Features


Behind The Scene: Muasalnya Drama Panggilan Itu

By Ferdinand Lamak,

Berawal dari kegelisahan akan panggilan untuk menjadi seorang imam, bruder dan suster yang sangat rendah tercetuslah gagasan untuk mengadakan promosi panggilan dengan bentuk dan kemasan yang lain dari sebelumnya. Pasalnya, promosi, animasi atau misi panggilan dalam panggilan khusus ini di Paroki Pulo Gebang walau sudah berjalan sebelumnya namun masih belum maksimal dan efektif. Menumbuh-kembangkan keinginan dan minat masuk seminari masih sangat sulit.

Cara-cara lama seperti mengundang frater dan suster dari masing-masing tarekat untuk hadir di paroki baik dalam acara live in atau promosi belum sepenuhnya efektif. Mengajak para orang tua untuk bisa merelakan atau menganjurkan anak-anaknya masuk seminari melalui sharing pengalaman pribadi belumlah maksimal. Masih perlu perjuangan yang sangat besar dengan caara-cara yang lain.

Sudah sejak tahun sebelumnya, tumbuh kembang dan minat masuk seminari mulai terasakan. Walau masih perlu perjuangan ekstra keras, tapi sudah ada semangat dan keinginan dari anak-anak untuk masuk seminari. Dalam hal ini, perlu ada cara-cara yang berbeda dari biasa dilakukan supaya keinginan dan minat semakin besar, khususnya para orang tua.

Oleh karena itu, dalam merayakan Minggu Panggilan yang memang sudah disediakan khusus guna membuat ketertarikan dan minat masuk seminari, harus ada acara lain. Seringnya sharing dan penyampaian pengalaman dari para Frater dan Suster dalam Homili di Minggu Panggilan merupakan salah satu inspirasi untuk membuat acara berbeda.

Dengan semangat baru inilah, membuat drama panggilan untuk dipentaskan dalam homili di Minggu Panggilan menjadi alternatif baru kegiatan panggilan khusus ini. Homili dalam bentuk drama memang jarang sekali dilakukan dan bisa jadi ajakan baru untuk menyampaikan pesan.

Usulan membuat drama panggilan supaya bisa mengetuk hati dan pikiran para orang tua menjadi tema dan cara khusus di Paroki Pulo Gebang. Atas dasar inilah, usulan ditawarkan kepada Dewan Pendamping dan Pastor Paroki sehingga selama Minggu Panggilan, homili dalam setiap Misa diawali dengan suatu drama panggilan. Dukungan Dewan Pendamping dan para Pastor di Paroki Pulo Gebang menjadi penyemangat agar drama panggilan ini menjadi kenyataan.

Berdasarkan persetujuan yang didapat, maka pencarian bakat untuk para pemain drama khususnya yang bisa menggugah hati dan pikiran para orang tua tentunya adalah anak-anak misdinar. Justru anak-anak misdinar yang mempunyai keinginan untuk masuk seminari yang memang selama ini sudah menjadi bagian dari pengkaderan panggilan khusus, menjadi target utama pemeran dari drama panggilan ini. Tidak banyak kesulitan menawarkan pemeran drama pangglan kepada anak-anak misdinar di Pulo Gebang. Selain karena mereka sudah saling kenal dan dalam satu kekerabatan, mereka juga punya keinginan dan minat yang sama menjadi seminaris.

Kesenyapan dari publikasi tentang adanya drama panggilan, yang kalah jauh dengan publikasi Hari Ulang Tahun Perkawinan tidak menyurutkan semangat menampilkan drama panggilan. Memang kejutan yang ingin ditampilkan oleh drama panggilan dalam homili, merupakan keinginan tersendiri. Latihan dan persiapan menjelang penampilan terus ditingkatkan sebaik-baiknya. Membangun kebersamaan dan chemistry antar pemain terjadi dalam beberapa kali latihan selanjutnya. Hal ini disebabkan karena para pemain drama ini belum semuanya terbiasa sebagai pemeran dalam suatu kegiatan teater atau drama. Tetapi, semangat menampilkan sesuatu yang lain merupakan dorongan dan harapan dari para pemain ini.

Akhirnya, menjelang satu minggu sebelum hari H dari Minggu Panggilan, para pemain semakin mantap dan yakin akan penampilan mereka. Biarlah Penyelenggaran Ilahi saja yang berperan atas diri masing-masing pemeran supaya bisa menampilkan yang terbaik. Kepasrahan total dari para pemeran ini kiranya dapat menjadi pesan dan ajakan bagi para orang tua agar merelakan dan menganjurkan anak-anaknya memilih panggilan khusus dan masuk ke seminari dan biara menjadi Frater dan Suster. (Penulis dan Foto: @njozasm / Editor: Ferdinand Lamak)

Fragmen Panggilan: Ketika Niat Anak Masuk Seminari Jadi Dilema Orang Tua

By Ferdinand Lamak,

Romo, bruder atau suster sungguh dibutuhkan oleh umat. Sayangnya, benih panggilan dalam diri anak-anak, terkadang berhadapan dengan minimnya dukungan dari keluarga. Mari perkenalkan anak-anak dengan kehidupan para pekerja di ladang Tuhan.

Misa kedua Minggu kemarin (22/4/2018) baru saja usai. Petrus, seorang warga paroki yang tinggal di kawasan Penggilingan bersama isteri dan seorang anak laki-laki,  berdiri di tengah kerumunan umat yang baru saja selesai mengikuti misa. Wajah pria jebolan sebuah seminari di Bogor, Jawa Barat lebih dari 10 tahun silam itu nampak ceria sambil terus menggandeng sang putera yang duduk di bangku SLTP kelas II.

“Ini minggu panggilan sedunia dan semua Gereja Katolik di seluruh dunia hari ini mempromosikan abis kehidupan membiara kan? Cuma, sorry bro, gue rada gagal fokus nih. Anak gue lagi gue perkenalkan dengan hidup seminari, eh dia malah nanya, itu om-om dan tante-tante yang pada megang bunga mawar itu pasangan suami isteri ya pak. Jadi Minggu panggilan itu termasuk juga panggilan untuk menikah kan pak?” ujar Petrus yang didampingi isteri dan putera tertuanya berusia 14 tahun.

“Ya, paradoks sih!”

——

Paradoks memang, ketika umat digugah untuk merelakan putera-puterinya jika memiliki panggilan hidup membiara, namun di sisi yang lain ada potret tentang indahnya sebuah keluarga yang harmonis antara suami isteri dihadirkan pada saat yang sama.

Hal yang sama juga menjadi refleksi panjang dari Sunaryo Madhadi, Ketua Seksi Panggilan Paroki Santo Gabriel Pulo Gebang beberapa pekan silam. Saat itu, Paskah baru saja usai dan ia harus memikirkan bagaimana menghadirkan sesuatu yang baru dan lebih menyentuh anak-anak, terlebih para orang tua tentang panggilan hidup membiara. Ada evaluasi internal terhadap pola yang pernah dilakukan sebelumnya dengan mengundang biarawan-biarawati untuk sharing saat homili.

“Tercetuslah ide untuk menghadirkan drama kecil atau fragmen dan saya konsultasikan dengan Romo Susilo dan Romo Gun, ternyata disetujui dan yang membuat saya juga bersemangat karena romo pun sangat perhatian dengan persiapan kita,” tutur pria yang akrab disapa Naryo sembari mengatakan bahwa dirinya diminta oleh Romo Susilo untuk berkoordinasi dengan Romo Gun karena beliau sudah ada agenda dengan BL KEP.

Usai Paskah, Naryo langsung tancap gas. Meski waktu cukup singkat, dirinya dengan keyakinan yang cukup tinggi dapat mewujudkan rencana itu. Ia lalu mengumpulkan beberapa anak-anak anggota misdinar usia SLTP yang dalam beberapa bulan terakhir cukup intens berkomunikasi dengannya terkait rencana anak-anak ini untuk melanjutkan pendidikan ke seminari menengah. Juga beberapa anak usia SLTA yang mau diajak untuk mengambil peran dalam fragmen itu.

Para pemeran fragmen usai tampil

Chetto Parera, Bintang, Martin, Grace, Nadya, Nathan dan Loddie Lamak adalah beberapa anak yang Naryo libatkan di dalam fragmen itu. Mereka pun dengan sukacita berlatih, sekalipun waktu yang tersedia tidaklah banyak dan para pemeran yang sesuai dengan naskah bikinan Naryo sendiri, belumlah komplit.

“Anak-anak ini bagus, mereka sudah punya dasar ketertarikan untuk masuk ke seminari sehingga mereka makin bersemangat. Latihan pertama, pemainnya belum lengkap tetapi kita jalan saja dengan dukungan petugas koster dan beberapa teman yang membantu. Repotnya justru ketika kita hendak mencari talent untuk memerankan orang tua sesuai skenario, yang berlatar belakang pengusaha keturunan dan enyak babe untuk memerankan keluarga Betawi,” ungkap Naryo.

——– –

Suasana di dalam gereja minggu pagi itu, tampak cukup padat. Umat memenuhi seluruh bangku dan kursi yang disediakan, baik di lantai utama maupun di balkon. Bahkan terlihat beberapa umat yang mengikuti misa dari tangga karena tidak kebagian kursi. Sementara di deretan bangku bagian depan, tepatnya di belakang barisan para prodiakon, 64 pasangan pasutri duduk berdampingan dengan sekuntum mawar di tangan mereka. Selain merayakan hari itu sebagai Minggu Panggilan sedunia, pada misa tersebut dirayakan juga ulang tahun perkawinan dan pembaharuan janji perkawinan.

Usai Romo Gun membawakan bacaan injil, ia membuka homilinya dengan mengatakan bahwa setiap minggu Paskah ke-4, Gereja Katolik sedunia pun merayakannya sebagai Minggu Panggilan. Ia pun menganjak umat untuk menyimak drama kecil yang sudah disiapkan oleh seksi panggilan.

Kembali ke pria yang mengaku gagal fokus di atas, saat itu duduk di deretan bangku tengah sebelah kanan, persis di bawah balkon. Saat romo memersilahkan umat menyaksikan pementasan drama itu, Petrus dan puteranya mengarahkan mata ke pintu sakristi, tempat romo dan misdinar keluar dan masuk saat misa. Tiba-tiba isterinya mencolek tangan Petrus dan menunjuk ke arah 4 orang anak berseragam SLTA yang melintas di samping mereka duduk.

“Jujur saya kaget, rupanya para pemain sejak awal misa itu duduk di bangku belakang kami dan mereka muncul tiba-tiba,” ungkapnya.

Para pemeran Fragmen Minggu Panggilan 2018

Sementara dari sisi sebelah kiri, saat yang bersamaan pun sejumlah anak-anak berseragam SMP yang muncul dari bangku umat dan berjalan menuju ke depan. Mereka bercakap-cakap satu sama lain sepanjang perjalanan itu. Suara dialog mereka terdengar kurang jelas, mungkin karena kendala teknis sound system. Namun, sepintas terdengar mereka saling berceritera tentang rencana mereka melanjutkan pendidikannya ke jenjang berikut.

Sesaat kemudian, pasangan suami isteri dengan kostum dan aksen Betawi yang kental keluar dari sakristi. Sang enyak membawa panci di tangan, sementara dengan siulan kecil si babe membawa sangkar burung naik ke atas panggung yang tak lain adalah tangga altar. Loddie, pemeran anak SMP yang akan masuk seminari tahun ini pun datang menghampiri enyak dan terjadilah dialog. Ia menyampaikan niatnya untuk melanjutkan pendidikan ke seminari. Dan, brak! suara panci terjatuh di atas lantai membuat semua umat pun kaget. Sang enyak kaget mendengar ucapan Loddie.

Ape? Emang babe lu setuju lu masuk seminari,” ungkap sang ibu di tengah kagetnya mendengar niat sang anak.

Selintas kemudian, sang anak terlihat mendekati babe-nya. Diluar perkiraan umat yang hadir, ternyata niat sang anak direspon positif oleh sang ayah. Bertha dan Yabes Situmorang memerankan enyak dan babe dengan bagus.

Adegan yang berikutnya adalah, Martin yang berperan sebagai anak sulung dari keluarga pengusaha Tionghoa. Sang ayah  diperankan Ignatius Budi sementara ibundanya diperankan oleh Doli. Pada bagian ini, terlihat bagaimana realitas di masyarakat, terutama kalangan pengusaha yang cukup sulit melepaskan anak sulung-nya untuk menjalani hidup panggilan membiara. Keduanya, ayah dan ibu Martin, tampak keberatan jika anak lelaki sulungnya harus menjadi imam, hingga sang ayah pun menelepon Romo Susilo untuk berkonsultasi.

Tampak dari layar yang terpampang didepan, Romo Susilo menerima telepon dari ayah Martin yang meminta pendapat romo karena anak laki-laki tertuanya hendak masuk seminari. Romo pun menjawab sang ayah dengan tenang.

“Kalau menurut saya ni, kalau memang anaknya mau dan berkeinginan yang kuat, barangkali ia terpanggil. Kalau menurut saya sih turuti saja dulu maunya dia apa. Lalu kemudian cari informasi di Seminari Wacana Bhakti, lalu bagaimana cara mendaftarnya, lalu syaratnya apa saja. Ya, disitu juga ada SMA-nya. Kalau nanti lulus dan dia terpanggil, ya dia bisa jadi imam. Tetapi kalau tidak kan dia juga bisa menjadi awam yang baik. Jadi, ya ikutin saja dulu maunya dia pak, ya menurut saya lho ya pak…,” demikian Romo Susilo.

———— –

Adegan diskusi antara keluarga pengusaha dan Romo Susilo tentang niat anaknya yang hendak masuk seminari.

Naryo dalam perbincangan dengan media ini mengatakan, dari sisi pesan yang hendak disampaikan, dirinya sungguh mengangkat realitas yang terjadi di dalam keluarga-keluarga Katolik. Ia hendak menggugah nurani para orang tua ketika mereka mahfum bahwa tuaian sesungguhnya banyak, namun pekerjanya sedikit, jumlah umat terus bertambah namun jumlah anak-anak yang terpanggil untuk menjadi pastor, sangat sedikit. Namun di saat yang bersamaan, tidak banyak orang tua yang merelakan anaknya untuk melanjutkan pendidikan ke seminari, dengan alasan khawatir sang anak menjadi pastor.

Jika dibandingkan dengan paroki lain, panggilan di Paroki Santo Gabriel Pulo Gebang tergolong rendah. Setahun lalu, paroki ini hanya mengirimkan satu orang anak, yakni Netto Pareira ke Seminari Wacana Bhakti. Tahun ini pun hanya satu yang melamar dan diterima di Seminari Wacana Bhakti, yakni Loddie Lamak yang turut bermain di dalam fragmen ini. Pencapaian yang belum maksimal jika dibandingkan dengan sejumlah paroki lain seperti Bartolomeus, Mikael dan Albertus yang mengirimkan lebih dari 2 anak setiap tahun ke Seminari Wacana Bhakti maupun Stella Maris, Bogor.

Sejumlah umat yang menyaksikan pementasan fragmen ini mengatakan, ini menjadi warna yang lain di paroki ini. Penyampaian pesan melalui seni theater yang lebih terasa menyentuh hati, dibandingkan pola atau cara yang selama ini dilakukan. Apalagi, pesan yang disampaikan pas sekali dengan realitas yang ada di kalangan umat.

“Saya salut dengan anak-anak dan pemain lainnya. Mereka tekun berlatih dan tak sungkan melakukan improvisasi sendiri sehingga bayangkan dari 4 kali misa dimana mereka tampil ini, setiap penampilan mereka selalu ada improvisasi baru yang mereka lakukan di depan umat,” turut Naryo sembari mengatakan, dirinya hanya mempersiapkan mikrofon saja, sementara kostum disiapkan sendiri oleh para pemeran.

Sejumlah umat, selain Petrus, juga mengapresiasi program yang diselenggarakan oleh seksi panggilan ini. Di grup whatsapp DP Pleno Paroki Pulo Gebang, apresiasi datang dari sejumlah pihak terhadap model kampanye panggilan yang ditampilkan itu.

Congrats ya, fragmen panggilan oke banget tadi, lanjutkan dan sukses selalu,” ungkap A. Witjaksono, Wakil Ketua DPH, dilanjutkan dengan sejumlah ucapan selamat dari para pengurus DP Pleno Paroki Santo Gabriel, Pulo Gebang.

Romo Steph, romo tamu yang menyaksikan fragmen ini tatkala memimpin misa disore harinya pun mengatakan kekagumannya melihat sajian drama singkat yang penuh makna dan pesan ini. Ia bahkan mengatakan, belum pernah menyaksikan ini sebelumnya selama ia memimpin misa.

Ya, penampilan yang bagus dan diapresiasi ini semoga membekas dalam benak para orang tua dan anak-anak yang menyaksikan. Tinggal bagaimana para orang tua dapat mencerna dengan baik apa yang disampaikan Romo Gun ketika hendak mentup homili dalam misa itu.

“Jangan sampai kita seperti banyak orang tua yang berdoa, mendoakan anak-anak untuk terpanggil menjadi imam, bruder dan suster, tetapi jangan anak-anak saya.”

Petrus meski sempat kebingungan menjawab pertanyaan sang anak, apakah panggilan yang dimaksudkan adalah hidup membiara ataukah menikah dan berkeluarga, tetapi setidaknya ia cukup tersentuh dengan fragmen itu. Ia pun merasa perlu menyampaikan sesuatu untuk dijadikan bahan pertimbangan para pengurus paroki.

“Ya ini sih usul saja untuk para petinggi di paroki agar momen-momen penting yang jadi tema dunia seperti ini jangan dimasukan dengan tema-tema lain. Apalagi tema panggilan membiara dan ulang tahun perkawinan disatukan dalam misa yang sama, kayaknya enggak pas ya,” ungkap Petrus penuh harap. (Penulis/Editor: Ferdinand Lamak, Foto: Ferdinand Lamak & Naryo)

 

 

Kisah Keluarga Sagala dan Kepedulian Umat di Wilayah 2

By Ferdinand Lamak,

PULOGEBANG – Sabtu pagi itu, komunikasi di grup whatsapp wilayah 2 sejak pagi sudah ramai. Koordinator Wilayah 2, Honggo Boediono tengah mengoordinir para ketua lingkungan di wilayah itu untuk berkunjung ke rumah salah satu umat di lingkungan Santo Agustinus. Konon, menurut penuturan Kalingk Agustinus, Anton Triharyadi, warganya ini sangat membutuhkan bantuan umat karena kehidupan cukup berat yang tengah dijalankannya.

Untuk mengetahui dari dekat, seperti apa kondisinya dan apa yang dibutuhkannya, pagi itu para kalingk di wilayah 2 berkunjung ke rumah umat dimaksud. Dengan bersepeda motor, Honggo, Anton, Denny (Kalingk St. Mikael), Stella (Kalingk Sta. Maria) dan Ferdinand (Kalingk St. Alfonsus) bertandang kerumah dimaksud.

Dengan mengendarai sepeda dan sepeda motor, para pengurus di wilayah 2 itu bergerak menuju lokasi dimaksud dengan panduan langsung dari Anton selaku kalingk. Lokasi rumah yang dituju melewati terminal sampah di dekat pintu keluar perumahan Pulogebang Permai. Jalanan yang becek dan berlumpur akibat hujan malam sebelumnya masih menyisakan genangan air di jalan, kawasan garapan yang sering disebut sebagai Kampung Sawah itu.

Rumah itu terletak di sisi kanan jalan, dari luar tampak sangat sederhana dengan dinding setengah tembok yang tidak kokoh lagi. Halaman yang tidak terawat dengan saluran air di depan rumah yang mampet. Setelah masuk, di bagian dalam rumah, tepatnya ruangan los yang ada di bagian depan, terhampar beberapa karpet dan busa tidur yang tipis dan tidak layak pakai lagi.

Seorang tua tampak lusuh dengan kondisi fisik yang tak kuat lagi, bersama dua puteranya menerima kedatangan kami saat masuk ke dalam rumah  itu. Salah satu anaknya terlihat cuek dengan kedatangan kami. Sementara puteranya yang paling kecil yang sedang sakit, terlihat duduk menerima kedatangan kami. Ia pun menyalami kami.

“Brak!”

Sang ayah yang tadinya berhasil berdiri menyalami kedatangan kami, tiba-tiba oleng dan terjatuh menimpa tiang dinding rumah di samping putera terkecilnya duduk. Spontan, Anton dan Honggo memapahnya untuk bangkit dan duduk di tengah ringis kesakitan pelipisnya lantaran membentur tiang.

“Bapak ini sebetulnya sudah tidak kuat berdiri. Ya seperti ini kalau dia paksakan diri untuk berdiri pasti pusing dan jatuh,” ungkap Anton sambil menyebutkan bahwa warganya ini sesungguhnya dalam kondisi yang sakit namun ditahan-tahan tidak ke rumah sakit karena menurut mereka, menghabiskan uang.

Miden Sagala, nama bapak yang dimaksud, adalah salah satu warga lingkungan Agustinus yang menjalani kehidupan yang sangat berat. Setelah ditinggal oleh isteri yang sudah lebih dulu dipanggil Tuhan beberapa tahun silam, Sagala menjalani hidup dengan dua orang anak laki-lakinya. Ada dua lagi puterinya yang tidak tinggal bersama mereka karena salah satunya yang sudah menikah membawa serta puteri paling kecil untuk tinggal bersama.

Rumah itu tampak pengap, sirkulasi udara yang tidak berjalan baik, gelap dan Stella yang adalah seorang dokter itu pun langsung mengatakan kondisi rumah ini tidak sehat bagi penghuninya. Dengan terbata-bata, Sagala mengisahkan bagaimana kehidupan mereka yang nyaris tanpa solusi.

“Si Heri (putera sulungnya – red), tidak bisa apa-apa. Tidak bisa diharapkan, orangnya seperti itu. Yang kecil ini sakit, baru pulang dari rumah sakit dan sekarang harus kontrol. Kondisi saya pun begini, berdiri sebentar pasti jatuh. Makan bukan hanya karena tidak ada beras, sayur dan lauk, tetapi karena kami bertiga juga tidak bisa memasak sendiri.”

Sagala pun berceritera, isterinya ketika masih hidup sangat aktif di kegiatan lingkungan. Namun setelah isterinya meninggal, semuanya berubah. Heri putera sulungnya pun rupanya memiliki ganguan psikologis dan mental sehingga sulit untuk diharapkan. Makan pun mereka bisa, lantaran mendapatkan sumbangan dr warga lingkungan maupun warga sekitar.

Setelah hampir 30 menit berbicara dan mendengarkan kisah dukanya, rombongan pun mohon ijin untuk masuk kedalam dapur dan kamar tidur untuk melihat dari dekat kebutuhan apa yang bisa disiapkan.

*****

Rombongan pulang dengan rasa prihatin yang sangat mendalam atas kondisi Sagala dan keluarganya. Disepakatilah untuk melakukan kegiatan bedah rumah dan penyampaian sumbangan kepada keluarga itu.

(Bagaimana kisah bedah rumah ini? Ikuti terus laporang kami di Majalah Diaga edisi Paskah, yang mengulas kegiatan bedah rumah ini.) 

 

 

Hujan pun Ikut Mengantarkan Romo Rafael ke Ladang Berikutnya

By Ferdinand Lamak,

PULOGEBANG –  Pagi itu, langit di atas kompleks Pulogebang Permai terlihat mendung. Hujan pun mulai rintik, gerimis ketika sejumlah umat mulai mendatangi kompleks Gereja Pulogebang. Ini hari, hari terakhir bagi Romo Rafael berada di tempat ini. Dua bus sudah tersedia untuk ditumpangi umat yang akan mengantarkannya ke ladang penggembalaan baru, Paroki Santo Ambrosius, Villa Melati Mas, Serpong.

Rombongan dari Pulogebang tiba di Villa Melati Mas (Foto: Deny KI)

Tepat pukul 09.30 WIB, 2 bus besar dan beberapa mobil membawa rombongan Romo Susilo, Romo Rafael, para suster bersama umat dan DPH Paroki Pulogebang yang berjumlah lebih dari 100 orang berangkat ke Serpong. Perjalanan dipagi itu cukup lancar hingga rombongan dari Pulogebang tiba di Villa Melati Mas hanya dalam waktu 1,5 jam. Tepatnya, pukul 11.05 rombongan sudah tiba di lokasi.

Saat tiba di Gereja St. Ambrosius, rombongan disambut dengan baik oleh DPH setempat dan panitia penyambutan yang berasal dari kelompok OMK. Anak-anak muda ini menyambut romo baru mereka dengan istimewa. Selain aula yang dihias dengan tema kolonial, mereka pun mengenakan pakaian adat Jawa. Bahkan, rombongan dari Pulogebang pun ditawarkan Jamu sebagai minuman pembuka.

Romo Rafael dengan latar barisan OMK Paroki Ambrosius dalam balutan busana Jawa (Foto: Deny KI)

Sebelum acara resmi dimulai,  rombongan langsung diajak oleh pemandu untuk melakukan orientasi gereja. Satu per satu sudut gereja didatangi, mulai dari sekeliling aula, gedung gereja, area parkiran, wisma romo, Patung Santo Ambrosius dan Goa Maria. Catatan khusus untuk Goa Maria ini, rupanya belum genap sebulan diresmikan bertepatan dengan ulang tahun Pastor Paroki RD Yosef Natalis Kurnianto yaitu 31 Desember 2017.

Sambil menunggu kedatangan pastor paroki yang pagi itu masih bertugas di Gereja St.Monika, panitia mengajak rombongan untuk menikmati santap siang. Sambil bersantap, OMK pun menghibur dengan sejumlah lagu, tidak terkecuali Romo Susilo dan Romo Rafael pun didapuk untuk bernyanyi bersama. Dua lagu yang mereka bawakan adalah, Kemesraan dan Tuhan Sungguh Baik. Suasana sesaat jadi haru.

Duet Romo Rafael dan Romo Susilo membawakan lagu (Foto: Deny KI)

Saat acara resmi dimulai, Pastor Paroki St. Ambrosius, RD Y. Natalis, mengucapkan selamat datang kepada RD Rafael Kristianto. Ia mengatakan, dirinya akhirnya bisa berbagi tugas karena selama ini paroki tersebut hanya memiliki satu pastor. Ia pun berpesan agar umat Pulogebang bisa merelakan pastornya untuk berkarya disana.

Sementara itu, Pastor Paroki St. Gabriel Pulogebang, RD A. Susilo Wijoyo mengucapkan selamat bertugas di perutusan yang baru karena ini tugas ketaatan. Ia berpesan ‘sebaik-baiknya kita, pasti ada yang tidak senang tetapi ingat juga sejelek-jeleknya kita, pasti ada yang senang juga’.

Tetap rilex menjalani tugasnya dan berdoa, “Tuhan pertemukanlah saya kepada orang-orang yang tepat sehingga pelayanan menjadi lebih ringan.”

Lagu Setia-nya yang dipopulerkan oleh kelompok musik Jikustik merupakan lagu terakhir yang dipersembahkan umat Pulogebang bagi Romo Rafael. Lagu ini dibawakan oleh DPH Pulogebang dan para suster, sembari berpesan agar Romo Rafael senantiasa selalu setia dalam pelayanan.

Sementara itu, Sularto mewakili umat yang juga  satu lingkungan dengan keluarga Romo Rafael berpesan kepada umat di Villa Melati Mas agar dapat menjaga panggilan romo dan tidak mengganggunya sehingga Romo Rafael tetap setia dalam pelayanan.

Sambil meneriakkan Semangat Pagi sebagaimana biasanya, Romo Rafael pun menyempatkan untuk berceritera tentang perjalanan pangggilan dan imamatnya. Ia ditahbiskan pada Agustus 2013 di Gereja Arnoldus Bekasi dan memulai tugas pelayanan di Paroki Cililitan. Sekitar 4 bulan kemudian ia pindah ke Paroki Pulogebang selama 3 tahun 9 bulan dan sekarang ia akan mulai bertugas disini.

Dalam kesempatan itu, Romo Rafael juga memperkenalkan orang tuanya. Ia sendiri merupakan putra ke-2 dari 3 bersaudara. Bagi dia, sebuah keistimewaan tersendiri bisa berkarya di paroki sendiri, sesuatu yang sangat jarang terjadi. Romo Rafael juga mengucapkan terimakasih kepada panitia, umat yang mengantar dan kejutan-kejutan yang diberikan.

Persembahan lagu Setia oleh DPH Pulogebang (Foto: Deny KI)

Alex, wakil dari umat Paroki Ambrosius yang menyaksikan bagaimana peristiwa pagi hingga siang itu mengatakan, dirinya sangat terharu melihat begitu besar kecintaan umat Pulogebang terhadap Romo Rafael. Ia pun berkata, “Kami berjanji untuk membantu, mendukung dan menjaga sebaik-baiknya. Terimakasih untuk semuanya.”

Wakil Ketua DPH Paroki Pulogebang, Albertus Witjaksono ketika dimintai tanggapan atas peristiwa hari itu mengatakan, dirinya salut dengan apa yang dialami di Villa Melati Mas.

“Mereka (Paroki Ambrosius-red) itu paroki baru, baru 13 bulan jadi paroki namun yang kami kagumi adalah peran OMK yang sangat menonjol dalam pelayanan dan OMK di sana sangat mandiri, ya mungkin ini juga berkaitan dengan kondisi ekonomi umat setempat. Mereka sangat antusias saat menerima tamu, semua pengurus lingkungan, wilayah, seksi turun menyambut kita dan mengajak touring ke lingkungan kompleks gereja dan menerangkannya dengan sangat rendah hati sehingga terkesan sangat menghormati tamu.”

Witjaksono pun mengharapkan, kedatangan Romo Rafael dengan sambutan seperti itu mudah-mudahan menjadi awal yang baik dalam menjalankan tugas perutusan di Paroki St. Ambrosius.

Rombongan dari Seksi PSE Pulogebang menyempatkan diri berfoto di Gua Maria Paroki Ambrosius (Foto: Tuti Jus)

Acara siang itu ditutup dengan doa dan berkat dari RomoNatalis, dilanjutan foto bersama. Tepat pukul 14.00 WIB, rombongan meninggalan Gereja St. Ambrosius.

Saat bus dan kendaraan dari Pulogebang beranjak meninggalkan area gereja, hujan pun turun, gerimis. Sembari melambaikan tangan kepada umat yang terus menyaksikan dari balik kaca mobi, Romo Rafael berdiri menatap rombongan yang terus menjauh. Entah berapa tetes air mata yang jatuh lagi siang menjelang petang itu. Hujan pun makin deras. Romo, selamat melayani dan semoga Tuhan selalu menjaga panggilanmu. (Naskah: Deny Kus Indarto/Editor: Ferdinand Lamak/Foto: A. Witjaksono)