Features


Kisah Keluarga Sagala dan Kepedulian Umat di Wilayah 2

By Ferdinand Lamak,

PULOGEBANG – Sabtu pagi itu, komunikasi di grup whatsapp wilayah 2 sejak pagi sudah ramai. Koordinator Wilayah 2, Honggo Boediono tengah mengoordinir para ketua lingkungan di wilayah itu untuk berkunjung ke rumah salah satu umat di lingkungan Santo Agustinus. Konon, menurut penuturan Kalingk Agustinus, Anton Triharyadi, warganya ini sangat membutuhkan bantuan umat karena kehidupan cukup berat yang tengah dijalankannya.

Untuk mengetahui dari dekat, seperti apa kondisinya dan apa yang dibutuhkannya, pagi itu para kalingk di wilayah 2 berkunjung ke rumah umat dimaksud. Dengan bersepeda motor, Honggo, Anton, Denny (Kalingk St. Mikael), Stella (Kalingk Sta. Maria) dan Ferdinand (Kalingk St. Alfonsus) bertandang kerumah dimaksud.

Dengan mengendarai sepeda dan sepeda motor, para pengurus di wilayah 2 itu bergerak menuju lokasi dimaksud dengan panduan langsung dari Anton selaku kalingk. Lokasi rumah yang dituju melewati terminal sampah di dekat pintu keluar perumahan Pulogebang Permai. Jalanan yang becek dan berlumpur akibat hujan malam sebelumnya masih menyisakan genangan air di jalan, kawasan garapan yang sering disebut sebagai Kampung Sawah itu.

Rumah itu terletak di sisi kanan jalan, dari luar tampak sangat sederhana dengan dinding setengah tembok yang tidak kokoh lagi. Halaman yang tidak terawat dengan saluran air di depan rumah yang mampet. Setelah masuk, di bagian dalam rumah, tepatnya ruangan los yang ada di bagian depan, terhampar beberapa karpet dan busa tidur yang tipis dan tidak layak pakai lagi.

Seorang tua tampak lusuh dengan kondisi fisik yang tak kuat lagi, bersama dua puteranya menerima kedatangan kami saat masuk ke dalam rumah  itu. Salah satu anaknya terlihat cuek dengan kedatangan kami. Sementara puteranya yang paling kecil yang sedang sakit, terlihat duduk menerima kedatangan kami. Ia pun menyalami kami.

“Brak!”

Sang ayah yang tadinya berhasil berdiri menyalami kedatangan kami, tiba-tiba oleng dan terjatuh menimpa tiang dinding rumah di samping putera terkecilnya duduk. Spontan, Anton dan Honggo memapahnya untuk bangkit dan duduk di tengah ringis kesakitan pelipisnya lantaran membentur tiang.

“Bapak ini sebetulnya sudah tidak kuat berdiri. Ya seperti ini kalau dia paksakan diri untuk berdiri pasti pusing dan jatuh,” ungkap Anton sambil menyebutkan bahwa warganya ini sesungguhnya dalam kondisi yang sakit namun ditahan-tahan tidak ke rumah sakit karena menurut mereka, menghabiskan uang.

Miden Sagala, nama bapak yang dimaksud, adalah salah satu warga lingkungan Agustinus yang menjalani kehidupan yang sangat berat. Setelah ditinggal oleh isteri yang sudah lebih dulu dipanggil Tuhan beberapa tahun silam, Sagala menjalani hidup dengan dua orang anak laki-lakinya. Ada dua lagi puterinya yang tidak tinggal bersama mereka karena salah satunya yang sudah menikah membawa serta puteri paling kecil untuk tinggal bersama.

Rumah itu tampak pengap, sirkulasi udara yang tidak berjalan baik, gelap dan Stella yang adalah seorang dokter itu pun langsung mengatakan kondisi rumah ini tidak sehat bagi penghuninya. Dengan terbata-bata, Sagala mengisahkan bagaimana kehidupan mereka yang nyaris tanpa solusi.

“Si Heri (putera sulungnya – red), tidak bisa apa-apa. Tidak bisa diharapkan, orangnya seperti itu. Yang kecil ini sakit, baru pulang dari rumah sakit dan sekarang harus kontrol. Kondisi saya pun begini, berdiri sebentar pasti jatuh. Makan bukan hanya karena tidak ada beras, sayur dan lauk, tetapi karena kami bertiga juga tidak bisa memasak sendiri.”

Sagala pun berceritera, isterinya ketika masih hidup sangat aktif di kegiatan lingkungan. Namun setelah isterinya meninggal, semuanya berubah. Heri putera sulungnya pun rupanya memiliki ganguan psikologis dan mental sehingga sulit untuk diharapkan. Makan pun mereka bisa, lantaran mendapatkan sumbangan dr warga lingkungan maupun warga sekitar.

Setelah hampir 30 menit berbicara dan mendengarkan kisah dukanya, rombongan pun mohon ijin untuk masuk kedalam dapur dan kamar tidur untuk melihat dari dekat kebutuhan apa yang bisa disiapkan.

*****

Rombongan pulang dengan rasa prihatin yang sangat mendalam atas kondisi Sagala dan keluarganya. Disepakatilah untuk melakukan kegiatan bedah rumah dan penyampaian sumbangan kepada keluarga itu.

(Bagaimana kisah bedah rumah ini? Ikuti terus laporang kami di Majalah Diaga edisi Paskah, yang mengulas kegiatan bedah rumah ini.) 

 

 

Hujan pun Ikut Mengantarkan Romo Rafael ke Ladang Berikutnya

By Ferdinand Lamak,

PULOGEBANG –  Pagi itu, langit di atas kompleks Pulogebang Permai terlihat mendung. Hujan pun mulai rintik, gerimis ketika sejumlah umat mulai mendatangi kompleks Gereja Pulogebang. Ini hari, hari terakhir bagi Romo Rafael berada di tempat ini. Dua bus sudah tersedia untuk ditumpangi umat yang akan mengantarkannya ke ladang penggembalaan baru, Paroki Santo Ambrosius, Villa Melati Mas, Serpong.

Rombongan dari Pulogebang tiba di Villa Melati Mas (Foto: Deny KI)

Tepat pukul 09.30 WIB, 2 bus besar dan beberapa mobil membawa rombongan Romo Susilo, Romo Rafael, para suster bersama umat dan DPH Paroki Pulogebang yang berjumlah lebih dari 100 orang berangkat ke Serpong. Perjalanan dipagi itu cukup lancar hingga rombongan dari Pulogebang tiba di Villa Melati Mas hanya dalam waktu 1,5 jam. Tepatnya, pukul 11.05 rombongan sudah tiba di lokasi.

Saat tiba di Gereja St. Ambrosius, rombongan disambut dengan baik oleh DPH setempat dan panitia penyambutan yang berasal dari kelompok OMK. Anak-anak muda ini menyambut romo baru mereka dengan istimewa. Selain aula yang dihias dengan tema kolonial, mereka pun mengenakan pakaian adat Jawa. Bahkan, rombongan dari Pulogebang pun ditawarkan Jamu sebagai minuman pembuka.

Romo Rafael dengan latar barisan OMK Paroki Ambrosius dalam balutan busana Jawa (Foto: Deny KI)

Sebelum acara resmi dimulai,  rombongan langsung diajak oleh pemandu untuk melakukan orientasi gereja. Satu per satu sudut gereja didatangi, mulai dari sekeliling aula, gedung gereja, area parkiran, wisma romo, Patung Santo Ambrosius dan Goa Maria. Catatan khusus untuk Goa Maria ini, rupanya belum genap sebulan diresmikan bertepatan dengan ulang tahun Pastor Paroki RD Yosef Natalis Kurnianto yaitu 31 Desember 2017.

Sambil menunggu kedatangan pastor paroki yang pagi itu masih bertugas di Gereja St.Monika, panitia mengajak rombongan untuk menikmati santap siang. Sambil bersantap, OMK pun menghibur dengan sejumlah lagu, tidak terkecuali Romo Susilo dan Romo Rafael pun didapuk untuk bernyanyi bersama. Dua lagu yang mereka bawakan adalah, Kemesraan dan Tuhan Sungguh Baik. Suasana sesaat jadi haru.

Duet Romo Rafael dan Romo Susilo membawakan lagu (Foto: Deny KI)

Saat acara resmi dimulai, Pastor Paroki St. Ambrosius, RD Y. Natalis, mengucapkan selamat datang kepada RD Rafael Kristianto. Ia mengatakan, dirinya akhirnya bisa berbagi tugas karena selama ini paroki tersebut hanya memiliki satu pastor. Ia pun berpesan agar umat Pulogebang bisa merelakan pastornya untuk berkarya disana.

Sementara itu, Pastor Paroki St. Gabriel Pulogebang, RD A. Susilo Wijoyo mengucapkan selamat bertugas di perutusan yang baru karena ini tugas ketaatan. Ia berpesan ‘sebaik-baiknya kita, pasti ada yang tidak senang tetapi ingat juga sejelek-jeleknya kita, pasti ada yang senang juga’.

Tetap rilex menjalani tugasnya dan berdoa, “Tuhan pertemukanlah saya kepada orang-orang yang tepat sehingga pelayanan menjadi lebih ringan.”

Lagu Setia-nya yang dipopulerkan oleh kelompok musik Jikustik merupakan lagu terakhir yang dipersembahkan umat Pulogebang bagi Romo Rafael. Lagu ini dibawakan oleh DPH Pulogebang dan para suster, sembari berpesan agar Romo Rafael senantiasa selalu setia dalam pelayanan.

Sementara itu, Sularto mewakili umat yang juga  satu lingkungan dengan keluarga Romo Rafael berpesan kepada umat di Villa Melati Mas agar dapat menjaga panggilan romo dan tidak mengganggunya sehingga Romo Rafael tetap setia dalam pelayanan.

Sambil meneriakkan Semangat Pagi sebagaimana biasanya, Romo Rafael pun menyempatkan untuk berceritera tentang perjalanan pangggilan dan imamatnya. Ia ditahbiskan pada Agustus 2013 di Gereja Arnoldus Bekasi dan memulai tugas pelayanan di Paroki Cililitan. Sekitar 4 bulan kemudian ia pindah ke Paroki Pulogebang selama 3 tahun 9 bulan dan sekarang ia akan mulai bertugas disini.

Dalam kesempatan itu, Romo Rafael juga memperkenalkan orang tuanya. Ia sendiri merupakan putra ke-2 dari 3 bersaudara. Bagi dia, sebuah keistimewaan tersendiri bisa berkarya di paroki sendiri, sesuatu yang sangat jarang terjadi. Romo Rafael juga mengucapkan terimakasih kepada panitia, umat yang mengantar dan kejutan-kejutan yang diberikan.

Persembahan lagu Setia oleh DPH Pulogebang (Foto: Deny KI)

Alex, wakil dari umat Paroki Ambrosius yang menyaksikan bagaimana peristiwa pagi hingga siang itu mengatakan, dirinya sangat terharu melihat begitu besar kecintaan umat Pulogebang terhadap Romo Rafael. Ia pun berkata, “Kami berjanji untuk membantu, mendukung dan menjaga sebaik-baiknya. Terimakasih untuk semuanya.”

Wakil Ketua DPH Paroki Pulogebang, Albertus Witjaksono ketika dimintai tanggapan atas peristiwa hari itu mengatakan, dirinya salut dengan apa yang dialami di Villa Melati Mas.

“Mereka (Paroki Ambrosius-red) itu paroki baru, baru 13 bulan jadi paroki namun yang kami kagumi adalah peran OMK yang sangat menonjol dalam pelayanan dan OMK di sana sangat mandiri, ya mungkin ini juga berkaitan dengan kondisi ekonomi umat setempat. Mereka sangat antusias saat menerima tamu, semua pengurus lingkungan, wilayah, seksi turun menyambut kita dan mengajak touring ke lingkungan kompleks gereja dan menerangkannya dengan sangat rendah hati sehingga terkesan sangat menghormati tamu.”

Witjaksono pun mengharapkan, kedatangan Romo Rafael dengan sambutan seperti itu mudah-mudahan menjadi awal yang baik dalam menjalankan tugas perutusan di Paroki St. Ambrosius.

Rombongan dari Seksi PSE Pulogebang menyempatkan diri berfoto di Gua Maria Paroki Ambrosius (Foto: Tuti Jus)

Acara siang itu ditutup dengan doa dan berkat dari RomoNatalis, dilanjutan foto bersama. Tepat pukul 14.00 WIB, rombongan meninggalan Gereja St. Ambrosius.

Saat bus dan kendaraan dari Pulogebang beranjak meninggalkan area gereja, hujan pun turun, gerimis. Sembari melambaikan tangan kepada umat yang terus menyaksikan dari balik kaca mobi, Romo Rafael berdiri menatap rombongan yang terus menjauh. Entah berapa tetes air mata yang jatuh lagi siang menjelang petang itu. Hujan pun makin deras. Romo, selamat melayani dan semoga Tuhan selalu menjaga panggilanmu. (Naskah: Deny Kus Indarto/Editor: Ferdinand Lamak/Foto: A. Witjaksono)