembaharuan Karismatik Katolik di Indonesia cukup pesat, tetapi tanggapan umat dan pimpinan Gereja yang masih simpang siur memang membutuhkan  bimbingan dan pengarahan dari pimpinan Gereja yang resmi, jelas dan sesuai dengan iman Gereja. Keberadaan PDPKK St Gabriel patut kita syukuri dengan melihat karya nyata Roh Kudus selama 25 tahun eksistensinya telah banyak  menghasilkan buah-buah roh lewat kegiatan dan pelayanan yang setia diberikan membawa berkat dan menjadi berkat untuk seluruh umat di paroki St. Gabriel Pulo Gebang. Proficiat untuk PDPKK St Gabriel, selamat merayakan hari ulang tahun ke 25. Selamat merayakan Pesta Perak yang penuh berkat dan syukur. Tuhan memberkati. (Penulis dan Foto: Triesly Wigati/Editor: Ferdinand Lamak)

Tidak Mustahil, Doa Rosario Sebulan Penuh. Buktinya, Ada di Paroki Pulo Gebang

By Ferdinand Lamak,

Menjelang akhir bulan Mei lalu, penulis bersama keluarga menghadiri acara mengenang 100 hari meninggalnya ibunda dari sahabat isteri saya. Ibadat ini dilakukan dengan doa Rosario bersama umat Lingkungan yang dipimpin oleh seorang prodiakon di wilayah Paroki St. Albertus Harapan Indah. Sebelum ibadat, penulis sempat berbincang dengan salah satu umat yang adalah mantan umat Lingkungan Nathalia Paroki Pulo Gebang. Yohanes demikian nama beliau. Ia menceritakan bahwa ibadat doa Rosario ini merupakan kelanjutan dari ibadat doa Rosario pada malam-malam sebelumnya sepanjang Mei yang didedikasikan sebagai Bulan Maria.

Selidik punya selidik, ternyata ibadat doa Rosario dilingkungan ini dilakukan selama satu bulan penuh. Wah, apa benar, satu bulan penuh? Penulis wajar kaget, wajar juga jika Anda pun kaget. Untuk sebuah lingkungan di perumahan yang cukup moderen seperti ini, tentu kesibukan umatnya pun tinggi dan mungkin sulit untuk menyisihkan waktu setiap malam berdoa. Memang kehadiran umat pastinya fluktuatif namun pada hari penutupan itu, yang hadir sekira 25 orang dari berbagai macam usia.

Usai doa, ketua lingkungan mengumumkan bahwa jumlah fasilitator atau pelayan ibadat yang membawakan doa dan peristiwa-peristiwa berganti-ganti setiap harinya sepanjang Mei itu ada 15 orang.

Pengalaman ini membuat penulis dan isteri pun tak habis berdiskusi sepanjang jalan pulang dan bahkan hingga tiba di rumah. Memang bulan Mei dan Oktober bagi umat Katolik merupakan bulan devosi kepada Bunda Maria, sehingga wajar pada bulan-bulan tersebut atensi dan animo umat untuk hadir dan mengikuti ibadat doa Rosario lingkungan akan jauh lebih banyak dibandingkan dengan pendalaman iman seperti masa Adven, Bulan Kitab Suci Nasional atau masa Prapaskah.

Namun, yang biasa terjadi di lingkungan khususnya di Paroki Pulo Gebang, doa Rosario lingkungan biasanya dilakukan minimal seminggu sekali, baik di Mei maupun Oktober. Tetapi ada lingkungan yang merangkaikan doa Rosario dengan Novena Tiga Salam Maria. Penulis sendiri hingga hari ini masih bingung, apa korelasi dan hubungannya Novena yang berarti 9 kali itu dengan ibadat doa Rosario.

Beberapa hari kemudian, penulis bertandang ke rumah Ketua Lingkungan Santo Alfonsus, Ferdinandus Diri Amajari di Wilayah II Paroki Pulo Gebang, untuk mendiskusikan beberapa hal. Lingkungan tersebut lokasi dan letaknya tidak jauh dari Gereja Santo Gabriel. Di atas meja tempat kami berbincang, ada sebuah buku berjudul “Mater Dolorosa.” Penulis mengambil buku tersebut dan melihat dengan seksama, ternyata itu buku doa dan devosi kepada Bunda Maria yang diterbitkan khusus sebagai panduan bagi umat di lingkungan ini.

Penulis pun bertanya, apakah cukup banyak umat yang hadir dalam doa rosario di lingkungan mereka? “Ya sejak rosario diadakan sebulan penuh di Lingkungan Alfonsus, justru kehadiran umat meningkat sangat signifikan. Kalau di periode sebelumnya, pada Mei dan Oktober, Rosario hanya diadakan 9 kali saja, umat yang datang paling tinggi 20 orang. Sekarang malah, bisa tembus sampai 38 orang dan kalau dirata-ratakan, setiap malam sekitar 22-25 orang.”

Kekagetan penulis pun tak dapat disembunyikan. Rupanya sama dengan lingkungan di Paroki Harapan Indah yang dikisahkan di atas. Uniknya lagi, di lingkungan ini setiap Selasa dan Jumat saat dimana didaraskan Peristiwa Sedih, mereka membawakan Rosario Tujuh Dukacita Maria yang menurut Ferdi, sangat mengena dihati umat di lingkungannya. Semua teks dan panduannya dia rangkum dalam buku ‘Mater Dolorosa’ (Bunda Berdukacita – red) itu.

Lantas sejak kapan dan bagaimana Ferdi dapat menggerakkan umat di lingkungan untuk melakukan hal ini?

Ia pun berkata, tidak ada yang luar biasa. “Awalnya saya gugah hati umat dengan mengajak mereka berpikir, mungkinkah dalam 360 hari yang Tuhan berikan kepada kita dalam setahun, kita sisihkan waktu 1,5 jam selama 60 hari untuk Bunda Maria?” kisahnya.

Mulanya banyak umat yang keberatan dengan masalah ketempatan. “Lalu saya katakan kepada mereka, jika keberatan soal ketempatan, silahkan di rumah saya saja. Saya malah sangat bersyukur setiap malam bisa berdoa di rumah saya, akan banyak berkat yang bisa hadir di dalam rumah saya.”

Nah, gugahan ini lantas membuat umat pun mulai sadar. Sejak Oktober 2016 dan Mei 2017, lingkungan ini pun melakukan Rosario sebanyak 15 kali setiap bulannya. Umat mulai bersemangat untuk hadir, apalagi semua diberikan kesempatan untuk menjadi petugas ibadat dan dibimbing langsung oleh ketua lingkungannya.

“Dalam sebuah pertemuan dengan warga lingkungan di September 2017, sambil bakar ikan, saya mengajak warga untuk merencanakan Rosario pada Oktober, bulan berikutnya. Saya tanyakan, apakah mau kembali ke 9 hari saja, tetap dengan 15 hari atau malah mau kita lakukan setiap malam sepanjang bulan? Umat serempak menjawab, kita lakukan sebulan penuh pak, agar semua rumah pun bisa kebagian ketempatan,” kisahnya.

Praktis, sejak Oktober 2017 dan belanjut pada Mei 2018 Rosario di lingkungan ini dilakukan sebulan penuh. Positifnya lagi, umat yang sebelumnya pasif dan tidak berani memimpin doa, kini mulai aktif mengambil bagian mulai dari memimpin doa, membaca kita suci dan renungan harian dari Buku Ziarah Batin. Total dalam sebulan kemarin, ada sekira 20 orang yang mengambil bagian sebagai petugas ibadat Rosario.

Obrolan pun semakin jauh ketika penulis menanyakan, mengapa Ferdi melakukan ini semua? Bukankan waktu pribadinya sebagai ketua lingkungan pun banyak tersita untuk Rosario selama sebulan penuh?

“Keutamaan dari santo pelindung lingkungan kami. Santo Alfonsus Maria de Liguori. Uskup dan pendiri tarekat redemptoris (CsSR) itu adalah seorang yang membela Pujian dan Penghormatan kepada Bunda Maria ketika orang-orang Protestan menolak doa itu. Namanya selalu disebutkan dalam Novena Tiga Salam Maria. Ia aktif menyebarkan doa Salam Ya Ratu dan menulis buku Kemuliaan Maria yang terkenal itu. Nah sebagai umat Katolik yang hendaknya selalu berserah kepada Tuhan melalui Bunda Maria, spritualitas pelindung lingkungan ini menjadi salah satu faktor pencetusnya,” tutur mantan aktivis mahasiswa di PMKAJ (Paroki – Sekarang Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta Unit Timur) era 1994-1996 ini juga mengajak umat untuk mendalami tentang santo-santa pelindung mereka masing-masing.

“Apakah ini memberatkan umat? Fakta sudah menjawab bahwa umat justru antusias dan ketika Bulan Maria lewat, mereka justru merindukan saat-saat untuk berkumpul dan berdoa Rosario sebagaimana di bulan Mei dan Oktober. Dan, dalam waktu dekat pengurus akan menyusun rencana untuk doa rosario reguler di bulan-bulan lain selain Mei dan Oktober,” tuturnya.

Berbekal fakta dari kedua peristiwa dan cerita tentang ibadat doa Rosario selama satu bulan penuh yang sudah dilakukan oleh 2 (dua) Lingkungan dalam 2 (dua) Paroki yang berbeda ini, ternyata semuanya sangat bergantung dari niat dan keinginan bukan hanya pemimpin dalam hal ini Seksi Liturgi dan Ketua Lingkungan saja, tapi juga peran serta umat untuk bisa menghadiri dan mengikutinya secara penuh. Kenyataan itu juga membuktikan bahwa ibadat doa Rosario dalam rangka devosi kepada Bunda Maria ternyata bisa dilakukan selama satu bulan pada saat bulan Mei dan Oktober.

Devosi kepada Bunda Maria adalah hal yang membedakan umat Katolik dengan umat Kristen lainnya. Kecintaan kepada Bunda Maria begitu sangat kuat bagi umat Katolik. Apalagi kegiatan ini pada bulan Mei dan Oktober disertai dengan ziarah ke Gua Maria bukan hanya yang ada di Jakarta tetapi juga yang ada diluar Jakarta seperti Gua Maria Bukit Kanada, Serang Banten, Gua Maria Sendang Sono, Gua Mari Cisantana Sawer Rahmat Kuningan atau Gua Maria Lourdes-nya Indonesia yaitu di Poh Sarang, Kediri dan sebagainya.

Mudah-mudahan dengan devosi kepada Bunda Maria melalui aktifitas dan kegiatan doa Rosario serta ziarah, dapat semakin menguatkan iman umat Katolik. Apalagi dengan ibadat doa Rosario di Lingkungan selamat satu bulan penuh. Hanya perlu meyakinkan niat dan semangat saja, tentunya apa yang dilakukan oleh Lingkungan Santo Alfonsus ini, bisa diikuti oleh lingkungan lain di Paroki Pulo Gebang. Tiada yang mustahil bagi Allah, maka segalanya berjalan baik dan lancar. Tuhan memberkati. (Penulis: Naryo / @njozasm), Editor: Ferdinand Lamak)

Jalan Pagi di Wilayah 3, Ciptakan Kebersamaan Hingga Surplus Kalori

By Ferdinand Lamak,

TAMAN MODERN – Sabtu 27 April 2018, Koordinator Wilayah 3, para Ketua Lingkungan, perwakilan OMK dan sesepuh wilayah 3, penuh semangat menyambut pagi yang sedikit mendung dengan aktivitas jalan pagi bersama. Penuh keakraban, sesekali keluar tawa dan candaan ringan, langkah-langkah kecil kami menyusuri tiap lingkungan yang ada di Wilayah 3 Taman Modern.

Kegiatan jalan pagi yang dilakukan ini tidak semata-mata hanya untuk keakraban para Kaling, tetapi karena kami ingin ‘menjawil’ umat wilayah 3 untuk juga bersama-sama melakukan jalan pagi . Bukan hanya menyehatkan, tetapi akan tumbuh rasa kebersamaan nantinya. Ada beberapa umat yang langsung spontan ikut jalan kaki, tetapi ada beberapa yang belum siap dan berjanji untuk ikut di Sabtu yang akan datang.

Penuh semangat menyambut pagi yang sedikit mendung dengan aktivitas jalan pagi bersama.

Setelah menempuh sekian jarak, tidak terasa keringat bercucuran, juga ada panggilan halus dari perut kami masing-masing membuat langkah ini semakin semangat menuju warung kecil, sekedar menghentikan keringat dan menenangkan suara perut.

Duduk bersama, diselingi kelakar, kami sabar menunggu menu dihidangkan. Bukan pengurus lingkungan namanya jika tidak membahas PKP, maka kamipun sedikit membahas rencana kegiatan ditingkat wilayah. Muncul ide dan rencana baru yang tentunya bertujuan demi kebaikan bersama. Salah satunya adalah program jalan kaki bersama di setiap Sabtu pagi.

Bukan pengurus lingkungan namanya jika tidak membahas PKP.

Obrolan pun terhenti saat sang surya semakin tinggi. Tampak piring dan gelas juga sudah kosong. Kami pun beranjak, bukan pergi kembali ke rumah masing-masing , tetapi beranjak  untuk melakukan foto bersama. Segan rasanya membiarkan senyum kami terbuang tanpa didokumentasikan.

Di akhir perjumpaan, dari applikasi di handphone diketahui jarak dan waktu yang kami tempuh membakar 263 kalori. Dan menu pagi kami, bubur ayam, nasi lemak, pisang goreng, pisang rebus, liang teh, dan lain kalori yang masuk sebesar 300 kalori, celoteh seorang Kaling. Horee ..Ada surplus 37 kalori !!

Entah kebetulan atau tidak 37 mempunyai arti tersendiri untuk kami. Terletak di Wilayah 3 yang terbagi dalam 7 blok. Pas, 37 kalori sudah pasti membuat kami semakin bersemangat dalam tugas perutusan sebagai Korwil dan Kaling. Tuhan memberkati. (Penulis/Foto: Valent Pareira, Editor: Ferdinand Lamak)

Behind The Scene: Muasalnya Drama Panggilan Itu

By Ferdinand Lamak,

Berawal dari kegelisahan akan panggilan untuk menjadi seorang imam, bruder dan suster yang sangat rendah tercetuslah gagasan untuk mengadakan promosi panggilan dengan bentuk dan kemasan yang lain dari sebelumnya. Pasalnya, promosi, animasi atau misi panggilan dalam panggilan khusus ini di Paroki Pulo Gebang walau sudah berjalan sebelumnya namun masih belum maksimal dan efektif. Menumbuh-kembangkan keinginan dan minat masuk seminari masih sangat sulit.

Cara-cara lama seperti mengundang frater dan suster dari masing-masing tarekat untuk hadir di paroki baik dalam acara live in atau promosi belum sepenuhnya efektif. Mengajak para orang tua untuk bisa merelakan atau menganjurkan anak-anaknya masuk seminari melalui sharing pengalaman pribadi belumlah maksimal. Masih perlu perjuangan yang sangat besar dengan caara-cara yang lain.

Sudah sejak tahun sebelumnya, tumbuh kembang dan minat masuk seminari mulai terasakan. Walau masih perlu perjuangan ekstra keras, tapi sudah ada semangat dan keinginan dari anak-anak untuk masuk seminari. Dalam hal ini, perlu ada cara-cara yang berbeda dari biasa dilakukan supaya keinginan dan minat semakin besar, khususnya para orang tua.

Oleh karena itu, dalam merayakan Minggu Panggilan yang memang sudah disediakan khusus guna membuat ketertarikan dan minat masuk seminari, harus ada acara lain. Seringnya sharing dan penyampaian pengalaman dari para Frater dan Suster dalam Homili di Minggu Panggilan merupakan salah satu inspirasi untuk membuat acara berbeda.

Dengan semangat baru inilah, membuat drama panggilan untuk dipentaskan dalam homili di Minggu Panggilan menjadi alternatif baru kegiatan panggilan khusus ini. Homili dalam bentuk drama memang jarang sekali dilakukan dan bisa jadi ajakan baru untuk menyampaikan pesan.

Usulan membuat drama panggilan supaya bisa mengetuk hati dan pikiran para orang tua menjadi tema dan cara khusus di Paroki Pulo Gebang. Atas dasar inilah, usulan ditawarkan kepada Dewan Pendamping dan Pastor Paroki sehingga selama Minggu Panggilan, homili dalam setiap Misa diawali dengan suatu drama panggilan. Dukungan Dewan Pendamping dan para Pastor di Paroki Pulo Gebang menjadi penyemangat agar drama panggilan ini menjadi kenyataan.

Berdasarkan persetujuan yang didapat, maka pencarian bakat untuk para pemain drama khususnya yang bisa menggugah hati dan pikiran para orang tua tentunya adalah anak-anak misdinar. Justru anak-anak misdinar yang mempunyai keinginan untuk masuk seminari yang memang selama ini sudah menjadi bagian dari pengkaderan panggilan khusus, menjadi target utama pemeran dari drama panggilan ini. Tidak banyak kesulitan menawarkan pemeran drama pangglan kepada anak-anak misdinar di Pulo Gebang. Selain karena mereka sudah saling kenal dan dalam satu kekerabatan, mereka juga punya keinginan dan minat yang sama menjadi seminaris.

Kesenyapan dari publikasi tentang adanya drama panggilan, yang kalah jauh dengan publikasi Hari Ulang Tahun Perkawinan tidak menyurutkan semangat menampilkan drama panggilan. Memang kejutan yang ingin ditampilkan oleh drama panggilan dalam homili, merupakan keinginan tersendiri. Latihan dan persiapan menjelang penampilan terus ditingkatkan sebaik-baiknya. Membangun kebersamaan dan chemistry antar pemain terjadi dalam beberapa kali latihan selanjutnya. Hal ini disebabkan karena para pemain drama ini belum semuanya terbiasa sebagai pemeran dalam suatu kegiatan teater atau drama. Tetapi, semangat menampilkan sesuatu yang lain merupakan dorongan dan harapan dari para pemain ini.

Akhirnya, menjelang satu minggu sebelum hari H dari Minggu Panggilan, para pemain semakin mantap dan yakin akan penampilan mereka. Biarlah Penyelenggaran Ilahi saja yang berperan atas diri masing-masing pemeran supaya bisa menampilkan yang terbaik. Kepasrahan total dari para pemeran ini kiranya dapat menjadi pesan dan ajakan bagi para orang tua agar merelakan dan menganjurkan anak-anaknya memilih panggilan khusus dan masuk ke seminari dan biara menjadi Frater dan Suster. (Penulis dan Foto: @njozasm / Editor: Ferdinand Lamak)

Fragmen Panggilan: Ketika Niat Anak Masuk Seminari Jadi Dilema Orang Tua

By Ferdinand Lamak,

Romo, bruder atau suster sungguh dibutuhkan oleh umat. Sayangnya, benih panggilan dalam diri anak-anak, terkadang berhadapan dengan minimnya dukungan dari keluarga. Mari perkenalkan anak-anak dengan kehidupan para pekerja di ladang Tuhan.

Misa kedua Minggu kemarin (22/4/2018) baru saja usai. Petrus, seorang warga paroki yang tinggal di kawasan Penggilingan bersama isteri dan seorang anak laki-laki,  berdiri di tengah kerumunan umat yang baru saja selesai mengikuti misa. Wajah pria jebolan sebuah seminari di Bogor, Jawa Barat lebih dari 10 tahun silam itu nampak ceria sambil terus menggandeng sang putera yang duduk di bangku SLTP kelas II.

“Ini minggu panggilan sedunia dan semua Gereja Katolik di seluruh dunia hari ini mempromosikan abis kehidupan membiara kan? Cuma, sorry bro, gue rada gagal fokus nih. Anak gue lagi gue perkenalkan dengan hidup seminari, eh dia malah nanya, itu om-om dan tante-tante yang pada megang bunga mawar itu pasangan suami isteri ya pak. Jadi Minggu panggilan itu termasuk juga panggilan untuk menikah kan pak?” ujar Petrus yang didampingi isteri dan putera tertuanya berusia 14 tahun.

“Ya, paradoks sih!”

——

Paradoks memang, ketika umat digugah untuk merelakan putera-puterinya jika memiliki panggilan hidup membiara, namun di sisi yang lain ada potret tentang indahnya sebuah keluarga yang harmonis antara suami isteri dihadirkan pada saat yang sama.

Hal yang sama juga menjadi refleksi panjang dari Sunaryo Madhadi, Ketua Seksi Panggilan Paroki Santo Gabriel Pulo Gebang beberapa pekan silam. Saat itu, Paskah baru saja usai dan ia harus memikirkan bagaimana menghadirkan sesuatu yang baru dan lebih menyentuh anak-anak, terlebih para orang tua tentang panggilan hidup membiara. Ada evaluasi internal terhadap pola yang pernah dilakukan sebelumnya dengan mengundang biarawan-biarawati untuk sharing saat homili.

“Tercetuslah ide untuk menghadirkan drama kecil atau fragmen dan saya konsultasikan dengan Romo Susilo dan Romo Gun, ternyata disetujui dan yang membuat saya juga bersemangat karena romo pun sangat perhatian dengan persiapan kita,” tutur pria yang akrab disapa Naryo sembari mengatakan bahwa dirinya diminta oleh Romo Susilo untuk berkoordinasi dengan Romo Gun karena beliau sudah ada agenda dengan BL KEP.

Usai Paskah, Naryo langsung tancap gas. Meski waktu cukup singkat, dirinya dengan keyakinan yang cukup tinggi dapat mewujudkan rencana itu. Ia lalu mengumpulkan beberapa anak-anak anggota misdinar usia SLTP yang dalam beberapa bulan terakhir cukup intens berkomunikasi dengannya terkait rencana anak-anak ini untuk melanjutkan pendidikan ke seminari menengah. Juga beberapa anak usia SLTA yang mau diajak untuk mengambil peran dalam fragmen itu.

Para pemeran fragmen usai tampil

Chetto Parera, Bintang, Martin, Grace, Nadya, Nathan dan Loddie Lamak adalah beberapa anak yang Naryo libatkan di dalam fragmen itu. Mereka pun dengan sukacita berlatih, sekalipun waktu yang tersedia tidaklah banyak dan para pemeran yang sesuai dengan naskah bikinan Naryo sendiri, belumlah komplit.

“Anak-anak ini bagus, mereka sudah punya dasar ketertarikan untuk masuk ke seminari sehingga mereka makin bersemangat. Latihan pertama, pemainnya belum lengkap tetapi kita jalan saja dengan dukungan petugas koster dan beberapa teman yang membantu. Repotnya justru ketika kita hendak mencari talent untuk memerankan orang tua sesuai skenario, yang berlatar belakang pengusaha keturunan dan enyak babe untuk memerankan keluarga Betawi,” ungkap Naryo.

——– –

Suasana di dalam gereja minggu pagi itu, tampak cukup padat. Umat memenuhi seluruh bangku dan kursi yang disediakan, baik di lantai utama maupun di balkon. Bahkan terlihat beberapa umat yang mengikuti misa dari tangga karena tidak kebagian kursi. Sementara di deretan bangku bagian depan, tepatnya di belakang barisan para prodiakon, 64 pasangan pasutri duduk berdampingan dengan sekuntum mawar di tangan mereka. Selain merayakan hari itu sebagai Minggu Panggilan sedunia, pada misa tersebut dirayakan juga ulang tahun perkawinan dan pembaharuan janji perkawinan.

Usai Romo Gun membawakan bacaan injil, ia membuka homilinya dengan mengatakan bahwa setiap minggu Paskah ke-4, Gereja Katolik sedunia pun merayakannya sebagai Minggu Panggilan. Ia pun menganjak umat untuk menyimak drama kecil yang sudah disiapkan oleh seksi panggilan.

Kembali ke pria yang mengaku gagal fokus di atas, saat itu duduk di deretan bangku tengah sebelah kanan, persis di bawah balkon. Saat romo memersilahkan umat menyaksikan pementasan drama itu, Petrus dan puteranya mengarahkan mata ke pintu sakristi, tempat romo dan misdinar keluar dan masuk saat misa. Tiba-tiba isterinya mencolek tangan Petrus dan menunjuk ke arah 4 orang anak berseragam SLTA yang melintas di samping mereka duduk.

“Jujur saya kaget, rupanya para pemain sejak awal misa itu duduk di bangku belakang kami dan mereka muncul tiba-tiba,” ungkapnya.

Para pemeran Fragmen Minggu Panggilan 2018

Sementara dari sisi sebelah kiri, saat yang bersamaan pun sejumlah anak-anak berseragam SMP yang muncul dari bangku umat dan berjalan menuju ke depan. Mereka bercakap-cakap satu sama lain sepanjang perjalanan itu. Suara dialog mereka terdengar kurang jelas, mungkin karena kendala teknis sound system. Namun, sepintas terdengar mereka saling berceritera tentang rencana mereka melanjutkan pendidikannya ke jenjang berikut.

Sesaat kemudian, pasangan suami isteri dengan kostum dan aksen Betawi yang kental keluar dari sakristi. Sang enyak membawa panci di tangan, sementara dengan siulan kecil si babe membawa sangkar burung naik ke atas panggung yang tak lain adalah tangga altar. Loddie, pemeran anak SMP yang akan masuk seminari tahun ini pun datang menghampiri enyak dan terjadilah dialog. Ia menyampaikan niatnya untuk melanjutkan pendidikan ke seminari. Dan, brak! suara panci terjatuh di atas lantai membuat semua umat pun kaget. Sang enyak kaget mendengar ucapan Loddie.

Ape? Emang babe lu setuju lu masuk seminari,” ungkap sang ibu di tengah kagetnya mendengar niat sang anak.

Selintas kemudian, sang anak terlihat mendekati babe-nya. Diluar perkiraan umat yang hadir, ternyata niat sang anak direspon positif oleh sang ayah. Bertha dan Yabes Situmorang memerankan enyak dan babe dengan bagus.

Adegan yang berikutnya adalah, Martin yang berperan sebagai anak sulung dari keluarga pengusaha Tionghoa. Sang ayah  diperankan Ignatius Budi sementara ibundanya diperankan oleh Doli. Pada bagian ini, terlihat bagaimana realitas di masyarakat, terutama kalangan pengusaha yang cukup sulit melepaskan anak sulung-nya untuk menjalani hidup panggilan membiara. Keduanya, ayah dan ibu Martin, tampak keberatan jika anak lelaki sulungnya harus menjadi imam, hingga sang ayah pun menelepon Romo Susilo untuk berkonsultasi.

Tampak dari layar yang terpampang didepan, Romo Susilo menerima telepon dari ayah Martin yang meminta pendapat romo karena anak laki-laki tertuanya hendak masuk seminari. Romo pun menjawab sang ayah dengan tenang.

“Kalau menurut saya ni, kalau memang anaknya mau dan berkeinginan yang kuat, barangkali ia terpanggil. Kalau menurut saya sih turuti saja dulu maunya dia apa. Lalu kemudian cari informasi di Seminari Wacana Bhakti, lalu bagaimana cara mendaftarnya, lalu syaratnya apa saja. Ya, disitu juga ada SMA-nya. Kalau nanti lulus dan dia terpanggil, ya dia bisa jadi imam. Tetapi kalau tidak kan dia juga bisa menjadi awam yang baik. Jadi, ya ikutin saja dulu maunya dia pak, ya menurut saya lho ya pak…,” demikian Romo Susilo.

———— –

Adegan diskusi antara keluarga pengusaha dan Romo Susilo tentang niat anaknya yang hendak masuk seminari.

Naryo dalam perbincangan dengan media ini mengatakan, dari sisi pesan yang hendak disampaikan, dirinya sungguh mengangkat realitas yang terjadi di dalam keluarga-keluarga Katolik. Ia hendak menggugah nurani para orang tua ketika mereka mahfum bahwa tuaian sesungguhnya banyak, namun pekerjanya sedikit, jumlah umat terus bertambah namun jumlah anak-anak yang terpanggil untuk menjadi pastor, sangat sedikit. Namun di saat yang bersamaan, tidak banyak orang tua yang merelakan anaknya untuk melanjutkan pendidikan ke seminari, dengan alasan khawatir sang anak menjadi pastor.

Jika dibandingkan dengan paroki lain, panggilan di Paroki Santo Gabriel Pulo Gebang tergolong rendah. Setahun lalu, paroki ini hanya mengirimkan satu orang anak, yakni Netto Pareira ke Seminari Wacana Bhakti. Tahun ini pun hanya satu yang melamar dan diterima di Seminari Wacana Bhakti, yakni Loddie Lamak yang turut bermain di dalam fragmen ini. Pencapaian yang belum maksimal jika dibandingkan dengan sejumlah paroki lain seperti Bartolomeus, Mikael dan Albertus yang mengirimkan lebih dari 2 anak setiap tahun ke Seminari Wacana Bhakti maupun Stella Maris, Bogor.

Sejumlah umat yang menyaksikan pementasan fragmen ini mengatakan, ini menjadi warna yang lain di paroki ini. Penyampaian pesan melalui seni theater yang lebih terasa menyentuh hati, dibandingkan pola atau cara yang selama ini dilakukan. Apalagi, pesan yang disampaikan pas sekali dengan realitas yang ada di kalangan umat.

“Saya salut dengan anak-anak dan pemain lainnya. Mereka tekun berlatih dan tak sungkan melakukan improvisasi sendiri sehingga bayangkan dari 4 kali misa dimana mereka tampil ini, setiap penampilan mereka selalu ada improvisasi baru yang mereka lakukan di depan umat,” turut Naryo sembari mengatakan, dirinya hanya mempersiapkan mikrofon saja, sementara kostum disiapkan sendiri oleh para pemeran.

Sejumlah umat, selain Petrus, juga mengapresiasi program yang diselenggarakan oleh seksi panggilan ini. Di grup whatsapp DP Pleno Paroki Pulo Gebang, apresiasi datang dari sejumlah pihak terhadap model kampanye panggilan yang ditampilkan itu.

Congrats ya, fragmen panggilan oke banget tadi, lanjutkan dan sukses selalu,” ungkap A. Witjaksono, Wakil Ketua DPH, dilanjutkan dengan sejumlah ucapan selamat dari para pengurus DP Pleno Paroki Santo Gabriel, Pulo Gebang.

Romo Steph, romo tamu yang menyaksikan fragmen ini tatkala memimpin misa disore harinya pun mengatakan kekagumannya melihat sajian drama singkat yang penuh makna dan pesan ini. Ia bahkan mengatakan, belum pernah menyaksikan ini sebelumnya selama ia memimpin misa.

Ya, penampilan yang bagus dan diapresiasi ini semoga membekas dalam benak para orang tua dan anak-anak yang menyaksikan. Tinggal bagaimana para orang tua dapat mencerna dengan baik apa yang disampaikan Romo Gun ketika hendak mentup homili dalam misa itu.

“Jangan sampai kita seperti banyak orang tua yang berdoa, mendoakan anak-anak untuk terpanggil menjadi imam, bruder dan suster, tetapi jangan anak-anak saya.”

Petrus meski sempat kebingungan menjawab pertanyaan sang anak, apakah panggilan yang dimaksudkan adalah hidup membiara ataukah menikah dan berkeluarga, tetapi setidaknya ia cukup tersentuh dengan fragmen itu. Ia pun merasa perlu menyampaikan sesuatu untuk dijadikan bahan pertimbangan para pengurus paroki.

“Ya ini sih usul saja untuk para petinggi di paroki agar momen-momen penting yang jadi tema dunia seperti ini jangan dimasukan dengan tema-tema lain. Apalagi tema panggilan membiara dan ulang tahun perkawinan disatukan dalam misa yang sama, kayaknya enggak pas ya,” ungkap Petrus penuh harap. (Penulis/Editor: Ferdinand Lamak, Foto: Ferdinand Lamak & Naryo)